
Kini semua mata menatap Arsen dengan tajam, menuntut penjelasan akan semua pertanyaan yang berkecamuk dalam benak mereka akan sebuah pertanyaan. Mereka menunggu butir-butir aksara yang selanjutnya akan keluar, hingga dapat memberi jawaban atas rasa keingintahuan mereka serta mengobati rasa penasaran yang telah berhasil mengikat hati semua orang yang masih setia mendengarkan.
“Lalu Nina? Siapa ayah Nina, Paman? Apakah Nina lahir dari hasil pemerkosaan?” Nina yang kaget dengan cerita yang baru pertama kali didengarnya itu pun mulai bertanya-tanya tentang jati dirinya yang sebenarnya.
“Ahh,” Arsen mendesah kasar. Mau tidak mau semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan di depan Nina harus dia bongkar.
***
Flashback
Dua puluh tiga tahun yang lalu
Arsen memutuskan untuk menjadi bandar narkoba, demi melanjutkan hidup dan kuliahnya, juga kuliah Mira, satu-satunya adik perempuan yang dia punya. Setelah Ayahnya meninggal dan perusahaan keluarga yang akhirnya dikelola ibunya dinyatakan bangkrut, dialah yang kemudian menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi setelah semua harta mereka disita oleh pihak bank dan mereka tidak lagi punya apa-apa, ibunya jatuh sakit dan akhirnya meninggal menyusul sang ayah tak lama setelah mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil begitu rumah satu-satunya yang mereka punya ikut di sita. Semua tanggung jawab akan hidupnya dan hidup adiknya harus menjadi tanggungannya semua. Sejak saat itulah hanya uang, uang dan uang yang dia pikirkan, agar adiknya dapat hidup enak seperti sedia kala saat keluarga mereka masih berlimpah harta.
Hingga suatu ketika, dia bertemu dengan Aghata. Seorang perempuan cantik bermata hijau blasteran Indonesia-Jerman, yang sudah lama menjadi pelanggan heroin yang dia jual. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang Arsen rasakan, melihat perempuan istimewa yang begitu cantik kini selalu menemuinya untuk mendapatkan barang mahal yang selalu dia edarkan.
“Jadilah kekasihku, dan kau tak perlu membayar heroin itu dengan harga mahal, Sayang,” tawar Arsen, begitu mendengar bahwa Aghata sering sakau karena tak memiliki cukup uang untuk membeli heroin lagi.
Dan dari situlah semua berawal. Arsen semakin menggila dengan pesona Aghata, sehingga nafsu birahi pun tak mampu ditahannya. Hampir setiap hari Arsen meniduri Aghata, seiring dengan setiap hari pula mereka pesta heroin bersama-sama.
“Bagaimana jika aku hamil?” pertanyaan itu selalu terlontar dari mulut Aghata setiap kali mereka selesai melakukan hubungan terlarang itu.
“Aku akan menikahimu, Sayang. Teruslah bersenang-senang denganku seumur hidupmu,” janji Arsen yang selalu terlontar.
Mereka pun berhubungan tanpa mengenal batasan, hingga akhirnya Arsen tercengang sendiri mendapat berita kehamilan yang Aghata katakan.
“Tunggu sampai aku siap, aku akan bertanggung jawab,” mendapati Aghata hamil pun janji itu masih terucap.
__ADS_1
Sebenarnya bukannya Arsen tak ada niat untuk menikahi Aghata, karena memang Aghatalah satu-satunya wanita yang dia cintai selain Mira dan ibunya. Bahkan sampai usia kehamilan Aghata menginjak delapan bulan pun mereka masih berhubungan walau tanpa pernikahan. Tapi mengingat dunia hitam yang digelutinya, Arsen merasa harus berpikir dua kali untuk menyeret Aghata dalam kehidupannya. Hingga sebuah keputusan besar pun harus Arsen lakukan. Tanpa berpikir bagaimana nasib Aghata dan bayi yang ada dalam kandungannya, Aghata pun Arsen tinggalkan dengan niatan akan kembali setelah dia membangun usaha dan keluar dari dunia hitam.
***
“Aku mau berhenti,” merasa uang yang dimilikinya sudah cukup untuk menghidupi Mira dan juga Aghata, Arsen mengutarakan niatnya kepada sang majikan.
