METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tentang Rasa


__ADS_3

Panasnya terik mentari yang membakar tubuh, tak sedikit pun menyurutkan semangat pria berkulit putih itu. Meskipun saat ini mukanya sudah sangat memerah akibat sengatan matahari yang menyentuh langsung wajah tampannya, namun matanya tetap bergerak mengawasi seluruh pekerja yang sedang menyulap perkebunan itu menjadi sebuah tempat wisata sesuai impiannya.


“Ahhh,” gumam Ryan sambil menyeka peluh yang mengalir deras di dahinya. Sesekali dia meneguk air mineral yang terus dibawanya kemana-mana untuk sekedar menghilangkan dahaga, sesekali pula dia membiarkan keringat itu kering dengan sendirinya saat semilir angin menerpa dan hawa sejuk menyapu mesra wajahnya.


Senyumnya selalu tersungging, meskipun kilatan lelah begitu terlihat jelas dari ekspresi yang secara tidak sengaja diperlihatkannya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama dia merasakan manisnya sebuah perjuangan, setelah dua puluh delapan tahun dia dilahirkan. Hal itu karena sejak dia mulai menjadi penduduk bumi, segala fasilitas mewah sudah berhasil dia dapatkan.


Meskipun begitu, ketika dia harus mengawali semuanya mulai dari titik terendah, tak ada niat sedikit pun di hatinya untuk menyerah sebelum sampai pada titik penghabisan. Bahkan setiap dia berpikir untuk putus asa, saat itu pula dia melihat bayangan istrinya yang selalu hadir untuk menguatkannya dalam suka maupun duka.


Ya, lagi-lagi senyum itu merekah di bibirnya, ketika dia mengingat tingkah sang istri tercinta.


“Memang berapa isinya?” pertanyaan Rani ketika menyerahkan kembali kartu ATM yang diberikan Ryan begitu menggelitik pikirannya.


Ryan benar-benar bersyukur mempunyai istri seorang pejabat yang jauh dari kehidupan glamor dan gila harta. Kesan sederhana yang selalu dia utamakan, bahkan tak pernah membuat orang berpikir bahwa dia adalah perempuan bergaji besar. Dia hanya menggunakan uang yang dia hasilkan untuk keperluan pribadi secukupnya, selebihnya dia bagi-bagikan untuk orang-orang yang lebih membutuhkan. Jadi sangat wajar jika Rani tidak mengetahui berapa isi dari kartu ATM itu, apalagi menggunakannya.


Sebenarnya Ryan juga tidak tahu persis, berapa jumlah uang yang telah dia berikan kepada istrinya melalui kartu ATM itu. Karena sejumlah uang di dalamnya hanyalah uang receh yang tak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan seluruh kekayaan keluarga Dewangga. Baru setelah semua menghilang, Ryan akhirnya tersadar bahwa jumlah itu ternyata sangatlah berharga, karena uang yang pernah dianggapnya sebagai recehan itulah yang kini justru menyelamatkannya dengan bisa terbangunnya sebuah area parkir dan Cafe di perkebunan milik mereka.


"Kau tak perlu berpanas-panas dan hidup menderita seperti ini, Ryan. Kau bisa mengambil alih Atmaja Group kapan saja yang kau mau," tiba-tiba suara yang sangat Ryan kenal terdengar dari arah belakang. Bahkan kini tangan itu mengulurkan sebuah sapu tangan dan mendekatkannya pada kening Ryan untuk menyeka keringat yang masih mengalir deras disana.


"Meysie?" Ryan menepis tangan itu dengan kasar, menyadari kemana Meysie mengarahkan pembicaraan.

__ADS_1


"Terima kasih untuk niat baikmu. Tapi sayangnya aku tidak tertarik," ucap Ryan dengan memasang wajah datar.


"Ayolah, Sayang. Jangan naif. Kau tak bisa hidup hanya dengan kata cinta. Kau butuh semua yang kau miliki selama ini. Dan hanya aku yang saat ini bisa memberikan semuanya kepadamu," Entah keberanian dari mana, kata itu yang keluar dari mulut Meysie.


