METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Satu Kesempatan Lagi


__ADS_3

Zara merebahkan tubuhnya begitu sampai di apartemennya. Blazer warna hitam yang sempat dia lepas sebelum naik ke atas tempat tidur pun dia lempar begitu saja di atas sofa, hingga dia tidur telentang hanya menggunakan tangtop warna coklat susu dan celana panjang warna hitam senada dengan blazer yang dipakainya.


Citra elegan juga formal yang sangat melekat pada Zara hingga selalu terlihat begitu menawan dengan busana formalnya itu pun seketika pudar ketika Zara sudah menempel pada bantal dan gulingnya, karena Zara akan langsung tertidur, meskipun lampu masih menyala.


"Dasar pemalas. Jadi kamu lebih memilih untuk tidur dari pada memberikan informasi kepadaku? Pantas saja kau tak mengangkat teleponku, padahal berkali-kali aku terus meneleponmu," sebuah suara yang sangat Zara benci, tiba-tiba terdengar dengan nyaring di telinga Zara.


"Anda? Apakah tak ada lagi cara yang lebih tidak sopan untuk masuk dan mengunjungi tempat tinggal seseorang?" sindir Zara sambil memberingsut dan mendudukkan dirinya. Rambut yang sudah berantakan dan tergerai kemana-mana pun akhirnya Zara ikat, sehingga menampakkan dengan jelas leher putihnya yang jenjang.


"Sudah kubilang, aku tak mungkin masuk lewat pintu depan, Nona Zara Delisha. Makanya aku siapkan empat apartemen agar aku bisa masuk lewat pintu manapun yang kumau. Ingat, ada empat apartemen, berarti 4 cara masuk. Satu apartemen punyaku, dua apartemen untuk mengecoh lawan dan melarikan diri, dan satu lagi. Apartemen tepat di bawahmu adalah apartemen dimana aku akan tinggal selama yang kumau. Jadi, jangan pernah kau keluar masuk apartemen di bawahmu kecuali benar-benar sangat terpaksa dan meminta izin kepadaku," omel Indra, mendengar sindiran yang dia terima dari Zara.


Zara hanya diam seribu bahasa mendengar perkataan Indra. Bahkan hanya untuk sekedar menatap pun, dia tak sudi melakukannya.


"Sekarang katakan! Kenapa kau tak mengangkat panggilanku?" tanya Indra sambil memandang lekat kedalaman mata Zara.


"Siapa bilang saya tidak mengangkat panggilan Anda?" ketus Zara sambil beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah sofa. Setelah Zara berhasil meraih blazernya, dia kembali memakainya untuk menutupi bagian atas dari tubuhnya yang lumayan terbuka.


"Bukannya Anda sendiri yang memancing kemarahan saya dan membuat saya mematikan telepon saya?" lanjut Zara lagi.


"Jangan membuat alasan yang mengada-ada, Zara. Lebih dari sepuluh kali aku menghubungimu lagi dan kau tak mengangkat teleponku. Bagaimana kita bisa segera menyelesaikan misi kita jika kau tak bisa diajak kerja sama seperti ini? Ayolah Zara, kau tau persis bagaimana kerasnya dunia yang kita pilih. Atau kau berubah pikiran dan lebih memilih hukuman yang pernah aku katakan kepadamu?" oceh Indra dengan tampang datarnya. Bahkan kini dia sudah mendekat ke arah Zara, seolah siap menelan mangsanya di atas sofa.


Zara yang mengingat kejadian saat pertama kali bertemu dengan Indra pun langsung ciut nyalinya dan merubah sikapnya pada pria muda yang akhir-akhir ini sudah seperti hantu dalam kehidupannya itu. Ya, seperti hantu yang antara ada dan tiada, juga selalu datang tak diundang dan pergi tak diantar.


"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya tidak mendengar ada panggilan dari Anda," wajah Zara yang sudah memerah, berusaha membuang muka saat Indra mendekatinya. Bahkan dia sudah memejamkan mata, takut kalau-kalau Indra benar-benar akan memberikan hukuman seperti yang dia katakan kepadanya.


"Dimana kau meletakkan handphone itu tadi?" Indra justru duduk di samping Zara, dengan tangan bersedekap dan kaki yang menyilang dengan santainya.


Zara yang awalnya mengira bahwa Indra akan menyentuhnya pun membuka mata, dan wajahnya semakin memerah ketika menyadari bahwa pria itu kini justru sedang duduk dan memandanginya dengan tatapannya yang tajam.


"Mungkin tadi saat Anda menghubungi saya lagi, saya sedang mengambil minum di pantry," tutur Zara lirih, hampir tidak terdengar oleh Indra.


"Kau bilang apa, Zara? Bahkan aku tak mendengar apa-apa," Indra memicingkan matanya.


"Mungkin tadi saat Anda menghubungi saya lagi, saya sedang mengambil minum di pantry, Tuan," Zara mengulangi ucapannya.


"Apa kau tak mendengar pertanyaanku tadi, Zara? Aku bertanya, dimana kau meletakkan handphone itu tadi?" tanya Indra sekali lagi.


