METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Aghata Adeline


__ADS_3

"Mau apalagi pengawal itu? Menggangguku saja," omel Aghata dalam hati.


Dia mengira bahwa yang memencet bel apartemennya adalah pengawalnya. Namun alangkah terkejutnya ketika pintu terbuka, dan dia melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya.


"Kak Ti..., Tita? Mas Prabu?" terbata, Aghata memanggil dua nama itu dengan bait rindu yang melantun indah di dalam kalbu. Aghata terus berdiri mematung, memandang dua orang yang telah menambah warna dalam satu episode cerita hidupnya itu dengan tatapan bingung.


Titania menghampiri Aghata dan merengkuh tubuh itu dalam pelukannya. Tak terasa air mata menetes begitu saja, pada dua pasang mata yang sedang mengembara dalam sepenggal kisah masa lalu yang telah mempermainkan mereka berdua. Prabu yang melihat pemandangan itu, hanya menatap dua istrinya dengan perasaan canggung.


"Maaf, Nyonya. Kita tidak punya banyak waktu," ucap Naja memecahkan suasana.


Titania pun melepaskan pelukannya dan menyeka air mata di pipinya, kemudian menyeka bulir bening di pipi Aghata.


"Bolehkah Kakak masuk?" melihat Aghata yang masih diam mematung, Titania berinisiatif untuk memecah suasana.


"Eh iya, kak. Silahkan masuk," jawab Aghata sambil menarik tangan Titania dan mengajaknya duduk pada sofa yang terletak tak jauh dari mereka. Prabu yang sejak tadi tak mereka hiraukan hanya menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan langsung duduk begitu saja pada sofa di hadapan mereka tanpa dipersilahkan.


"Saya buatkan minum dulu. Kakak mau minum apa?" tawar Aghata masih dengan tatapan bingung.


"Lima belas menit lagi, Nyonya," Naja kembali mengingatkan bagai alarm yang selalu membunyikan nada dering hingga siapapun yang memasangnya akan meraihnya dan terbangun.


"Ikutlah bersama kami pulang ke Indonesia sekarang," kata itu lolos begitu saja dari mulut Titania.


"Apa?" Aghata tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

__ADS_1


"Kita tidak punya banyak waktu Aghata, percayalah kepadaku! Nanti akan kujelaskan di pesawat," ucap Titania lagi dengan tatapan penuh harap.


Sesaat, Aghata terlihat berpikir keras. Ada keraguan dalam hatinya dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, takut jika luka itu harus dia torehkan lagi di hati perempuan yang kini berada di hadapannya. Entah kenapa, mata Aghata tiba-tiba menatap tajam pria di depannya yang sedari tadi hanya menyaksikan drama yang dilakukan oleh dua perempuan dalam hidupnya.


Mendapat tatapan seperti itu dari Aghata, Prabu hanya mengangguk seolah ingin mengatakan sesuatu yang sama dengan yang dikatakan Titania.


"Aku harus memberi kabar pada anakku dulu," Aghata beranjak dan mengambil handphone di atas nakas dan hendak menghubungi Daniel yang saat itu belum mengetahui keberadaan Prabu dan Titania.


"Jangan beri tahu Daniel! Kita langsung temui dia begitu kita sampai di Indonesia," Titania merebut handphone itu dari tangan Aghata.


"Kalian sudah bertemu anakku?" tanya Aghata tidak percaya. Dia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, hingga dua orang itu tiba-tiba datang dan ingin membawanya pulang.


"Kita tidak punya waktu lagi, Aghata. Semua ini terkait Daniel," Titania sudah tidak sabar menghadapi Aghata yang masih penuh dengan keraguan.


"Tapi...," Aghata melihat dua pengawal yang masih berjaga di depan pintu apartemennya dengan penuh pertanyaan besar.


"Baiklah, aku bersiap dulu," Aghata beranjak dari duduknya hendak menuju kamarnya.


"Kita tidak punya waktu lagi. Ambil dokumen dan keperluanmu secukupnya saja!" ucap Titania lagi. Prabu hanya mengedarkan pandangannya ke Titania dan Aghata secara bergantian saat mereka berbicara, tanpa berani membuka mulutnya.


