METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Dimana Ibu dan Adik Naja? (Part 1)


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat shubuh, Rani memundurkan tubuhnya dan bersandar di tepi ranjang. Ya, dia melanjutkan dzikir dan do'anya dengan menyelonjorkan kakinya dan tubuh bersandar, mengingat perutnya sudah tidak nyaman dengan posisi kaki normal.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ryan setelah menyelesaikan do'anya.


"Perut Rani ngganjal, By. Sudah tidak nyaman dengan posisi normal," sahut Rani dengan senyum tipisnya yang menggemaskan.


Ryan beranjak dan mendekati Rani, kemudian mengelus perut istrinya yang sudah setengah membola itu.


"Maafkan Hubby," tiba-tiba Ryan jadi merasa bersalah, mengingat omelannya kemarin.


"Maaf untuk apa?" Rani menatap penuh tanda tanya.


"Untuk yang kemarin. Hubby benar-benar tidak peka dengan kesulitanmu selama hamil. Hingga kemarin ...," jawab Ryan sambil membalas tatapan istrinya. Bahkan Ryan mengucapkan itu dengan sedikit terbata.


"Ssst. Jangan dibahas lagi. Rani sudah memaafkan Hubby," kini tangan Rani mengelus pipi suaminya dengan sayang.


"Terima kasih," Ryan mengambil tangan Rani dari pipinya dan mengecupnya dengan penuh kehangatan.


Rani hanya mengangguk pelan, sebelum akhirnya Ryan merengkuh tubuhnya dan memeluknya erat.


"Mmm, By. Boleh nggak Rani tanya sesuatu?" tanya Rani sambil membenamkan diri dalam dada bidang suaminya.


"Tentu saja, Sayang. Apa yang mau kamu ketahui?" Ryan sedikit menundukkan kepalanya demi melihat wajah cantik kekasih halalnya.


"Waktu Naja mengucapkan sumpah setianya kembali dan bersedia menikah dengan Daniel, kan Hubby sudah berjanji untuk membebaskan Ibu dan adik Naja. Sekarang posisi mereka dimana, By? Kenapa Naja tidak dibiarkan bertemu dengan mereka?" Rani bertanya dengan sangat serius, bahkan kini dia merenggangkan pelukannya dan membenarkan posisi duduknya.


Ryan menghela nafas panjang, tidak siap dengan pertanyaan istrinya yang begitu mengejutkan.


"Kanapa Hubby diam? Hubby atau Daniel tidak mencelakai mereka kan, By?" cecar Rani merasa tak sabar.


"Mana mungkin Hubby mencelakai mereka, Sayang. Bahkan selama ini Papa selalu melindungi mereka dari incaran Daniel dan meminta Hubby untuk selalu memastikan keamanan mereka," sahut Ryan lesu.

__ADS_1


"Terus dimana mereka sekarang, By? Kenapa Naja tidak bisa melacak keberadaan mereka?" oceh Rani saking penasarannya.


"Sebenarnya mereka ..., ahh, bagaimana Hubby menceritakannya?" Ryan bingung harus menjawab pertanyaan istrinya dengan jawaban apa, agar Rani tidak mensalahpahami penjelasan yang akan disampaikannya.


"Sebenarnya apa, By? Jawab pertanyaan Rani dengan jelas," cicit Rani gemas.


"Sebenarnya, sekarang mereka di bawah kendali Daniel," ucap Ryan dengan segala keraguan yang mengganjal.


"Terus kenapa Daniel tidak mempertemukan mereka dengan Naja? Apa ...?" Rani menggantungkan kalimatnya. Kini dibenaknya penuh dengan prasangka buruk terhadap ketulusan cinta Daniel kepada istrinya.


"Jangan su'udzan dulu, Sayang! Ceritanya panjang," sahut Ryan sambil memandang langit-langit kamar.


***


Flashback


Daniel naik pitam begitu mendapat kabar bahwa Aghata terbang ke Indonesia bersama Prabu dan Titania. Dia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa seluruh pengamanan ketat yang dipasang untuk menjaga ibunya bisa Prabu tembus dengan begitu mudahnya.


“Kelihatannya anak buah Prabu benar-benar memahami betul sistem pengamanan Anda, Tuan. Dia dapat meretas seluruh pengamanan yang kita pasang dengan begitu mudahnya, juga sangat lihai dalam mengendalikan pikiran anak buah kita. Hebatnya lagi dia bisa bekerja dengan sangat rapi, tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Dilihat dari cara kerjanya, menurut saya hanya ada satu orang yang bisa melakukannya,” Johan berbicara dengan wajah datarnya, sambil terus berdiri di hadapan majikannya.


