METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ayo Bobok Lagi


__ADS_3

Sinar sang surya yang menerobos melalui celah-celah kecil tirai jendela kamar itu, membuat mata Meysie terbuka. Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, hal pertama yang ditangkap oleh netranya adalah wajah tampan Ega yang kini masih terlelap akibat kantuk yang masih mendera.


Meysie membelai halus kepala suaminya. Mendapati Ega yang tak juga meresponnya, Meysie pun memainkan jari-jarinya dengan menusuk-nusukkan jari itu di pipi suaminya. Melihat suaminya yang tak bergeming juga, akhirnya Meysie beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju balkon kamar, agar lebih dekat dengan bias sinar mentari pagi yang cahayanya mampu menghangatkan jiwa-jiwa yang beku dengan penuh kekuatan.


Meysie memejamkan mata. Dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang masih begitu segar.


"Hmmm, sejuknya," gumam Meysie lirih, sambil merentangkan kedua tangannya.


Pagi itu, tanpa siapapun tahu, semangat hidup Meysie menjadi menggebu. Ya, tanpa dia sadari, hidupnya menjadi lebih berarti saat dia merasa ada yang menempatkan dirinya pada posisi yang spesial di hati. Siapa lagi kalau bukan Ega, suami yang begitu menunjukkan rasa cintanya yang sedemikian besar kepadanya.


Masalahnya, apakah cinta itu sudah mulai tumbuh di hati Meysie? Rasanya memang seperti itu, walaupun Meysie sendiri sama sekali belum menyadari akan hal itu.


"Sayang!" suara khas orang yang baru saja bangun tidur tiba-tiba terdengar, hingga membuyarkan pengembaraan hati Meysie yang beberapa saat tadi telah sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Abang sudah bangun?" sahut Meysie, yang langsung mendekati suaminya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Bukankah kamu yang sudah membuat Abang terbangun dari tidur Abang?" ucap Ega sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. Sedetik kemudian, sebuah kecupan mendarat dengan manis di kening Meysie.


"Meysie? Mbangunin Abang?" Meysie mengernyitkan dahinya.


"Hmmm," Ega mengangguk.


"Kapan Meysie mbangunin Abang?" tanya Meysie manja.


"Jangan-jangan, tadi dia hanya pura-pura tidur ya, saat aku membelainya dan menusuk-nusuk pipinya? Alamak. Malunya aku," gumam Meysie dalam hati.


"Abang pasti akan terasa jika kau meninggalkan abang dari ranjang. Makanya, jangan sekali-kali kamu bangun terlebih dahulu kalau abang masih terlelap," cicit Ega sambil mencubit hidung mancung Meysie dengan gemasnya.


"Masa gitu?" Meysie mengerucutkan bibirnya.


"Itu peraturan Abang. Mulai sekarang, kalau kamu turun ranjang sebelum Abang mengizinkan, kamu akan dapat hukuman," kata Ega, sambil mengangkat alisnya dengan nakal.


"Ihh, itu namanya curang. Masak Abang seenaknya sendiri bikin peraturan," Meysie bersungut kesal.


"Abang suami. Kamu harus nurut dong, sama Abang. Emangnya kamu mau jadi istri durhaka?" kini senyum penuh kemenangan terpampang nyata di raut wajah Ega.

__ADS_1


"Ya udah, hukumannya apa?" mendengar kata istri durhaka, Meysie langsung bergidik ngeri dan memutuskan untuk menuruti apa kata suaminya.


Ega tersenyum senang. Sebenarnya dia hanya bercanda saja. Tapi ternyata kata istri durhaka membuat istrinya benar-benar menurut kepadanya.


"He-he-he, ternyata semudah ini ya, mengancamnya," Ega tertawa dalam hati.


"Jika besok lagi kamu lakukan, hukumannya akan coba Abang pikirkan. Tapi untuk pagi ini, Abang kasih kamu hukuman agak sedikit ringan," sekali lagi, Ega tersenyum menang.


"Baiklah, apa hukumannya?" Meysie menyerah. Dia memilih untuk mengiyakan saja setiap perkataan suaminya, dari pada urusannya semakin panjang.


"Temani Abang bobok lagi," bisik Ega di telinga Meysie.


"Hukumannya itu? Ayuk. Kalau cuma kayak gitu sih gampang," dengan semangat empat lima, Meysie melepas pelukan suaminya, kemudian menarik tangan Ega masuk ke dalam kamar mereka.


