METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Poligami Vs Monogami


__ADS_3

Di antara cahaya bulan dan sinar lampu temaram, dua anak manusia itu tetap terjaga meski dinginnya udara yang menerpa menusuk tubuh polos yang sedang berkelana di atas peraduan. Mereka terus menari, sesuai irama jantung yang berdegup tak beraturan. Sesekali nyanyian penuh kenikmatan mengikuti alunan sendu yang sengaja diperdengarkan, membuat berjuta bintang yang bertaburan di cakrawala pun tersenyum malu-malu melihat apa yang mereka lakukan.


Di sudut kamar yang kini dipenuhi dengan Aroma mawar itu, sepasang cinta telah bertasbih mengagungkan ciptaanNya. Mereka terus menyalurkan hasrat cinta yang mereka punya, dengan menyelami ibadah agung yang menyeruak dari denyar nadi yang menyala.


Cup....


Ryan mengakhiri ibadah terindah itu dengan mengecup kening Rani, sebelum akhirnya tumbang begitu saja di samping tubuhnya.


"Terima kasih, Sayang," ucapan itu selalu keluar dari mulut Ryan setiap dia selesai melakukan aktifitas panasnya kepada istri tercinta.


Sesaat, mereka terdiam, menghilangkan sisa-sisa kelelahan di balik peluh yang mereka keluarkan usai menuntaskan perhelatan yang panjang. Tak berapa lama, dua anak manusia itu pun memilih untuk mengistirahatkan diri dan bersandar di kepala ranjang, dengan posisi tetap berpelukan.


Kelelahan yang mendera setelah mereka bermain cukup lama, tak lantas membuat mereka berdua memilih tidur dan melewatkan malam spesial mereka begitu saja. Mereka justru memutuskan untuk menghabiskan malam berdua dengan bercengkerama, mengenang dan menceritakan tentang perasaan masing-masing selama satu tahun mereka bersama.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Ryan.


"Tentu saja Rani bahagia. Terima kasih untuk semuanya ya, Mas," sebuah kecupan mesra berhasil mendarat dengan manis di pipi Ryan.


Ryan tersenyum senang, mendapat perlakuan istrinya yang kini sudah berani menggodanya itu. Entah kenapa, sejak mereka mengakui bahwa mereka saling cinta, bisa dibilang Rani selalu ingin bermanja, bahkan hal-hal agresif pun kini lebih sering dilakukannya.


"Sekarang, katakan hadiah apa yang kau inginkan, Sayang! Mas akan memberikan apapun yang kamu mau," tawar Ryan, sambil meraih dagu Rani dan menciumnya penuh hasrat.


"Benar apapun yang Rani minta?" Rani memastikan.


"Apapun, Sayang. Asalkan masih dalam jangkauan," jawab Ryan yakin.


"Janji?" sekali lagi, Rani memastikan.

__ADS_1


"Janji," mereka menautkan jari kelingking tangan mereka.


"Katakan, Sayang. Apa yang kau minta untuk hadiahmu?" tanya Ryan lagi.


"Rani hanya minta Mas Ryan berjanji. Maukah Mas Ryan berjanji satu hal saja kepada Rani?" ucap Rani ragu. Entah kenapa, binar bahagia di matanya tiba-tiba redup. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba membuncah dan memenuhi rongga dadanya, hingga cukup mengusik hati dan pikirannya.


"Berjanji untuk?" tak sabar, Ryan terus mengejar Rani agar menyelesaikan ucapannya.


"Berjanjilah, bahwa selama Rani masih hidup dan masih bisa menjalankan kewajiban Rani sebagai seorang istri, Mas Ryan tidak akan pernah menikahi perempuan lain, apapun alasannya," pinta Rani dengan memasang muka sangat serius. Bayangan demi bayangan kisah cinta mertuanya benar-benar masih terekam jelas dalam ingatannya.


"Bukankah jelas bahwa laki-laki boleh memiliki sampai empat istri?" pertanyaan itu lolos dari mulut Ryan, sekaligus sukses membuat mata Rani panas dan berair.


