
Ryan terlihat berpikir keras. Beberapa saat dia membaca pesan yang masuk ke hp istrinya, sambil sibuk menerka-nerka segala kemungkinan dibalik pemberian paket yang terbilang tidak biasa.
Sebenarnya Ryan fokus pada satu nama, Daniel Cullen. Mengingat dua hari ini memang Istrinya itu telah mengusik ketenangannya dengan membuat kerugian besar pada salah satu usahanya, pasca insiden di pesawat kemarin. Tapi melihat cara pengirim misterius itu memberikan hadiah, tidak menutup kemungkinan pengirimnya adalah orang lain. Inilah yang belum Ryan ketahui, mengingat posisi istrinya yang sangat potensial untuk menerima hal-hal semacam itu dengan berbagai kepentingan yang melatarbelakangi.
"Hallo," suara Arya dibalik telphon segera terdengar di telinga Ryan, sesaat setelah Ryan menekan tombol panggilan suara.
"Kesini sekarang! Ada yang harus kamu lakukan." Ryan memberi perintah, kemudian meminta Rani untuk mengemas dua kotak itu seperti semula.
Hanya dalam hitungan menit, Arya segera muncul di seberang jalan dan memarkirkan mobilnya. Tak berapa lama, Arya mengambil gerakan menyeberang dan berlari ke arah mobil Ryan yang masih terjebak kemacetan.
"Urus paket ini dan sesegera mungkin bawa informasi lengkap untukku!" setelah menceritakan perihal paket yang diterima Rani, Ryan memberikan perintah yang sudah langsung Arya pahami.
Arya pun segera menerima paket itu dan kembali ke mobilnya.
Ryan mengusap kepala istrinya yang kini masih diam terpaku. Wajahnya begitu pucat, entah karena rasa lapar yang ditahannya, atau karena kejutan yang dia dapatkan dari paket yang diterimanya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Ryan dengan nada khawatir.
Rani hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir. Selama ada Mas mu ini di dekatmu, semua akan tetap baik-baik saja," lanjut Ryan, menyadari kegundahan yang sekarang dirasakan istrinya.
Tak berapa lama pun, kemacetan terurai. Mobil mereka mulai bisa bergerak maju, hingga akhirnya bisa melaju kembali dengan kecepatan sedang sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.
Siang itu udara kota semakin sumpek dan panas tak terkira. Ketika ke luar dari mobil, segera saja terik mentari menyapu kulit mereka, sehingga menimbulkan reaksi tidak nyaman bagi Ryan dan Rani yang baru saja terkena pengaruh dinginnya AC dari dalam mobil yang dinaikinya.
Untungnya, semilir angin segera menerpa dan menyejukkan raga, seolah tak rela dua tubuh itu gerah dan kehilangan selera makannya.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Ryan mencairkan suasana, setelah masuk dan duduk pada tempat khusus yang telah mereka pesan sebelumnya.
"Terserah Mas Ryan saja. Rani bisa makan semua," jawab Rani singkat. Bahkan ini adalah kalimat pertama yang Rani ucapkan, mengingat tak ada satu katapun yang keluar sebelumnya, sejak membuka paket yang tadi dia terima.
Ryan pun memesan beberapa makanan, sebelum akhirnya mereka makan dan memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Dan hari itu, Ryan kembali meninggalkan pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya.
Sebenarnya, seusai makan siang Ryan berencana kembali lagi ke kantornya. Namun melihat kondisi Rani yang sedang tidak baik-baik saja, akhirnya Ryan memutuskan untuk menemani istrinya hingga malam datang dan matanya bisa terpejam.
***
Kring-kring...
"Hallo," sapa Ryan, sesaat setelah melihat panggilan Arya masuk.
"Aku sudah membawa informasi yang kau butuhkan," ucap Arya di seberang telphon.
Mendengar perkataan Arya yang kini telah resmi menjadi sekretarisnya pasca Papa Prabu memutuskan untuk menyerahkan perusahaannya kepada Ryan sepenuhnya itu, Ryan segera keluar meninggalkan Rani yang sudah tertidur pulas di bawah selimut.