Ega mengekor saja, mengikuti kemana arah Meysie menariknya. Bahkan begitu sampai di samping ranjang, Ega menurut saja ketika Meysie membaringkannya dan menyelimutinya dengan penuh kelembutan. Setelah selimut itu menutupi hingga sebatas pinggang, Meysie mengambil gerakan memutar dan membaringkan dirinya di samping suaminya, sesaat setelah menarik selimut itu sampai ke bagian pinggangnya juga.


"Ayo bobok lagi, akan Meysie temani sampai siang nanti," ucap Meysie, melihat suaminya justru sedang memandangnya dengan ekspresi penuh arti.


"Kamu itu ya, sukanya nyimpulin sendiri. Abang belum selesai bicara tadi," Ega menyeringai nakal.


"Soal hukuman tadi. Abang belum selesai bicara tadi," Ega memperjelas kalimatnya.


"Jadi?" Meysie memastikan.


"Enak saja. Hukumannya bukan hanya sekedar kamu harus temeni Abang bobok lagi," cicit Ega dengan gayanya yang menggoda.


"Lalu?"


"Dengar baik-baik ya. Hukumannya, kamu harus nemenin Abang bobok lagi, dengan posisi seperti ini," ucap Ega sambil menarik Meysie hingga posisi istrinya itu berada tepat di atas tubuhnya.


Wajah Meysie merona seketika, saat tiba-tiba tubuhnya menindih tubuh suaminya. Bahkan, kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Ega yang sedang tersenyum aneh kepadanya.


"Baiklah, baiklah. Meysie akan temenin Abang bobok lagi dengan posisi tepat seperti ini, sampai siang nanti," Meysie sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Ega, dan memposisikannya tepat di leher suaminya. Dia memaksa netranya agar cepat terpejam, sebelum suaminya itu menambah lagi hukumannya.


"Pinter. Istri penurut," oceh Ega sambil mendekap erat tubuh istrinya, yang kini tertidur tepat di atas tubuhnya. Hingga mereka pun akhirnya terlelap dengan posisi yang sama, sampai mereka membuka mata setelah dua jam lamanya.

__ADS_1


***


Dua jam berselang, Ega terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa sedikit berat, dadanya pun terasa sedikit sesak, merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya.


Begitu Ega tersadar bahwa istrinya masih berada tepat di atas tubuhnya, senyum Ega benar-benar mengembang.


"Kau masih betah dengan posisimu, Sayang. Padahal kau kan bisa saja menggeser tubuhmu agak turun sedikit biar posisimu bisa sedikit nyaman," batin Ega dalam hati.


Ega merasa sedikit lucu saja, mendapati Meysie yang mau saja melakukan hukuman darinya. Bahkan gadis itu masih saja terlelap, dengan posisi tidur masih berada tepat di atas tubuh suaminya.


Ega mengelus punggung yang sedikit terekspos karena model baju tidur yang sedikit terbuka di bagian depan dan belakang yang Meysie kenakan itu. Hingga Meysie pun sedikit menggeliat, merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana, dan ada yang sedang membelai mesra tubuh mulusnya.


Sesaat, wajah Meysie kembali merona menyadari tubuhnya masih menindih tubuh Ega seperti saat pertama dia menjalani hukumannya. Tapi dengan secepat kilat, Meysie berhasil menguasai dirinya seolah tidak ada gejolak dalam hatinya.


"Abang sudah bangun? Jadi hukuman Meysie sudah selesai kan?" tanya Meysie dengan polosnya.


"Karena kamu menjalani hukuman kamu dengan manis, maka Abang hitung hukumanmu kali ini sudah terbayar lunas," Ega mengerlingkan satu matanya.


Mendengar penuturan suaminya, Meysie pun turun dari tubuh Ega dan duduk di samping suaminya yang masih terbaring di sisinya.


"Jadi, bolehkah sekarang Meysie turun dan membersihkan diri?" rengek Meysie.


"Abang pikirkan dulu sebentar," Ega berpura-pura memikirkan sesuatu.


"Abang!" Meysie berseru saking sebalnya. Bahkan kini beberapa pukulan mendarat dengan indah di bagian lengan dan dada Ega.


"Aduh, aduh, Sayang. Ampun. Jangan pukuli Abang," teriak Ega mendramatisir.


"Abang!" Meysie berseru lebih kencang, kali ini dia menggunakan bantal sebagai senjata yang dia gunakan untuk memukuli suaminya.


Mereka pun akhirnya tergelak bersamaan, yang diakhiri dengan pelukan dan hujan ciuman yang membanjiri wajah cantik Meysie.


Ya, pagi yang indah, untuk sepasang kekasih yang sedang mencoba untuk menumbuhkan rasa dan saling mencintai. Awal yang bagus, sebelum kejutan Ega yang lain di siang nanti.


Kejutan apa itu?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2