“Maksudmu?” Daniel bertanya, tak yakin dengan satu nama yang ada dalam isi kepalanya. Kini dia menatap Johan tajam, dengan berjuta pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.


“Hanya Daysie yang mempunyai kemampuan untuk hal itu, Tuan,” ucap Johan meyakinkan.


“Bukankah Daysie tewas saat gagal menjalankan misi kita itu, Jo? Kemungkinan Prabu Dewangga telah melenyapkannya,” jawab Daniel ragu.


“Bukankah kita tidak pernah menemukan mayatnya, Tuan? Bahkan keluarganya saat ini benar-benar hilang. Tidak ada jejak sedikit pun yang mereka tinggalkan,” Johan masih saja kekeh dengan pendapatnya.


“Apa maksudmu? Bicara yang jelas!” Daniel memberi penekanan pada kalimatnya, hingga Johan yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya.


“Selama tujuh bulan terakhir Arania Levana dijaga oleh seorang perempuan selama dua puluh empat jam, Tuan,” tutur Johan ragu.

__ADS_1


“Apa dia Daysie?” ada gurat kekecewaan yang tiba-tiba muncul dari tatapan mata Daniel.


“Namanya Kaylee Naja. Tapi tidak ada yang tahu dari mana asal usulnya. Bisa jadi Naja adalah Daysie yang merubah identitas diri, Tuan,” Johan berkata dengan serius, bahkan tangan kanannya dia gunakan untuk menyentuh dagunya hingga terlihat sedang mencoba berpikir dan menganalisa.


“Cari tahu apakah dua hari ini Naja bersama Rani atau tidak. Jika Naja tidak ada di kota ini selama dua hari terakhir, berarti dugaanmu benar,” Perintah Daniel tegas.


“Saya sudah mencari tahu tentang hal itu, Tuan. Sayang, sepertinya dugaan saya benar,” jelas Johan sambil menurunkan tangan dari dagunya.


“jadi Daysie dan Naja adalah orang yang sama? Sial!” Daniel terlihat geram. Dia adalah orang yang benar-benar tidak mentolelir sebuah pengkhianatan.


“Kita eksekusi plan C, setelah itu selamatkan ibuku begitu mereka keluar dari Bandara,” perintah Daniel dengan tatapan tajam mematikan.


Mendengar perintah Daniel itu, Johan langsung mengangkat telphonnya dan menghubungi beberapa orang anak buahnya. Tak lama setelah itu, Johan keluar mengikuti kemana Daniel melangkahkan kakinya.


Sementara Daniel menuju kediamannya dan menunggu Prabu dan Titania dibawa oleh anak buahnya, sebagian bawahan Johan dikerahkan untuk mencari keberadaan ibu dan adik kandung Naja.


Setelah mereka yakin bahwa Naja adalah Daysie yang telah berkhianat kepadanya, Daniel sudah bertekad untuk memberikan pelajaran kepada Naja dan mempertanggungjawabkan pengkhianatan yang sudah dia lakukan kepadanya. Apalagi setelah mengetahui bahwa Naja adalah orang yang sangat berperan besar terhadap kembalinya Aghata ke Indonesia bersama Prabu dan Titania, membuat Daniel semakin geram dan ingin menyalurkan segala kemarahannya kepada Naja, melalui keluarganya.


"Temukan dan tangkap mereka!" titah Daniel kepada Johan.


"Baik, Tuan," sahut Johan patuh.


"Ingat, tangkap mereka hidup-hidup. Jangan sakiti mereka. Aku hanya ingin membuat Daysie mengakui kesalahannya di hadapanku, dan memilih sendiri hukuman apa yang pantas untuknya," lanjut Daniel sambil menyeringai dengan wajah menakutkan.


Tak lama setelah Daniel memberikan perintahnya, Anak buahnya datang dengan membawa Prabu Dewangga dan Titania bersama mereka.


Menyadari bahwa orang yang sangat dia nanti-nantikan telah tiba, Daniel pun segera mengubah ekspresinya dan menyapa orang yang dia anggap sebagai seorang ayah yang telah menyia-nyiakannya.


“Selamat datang, Tuan Prabu Dewangga,” Daniel yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah itu menyapa dengan tatapan penuh makna.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2