
Saat embun mulai turun, malam pun telah pergi dan tergantikan oleh pagi. Berbeda dengan Hengky dan Fisha yang kini masih harus bertahan di rumah sakit, Ryan dan Rani justru sedang bersiap-siap meninggalkan ruang serba putih yang beberapa hari ini ditinggali mereka, meskipun tim dokter melepaskan Ryan dengan sangat terpaksa.
"Sekali lagi perlu kami sampaikan bahwa Anda belum sembuh benar, Tuan. Jadi tim dokter dan perawat kami tetap akan merawat Anda di rumah," pesan salah seorang dokter saat mempersiapkan Ryan agar kondisinya tidak kembali memburuk usai melakukan perjalanan.
"Lakukan apapun asal pagi ini juga aku bisa pulang!" titah Ryan kepada dokter itu, yang dijawab anggukan pelan oleh Direktur Rumah Sakit, yang waktu itu berada di ruang perawatan Ryan.
Ya, rumah sakit yang merawat Ryan selama beberapa hari ini adalah rumah sakit milik perusahaan Ryan, Daniel dan Hengky, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari mega proyek Green Canyon yang sudah mulai beroperasi. Segala fasilitas pun sudah terlengkapi, kendatipun beberapa proyek macet karena ulah Felix beberapa bulan terakhir ini. Untung saja waktu itu Ryan kekeh agar rumah sakit diselesaikan terlebih dahulu, sehingga saat ini sudah bisa berjalan, sementara proyek yang lain masih belum jelas nasib dan kelanjutannya.
Karena itulah Ryan bebas memberi perintah dan meminta pulang denganĀ Heli Medicine EvacuationĀ (Medevac) yang beberapa waktu lalu mereka luncurkan khusus bagi pasien yang membutuhkan pelayanan cepat dengan evakuasi melalui udara, termasuk bagi pasien yang membutuhkan golden hour atau waktu krusial yang ditentukan kecepatan penanganan penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung atau stroke.
Dan kali ini, si pemilik rumah sakitlah yang akan menggunakan helikopter itu, karena jika perjalanan dari Kota Y ke Kota X ditempuh melalui jalur darat, membutuhkan waktu kurang lebih empat jam dan dijamin kondisi Ryan belum memungkinkan mengingat luka tusuk di perutnya belum sepenuhnya kering sehingga belum bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya.
Indra dan Rudi pun sejak semalam sudah sibuk menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan tuan mereka selama perjalanan, termasuk beberapa helikopter yang akan mereka gunakan untuk mengawal perjalanan Ryan dan Rani dari Kota Y ke Kota X melalui jalur udara.
Begitu semua siap, mereka pun akhirnya terbang dan sampai ke Kota X hanya dalam waktu beberapa menit saja. Untungnya, atap hotel milik keluarga Dewangga tersedia helipad, sehingga Ryan dan Rani bisa mendarat di hotel milik mereka, sementara para pengawal mendaratkan helikopter mereka di Bandara.
"Hubby istirahat di hotel saja, By. Setelah Hubby sembuh baru kita pulang ke rumah kita lagi. Toh yang terpenting Hubby sudah sampai di kota ini kan, By?" ucap Rani begitu helikopter mereka mendarat dengan sempurna.
"Hubby hanya ingin pulang dan beristirahat di rumah, Sayang," sahut Ryan tidak bisa ditawar.
Hingga akhirnya, mereka pun pulang dengan pengawalan ekstra yang telah Johan siapkan sebelumnya, dengan perintah Daniel tentu saja. Pengambilalihan pengawalan ini dilakukan karena Indra dan Rudi mendarat di Bandara, sementara Arya fokus melakukan pekerjaannya di perusahaan, sehingga Johan yang di dapuk Daniel untuk menghandel semuanya.
__ADS_1
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Zara masih asyik menyelami laptop di meja kerjanya. Setiap hari, Felix memang memintanya untuk berada di perusahaan, walaupun tidak setiap hari ada hal yang bisa dia kerjakan. Akhirnya, Zara justru menggunakan waktu yang dia punya untuk menyelesaikan semua pe-er yang Indra berikan.
