
Setelah celakanya Lena, sebenarnya baik Charles maupun Atmaja sudah mengetahui bahwa cepat atau lambat, Ryan, Daniel dan Johan pasti akan tahu kalau ada orang dalam yang bekerja untuk mereka. Tapi, dia sungguh tidak mengira kalau mereka akan bisa mendeteksi dan bergerak secepat ini.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?" cicit Charles begitu mengetahui kalau lawan mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan.
"Kita jalankan rencana kedua," jawab Atmaja dengan mantap.
***
Ryan memelankan langkahnya, begitu juga saat membuka handel pintu. Dia benar-benar merasa harus hati-hati, jika tak ingin membuat wanita yang sedang mengandung anaknya itu murka saat tidurnya harus terganggu. Bukan hanya murka karena dia harus terbangun akibat ulah suaminya, tapi dia juga pasti akan memarahinya saat mengetahui bahwa Ryan meninggalkan tempatnya saat tengah malam, dan baru pulang dini hari.
Namun begitu pintu kamar terbuka, alangkah kagetnya Ryan, ketika mendapati kamar yang biasanya hanya bercahaya temaram saja kini terang benderang. Bahkan kini dia melihat istri yang sejak hamil berubah menjadi garang itu telah duduk di sofa, dengan sebuah novel di tangannya.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa. Dia kan biasa bangun jam tiga pagi untuk sholat malam. Dan ini, jam berapa ini?" gumam Ryan dalam hati.
Dia segera memasang ekspresi wajah terbaiknya, dan menata hati untuk melihat seperti apa ekspresi istrinya itu.
"Assalamualaikum," sapa Ryan seramah mungkin. Bahkan senyum dari bibirnya, Ryan tata sedemikian rupa hingga seolah tidak terjadi apa-apa.
"Wa'alaikumsalam," lirih Rani. Dia melirik Ryan sebentar kemudian kembali melihat ke arah buku yang sedang dibacanya lagi.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Ryan mendekati istrinya kemudian mengecup keningnya.
"Hmmm," jawab Rani singkat. Dia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya apapun sekarang.
"Kamu nggak bobok lagi? Biasanya kan setelah sholat malam bobok lagi sampai shubuh," Ryan sudah salah tingkah.
"Hmmm," lirih Rani, malas menanggapi suaminya itu.
"Seseru itu ya novel yang kau baca? Fokus banget sampai cuma hmm aja dari tadi," Ryan makin kehilangan kata-kata.
"Hmm," Rani masih bertahan.
"Sayang, kamu marah? Maaf, Hubby ada kerjaan," tutur Rani lembut. Kini dia meraih novel di tangan istrinya dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, tangannya meraih tangan Rani dan mengecupnya dengan mesra.
"Rani tidak peduli," sahut Rani sambil memalingkan muka.
"Kenapa bisa begitu?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Suka-suka Rani. Hubby aja tidak peduli sama Rani," ucap Rani sambil beranjak dari sofa itu.
"Eh, tunggu. Dengerin penjelasan Hubby dulu," Ryan menarik tangan Rani dan dengan cekatan membuat Rani terduduk di pangkuannya kembali.
"Lepasin, Hubby!" Rani memberontak.
__ADS_1
"Tidak akan, sebelum sayangnya Hubby ini dengerin Hubby bicara dulu," Ryan semakin mengeratkan pelukannya.
Rani hanya mendengus kesal. Tak ada pilihan selain mendengarkan suaminya memberikan penjelasan. Pasalnya, tangan Ryan yang melingkar di pinggangnya itu terlalu kuat, jadi berusaha melepasnya pun percuma.
"Hubby hanya khawatir, mereka akan menyakitimu," Ryan mulai berbicara. Wajahnya terlihat tidak nyaman begitu membayangkan sesuatu hal buruk terjadi pada istrinya.
"Apa hubungannya?" Rani mengerucutkan bibirnya. Dia sungguh belum tahu tentang kabar pengkhianatan itu.
"Kemungkinan Charles tidak sendiri. Ada yang mengajaknya bersekutu, atau dia yang di ajak bersekutu," lanjut Ryan serius.
"Siapa?" Rani mulai terpancing.
"Belum tau, karena itulah malam ini Hubby bersama Daniel dan Naja juga Johan pergi ke rumah Arya untuk memancing dan mengecoh mereka?" jelas Ryan panjang lebar.