“Akan kuizinkan setelah barang terakhir berhasil kamu jual,” ucap majikan Arsen, memberi persyaratan.
Karena keluar dari lingkaran setan narkoba bukanlah sesuatu yang mudah, akhirnya Arsen menyanggupinya dengan harapan akan bisa segera terlepas dari dunia hitam bernama pengedaran narkoba.
“Baiklah. Berapa barang terakhir yang harus kujual lagi?” tanya Arsen sambil memantapkan hati.
“Dua ratus,” tegas sang majikan.
“Dua ratus gram?” Arsen memastikan.
“Apa?” wajah Arsen memerah menahan marah. Dua ratus kilo untuk narkoba golongan opiad jenis Heroin harus Arsen jual, sungguh bukan pekerjaan yang mudah, mengingat selama ini target pasar Arsen hanya di sekitar kampus tempat dia belajar, itupun dia tidak berani melepaskannya ke sembarang orang. Hanya orang-orang yang sudah berlangganan dan dapat dia percaya saja yang bisa menerima barang haram itu, atau resikonya jika sampai tersebar akan dapat membahayakan.
“Kau setuju dengan syarat itu, atau kau tetap berada bersamaku seumur hidupmu,” kekeh majikan Arsen, seolah tidak bisa ditawar.
“Jika aku tidak mau?” tantang Arsen penuh emosi.
“Kau tunggu saja akibatnya. Orang-orangku akan menghancurkanmu dan juga adik perempuanmu itu,” majikan Arsen tertawa penuh kemenangan.
“Jangan coba-coba kau usik adikku,” geram Arsen.
“Dan jangan coba-coba kau berani keluar dari aturanku, atau kau akan menyesal seumur hidupmu,” balas sang majikan dengan tatapan datar.
__ADS_1
“Huhhhhh, baiklah-baiklah. Dua ratus kilo aku jual, dan aku kau biarkan hidup tenang,” sambil menggeram karena kesal, akhirnya Arsen membuat sebuah keputusan besar.
“Anak pintar. Keputusan yang benar,” tawa majikan Arsen pun membahana memenuhi seluruh ruangan, sementara Arsen hanya bisa menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan tangan yang mengepal.
Sejak saat itulah Arsen menambah target operasinya berkali lipat. Barang itu tidak hanya dia lempar pada mahasiswa yang ada di kampusnya, tetapi juga di lempar ke kalangan pelajar dan orang luar dengan sembarangan. Siapa saja yang membutuhkan, tanpa seleksi seperti biasanya, barang tetap Arsen siapkan.
Namun, seluas-luasnya target operasi Arsen, angka 200 kilogram bukanlah angka yang mudah untuk ditargetkan. Sekeras apapun Arsen berusaha, selama satu bulan barang yang Arsen jual hanya sampai di angka lima puluh kiloan hingga akhir waktu yang sudah ditetapkan.
Dengan nekat, Arsen pun hanya setor sesuai dengan angka yang dia dapat. Dan seperti apa yang ditakutkan, seluruh anak buah dari sang majikan dikerahkan untuk mengincar dan menangkapnya.
Arsen yang waktu itu berada di dalam kampus, cukup merasa aman karena mereka tidak mungkin akan menangkap dia di sana. Namun, sayang sungguh sayang. Ada satu hal yang Arsen lupakan, yaitu Mira.
"Ke Markas, atau adik perempuanmu yang cantik ini akan habis tanpa bekas," sebuah suara dari ujung telpon membuat Arsen membulatkan mata.
"Mira? Kenapa aku melupakannya?" gerutu Arsen dalam hati.
"Jangan kau sentuh adikku. Seujung kuku pun kau berani menyentuhnya, habis kau," sahut Arsen masih pada sambungan telpon yang sama.
Menyadari bahwa adiknya berada dalam bahaya, Arsen pun tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah majikannya. Akhirnya dia menyerah, dan membiarkan dirinya berada dalam dilema.
Tak butuh waktu lama bagi Arsen untuk sampai ke markas, tempat dimana dia diminta datang. Namun, sesampainya Arsen di sana, alangkah kagetnya dia melihat pemandangan yang ada di depannya.
BERSAMBUNG
💖 💖 💖
Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya guys. Terima kasih.
__ADS_1