Ketika Ryan turun, terlihat Arya sudah berada di ruang tamu. Dia bisa masuk karena hafal kata sandi pintu rumah majikan sekaligus sahabatnya itu.
"Bagaimana?" tanya Ryan tidak sabar.
"Belum ada pergerakan dari Daniel Cullen," ucap Arya cukup tenang.
"Lantas?" Ryan kembali bertanya, kali ini sambil mengerutkan keningnya.
"Kelihatannya istri pejabatmu yang punya hobby mengusik ketenangan orang lain itu akan sedikit merepotkanmu," jelas Arya, sambil menyerahkan beberapa berkas dari tangannya.
"Siapa dia?" Ryan kembali bertanya, melihat sebuah foto yang tersisip diantara beberapa lembar kertas yang diserahkan Arya.
"Dia adalah direktur Perusahaan Daerah, Era Bank, Fredly Iskak. Satu bulan ini Ketua Panitia Kerja Dewan yang tidak lain adalah Nyonya Ryan Dewangga benar-benar telah mengusiknya," papar Arya, serius.
Ryan hanya memandang foto itu sekilas, kemudian fokus pada kertas-kertas yang disodorkan Arya.
"Sejak demonstrasi yang membuat Rani terluka seperti yang kamu baca dari media online beberapa waktu lalu, Rani sangat antusias bahkan melobby semua Fraksi Dewan agar dibentuk Panja (Panitia Kerja). Sejak saat itulah Rani getol membongkar berbagai kejanggalan perusahaan. Salah satu yang ingin Rani bongkar adalah Kredit fiktif yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Hebatnya, Rani berhasil memegang beberapa orang dalam yang bersedia menjadi saksi," lanjut Arya.
"Seberapa besar dia bisa mengusik istriku?" tanya Ryan datar.
__ADS_1
"Dia bukan tandinganmu. Tidurlah kembali dan tenangkan istrimu. Sudah kubereskan semuanya," Ucap Arya sambil berdiri, menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan rumah itu setelah memastikan tuannya masuk kembali ke dalam kamarnya.
***
Flashback
Ceklek...
Fredly memandang ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Seketika matanya membelalak begitu melihat siapa yang datang, lengkap dengan anak buahnya yang berdiri tegak seolah siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik tuannya.
Brugg...
Arya membanting sebuah kotak merah dari tangannya di atas meja, kemudian duduk dengan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya, juga menyandarkan tubuhnya disandaran kursi yang terletak persis di depan kursi direktur tempat Fredly mendudukkan dirinya. Di samping kanan dan samping kiri Arya berdiri dua anak buahnya, sementara anak buahnya yang lain berdiri di depan pintu dalam dan berjaga di depan pintu luar.
"Berterimakasihlah kepada tuanku, karena dia hanya mengembalikan kotak itu kepadamu. Kamu tahu, dia bisa menyerahkan kotak itu kepada yang berwajib beserta informasi lengkap siapa yang mengirimnya jika dia mau," ucap Arya datar.
Muka Fredly seketika pucat, menyadari dia sedang berhadapan dengan siapa. Dalam hatinya dia sibuk mengutuki dirinya yang begitu bodoh hingga tidak memperhitungkan siapa orang terdekat Arania Levana.
"Apakah kamu tidak mau berterima kasih?" ucap Arya terdengar menakutkan.
"Terima kasih, Tuan," dengan terbata dan terus menunduk, Fredly menuruti kata Arya saking takutnya.
Melihat wajah ketakutan Fredly, Arya segera beranjak pergi. Namun sebelum Arya membuka pintu, dia membalikkan badan dan berucap, "Setelah ini, bersiaplah menghadapi Nona kami. Kamu tahu kan, dia pasti akan membereskanmu?"
Fredly hanya mengangguk, putus asa. Dia sungguh menyadari bahwa orang yang sedang dia hadapi tidak akan pernah mengampuninya, termasuk Arania Levana.
End of flashback
BERSAMBUNG
***Hi Readers*...
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih**.
__ADS_1
Catatan:
Panitia kerja (Panja) di Dewan Perwakilan Rakyat bertugas melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan sesuai kebutuhan. Sifatnya tidak permanen.