"Di ruang kerja saya," sahut Zara lagi.


"Dan kau berada dimana?" cecar Indra.


"Pantry,"


"Aduh, mati aku. Pasti dia akan marah besar karena tahu kalau aku tak membawa HP itu," gumam Zara dalam hati.


"Aku jadi heran, kenapa Felix Adinata itu bisa memilih agen yang ceroboh seperti kamu," ejek Indra sambil tersenyum sinis.


"Maafkan saya, Tuan. Saya janji ini yang terakhir. Saya tidak akan pernah meninggalkan HP itu lagi dan akan selalu membawanya kemanapun saya pergi,"

__ADS_1


Zara baru menyadari kesalahannya. Apalagi dia meninggalkan ponselnya saat dia sedang berada di perusahaan Felix, tentu hal ini sangat beresiko dan bisa menganggalkan misi mereka dengan sempurna.


"Sudah dua kali kau melakukan kesalahan yang sama, Zara. Untuk yang pertama, aku masih bisa menerima karena handphone itu kau tinggalkan di dalam apartemenmu. Meski tak ada jaminan bahwa apartemenmu itu aman, tapi setidaknya tempat itu adalah tempat tinggalmu. Tapi kali ini? Kau meninggalkan benda itu di kandang musuhmu. Bagaimana jika ada seseorang yang mengambilnya, apa kau tahu resikonya? Bukan hanya nasibmu yang sedang kau pertaruhkan, Zara, tapi juga nasibku," Indra mendengus kesal.


Mendengar ucapan Indra, Zara benar-benar menunduk dalam. Kali ini kesalahannya memang fatal.


"Saya salah, Tuan. Tolong berikan satu kesempatan lagi untuk saya," Zara berdiri dan membungkukkan badannya.


"Zara ..., Zara ..., aku tak mudah memberikan beberapa kali kesempatan kepada orang yang sama. Tapi untuk kali ini, aku berbaik hati. Satu kesempatan lagi, dan tak akan ada lagi dua pilihan. Sekali lagi kau ceroboh, aku tak akan segan-segan memberikan hukuman kepadamu," Indra beranjak dan berjalan ke arah balkon untuk kembali ke apartemen di bawah tempat tinggal Zara.


"Terima kasih, Tuan. Lalu Anda mau kemana?" Zara mengerutkan dahinya, menyadari pria itu hendak meninggalkan apartemennya.


"Jangan bilang kau mau aku tetap di sini, Zara," Indra menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Zara.


"Bukan begitu, Tuan. Bukannya tadi Anda menelepon saya hingga sepuluh kali panggilan? Saya merasa sampai sekarang Anda belum menyampaikan apapun kepada saya, tapi Anda sudah mau pergi," cicit Zara mulai berani menatap kedalaman mata Indra.


"Aku hanya ingin memastikan, informasi apa saja yang sudah kau dapatkan selama kau berada di kota ini," sahut Indra singkat.


Kini Indra justru kembali masuk dan berjalan ke arah dapur. Setelah membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah minuman kaleng di sana, Indra pun menghampiri Zara lagi dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa, hingga posisi duduknya tepat berada di samping Zara.


"Saya sudah memegang data lengkap sepuluh orang yang Anda sebutkan dan sudah saya hafalkan, Tuan," ujar Zara sambil menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Indra.


Indra menatap aneh Zara begitu sadar bahwa gadis di sampingnya itu menjauhkan tubuhnya, dan seolah ingin mengucapkan sesuatu.


Zara yang sadar akan tatapan aneh Indra itu pun kemudian beranjak dan meraih laptopnya, sesaat sebelum akhirnya dia membuka laptop itu dan menunjukkan beberapa file penting berisi data lengkap nama-nama yang dicurigai Indra sebagai orang dalam perusahaan yang telah berkhianat kepada tuannya.


"Apa ada yang salah, Tuan?" tanya Zara bingung, melihat Indra biasa-biasa saja menanggapi informasi yang ditunjukkan Zara.


"Tidak ada yang salah, Zara. Semua data yang kau berikan kepadaku itu benar," sahut Indra dengan begitu santainya.


"Lantas, kenapa Anda terlihat sangat tidak tertarik dengan data itu, Tuan?" Zara masih tidak mengerti.


"Kalau hanya untuk mendapatkan informasi lengkap tentang mereka seperti data yang kau tunjukkan itu, aku hanya butuh waktu kurang dari lima menit dan semua data itu pasti sudah berada di tanganku, Zara. Dan semua informasi yang kau tunjukkan itu aku sudah hafal di luar kepala, satu per satu," Indra terkekeh, yang lebih terdengar sebagai nada ejekan dari telinga Zara.


"Maksud Anda?" tanya Zara lagi memastikan.


"Aku memintamu membantuku menyelesaikan misi ini untuk membuktikan apakah nama-nama itu pengkhianat atau bukan, Zara. Dan karena kau berada di dalam sana, dengan mudah pasti kau bisa membaca siapa saja orang yang telah membantu Felix Adinata. Untuk data-data remeh seperti yang kau tunjukkan itu, kau tak perlu capek-capek mencarinya untukku, karena aku sudah memegang data lengkap mereka sejak misi ini Tuan Ryan serahkan kepadaku," jelas Indra terdengar lebih bersahabat dari Sebelumnya.