Data lengkap sepuluh nama yang sudah dia hafal di luar kepala pun kini secara lengkap sudah berada di tangan. Tinggal penyelidikan di lapangan saja sejauh mana mereka terlibat, atau sebaliknya.
"Huh, sampai kapan aku harus berada dalam situasi seperti ini? Seharusnya kawan ya kawan, musuh ya musuh. Tidak kawan tapi lawan semacam ini," gerutu Zara sambil bersandar di kursi kerjanya, dengan tangannya terus memijat pangkal hidungnya, seolah dengan begitu kegalauan yang dia rasakan akan hilang dengan sendirinya.
Hingga tiba-tiba, melodi yang begitu dia benci mendadak berbunyi. Zara tahu betul siapa yang sedang menghubunginya saat ini, karena dia sengaja memasang nada dering khusus untuk panggilan masuk dari Indra yang kini sudah menjadi seperti momok baginya.
"Apalagi sih, Tuan Misterius?" gumam Zara sambil menekan icon hijau pada layar benda pipih canggih miliknya.
"Tak usah berpura-pura manis begitu, Zara. Aku tahu kau sedang mengumpatku di sana," ketus Indra, menanggapi sapaan Zara.
"Ya sudah. Tutup saja teleponnya. Tidak masalah buat saya. Toh saya memang sedang tidak bernafsu untuk menerima telepon dari Anda," ketus Zara sembari menekan icon merah hingga panggilan itu berakhir begitu saja.
"Enak saja main sembur orang sembarangan. Dengan susah payah aku mengubah suasana hatiku biar bisa menerima teleponnya, giliran diterima, tetap saja bikin sakit kepala," gerutu Zara kesal. Dia meletakkan handphone-nya di atas meja, lalu beranjak keluar untuk mengambil minum di pantry tanpa menyimpan benda pipih canggih yang diberikan Indra kepadanya.
Indra yang saat itu baru saja keluar dari pesawat dan menuju mobil yang sudah menjemputnya itupun tak kalah kesal dengan Zara. Bahkan dia sama sekali belum menyampaikan apa maksud dirinya menghubungi Zara, tapi gadis itu sudah menutup teleponnya, dan sama sekali tak mengangkatnya lagi ketika Indra menghubunginya kembali berkali-kali.
"Songong banget sih gadis itu? Mau aku beri pelajaran lagi, biar lain kali tak berbuat sesuka hati?" Indra bergumam-gumam kecil.
__ADS_1
"Siapa?" Rudi yang mendengar ocehan Indra bertanya sambil merangkul bahunya.
"Zara," sahut Indra dengan wajah kesalnya.
"Gadis itu?" Rudi mengerutkan dahinya.
"Hmmm," jawab Indra sambil terus menghampiri mobilnya.
"Kenapa dia?" tanya Rudi lagi, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Tau ahh. Sulit banget ngomong sama cewek itu. Susah dibilangin," Indra mengangkat kedua bahu dan tangannya, seolah sama sekali tidak peduli dengan seorang gadis cantik bernama Zara Delisha.
"Kamunya juga begitu. Ogahlah dia ndengerin cowok galak modelan kayak kamu. Jangan galak-galak, Zara ubah kamu jadi bucin, tau rasa kau," goda Rudi sambil terkekeh.
"Tidak nafsu dengan gadis modelan kayak dia. Gadis kecil yang mudah menyerah dan begitu entengnya berkhianat kepada tuannya, bukanlah tipe gadis yang setia," elak Indra sambil menatap Rudi dengan tatapan tak suka.
"Apa kau lupa kalau dia menyerah padamu dan menggadaikan kesetiaannya pada Felix Adinata karena menjaga kesuciannya demi rasa setianya pada orang yang dia cinta?" Rudi tak mau kalah.
"Tetap saja dia bukan tipeku,"
BERSAMBUNG
__ADS_1