METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jadilah Istri Yang Manja


__ADS_3

Semua yang kau pikirkan itu terlalu jauh, Sayang. Sikap Hubby akhir-akhir ini muncul, murni hanya karena Hubby sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan, mega proyek Green Canyon itu melibatkan tiga perusahaan besar? Perusahaan kita, perusahaan Daniel, juga perusahaan milik keluarga Atmaja. Masalahnya, Daniel sama sekali belum bisa menghandel semuanya. Perusahaan keluarga Atmaja pun hanya tersisa Hengky yang bisa diandalkan. Al hasil, akhirnya harus Hubby yang melakukan semuanya," Ryan terus meyakinkan Rani yang kini hanya terdiam. Meski begitu, Ryan juga benar-benar menyadari bahwa kesibukannya selama satu pekan ini memang membuat sikapnya sudah sangat keterlaluan. Karena itulah dia betul-betul memahami, jika Rani merasa sangat tersakiti.


"Apa kau mau Hubby bersumpah demi nyawa dan raga Hubby?" lanjut Ryan mendapati istrinya yang tidak juga berkomentar.


"Sudah Rani bilang, jangan begitu mudahnya mengeluarkan sumpah demi apapun, By," kesal Rani.


"Habisnya kamu tak menghiraukan Hubby," cicit Ryan sambil melirik istrinya yang masih terlihat begitu kesal kepadanya.


"Tapi tidak harus pakai sumpah-sumpah gitu juga kali," omel Rani.


"Hubby akan terus bersumpah sampai istri Hubby ini percaya pada perkataan Hubby," kekeh Ryan.


"Cukup, By. Hubby ini apa-apaan sih?" sahut Rani kesal.


"Biarin. Sebelum kamu maafin Hubby, Hubby akan terus melakukannya," Ryan terus membuat agar istrinya mau menanggapi perkataannya.


"Hubby!" seru Rani semakin geram.


"Apa, Sayang," Ryan kembali mendekat dan memeluk istrinya. Bahkan kini tangannya sudah mulai nakal dan berselancar pada area favoritnya.


Kali ini tidak ada penolakan. Rani diam saja mendapat perlakuan lembut dari suaminya itu. Bahkan ketika Ryan membalikkan tubuhnya dan memeluknya dari depan, tidak ada lagi perlawanan. Rani hanya diam saja, meski semakin Ryan memeluknya, air mata Rani semakin tumpah ruah di pipinya.


"Kenapa Hubby jahat sama Rani, By," ucap Rani sambil tergugu.


"Hubby memang jahat, Sayang. Hukumlah Hubby sebanyak hukuman yang kamu mau, asal kamu mau memaafkan kesalahan Hubby," sahut Ryan sambil mengecup ujung kepala istrinya berkali-kali.


Rani masih saja memilih untuk diam. Dia merasa suaminya itu sekali-kali harus diberi pelajaran.

__ADS_1


"Maafin Hubby ya, Sayang. Hubby janji tidak akan seperti itu lagi, sesibuk apapun Hubby. Kamu mau maafin Hubby kan, Sayang? Mau ya?" pinta Ryan penuh harap. Dia sudah seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk demi mendapatkan pengampunan dari ibunya.


Sementara Rani masih tak bicara, mulutnya enggan sekali untuk terbuka.


"Sayang, Hey. Kamu tidak mau maafin Hubby? Ayo dong, jangan ngambek seperti ini. Hubby tidak tahan kamu diamkan Hubby kayak gini. Maafin Hubby, ya, ya, ya," Ryan meraih wajah Rani dan menyelipkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang telinganya. Wajah itu masih tetap cantik, walau pipinya makin berisi. Hanya matanya yang sembab saja yang membuat wajah itu terlihat sayu.


Rani masih tak mau bersuara. Hanya sebuah dekapan saja yang menjadi isyarat bahwa dia sudah memaafkan suaminya. Ryan pun sudah bisa tersenyum lega, melihat gelagat istrinya yang sudah mulai bermanja lagi kepadanya.


"Berjanjilah jangan pernah pergi sendirian dan membuat Hubby khawatir lagi," tutur Ryan lembut.


"Tergantung," sahut Rani asal.


"Tergantung pada?" Ryan mengerutkan dahinya. Istrinya itu selalu saja memberikan penawaran untuk sesuatu yang sangat sulit dia terima.


