
Rani terus terpaku, memandangi gundukan tanah di depannya itu. Tatapannya nanar, dadanya terasa sesak menahan tangis. Dia mencoba untuk tegar, meski rasa sedih di hatinya semakin membuncah, dan bulir bening itu akhirnya tumpah tak tertahankan.
Sejak keluar dari mobilnya dan berjalan kaki ribuan meter hingga akhirnya sampai juga Rani di depan makam papanya, tak henti-hentinya Rani menangis dan meringis menahan sakit di area perutnya. Saat itu perutnya terasa sakit bukan karena janin dalam kandungannya yang terganggu, tapi karena sejak pagi datang, belum ada secuil makanan, bahkan setetes air pun yang masuk ke dalam kerongkongan.
"Pa, Rani kangen Papa. Kenapa Papa meninggalkan Rani sendiri di dunia ini, Pa. Ajaklah Rani, Pa. Rani ingin menyusul Papa di sana," Rani bermonolog di depan makan papanya.
Ryan masih terdiam mematung di belakang, membiarkan Rani melepas kerinduan.
"Sekarang Rani sendirian, Pa. Hanya Mama yang masih Rani punya. Bahkan suami Rani yang sangat Rani cintai pun sekarang menjauhi Rani dan tidak peduli sama sekali, Pa," Rani semakin tergugu, setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia benar-benar merasakan kepedihan yang mendalam.
Ryan membulatkan mata dan sedikit memundurkan kakinya, mendengar apa yang dibicarakan Rani di hadapan makam papanya. Mata Ryan seketika memerah, bahkan matanya pun kini sudah seperti telaga, yang siap membanjiri wajah dan hatinya.
"Jadi ini yang kamu rasakan, Sayang. Maafkan Hubby. Hubby sama sekali tidak bermaksud melalaikanmu," gerutu Ryan dalam hati.
"Suami Rani sudah tidak menginginkan Rani lagi, Pa. Apalagi perasaan cinta. Sudah sepekan lebih rasa itu hilang dari hatinya. Dia memperlakukan Rani seperti orang lain, Pa. Bahkan menyentuh Rani pun dia seolah jijik melakukannya. Apalagi memeluk dan bermanja, atau sekedar mencium kening Rani seperti biasanya, membiarkan Rani mencium punggung tangannya sebelum dia berangkat kerja pun, dia tidak membiarkannya," keluh Rani dengan tangis yang semakin menjadi.
Deg.
Jantung Ryan bergejolak hebat. Dadanya terasa begitu penuh, bahkan bulir bening dari matanya sudah puluhan kali terjatuh. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau kesibukannya yang luar biasa akhir-akhir ini akan membuat istri yang sangat dicintainya itu merasa terluka.
"Mungkin Rani akan merawat cucu Papa ini seorang diri, Pa. Seperti Mama yang akhirnya merawat Rani seorang diri setelah papa terlebih dahulu pergi. Dia benar-benar sudah tidak menginginkan Rani, Pa. Mungkin karena bentuk tubuh Rani tak sedap dipandang lagi karena janin yang sedang Rani kandung ini. Wajah Rani pun sekarang sudah tidak secantik dulu lagi karena sekarang terlihat Cubby. Bahkan, Rani tak sesempurna dulu dalam melayani hasrat suami Rani selama kehamilan ini, Pa. Tapi apakah semua ini salah Rani? Bukankah dia yang sangat menginginkan anak ini, Pa? Lalu dimana letak kesalahan Rani? Rani ingin bersama Papa saja, Pa. Rani mohon, jemput Rani, Pa. Dan Rani akan meminta kepada Allah untuk segera mempertemukan kita lagi," Rani semakin menceracau tak karuan di depan gundukan tanah itu. Bahkan kini dia sudah bersimpuh dan meremas tanah itu dengan tangisnya yang semakin menderu.
Ryan benar-benar tak tahan lagi mendengar rintihan istrinya yang begitu terluka karena ulahnya. Dia langsung mendekati Rani dan mendekapnya dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan Hubby, Sayang. Maafkan Hubby. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Hubby hanya sedang si ...," sebelum Ryan menyelesaikan kalimatnya, tanpa terduga Rani menghempaskan tangan Ryan, dan menatap suaminya itu dengan tatapan penuh kekecewaan.