Ryan terlihat berpikir keras. Dia mengernyitkan dahinya, bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba membahas itu dalam sepenggal cerita perjalanan mereka berdua. Sebenarnya bisa saja Ryan langsung mengiyakan permintaan istrinya itu, karena sesungguhnya tak ada niat sedikitpun dalam hatinya untuk mengkhianati Rani dan memasukkan perempuan lain dalam ruang hatinya. Apalagi jika mengingat akhir dari kisah poligami kedua orang tuanya, membuat Ryan semakin mantab bahwa dia akan membahagiakan dirinya hanya dengan satu istri di sepanjang hidupnya.


"Bukankah jelas itu disebutkan dalam Al Qur'an? Dosa loh jika kita ingkar," kini muka Ryan sengaja dipasang tak kalah serius.


"Jadi kamu sepakat dengan poligami, tapi tidak mau dipoligami? Curang namanya," sahut Ryan, masih kekeh ingin mengerjai istrinya.


"Apakah sesulit itu, hingga Mas Ryan tidak mau berjanji?" sebuah pertanyaan yang tiba-tiba memilukan keluar begitu saja dari mulut Rani. Bahkan hanya dengan satu kalimat itu, tangis Rani pun tiba-tiba pecah.


"Eh, kok nangis?" Ryan cukup terkejut dengan reaksi Rani yang sangat serius menanggapi ucapannya itu. Bahkan Rani menghempaskan tangan Ryan begitu saja, saat Ryan meraih wajah Rani dan ingin menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya.


"Jangan serius-serius dong, Sayang. Mas hanya mau mengerjaimu. Mas cuma bercanda. Ayolah, ini hari bahagia kita," lanjut Ryan, masih berusaha menempatkan tangannya di area istrinya.


Tak ada sahutan. Rani justru merebahkan tubuhnya dan membalikkannya membelakangi suaminya.


Ryan mendekat. Dia terus melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dan memeluknya dari belakang. Sesekali, Ryan pun menghujani Rani dengan ratusan ciuman.

__ADS_1


"Mas berjanji, Sayang," bisik Ryan.


Rani masih tak berubah pikiran. Dia terus membelakangi suaminya karena kesal.


"Sayang, Mas Janji. Tidak akan pernah ada satu perempuan lain pun yang akan menjadi orang ke tiga di antara kita berdua. Mas sudah begitu bahagia memilikimu sebagai istri Mas. Dan selamanya akan tetap seperti itu. Tidak akan ada yang berubah, selamanya. Mas sungguh-sungguh berjanji," bisik Ryan sekali lagi, kali ini Ryan menunjukkan kesungguhannya.


Rani membalikkan tubuhnya seketika. Matanya tiba-tiba berbinar.


"Mas Ryan tidak sedang berbohong kan? Mas berjanji?"


"Tentu saja Mas Rian tidak sedang berbohong. Mas berjanji, Arania Levana akan menjadi satu-satunya perempuan yang akan merajai hati Ryan Dewangga. Tidak akan ada nama lain selain dirimu, Sayang," jawab Ryan sambil merengkuh Rani dan memeluknya erat.


"Apakah ada hadiah lain yang kau mau?" Ryan kembali berucap dengan lembut.


"Janji setia itu sudah lebih dari cukup dari pada dunia dan seisinya, Mas." Rani menggelengkan kepalanya. Senyumnya merekah manis, menambah cantik wajahnya.


"Apapun akan Mas lakukan, asal kau bahagia," Ryan kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya.


Ya, pada akhirnya mereka memilih untuk saling berjanji setia. Melukis perjalanan cinta tanpa ada orang ke tiga diantara keduanya, hingga rasa itu terpupuk dan terus tumbuh subur dalam jiwa-jiwa mereka.


"Aku akan setia, dan akan selamanya setia, Sayang. Aku tak akan pernah mendua. Itulah janjiku," tutur Ryan lirih, sambil mengulangi aktifitas malam mereka yang panjang.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Jangan lupa like, vote, rate 5 dan comment positifnya, ya...

__ADS_1


__ADS_2