Tak sampai sepuluh menit, mereka pun sudah meninggalkan apartemen Aghata dan langsung menuju Bandara untuk segera terbang ke Indonesia.


***

__ADS_1


Aghata Adeline adalah perempuan bermata hijau yang lahir dari seorang perempuan berkewarganegaan Indonesia dan seorang ayah berkewarganegaraan Jerman. Sejak kedua orang tuanya menikah, keluarga kecil itu memutuskan untuk tinggal di Jerman, mengingat pekerjaan suaminya yang sayang jika ditinggalkan. Namun saat Aghata berusia lima belas tahun, sang ayah meninggal hingga ibunya memutuskan untuk membawa Aghata pulang ke Indonesia. Selain karena di Jerman ibu Aghata tidak nyaman jika hidup bersama keluarga dari suaminya, dia memutuskan pulang karena kebetulan di Indonesia ibu Aghata masih mempunyai rumah peninggalan mendiang orang tuanya.


Dua tahun setelah mereka tinggal di Indonesia, ibunya yang bekerja di sebuah perusahaan akhirnya menikah lagi dengan seorang teman yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama. Dari situlah bencana dalam kehidupan Aghata berawal. Ibunya yang menikah dengan seorang perjaka dengan selisih usia cukup mencolok di antara mereka berdua, membuat pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi di antara mereka. Mungkin karena suami ibunya bisa dibilang belum cukup dewasa, sehingga hal kecil diantara mereka selalu saja menyulut emosi di antara keduanya hingga tak jarang kekerasan fisik sering dilayangkan kepada ibunya. Karena itulah ibunya tak lagi memperhatikan perkembangan Aghata karena lebih fokus kepada pekerjaan dan suaminya, juga permasalahan dalam rumah tangga barunya.


Merasa tidak nyaman karena hampir setiap hari pertengkaran itu terjadi di depan matanya, juga mengingat perhatian ibunya yang sama sekali tidak ada lagi untuknya, akhirnya Aghata memilih melampiaskannya dengan bersenang-senang di luar bersama dengan teman-temannya. Puncaknya, ketika tepat di hari ulang tahun ke tujuh belasnya bahkan ibunya tidak menghadiri pestanya, Aghata semakin tenggelam dengan kehidupan teman-temannya di luar sana.


Sejak saat itulah Aghata mulai meminum minuman keras, bahkan mengkonsumsi heroin dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darahnya dalam jangka waktu yang cukup lama demi menciptakan efek euforia (kebahagiaan ekstrem) sesaat untuk menghilangkan segala kesedihan yang dirasakannya. Lebih parah lagi, Aghata sering menyakiti tubuhnya sendiri saat sakau menghinggapi dirinya.


***


Di Pesawat


Aghata tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya ketika Titania menceritakan bisnis ilegal Daniel juga tentang semua yang dilakukannya untuk membalas dendam kepada keluarga Dewangga.


"Ini semua salahku. Tak seharusnya aku menyembunyikan semua dari Daniel, sehingga dia memberikan penilaian sendiri terhadap sosok ayahnya," ucap Aghata begitu Titania selesai dengan ceritanya.


Butiran kristal bening kini tak bisa lagi dibendungnya. Aghata membiarkannya menetes membasahi wajah putihnya, menyesali akan kelalaiannya dalam mendidik dan memberikan hak Daniel sebagai seorang anak yang berhak tahu terhadap cerita masa lalu dan masa depan yang dipilih ibunya.


"Jelaskan semuanya sebelum semuanya terlambat," Titania menguatkan wanita yang kini duduk di sebelahnya itu. Tangannya tetap menggenggam perempuan yang telah membuatnya dimadu oleh suaminya itu dengan erat, hingga pesawat yang membawa mereka terbang kembali ke Indonesia mendarat dengan selamat di Kota penuh kenangan akan cerita di masa lalu.


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Pembaca setia,


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment juga favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih.


__ADS_2