METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Marahnya Orang Hamil Menakutkan


__ADS_3

Dari semua peristiwa yang singgah ke dalam hidup Ryan, berita kehamilan Rani adalah satu-satunya kabar yang paling membuat Ryan bahagia. Bagaimana tidak? Rasa sesal yang terus menghantui Ryan setelah kesalahpahaman yang berakhir pada sebuah pertengkaran yang membuat Rani keguguran pada kehamilannya yang pertama ketika itu, membuat rasa was-was dan ketakutan berlebih terus menghinggapi benaknya. Ryan benar-benar takut kalau-kalau Allah tidak akan mengamanahkan seorang anak lagi kepada mereka, mengingat peristiwa itu karena kelalaiannya.


"Hubby!" hanya mendengar namanya di panggil gadisnya yang telah mengandung anaknya itu, Ryan akan segera berlari dan dalam sekejap akan langsung berada di sisi Rani. Suami siagalah kira-kira sebutan yang paling pas untuknya.


"Kamu pengen apa, Sayang? Pengen makan sesuatu? Pengen Hubby pijitin? Atau pengen ngapain?" cecar Ryan mengingat sampai saat ini belum ada satu pun yang Rani minta kepadanya, kecuali rendang jengkol yang waktu itu sempat Rani minta di awal kehamilannya.


Ya, dalam masa kehamilannya, sejauh ini Rani belum menunjukkan tanda-tanda rewel dan manja yang berlebihan, jauh jika dibandingkan dengan kehamilannya yang pertama sebelum akhirnya mereka kehilangan janinnya. Rani tetap menjadi perempuan yang energik, mandiri dan semangat seperti biasanya.


Namun, malam ini sungguh berbeda dari malam-malam sebelumnya, sehingga kekhawatiran di hati Ryan benar-benar tak bisa disembunyikannya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Ryan mengelus kepala istrinya, mendapati istrinya hanya tidur tak mau melakukan apa-apa.


Rani hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu sakit?" melihat Rani tak bergeming, kekhawatiran Ryan semakin kebangetan.


"Hubby, Rani capek. Bisakah Hubby tidak tanya Rani terus? Rani males jawabnya," jawab Rani ketus.


"Bukan gitu, Sayang. Hubby kan khawatir sama istri dan anak Hubby," sahut Ryan dibuat selembut mungkin.


"Sayang, bener kamu nggak sakit?" kini Ryan ikut berbaring dan memeluk Rani dari belakang.


"Hubby kenapa bawel banget sih. Rani kan sudah bilang Rani ini sedang capek. Bisa tidak Hubby tidak gangguin Rani? Huh, nyebelin," di luar dugaan, tiba-tiba Rani beranjak dari tidurnya dan berjalan ke luar.


Ryan hanya melongo saja mendapati istrinya yang begitu aneh menurutnya.


"Dia kenapa sih, marah-marah nggak jelas gitu?" gerutu Ryan kesal. Dia membiarkan istrinya keluar dari kamar mereka begitu saja.


"Orang ditanya baik-baik kok malah jawabnya kasar? Disayang-sayang nggak mau. Maunya apa coba?" batin Ryan dalam hati.


Alih-alih mengejar dan merayu istrinya agar tidur di kamarnya kembali, Ryan justru membiarkan Rani keluar dari kamar mereka tanpa peduli kemana dia pergi.


Hingga sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit pun berlalu. Ryan yang sedari tadi berbaring sambil berselancar dengan ponsel miliknya pun akhirnya tersadar bahwa istrinya belum kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Ran! Sayang!" panggil Ryan.


Karena tak ada sahutan, Ryan memutuskan ke luar dan mencari istrinya di seluruh ruang.


"Ran! Sayang!" panggil Ryan lagi.


Mendapati panggilannya tak juga mendapat sahutan, suara Ryan semakin kencang.


"Den Ryan mencari siapa, Den?" mendengar Ryan terus berteriak memanggil-manggil nama istrinya, tiba-tiba Bik Tum menghampiri.


"Bik Tum lihat istriku nggak Bik?" tanya Ryan sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Sebelum Bik Tum menjawab, Aghata keburu datang dan menegur Ryan.


"Kalian ini kenapa sih, Nak?" Aghata mencoba menerka-nerka.


"Menantu Mommy tuh yang kenapa? Orang Ryan tanya dia sakit atau enggak kok malah dijawabnya ketus, Mom. Ryan kan sayang sama dia, Mom. Makanya Ryan tunjukkin perhatian Ryan kepadanya. Eh, dianya malah ngomel-ngomel bilang Ryan gangguin dia. Ryan peluk juga, dianya malah pergi dari kamar, sampai sekarang nggak pulang-pulang," aduh Ryan.