Sedetik kemudian, tanpa bicara dia mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Seketika pun dia berdiri dan meninggalkan suaminya pergi.
"Sayang, maafkan Hubby," seru Ryan sambil mengejar istrinya yang terus berjalan setengah berlari.
Rani pun hanya menghentikan langkahnya sebentar, menyadari drama dirinya dan suaminya kini sedang menjadi tontonan anak buahnya. Melihat itu, Ryan pikir Rani akan berhenti karena merasa tidak enak dengan seluruh anak buahnya yang kini sedang menunggu perintah Ryan untuk selanjutnya. Tapi, ternyata Ryan salah. Rani tidak peduli dan tetap pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Anda mau kemana, biar saya antar," Naja berinisiatif mengejar nonanya.
Di luar dugaan, tak ada penolakan. Rani masuk begitu saja ke dalam mobil yang biasa Naja gunakan.
"Kita pulang," titah Rani, yang dijawab dengan sebuah anggukan kecil dan senyum penuh kelegaan yang terukir manis di wajah Naja.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah utama keluarga Dewangga. Dengan kasar, Rani keluar dan setengah berlari masuk kemudian menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Sayang, jalannya pelan-pelan. Hubby takut kamu terjatuh," seru Ryan sambil mengejar Rani yang kini tak mempedulikannya sama sekali.
"Sayang," Ryan berseru lagi.
Tepat di dua anak tangga terakhir, Rani menghentikan langkahnya. Ryan pun ikut berhenti persis di belakangnya, menunggu apa yang akan dilakukan oleh istrinya
"Sayang," panggil Ryan lembut.
__ADS_1
Tak ada sahutan. Rani terus berdiri mematung, kemudian memegangi perut dan keningnya, sebelum akhirnya pingsan seketika. Untung saja Ryan yang berada tepat di belakangnya langsung sigap menangkapnya. Jika tidak, bisa-bisa nasib Rani seperti Lena yang harus kehilangan bayinya setelah jatuh dari tangga.
"Panggil Dokter Amanda," Ryan berseru sambil menggendong istrinya masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Naja yang mendengar titah tuannya, langsung mengangkat gagang telepon dan menekan nomor dokter Amanda.
Tiga puluh menit berselang, Dokter Amanda pun datang. Dia secepat kilat akan berusaha datang ketika Ryan memanggilnya. Dokter cantik itu tak ingin pengusaha muda yang telah mempercayakan kehamilan istrinya merasa kecewa dengan pelayanan yang diberikannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ryan sambil mendudukkan diri di salah satu sisi ranjang, sesaat setelah Dokter Amanda selesai mengecek kondisi Rani dan janin yang sedang dikandungnya.
"Secara umum, tidak ada yang mengkhawatirkan, Tuan. Insya Allah sebentar lagi Nona akan siuman. Cuma satu saran saya," ucap Dokter Amanda.
"Apa itu, Dok?" Ryan mendengarkan penjelasan Dokter Amanda dengan seksama.
"Tolong jaga kondisi emosi istri Anda. Jangan biarkan dia stress dan perasaannya tertekan, karena itu akan mengganggu perkembangan bayi Anda. Usahakan mood-nya selalu baik, dan ciptakan rasa bahagia dalam hatinya, karena itu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan istri dan anak Anda," lanjut Dokter Amanda penuh harap. Dia betul-betul berusaha mencerna apa yang sedang terjadi pada Rani hingga membuat dia bisa jatuh pingsan seketika.
Ryan hanya menggangguk pelan, mengiyakan semua hal yang Dokter Amanda instruksikan. Hingga tak berapa lama pun, Dokter Amanda pamit pulang, sesaat sebelum memberikan vitamin untuk Rani melalui tangan Ryan.
Dengan penuh rasa bersalah, Ryan pun mendekati istrinya dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Sadarlah, Sayang. Dan maafkan Hubbymu yang sungguh sangat bodoh ini,"
BERSAMBUNG
__ADS_1