
Sebelum malam kian menghilang, Ryan memarkirkan mobilnya di depan rumah, sesaat setelah satpam membuka pintu gerbang.
Ryan menoleh ke samping tempat duduknya, terlihat wajah cantik istrinya yang tertidur lelap dalam lelah. Dia bahkan tidak menyadari saat Ryan membopong dan membaringkannya ke tempat tidur.
Hanya saja ketika Ryan menyelimutinya dan hendak meninggalkan istrinya ke kamar mandi, Rani memegang erat tangannya meski matanya tetap terpejam.
Ryan hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Akhirnya dia ikut berbaring dan mendekap istrinya tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Namun entah mengapa, Ryan terus saja terjaga bahkan saat Rani sudah terlena dalam tidurnya. Pikirannya mengembara jauh, larut dalam renungan panjang. Sesekali dia mengusap punggung istrinya, juga mengecup ujung kepalanya. Begitu seterusnya hingga malam semakin larut.
Kring-kring...
Tiba-tiba suara HP Ryan berbunyi. Dia menoleh ke arah meja dimana HP-nya berada dan segera meraihnya, ternyata itu panggilan dari mamanya.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Ryan dengan suara pelan.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Cepat ke rumah sakit sekarang! Azzura kritis," jawab Mama Titania dengan nada cemas, kemudian langsung menutup telphonnya.
"Apa?" seru Ryan dengan suara menggelegar, hingga membuat Rani terperanjat dan terbangun.
"Kenapa, Mas?" tanya Rani, dengan jantung berdegub kencang saking kagetnya.
"Azzura masuk rumah sakit. Mas harus kesana sekarang," jawab Ryan sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Baiklah. Rani ikut." Rani berucap dan mengikuti langkah Ryan setelah membenarkan hijabnya.
__ADS_1
***
Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang sangat lengang di waktu yang telah melewati tengah malam.
Rani yang tidak pernah mendapati suaminya segugup dan sekacau itu pun tidak berani protes walaupun sebenarnya dia sangat ketakutan dengan laju mobil sekencang itu. Bahkan, kini tangan kirinya sudah berpegangan erat pada pedal besi di atasnya, sambil terus berdo'a agar mereka segera sampai rumah sakit tanpa terjadi apapun disana.
Perjalanan normal yang biasanya membutuhkan waktu setengah jam pun mereka lewati cukup hanya dengan waktu separuhnya. Kini mereka telah berada di parkiran rumah sakit, yang hanya berjejer banyak kendaraan tanpa terlihat pemiliknya.
"Ayo cepat!" seru Ryan setelah mengangkat hand rem dengan tangan kirinya, dan menarik kunci mobil dengan tangan kanannya.
Rani pun mengangguk dan segera keluar dari mobil, kemudian berlari mengikuti arah suaminya yang telah berlari mendahuluinya.
Tanpa aba-aba, mereka langsung menuju IGD rumah sakit, namun dokter jaga memberitahukan bahwa Azzura kini berada di ruang ICU. Mereka terus berlari menyusuri lorong yang terasa sangat panjang dengan hati penuh kecemasan, hingga akhirnya mereka melihat Mama Titania dan Papa Prabu yang sedang duduk terpaku di depan sebuah ruangan.
"Ma, Pa, mana Azzura?" tanya Ryan dengan nada cemas.
Ryan segera berjalan ke arah ruang yang ditunjukkan papanya, sementara Rani yang tidak bisa mengimbangi lari Ryan hingga tertinggal jauh pun segera bergabung, mengecup punggung tangan papa dan mama mertuanya, kemudian mengahampiri Ryan yang sedang memandangi adiknya melalui sebuah kaca.
Untuk pertama kalinya, Rani melihat suaminya terisak begitu sendu. Di dalam ruang itu, mereka melihat Azzura bagai seonggok robot, yang dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran di seluruh tubuhnya. Kabel infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan entah kabel-kabel apa lagi yang terpasang disana.
Di samping tempat Azzura dirawat, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Azzura yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantung, yang semakin menambah gurat cemas pada wajah Ryan dan semua yang berada disana.
"Jangan ambil dia, Ya Allah," do'a Ryan dalam hati.
Mereka berempat pun duduk dalam diam dan larut dalam do'a masing-masing. Hingga akhirnya, seorang perawat memberi isyarat agar mereka semua masuk dalam ruangan yang sebelumnya hanya boleh dimasuki satu orang secara bergantian.
__ADS_1
Melihat isyarat perawat itu, mereka berempat segera mengenakan pakaian medis yang sudah disediakan dan segera mendekati tubuh lemah Azzura yang sudah tidak mempunyai daya.
"Kondisi Azzura sudah sangat lemah. Dia mengalami gagal jantung dan gagal hati karena penumpukan zat besi yang tidak bisa dikendalikan lagi," Ucap seorang dokter yang intens merawat Azzura selama ini.
"Kami masih berusaha secara maksimal, namun dengan berat hati kami harus katakan bahwa untuk saat ini kita semua hanya berharap keajaiban," lanjut dokter itu, sambil tetap memantau layar detektor yang ada di hadapan mereka.
Mendengar itu, Mama Titania sudah tidak bisa menahan tangisnya. Kini dia sudah tergugu dalam dekapan Papa Prabu. Sementara Ryan mendekati tubuh adiknya, menggenggam erat tangannya dan sesekali mengecup kepalanya. Rani yang melihat kondisi itu pun segera merapatkan mulutnya ke dekat telinga Azzura, dengan terus melafalkan kalimat syahadat tanpa putus. Azzura pun terlihat memberikan beberapa reaksi saat kalimat-kalimat itu terus dilafalkan di dekat telinganya.
Melihat itu, Mama Titania semakin tergugu dan mengeratkan pelukannya kepada suaminya, hingga akhirnya dalam hitungan menit, tiba-tiba terdengar bunyi cukup keras dan panjang dari layar yang berada di dekat Azzura. Grafik detak jantung itu pun kini hanya berupa garis-garis lurus yang tidak beranjak naik dan turun seperti sebelumnya.
Dokter dan perawat yang menyadari hal itu, segera meminta mereka keluar dan segera mengambil tindakan. Tak lama, di tangan dokter sudah ada Defibrilator, alat stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan detak jantung Azzura kembali. Bahkan dokter menempelkan dua alat yang terlihat seperti setrika itu pada tubuh Azzura berkali-kali, namun detak jantungnya tak bisa kembali lagi.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha tapi Allah berkehendak lain," ucap dokter itu sambil mempersilahkan mereka semua masuk.
Mama Titania yang tidak siap mendengar berita itu pun pingsan seketika, sehingga Papa Prabu dan beberapa perawat membawanya ke IGD.
Kini, hanya ada Ryan ditemani istrinya yang diam terpaku di depan jenazah Azzura.
"Kenapa kamu pergi secepat ini, Dek? Bahkan Mas Ryan belum bisa berbuat banyak untukmu," ucap Ryan sendu.
"Bangun, Azzura. Mas minta kamu bangun. Bukannya kamu ingin sekolah di sekolah umum seperti teman-temanmu? Ayo kita daftar sekarang! Ayo bangun, Sayang. Beri kesempatan kepada Mas untuk mencari pendonor sumsum tulang belakang untukmu. Mas janji sampai ujung duniapun akan Mas cari," lanjut Ryan, kini tangisnya terdengar begitu pilu.
Rani yang bisa mengerti akan apa yang dirasakan suaminya itu pun hanya bisa menitikkan air mata, sambil mengusap punggung suaminya untuk sekedar memberi kekuatan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌷🌷🌷
Terima kasih telah setia membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.