Ryan pun akhirnya menceritakan secara detail apa saja yang dia lakukan mulai dari meninggalkan Rani diam-diam, sampai akhirnya pulang lagi ke kamarnya.
"Jadi begitu ceritanya," ucap Ryan begitu dia selesai bercerita.
Rani yang mendengarkan Ryan hanya ber ohh ria saja, tanpa ada satu kata protes pun yang keluar dari mulutnya.
"Jadi?" tanya Ryan polos.
"Apa?" sahut Rani sambil menatap lekat suaminya.
"Apa kau tak marah lagi?" Ryan menatap Rani penuh harap. Sungguh, satu-satunya kelemahan Ryan adalah ketika istrinya ngambek kepadanya.
"Tergantung pada?" kejar Ryan sambil meraih muka istrinya, dan membuat mereka saling bertemu mata.
"Ada pajaknya, By," Rani membuang pandangannya. Masih saja, dia selalu malu dan merona saat beradu pandang dengan suaminya.
"Pajak? Dengan senang hati Hubby akan membayar pajaknya," Ryan yang sudah bisa menangkap rona merah di wajah istrinya, semakin terdorong untuk menggoda.
"Beneran?" tanya Rani, dengan binar di matanya yang begitu memukau.
"Bener," Ryan meyakinkan.
"Janji?" sebuah senyum yang tipis tersungging di bibir Rani, memikirkan pajak yang akan dia minta kepada suaminya nanti.
"Janji, Sayang. Kamu mau berapa ronde?" Ryan menaikkan alisnya dan mulai tersenyum nakal.
"Hah, apa yang Hubby pikirkan?" Rani mbulatkan matanya, mengetahui kemana pembicaraan itu suaminya arahkan.
"Kau mau Hubby membayar pajak seperti yang biasa kau lakukan saat membayar pajak kepada Hubby bukan?" dengan sok polosnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Ryan.
__ADS_1
"Hubby! Bukan itu pajaknya. Itu mah Hubby keenakan," Rani berusaha melepaskan pelukannya, dan ingin beranjak dari pangkuan suaminya.
"Terus?" Ryan tak ingin melepaskan sedikit pun, sebelum urusan di dalam clear.
"Hubby sudah janji loh, mau bayar pajaknya," rajuk Rani. Dia kembali mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya," tutur Ryan lembut.
"Beneran loh," kekeh Rani.
"Iya, Sayang. Sekarang bilang sama Hubby, apa pajak nya?" Ryan sudah tidak sabar jika harus menunggu lagi.
"Pajaknya, Hubby harus ngizinin Rani makan cilok abang-abang yang sering jualan di ujung jalan itu, By," mengucapkan itu, Rani sudah seperti di atas awang-awang. Maklum, selama mereka menikah, Ryan tidak pernah mengizinkan istrinya makan makanan yang kurang terjamin kebersihannya.
"Apa? No. No. No. Nggak boleh," tolak Ryan.
"Tuh kan, Hubby nggak tepatin janji," kesal Rani
"Tapi itu kan abang-abang tukang cilok keliling, Sayang," kini Ryan mencubit hidung istrinya dengan manja.
"Memangnya kenapa? Rasanya tak kalah enak dengan cilok-cilok restoran," sergah Rani tak mau kalah.
"Tapi kebersihannya? Kamu bisa menjamin apa?" Ryan membulatkan matanya.
"Mereka jualan di jalan bukan berarti jorok loh, By," Rani tak terima.
"Mereka kan seharian jualan di jalanan, Sayang. Kalau mereka buang air di jalan sembarangan, lalu setelah selesai tidak cebok gimana? Kan tangan yang mereka pakai untuk mengambil cilok-cilok itu kotor lagi," Ryan menakut-nakuti.
"Hubby kenapa mikirnya sampai segitunya, By? Itu nuduh sembarangan namanya. Jorok atau tidak itu tergantung pribadi masing-masing," protes Rani, melihat kelakuan aneh suaminya.
"Hmmm," Ryan mengeluarkan jurus andalannya.
"Jadi boleh, By?" Rani bergelayut manja.
"Cari cilok di restoran saja, Sayang. Lebih bersih,"
"Nggak mau, Rani maunya cilok yang biasa nongkrong di ujung jalan itu," rengek Rani.
Namun sebelum Ryan menjawab, tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Setelah Ryan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang di seberang sana, ekspresi mukanya menjadi berubah.
"Apa?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Jangan lupa like, vote dan rate 5 nya, ya. Terima kadih