
Karena Rani terus merintih kesakitan saat tubuhnya digerakkan, akhirnya Ryan hanya memakaikan baju tidur minim agar lebih mudah dipakaikan. Setelah dengan susah payah baju itu Rani kenakan, Ryan pun menutupi seluruh tubuh istrinya dengan selimut yang dia rapatkan hingga sebatas dada.
Dua puluh menit berselang, dokter yang dipanggilnya tak kunjung datang. Ryan pun hanya berjalan mondar-mandir di samping ranjang tempat Rani sedang merintih kesakitan.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara ketukan.
"Masuk," seru Ryan dari dalam.
Tak lama kemudian, Dokter Amanda datang dengan Bik Tum dan Naja yang berada di belakangnya. Ya, Bik Tum dan Naja sudah biasa terbangun dari tidurnya, mengingat waktu shubuh sudah tiba. Jadi begitu Dokter Amanda datang, mereka langsung tanggap dan segera paham apa yang harus mereka lakukan.
Begitu sampai ke dalam kamar, Dokter Amanda langsung meminta mereka semua untuk keluar.
Butuh waktu sekitar setengah jam sebelum akhirnya Dokter Amanda keluar dan memberi penjelasan.
"Tuan Ryan, bisakah kita berbicara sebentar?" melihat seluruh keluarga sudah berjajar di depan kamar, membuat Dokter Amanda meminta waktu untuk berbicara hanya kepada Ryan seorang.
"Bagaimana dengan kondisi istri dan anak saya, Dok?" tanya Ryan tak sabar.
"Apakah tidak apa-apa saya berbicara di sini, Tuan?" Dokter Amanda memastikan.
"Tidak apa-apa, Dokter. Mereka semua adalah keluarga saya," sahut Ryan meyakinkan.
"Sebelum saya menjelaskan kondisi istri Anda, bolehkah saya bertanya sedikit?" tanya Dokter Amanda.
"Tentu saja, Dokter," jawab Ryan.
"Apakah sebelum istri Anda mengeluarkan darah, Tuan Ryan melakukan hubungan suami istri dengan Nona Rani?" tanya Dokter Amanda penuh selidik.
Semua yang kini mendengar pertanyaan Dokter Amanda membulatkan mata, tak terkecuali Aghata dan Arsen yang merasa ikut tersindir dengan pertanyaan Dokter Amanda, mengingat mereka juga baru saja selesai melakukannya.
"Iya, Dok. Begitu kami selesai melakukannya, istri saya langsung mengeluh sakit di bagian perut dan pinggangnya, sampai akhirnya keluar bercak darah itu," lirih Ryan penuh sesal.
"Begini, Tuan. Mungkin tadi Tuan melakukan itu agak sedikit kasar, hingga membuat istri Anda pendarahan. Mungkin saja sebelum ini istri Anda sedang berada dalam tekanan atau dalam kondisi kelelahan, hingga aktifitas semacam ini yang dilakukan terlalu lama dan tidak hati-hati, membuat pendarahan itu terjadi," Jelas Dokter Amanda panjang lebar.
__ADS_1
Semua yang mendengar penjelasan Dokter Amanda sukses membelalak dan mengarahkan pandangannya ke arah Ryan.
"Seganas itu?" batin mereka dalam hati.
Ryan pun tak peduli dengan tatapan penuh tanya dari semua orang yang kini berada di hadapannya.
"Terus bagaimana, Dok?" Ryan terlihat gelisah.
"Untung saja hanya bercak darah yang keluar, tidak sampai pendarahan hebat. Sehingga dengan obat penguat yang saya berikan, sudah cukup untuk membuat janin dalam rahim istri Anda aman. Tapi saran saya, Tuan. Dalam waktu dua pekan ke depan, jangan dulu melakukan hubungan badan. Jika pun dirasa berhubungan, tolong lakukan itu dengan pelan, dan mungkin dengan durasi yang sebentar-sebentar," ucap Dokter Amanda sambil menyerahkan obat ke tangan Ryan.
"Istri Anda sangat cantik, Tuan. Pantas saja begitu Anda melakukannya istri Anda langsung pendarahan. Saya yakin Anda pasti selalu tidak tahan. Bagaimana tidak? Istri Anda sesempurna itu," batin Dokter Amanda sambil tersenyum penuh arti.
