
Di sinilah mereka sekarang. Di area food court sebuah mall yang menawarkan berbagai macam jajanan.
Kini, di meja mereka sudah tersaji beragam makanan. Mulai dari pempek Palembang, coto Makasar, es pisang hijau, beef steak, mie ayam hot plate, lengkap dengan semangkuk es krim juga es teler.
"Kamu yakin mau memakan semua makanan ini, Sayang?" Ryan membulatkan mata begitu melihat semua makanan yang Rani pesan.
"Rani pengen semuanya, By. Lagian kalau tidak habis kan ada Hubby," jawab Rani sambil mengerlingkan matanya.
"Apa? Oh, No," keluh Ryan dalam hati.
Satu per satu makanan pun Rani lahap tanpa sisa. Dengan bantuan Ryan tentunya. Mereka makan dengan saling menyuapi hingga makanan di depan mereka habis tanpa sisa.
Ryan tersenyum melihat istrinya yang menjadi doyan makan sejak kehamilannya memasuki tri mester ke dua. Tak heran jika akhir-akhir ini Rani mengeluh soal pakaian, karena sesungguhnya memang kini tubuhnya makin berisi.
"Enak?" tanya Ryan sambil mengelap bibir Rani dengan tisu.
"Enak, By. Besok kita makan di sini lagi yuk, By," oceh Rani manja.
"Kapan pun kamu mau, kita bisa ke sini, Sayang," sahut Ryan sambil memamerkan giginya yang putih bersih dan tersusun rapi.
"Sekarang, kemana kita? Mau cari baju kamu di sini atau kita cari di tempat lain?" cicit Ryan.
"Di sini aja, By. Kita lihat-lihat dulu, jika tidak ada yang cocok baru kita cari di luar mall," jawab Rani, langsung beranjak dan menarik tangan Ryan.
Mereka pun berputar-putar, masuk dari satu toko ke toko lainnya, memilih satu per satu pakaian yang kira-kira pas, juga sesekali mencoba pakaian yang dirasa cocok di fitting room yang sengaja disediakan.
Setelah dapat beberapa potong pakaian untuk bumil kesayangan, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Pulang yuk, By. Rani capek," rengek Rani manja.
"Kamu yakin, ini semua sudah cukup?" tanya Ryan sambil melirik barang belanjaan mereka.
__ADS_1
"Mmm, sementara cukup, By. Nanti kalau perut Rani sudah lebih besar lagi, baru kita cari lagi," sahut Rani sambil melihat semua paper bag yang ada di tangan suaminya.
"Oke. Kalau begitu istri cantik Hubby duduk di sini dulu, Hubby ke toilet sebentar," Ryan memastikan Rani duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di salah satu sudut mall, kemudian meletakkan beberapa paper bag yang dipegangnya di depan istrinya. Setelah semua barang bawaannya dia taruh, baru dia mencari toilet untuk membuang sesuatu yang sudah meronta minta dikeluarkan dari arah bawah sana.
Sambil menunggu suaminya datang, Rani merogoh saku tasnya, mencari sebuah ponsel yang sejak sampai di kantor Ryan tak lagi dilihatnya. Melihat beberapa notifikasi yang masuk, jiwa kepo Rani pun langsung aktif dan membuatnya segera berselancar dengan benda pipih canggih miliknya.
Hingga tanpa dia sadari, seseorang sudah duduh di sampingnya.
"Hallo, Cantik," selorohnya hingga mengagetkan Rani yang sedang fokus dengan ponsel miliknya.
Rani membulatkan matanya, melihat siapa yang tiba-tiba datang menghampirinya. Spontan, dia langsung beranjak dan memunguti seluruh paper bag yang ada di depannya, untuk kemudian pergi meninggalkan orang itu. Sayangnya, barang bawaannya terlalu banyak sehingga beberapa diantaranya justru jatuh dan berserakan di lantai.
Melihat wanita cantik di depannya begitu kerepotan, orang itu pun membantu memunguti barang-barang yang berceceran. Hingga ketika ada kesempatan, dia sengaja memegang tangan Rani yang tak sengaja bersenggolan. Dengan sigap, Rani pun langsung menarik tangannya dan kembali merapikan seluruh barang bawaannya.
Tanpa mereka sadari, dari salah satu sudut mall, Ryan yang baru saja keluar dari kamar kecil melihat istrinya sedang di pegang oleh seorang pria. Dengan menahan geram, Ryan pun segera berjalan ke arah istrinya dan pria itu.