Aghata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mendekati Ryan dan menjewer telinganya.


"Mommy kenapa sih, Mom? Orang menantu Mommy yang nakal kok malah Ryan yang dijewer?" gerutu Ryan kesal. Dia mengusap telinganya yang memerah karena jeweran Aghata.


"Kayak gitu masih berani bilang mau jadi ayah yang baik?" Aghata berkacak pinggang.


"Mommy apaan sih?" protes Ryan.


"Istrimu itu sedang hamil. Wajar kalau dia sensitif atau kemauannya macam-macam. Kemarin saja kamu bilang siap jadi suami siaga. Sekarang giliran istrimu benar-benar menunjukkan gejala ngidamnya malah kamunya sewot," kini Aghata mengacak rambut Ryan sembarangan.


"Masa ngidamnya dia marah-marah, Mom? Yang namanya ngidak kan biasanya minta makanan aneh-aneh," Ryan protes lagi.


"Tidak selalu seperti itu, Anak Mommy Sayang. Perempuan hamil itu unik. Dia sensitif karena pengaruh hormon dalam tubuhnya yang berubah, makanya mudah marah, mudah nangis, bahkan terkadang manja, walaupun dia bisa cepat sekali berubah menjadi sangat bahagia. Perempuan hamil juga butuh perhatian lebih, makanya terkadang permintaannya macam-macam dan aneh-aneh. Masih beruntung Rani cuma berubah menjadi doyan tidur dan tidak mau diganggu siapapun. Di luar sana banyak perempuan hamil yang kemauannya sampai tidak bisa dilogika," jelas Aghata panjang lebar.


"Jadilah teman berbagi yang baik untuk Rani, di masa kehamilannya ini, Nak. Kamu pikir hamil itu bukan sesuatu yang berat? Kamu salah, Sayang. Hamil dan melahirkan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Jangan biarkan Rani menderita seperti ketika Mommy mengandung Daniel dulu. Waktu itu bahkan Mommy tidak bisa meminta hal sekecil apapun karena tidak ada ayahnya di dekat Mommy. Padahal waktu Mommy hamil, Mommy seperti perempuan hamil pada umumnya yang juga merasakan ngidam dan butuh perhatian," Aghata melunakkan suaranya, bahkan kini bulir bening dari ujung matanya tak terasa luruh begitu saja.

__ADS_1


"Kok Mommy malah jadi sedih gini sih, Mom?" Ryan memeluk Aghata.


Mendapatkan pelukan dari putranya, Aghata justru semakin tergugu. Ingatannya kembali pada masa-masa saat dia berada di puncak penderitaannya dulu.


"Maafin Ryan, Mom. Ryan janji akan menjadi suami yang baik untuk menantu Mommy, juga menjadi ayah yang baik untuk cucu-cucu Mommy," tutur Ryan lembut.


Aghata tersenyum sambil mengusap air mata di pipinya.


"Ini baru anak Mommy," diusapnya kepala Ryan dengan lembut.


"Sekarang Rani tidur di kamar tamu. Jaga dia, tapi ingat jangan ganggu tidurnya. Biarkan dia istirahat. Kasihan dia kecapekan setelah dua hari sibuk membantu persiapan pesta Nina dan Johan," perintah Aghata lembut.


"Terima kasih, Mommy." Begitu mengetahui keberadaan Rani, Ryan langsung berlari menuju kamar tamu untuk menemani sang istri.


"Sayang!" seru Ryan begitu sampai di depan kamar.


"Sssstttt," tiba-tiba Bik Tum menyenggol Ryan dari belakang.


"Bukannya Nyonya besar baru saja bilang," lanjut Bik Tum setengah berbisik.


"Tapi pintunya dikunci, Bik. Istri tercintaku di dalam," rengek Ryan.


"Terserah Aden. Tapi kalau Non Rani marah-marah, Bik Tum nggak ikut-ikutan lho. Marahnya orang hamil menakutkan lho, Den," Bik Tum menakut-nakuti.


"Baiklah-baiklah. Aku tidur di sofa ini saja. Tolong Bibik ambilkan bantal dan selimut buat aku tidur di sini," Ryan menyerah dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, yang terletak di depan kamar tamu yang saat ini ditempati istrinya.


Dalam hitungan menit pun Ryan sudah terlelap, sampai-sampai tidak terasa saat Bik Tum datang dan menyelimutinya.


Hingga sebuah teriakan tiba-tiba mengagetkannya.


"Hubby! Hubby! Hubby dimana? Tolong Rani, by!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Jangan lupa like, vote dan rate 5. Comment positifnya ditunggu juga ya. Terima kasih


__ADS_2