Bahkan Dokter Amanda jadi tersenyum geli jika mengingat bagaimana ketika dia memeriksa Rani sesaat tadi. Kondisi kamar dan tempat tidur mereka masih sangat kacau, dengan pakaian yang masih berserakan di lantai. Apalagi saat memeriksa Rani tadi, Rani hampir tidak mengenakan pakaian sama sekali selain lingerie seksi yang dia kenakan asal, membuat Dokter Amanda bisa membayangkan sepanas apa adegan ranjang yang baru saja mereka lakukan.
"Terima kasih, Dok," ucap Ryan sambil menerima obat itu, sesaat sebelum akhirnya menyerahkan obat itu kepada Bik Tum, pengasuhnya sekaligus orang yang selalu melayani setiap kebutuhannya dan kebutuhan istrinya sampai sekarang.
Setelah berbasa-basi sebentar, Dokter Amanda pamit pulang.
Ryan pun bergegas ingin segera masuk ke dalam. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti begitu menyadari semua orang di belakangnya mengikuti.
"Mau melihat Rani," jawab mereka kompak.
"Jangan sekarang. Istriku sedang tidak memakai baju," Ryan berkata dengan fulgar.
Semua yang mendengar ucapan Ryan pun membulatkan mata, sambil tersenyum geli.
"Gila kamu, Bro. Istri lagi hamil dikerjai juga," Arya meninju bahu Ryan kemudian membalikkan tubuhnya dan merangkul tubuh Lena.
"Ayo, Sayang. Kakak jadi pengen melakukannya juga," ucap Arya memanas-manasi Ryan.
Semua yang melihat bagaimana Arya menggoda sahabat sekaligus saudara angkatnya itupun hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan mereka berdua.
Setelah mereka kembali ke kamar masing-masing, Ryan pun kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Namun, belum sempat Ryan menghampiri istrinya, Bik Tum sudah terdengar mengetuk pintu.
"Ya, Bik," seru Ryan.
Bik Tum pun segera masuk dengan nampan di tangannya.
"Bik Tum bawakan air dan obat untuk Non Rani, Den," ucap Bik Tum.
"Taruh di meja saja, Bik. Biar nanti aku yang ngasih ke dia. Kelihatannya tadi Dokter Amanda memberi suntikan, hingga istriku sudah bisa tertidur nyaman," sahut Ryan sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Baik, Den," Bik Tum segera melangkah dan meletakkan nampan itu di atas meja yang terletak di depan sofa panjang yang di duduki Ryan.
Setelah nampan itu berada di meja, Bik Tum pun segera membalikkan tubuhnya. Dan alangkah kagetnya Bik Tum, ketika melihat kondisi kamar majikannya.
"Ya Allah, pantas saja Non Rani sampai pendarahan seperti itu. Kelihatannya semalam mereka melakukannya sampai di luar kendali," batin Bik Tum dalam hati.
Betapa tidak, tempat tidur mereka kini sudah tak berbentuk. Pakaian kedua majikannya juga masih berserakan dimana-mana, mulai dari hijab sampai pakaian dalam mereka.
Tak tega, Bik Tum pun memunguti pakaian yang berserakan di lantai itu satu per satu, dan hendak mencucinya seperti biasanya.
"Bik," Ryan langsung berdiri melihat apa yang sedang Bik Tum lakukan di kamarnya.
"Ya, Den," sahut Bik Tum tanpa berhenti memunguti barang pribadi majikannya.
"Biar aku yang beresin, Bik. Nanti kalau sudah kuletakkan di tempat pakaian kotor, baru Bik Tum ambil seperti biasanya," ucap Ryan tak enak.
"Nggak papa, Den. Kali ini biarkan Bik Tum yang melakukannya. Den Ryan istirahat saja," tolak Bik Tum dengan logat khas jawa yang sangat identik dengannya.
"Tapi aku malu, Bik. Itu kan ...," Ryan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia benar-benar malu, pengasuhnya melihat semuanya.
"Den Ryan ini lucu. Sama Bik Tum aja kok pakai acara malu segala," kata Bik Tum sambil keluar membawa seluruh pakaian yang telah dipungutnya.
"Tapi aku kan malu, Bik,"
__ADS_1
BERSAMBUNG