"Sayang," panggilnya tanpa menghiraukan orang yang sedang bersama istrinya.
Rani yang tidak ingin membuat suasana hati Ryan semakin memburuk pun hanya mengangguk pelan, dan menggamit lengan Ryan untuk pulang.
Tanpa Ryan dan Rani ketahui, pria itu terus memandang mereka dengan tatapan yang penuh misteri.
***
Di dalam mobil, Ryan terus menggerutu kesal. Saking emosinya, bahkan dia menekan pedal gasnya semakin dalam sehingga mobil mereka melaju sedemikian kencang.
"By, jangan kencang-kencang dong, By. Rani takut," seru Rani sambil mencengkeram saking takutnya.
"Kenapa sih, si Felix itu harus muncul lagi di hadapan kita? Apa belum cukup pelajaran yang aku berikan kepadanya?" omel Ryan sambil terus melajukan mobilnya.
"Mana Rani tahu, By. Dia tiba-tiba muncul dan duduk di samping Rani," sahut Rani sambil mencari pegangan apapun yang bisa diraihnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak langsung pergi dan malah membiarkan dia mendekatimu?" cecar Ryan penuh emosi.
"Rani sudah mau pergi, By. Tapi bawaan Rani jatuh," jawab Rani lagi.
"Harusnya kan langsung kamu pungut, kemudian segera pergi. Gimana sih kamu? Kamu sengaja ingin membuat dia membantumu? Pakai pegang tanganmu lagi," Ryan terus nerocos tanpa mempedulikan wajah Rani yang sudah berubah.
"Hubby!" bentak Rani dengan begitu kerasnya.
Ryan sampai menekan pedal remnya dengan begitu dalamnya, sehingga mobil mereka berdecit sebelum akhirnya berhenti setelah Ryan sedikit meminggirkannya. Tubuh mereka pun sedikit terdorong ke depan, tapi masih beruntung Rani dan janinnya masih aman karena mengenakan sabuk pengaman.
Ryan benar-benar kaget mendengar istrinya meneriakinya, sebuah hal yang belum pernah Rani lakukan sebelumnya. Sesaat, mereka pun saling pandang.
"Lihat perut buncit Rani, By. Untuk duduk saja Rani kesulitan, apalagi harus berdiri dan secepat kilat harus memunguti barang-barang yang berserakan di lantai. Hubby bisa tidak sih, sedikit saja merasakan beratnya Rani mengandung anak Hubby?" oceh Rani kesal. Bahkan kini matanya sudah memerah, dan air yang menggenang pun sudah tak tahan ingin tumpah.
Ryan hanya melongo mendengar keluhan istrinya. Sungguh, rasa cemburunya benar-benar sudah membuatnya tak bisa berpikir dengan logika. Benar kata Rani. Kini perutnya sudah membuncit, tentu bukan hal yang mudah untuk bisa duduk, berdiri, bahkan berjongkok seperti orang lain yang sedang dalam kondisi normal.
"Cemburu boleh, By. Tapi jangan berlebihan. Pakai perasaan Hubby, jangan langsung ikuti emosi. Dalam sebuah hubungan, kadang rasa cemburu itu perlu. Bahkan, bisa dikatakan sebuah hubungan tanpa rasa cemburu bagai masakan tanpa garam. Bisa saja Hubby cemburu karena tanda sayang. Tapi jika berlebihan, itu semua bisa jadi awal kehancuran sebuah hubungan," lanjut Rani sambil memalingkan mukanya ke arah jendela mobil yang ada di sampingnya.
Ryan mengacak rambutnya dengan kasar. Seketika itu juga dia merasakan penyesalan yang mendalam.
"Maafkan, Hubby. Hubby benar-benar cemburu, Sayang. Hubby betul-betul tak rela melihat ada pria lain yang mendekatimu, apalagi Felix, pria yang selalu mengejarmu sejak kalian SMA dulu," Ryan memelankan suaranya.
Sedetik kemudian, diraihnya tangan Rani dengan lembut, sebelum akhirnya Ryan mengecup punggung tangan Rani dengan mesra.
Rani yang masih kesal dengan kelakuan suaminya yang berlebihan itu pun justru memejamkan mata tanpa merespon ucapan suaminya.
"Kita pulang?" tawar Ryan lembut.
Setelah melihat Rani menganggukkan kepalanya, Ryan pun kembali melajukan mobilnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1