"Tergantung pada bagaimana Hubby memenuhi janji Hubby pada Rani. Kalau Hubby cuekin Rani sekali lagi, itu artinya Hubby sudah tidak lagi sayang sama Rani. Dan jika itu terjadi, Rani pastikan, Rani akan selamanya pergi dari kehidupan Hubby," ancam Rani sambil mengerucutkan bibirnya


"Sssttt. Jangan pernah bicara seperti itu, karena itu tidak akan pernah terjadi. Hubby akan selalu menyayangi dan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Cinta Hubby tidak akan pernah berubah, selama nafas Hubby masih berhembus dan jantung Hubby masih berdetak," kini sebuah cubitan kecil mendarat manis di hidung mancung Rani.


"Tentu saja Hubby akan tetap mencintaimu, bahkan berkali-kali lipat semakin cinta sama kamu. Malah lebih enak kan mainnya? Empuk. He-he-he," jawab Rani sambil menggoda istrinya.


"Ihh, Hubby. Rani serius nanyanya," sahut Rani sebal.


"Hubby juga sangat serius jawabnya, Sayang. Hubby jujur, menjawab pertanyaanmu itu dari hati Hubby yang paling dalam," Ryan terus menggoda, berharap tawa istrinya akan mengembang setelah mendengar ucapannya yang penuh dengan rayuan.


"Kalau rambut Rani sudah memutih gimana? Apa cinta Hubby tidak akan berkurang juga?" Rani kembali bertanya.


"Hubby akan semakin sayang dan gemes sama kamu pastinya. Bukannya kita malah tidak perlu susah-susah menyemir rambutmu? Lihat saja tuh di luar sana banyak yang keluar uang jutaan hanya untuk mewarnai rambutnya biar kelihatan lebih cantik. Hubby yakin, jika rambutmu memutih, akan semakin membuatmu sempurna, Sayang," Ryan kembali menggombal.

__ADS_1


"Ihh Hubby gombal. Mmm, kalau wajah Rani sudah mengerut gimana?" cecar Rani lagi.


"Ingat, usia kita terpaut lima tahun, Sayang. Saat wajahmu mulai mengerut, itu artinya wajah Hubby sudah keriput. Kita pasti akan menjadi pasangan teromantis di dunia jika waktu itu tiba," Ryan tersenyum menang, berhasil mengeluarkan jawaban yang membuat istrinya tak mampu menyangkal.


"Kalau Rani ...," Rani masih berniat mengajukan pertanyaan lagi. Tapi sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya, Ryan sudah menutup mulutnya dengan ibu jarinya.


"Sssttt. Cukup, Sayang. Jangan lanjutkan lagi. Seperti apapun kondisi kamu, cinta Hubby tidak akan pernah berkurang. Semakin lama, cinta Hubby akan semakin besar untuk kamu dan anak-anak kita nanti," Ryan tersenyum manis dan mengeratkan pelukannya.


"Hubby janji kan?" tanya Rani.


"Hubby janji, Sayang. Tapi istri cantiknya Hubby ini juga harus berjanji sama Hubby," jawab Ryan penuh kelembutan.


"Apa?" Rani mengernyitkan dahinya. Kini Rani mendongak ke atas, demi melihat ekspresi muka yang ditunjukkan suaminya.


"Berjanjilah untuk terus bersikap manja pada Hubby," Ryan menatap mata Rani penuh cinta.


"Janji macam apa itu, By?" Rani terheran-heran dengan permintaan suaminya yang bisa dibilang tak biasa.


"Hubby mau, kamu selalu menjadi istri yang manja sama Hubby. Hubby suka saat kamu merajuk dan merengek sama Hubby. Tetaplah seperti itu, karena Hubby merasa menjadi suami yang dibutuhkanmu," ucap Ryan sambil mengusap pipi chubby Rani.


"Memangnya Hubby nggak risih?" tanya Rani heran.


"Hubby malah suka. Jadi, tetaplah jadi istri yang manja. Oke?" titah Ryan.


Rani pun mengembangkan senyumnya. Kini sebuah pelukan hangat melingkar manis di antara keduanya.


"I love you, Sayang," ucap Ryan sambil mendaratkan sebuah kecupan.

__ADS_1


"I love you too, Hubby," sahut Rani dengan senyum termanisnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2