"Baik, Tuan. Saya mengerti. Maafkan saya," Zara mengangguk sopan.


Akhirnya Zara tersadar, bahwa pria di depannya itu bukanlah orang yang sembarangan. Dari sisi manapun, sangat jelas terlihat bahwa Zara kalah pintar dan kalah cepat, sehingga mau tidak mau dia harus tunduk kepada Indra jika dia ingin selamat.


"Baiklah, Zara. Kelihatannya belum ada informasi apapun yang bisa kau berikan untukku. Besok aku akan kembali menghubungimu," kini Indra kembali beranjak dari tempat duduknya dan menuju balkon apartemen Zara untuk kembali ke apartemennya. Tapi belum sempat Indra meraih tali yang akan dia gunakan untuk turun, tiba-tiba Zara memanggilnya.


"Tunggu, Tuan," panggil Zara sambil berjalan mendekati Indra.


"Apa kau masih ingin menahanku, Nona?" Indra mengerutkan dahinya, menyadari Zara sedang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Malam nanti Tuan Felix ada jadwal menemui seseorang. Bisa jadi ini akan menjadi petunjuk awal buat kita," lapor Zara dengan senyum tipisnya. Ketika jarak mereka sudah semakin dekat, Zara pun menghentikan langkahnya dan bersikap hormat kepada Indra.


"Lewat tengah malam nanti aku akan menghubungimu. Ingat, selalu bawa alat komunikasi itu kemanapun kau pergi. Aku tak akan memaafkanmu jika kau ketahuan ceroboh sekali lagi," sahut Indra sambil meraih talinya.


"Baik, Tuan,"


"Hmmm,"


"Satu lagi, Tuan," Zara terlihat ragu.


"Ada apa, Zara?" Indra menatap Zara dengan intens. Tanpa dia sadari, dia mulai menikmati saat melihat wajah bingung juga ekspresi takut yang ditunjukkan gadis cantik itu.


"Bolehkah saya menghubungi Anda terlebih dulu?" akhirnya kalimat itu keluar dari mulut mungil Zara.


"Apa?"


"Bukan begitu maksud saya, Tuan. Maksud saya, jika saya punya info penting yang harus saya sampaikan segera, bolehkan saya menghubungi Anda dulu sebelum Anda menghubungi saya?" sekelumit ragu masih terlihat jelas dari mata Indra, saat Zara mengucapkannya.


"Kau ingin melanggar peraturan yang sudah kuberikan kepadamu? Setaksabar itukah hingga kau tak mau menungguku menelepon atau menemuimu?" Indra menanggapi perkataan Zara dengan kedua alis yang sengaja dia naikkan untuk menggoda.


"Bukan begitu, Tuan. Maksud saya jika darurat dan butuh cepat," sangkal Zara dengan kilat.


"Jika aku membatalkan peraturan itu, aku takut jika kau meminta satu peraturan lagi aku batalkan, Zara," Indra maju beberapa langkah, hingga hampir tak ada jarak lagi di antara keduanya.


"Maksud, Tuan? Peraturan yang mana?" tanya Zara penasaran.


"Seingatku hanya ada tiga peraturan kan? Tidak boleh menghubunginya dulu, tidak boleh jatuh cinta sampai misi ini selesai dan tidak boleh menutup teleponnya jika dia belum memintanya atau menutupnya terlebih dahulu. Oh my God, don't tell me that he meant ...," gumam Zara dalam hati, meski dia tak berani melanjutkan kalimatnya.


"Aku hanya takut jika peraturan pertama aku hapus, kau akan memintaku untuk membatalkan peraturan keduaku, hingga membuatmu jatuh cinta kepadaku sebelum kita menyelesaikan misi itu," jawab Indra sambil mengerling nakal.


"Tidak akan, Tuan. Anda jangan khawatir," dengan cepat Zara menimpali perkataan Indra, sambil mengibas-kibaskan tangannya seperti orang yang sedang dada-dada.


"Apa?" Indra mendekatkan telinganya seolah-oleh ingin mendengar lagi ucapan Zara.


"Tidak. Tidak, Tuan. Maksud saya terserah Anda. Saya akan menunggu Anda menghubungi saya, dan tidak akan menghubungi Anda terlebih dahulu tanpa perintah dari Anda," lagi-lagi Zara kalah telak jika berhadapan dengan Indra.


"Baiklah. Tak ada yang ingin kau bicarakan lagi kan? Atau kau masih ingin menahanku di apartemenmu?" gaya tengil Indra kembali muncul.


"Tidak, Tuan. Silahkan jika sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan dengan saya," tutur Zara dibuat sesopan mungkin.


"Jadi kau mengusirku?"


"Bukan begitu, Tuan. Maafkan saya,"


"Aduuuh, ini orang maunya apaan sih?" gerutu Zara dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2