Mata Ryan memerah menahan marah. Dia tidak pernah mengira bahwa kata-kata murahan seperti itu akan lolos dari mulut perempuan anggun dan terpelajar yang pernah memenuhi seluruh ruang dalam hatinya itu.


"Kau benar-benar berubah, Meysie. Kau bukanlah Meysie yang dulu lagi," gurat kecewa targambar jelas di wajah Ryan. Meysie yang dulu dia kenal sebagai wanita anggun, pintar dan selalu bersikap elegan tiba-tiba berubah menjadi wanita murahan yang rela melakukan hal memalukan hanya untuk mengejar pria beristri yang tak mungkin dia dapatkan.


"Kau yang berubah, Ryan. Dan kau juga yang telah memaksaku untuk berubah," kini mata Meysie sudah berkaca-kaca. Berbagai rasa berkecamuk di dalam jiwanya, hingga menyeruak dan menyesakkan dada. Nafasnya yang terdengar kasar, kini memburu hingga air mata pun berhasil lolos dari mata indah itu.


"Bukan salahku jika cinta itu sudah lama hilang dari hatiku. Bukankah kau sendiri yang waktu itu tak mau berjuang bersamaku?" seru Ryan sambil membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju mobil Jeep yang sekarang selalu menemani aktifitasnya.


"Lepaskan, Meysie!" Ryan berusaha melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya, namun semakin Ryan berusaha, Meysie semakin mengeratkan cengkeraman tangannya.


"Aku tidak mau. Kumohon Ryan, maafkan aku. ayo kita mulai semuanya dari awal," tolak Meysie, sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku bilang lepaskan, atau aku akan membencimu seumur hidupku!" hardik Ryan yang benar-benar sudah hilang kesabaran.


"Aku mencintaimu, Ryan. Berilah aku kesempatan! Ayo kita mulai rajut kembali cinta kita! Aku mohon...," rajuk Meysie, semakin menenggelamkan diri dalam punggung pria yang telah menjadi separuh jiwanya itu.

__ADS_1


"Semua sudah terlambat, Meysie. Aku mencintai istriku lebih dari apapun di dunia ini. Kumohon, pergilah baik-baik sebelum aku benar-benar membencimu," akhirnya Ryan berhasil melepaskan tangan Meysie dari tubuhnya dan ingin segera pergi jauh dari hadapannya, namun Meysie justru meraih kakinya dan bergelayut disana dengan tangis yang semakin membahana.


"Kembalilah padaku, Ryan! Kembalilah padaku! Jangan kau hukum aku seperti ini!" erang Meysie sambil terus memegangi kaki Ryan.


Ryan tak memberi respon apapun dengan permintaan terakhir Meysie. Dia hanya diam sambil terus menatap ke depan. Hingga ketika Meysie mulai lengah dan mengendurkan cengkeraman tangannya di kaki Ryan, dengan cepat Ryan menghentakkan kakinya dan pergi begitu saja.


Meysie pun lemas terkulai. Dia membiarkan dirinya duduk begitu saja di atas hamparan tanah perkebunan, tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang telah menatap ke arahnya dengan tajam.


Yah, Cinta yang telah membuat buta matanya benar-benar menumpulkan akal sehatnya. Bahkan dirinya kini menjadi terlalu bodoh, hingga terus meratapi segenggam rasa yang tak lagi sampai ke hati pria pujaannya.


"Aku tak akan pernah menyerah, Ryan Dewangga! Lihat saja, kau akan kembali kepadaku!" Meysie berteriak sekencang-kencangnya, dengan rasa perih yang menjalar ke seluruh jiwanya. Membiarkan matanya menatap punggung orang yang dia cinta berlalu dan menghilang dengan meninggalkan luka untuknya.


Kini, hanya langit terhalang awan hitam yang sudi menemani penderitaan Meysie yang tak terkirakan, menembus sebuah takdir cinta yang sangat jauh dari angan-angan. Seperti cinta yang sejatinya tak akan pernah bisa dipaksakan, begitu juga dengan perasaan cinta di hati Meysie yang tak akan pernah bisa dihilangkan.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Pembaca setia,

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment juga favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih


__ADS_2