
Ryan keluar dari kamarnya dengan muka yang sangat masam. Bagaimana tidak? Demi Rani, nyawa saja rela dia korbankan, masa hanya karena cilok di ujung jalan tega-teganya predikat pelit dan jahat melekat padanya? Tiba-tiba dia bilang benci, lagi.
"Huh, kenapa mau punya baby aja harus seribet ini sih?" batin Ryan dalam hati.
Dengan muka di tekuk-tekuk, Ryan pun akhirnya menyambar kunci motor dan jaket kulit yang terletak di dekat garasi, kemudian segera mengendarai motor Ninja ZX10-R milik Johan yang terpakir di garasi depan.
"Tumben pakai motor, Den?" tanya Pak Satpam, sambil membukakan gerbang.
"Iya, Pak. Saya cuma mau ke depan sebentar. Bapak tunggu dulu saja di sini. Tidak perlu tutup gerbang sampai saya pulang," sahut Ryan sambil berlalu dari hadapan Pak Satpam.
"Baik, Den," satpam itu menunduk, kemudian berdiri di depan gerbang sambil menyapukan pandangan ke sekitar. Agak ngeri juga harus menjaga gerbang dalam kondisi terbuka, mengingat akhir-akhir ini banyak sekali musuh yang ingin mencelakai majikannya.
Sementara satpam itu menunggu, dalam waktu kurang dari dua menit, Ryan menghentikan motornya di ujung jalan.
Ditatapnya seorang penjual cilok, yang dengan ramah sedang melayani pelanggan yang sudah berbaris dalam antrian yang panjang.
"Memang seenak apa sampai antriannya sepanjang itu?" gumam Ryan dalam hati.
Ryan terlihat berpikir sebentar. Hanya untuk seporsi cilok dia harus ngantri sepanjang itu?
"Ohh, No!" batin Ryan meronta.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ryan pun turun dan mendekati abang tukang cilok itu, dan membisikinya sesuatu.
Si abang mengerutkan dahinya. Sangat terlihat bahwa dia kebingungan, tapi sayang sekali jika melewatkan kesempatan besar. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk membubarkan antrian.
"Mohon maaf, Mas dan Mbak, ciloknya sudah habis. Silahkan besok datang kembali," seru abang tukang cilok itu kencang.
"Yahh," sebagian besar orang yang sudah rela antri panjang akhirnya bubar.
"Masa habis sih, Bang? Bukannya itu masih banyak?" celetuk salah satu pelanggan yang belum rela bubar.
"Kok nggak bilang dari tadi sih, Bang? Tau gitu kan aku nggak usah capek-capek ikut antrian," celetuk yang lainnya.
"Sekali lagi, maaf!" hanya itu yang bisa abang itu katakan.
Ryan tersenyum menang, melihat semua antrian akhirnya bubar. Dengan semangat empat lima, akhirnya Ryan kembali menaiki motornya, diikuti abang tukang cilok itu dari belakang.
__ADS_1
"Pak, biarkan abang-abang itu masuk ya, Pak," seru Ryan saat kembali memasuki pintu gerbang.
"Iya, Den," sahut satpam itu sambil memandang abang tukang cilok dan majikannya secara bergantian.
"Tumben banget sih, Den Ryan beli cilok di pinggiran jalan? Biasanya kami yang beli saja dimarahi. Ini, sama tukang ciloknya lagi ikut dibawa ke sini? Apa itu ngidamnya Non Rani ya?" heran Pak Satpam dalam hati.
"Tunggu di depan pintu utama ya, Pak. Atau Bapak mau masuk?" cicit Ryan begitu dia selesai memarkir motor yang dia gunakan.
"Saya tunggu di sini saja, Den," sahut abang itu sopan.
Ryan menganggukkan kepalanya kemudian segera naik ke atas, menghampiri si bumil yang kalau sedang ngambek nggak ketulungan.
"Sayang, Hubby punya kejutan," teriak Ryan sambil membuka pintu kamar.
Namun, alangkah kagetnya Ryan melihat kamarnya yang begitu berantakan, tidak seperti saat terakhir dia tinggalkan.
"Kamu masih marah?" tanya Ryan sambil mendekat ke arah Rani, yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dengan kedua kaki ditekuk dan muka menunduk dengan bertumpu pada kedua lututnya.
Rani tidak menyahut. Dia justru semakin tergugu mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Jangan marah lagi, kamu nggak mau tahu kejutan apa yang Hubby bawakan untukmu?" Ryan semakin mendekat dan mencoba mengangkat wajah cantik yang dia yakini sudah bermata sembab itu.
Wajah Rani pun akhirnya terangkat, tapi kedua tangannya tak mau terlepas dan masih saja menutupi wajahnya.
"Ehh, sampai kapan sayangnya Hubby akan merajuk begini. Ayo buka tangannya, Hubby mau cium cantiknya Hubby nggak bisa kalau ditutup kayak gini," kini kedua tangan Ryan sudah memegang dua tangan Rani dan melepasnya dari wajahnya.
"Coba lihat cantiknya Hubby," Ryan meraih wajah Rani kembali, tapi Rani terus menghindar. Dia sangat tahu sebengkak apa matanya saat ini setelah air mata yang terus mengalir tak juga mau berhenti. Dan sungguh, dia tak ingin suaminya melihat seperti apa sembabnya dia sekarang. Rani justru menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya, agar mukanya bisa terus dia sembunyikan.
"Sudah, ayo cuci mukamu terus pakai hijabmu. Kasihan itu Abang tukang ciloknya sudah nungguin di depan," Ryan membelai rambut panjang istrinya dengan sayang.
Mendengar perkataan Ryan, Rani langsung membenarkan duduknya dan menatap suaminya hingga mereka pun saling berpandangan.
"Apa Hubby bilang?" Rani mengerutkan dahinya, dibenaknya sudah penuh dengan tanda tanya.
"Cilok se abang-abangnya sudah Hubby bawa pulang. Ayo kita turun biar anak Daddy yang nakal ini bisa segera makan," Ryan membungkukkan badan dan mencium perut Rani seolah janin yang ada di dalam rahimnya sudah dapat mendengar apa yang dia bicarakan.
"Hubby nggak bercanda kan? Nanti ngasih harapan palsu lagi," Rani mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Mau nggak? Kalau nggak mau biar diserbu Bik Tum dan yang lainnya aja deh," goda Ryan sambil pura-pura beranjak dari tempatnya.
"Hubby bawa abangnya ke sini? Tapi, By. Rani ...," dengan ragu Rani menggantung kalimatnya.
"Kenapa? Hmm? Udah nggak pengen?" tanya Ryan penuh selidik. Dia kembali mendekati istrinya dan memandang wajah itu dengan penuh tanda tanya.
"Bukan itu, By. Tapi ...," Rani masih menggantung ucapannya.
"Tapi?" Ryan mengangkat dagu Rani, dan kembali menatap lekat wajahnya.
"Rani maunya makan di sana. Bukan abangnya yang ke sini," akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Rani.
"Apa?" Ryan membulatkan matanya.
"Hubby marah?" tanya Rani penuh selidik.
"Tidak, Sayang. Bahkan Hubby sudah membubarkan antrian pelanggan si abang itu tadi, hanya agar dia bisa di bawa ke sini," ada nada kecewa dalam kalimat yang keluar dari mulut Ryan, mendengar ucapan istrinya yang lebih Ryan tangkap sebagai sebuah permintaan itu.
"Jangan bilang juga bahwa Hubby sudah memborong semua cilok abang itu," tebak Rani.
"Hmmm, bahkan ...," lagi-lagi Ryan menggantung kalimatnya.
"Bahkan, Hubby membayarnya beberapa kali lipat agar si abang mau ke sini?" Rani menebak lagi.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ryan heran.
"Hubby mah mudah ditebak. Ya sudah yuk, By. Rani sudah lapar," Rani membuka kedua tangannya minta di gendong. Luka di telapak kakinya belum sepenuhnya sembuh sehingga masih terasa nyeri jika harus berjalan sendiri.
"Cuci mukamu dulu, pakai hijabmu, baru kita turun. Oke?" Ryan bisa tersenyum senang melihat mata gadisnya sudah kembali berbinar.
Setelah Ryan membantu Rani mencuci muka dan mengenakan hijabnya, Ryan pun segera menggendong istrinya ala bridal style keluar dan menuruni tangga. Namun, alangkah terkejutnya ketika mereka melihat pemandangan yang ada di depannya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya akak. Thank you.
__ADS_1