
Johan memandang ke arah Arsen dengan tatapan tak percaya.
Kini, di belakang kursi pengemudi itu Johan benar-benar melihat seorang ayah yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putranya.
"Saya rasa ini bukan soal menebus kesalahan, Tuan Besar. Saya yakin ini semua karena ketulusan hati yang Anda berikan," gumam Johan dalam hati.
Sungguh, kini hati Johan mengharu biru, mendengar keputusan Tuan besarnya itu.
Meski begitu, Johan tak juga menyalahkan Daniel yang untuk sekedar memaafkan pun masih segan. Karena dalamnya hati Daniel, hanya Johan yang paling tahu. Bahwa sebenarnya Daniel mencari ayahnya bukan hanya karena dendam yang dia rasakan, tapi karena kerinduan mendalam serta keinginan untuk sebuah pertemuan.
Daniel benar-benar rindu akan belaian seorang ayah, kasih sayangnya, bahkan selalu mengharap kehadirannya walau hanya dalam impian.
Dan kini, mimpi itu bukan hanya sekedar buaian. Johan sungguh melihat seorang ayah yang mencintai putranya melebihi apapun di dunia ini.
"Tapi Anda masih muda, Tuan. Banyak hal yang masih bisa Anda lakukan." pancing Johan, ingin melihat sebesar apa kesungguhan sang tuan besar.
"Untuk apa semua itu jika aku tak bisa melihat putraku bahagia, Jo. Cukup sudah penderitaan di masa lalunya. Aku tak ingin melihat takdir merenggut kebahagiaannya lagi," kini Arsen menatap arah luar jendela, dia membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Tapi Bank Mata Indonesia tidak menerima donor mata dari orang yang masih hidup, Tuan," jelas Johan.
"Untuk itulah aku butuh bantuanmu. Paksa mereka untuk menerima donor mataku. Jika dengan begitu tak juga bisa, kalau perlu kau bunuh aku biar korneaku bisa ditransplantasikan pada putraku," titah Arsen penuh emosi.
"Tapi, Tuan?" Johan begitu kaget mendengar apa yang Arsen perintahkan.
"Keluarkan semua keahlianmu, Jo. Aku tahu ini adalah hal yang sangat mudah buatmu," desak Arsen.
"Bukan begitu, Tuan. Tapi mereka tidak akan berani ambil resiko karena taruhannya adalah jabatan," Johan sampai bingung bagaimana cara menjelaskan.
"Kau belum mencoba, Jo. Jangan menyerah sebelum bertanding," titah Arsen datar.
"Ahhh," Johan mendesah kasar. Kini tangan kanannya masih fokus memegang stir mobil, sementara tangan kirinya dia gunakan untuk memijit keningnya yang mendadak pusing tujuh keliling.
__ADS_1
***
Johan memelankan laju mobilnya, berharap mereka tak akan bisa sampai ke tempat tujuan. Bagaimana tidak? Hingga saat ini Johan belum bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan.
"Cepatlah sedikit, Jo. Jangan beralasan untuk mengulur-ulur waktu hingga kau bisa lepas dari tugas yang kuberikan," seolah bisa membaca pikiran Johan, Arsen berseru dengan lantang.
"Baik, Tuan" jawab Johan, kemudian langsung menginjak pedal gasnya hingga mobil melaju lebih kencang.
Selang beberapa waktu, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit itu. Dengan penuh keyakinan, Arsen berjalan masuk menuju ruang Bank Mata Indonesia. Kebetulan rumah sakit yang ditunjuk sebagai Bank Mata Indonesia di kota itu adalah rumah sakit tempat Daniel dirawat, sehingga Arsen bisa sekaligus bertemu dengan dokter yang menangani Daniel.
Dan tak butuh waktu lama, Arsen dan Johan bisa bertemu dengan dokter itu.
"Mohon maaf, Tuan. Kami hanya mengambil kornea dari pendonor yang telah meninggal. Secara prosedur, Anda bisa mendaftarkan diri sekarang, tapi untuk pelaksanaan donor hanya bisa dilakukan setelah Anda meninggal," jelas dokter itu ketika Arsen mengutarakan niatnya.
"Tolonglah saya, Dok. Saya hanyalah seorang ayah yang ingin putra saya melihat dunia. Masa depannya masih panjang, berbeda dengan saya yang sebentar lagi menginjak usia lanjut," pinta Arsen penuh harap.
"Sekali lagi mohon maaf, Tuan. Kami harus mengikuti prosedur, atau kami akan berurusan dengan persoalan hukum," kekeh dokter itu.
Mendengar jawaban dokter itu, Arsen melihat ke arah Johan seolah meminta bantuan. Johan yang mengerti isyarat yang diberikan Arsen pun menjawab dengan bahasa mata sehingga Arsen memutuskan untuk menunggu di luar dan membiarkan Johan berbicara berdua saja dengan dokter itu.
"Bagaimana, Jo?" tanya Arsen begitu Johan mendekatinya.
Johan tak bersuara. Hanya gelengan kepala saja yang mampu menjawab bahwa proses negosisasi gagal.
"Huh, ternyata apa yang mereka bicarakan tentang dirimu itu salah, Jo. Mereka bilang tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang John Angelo. Tapi ini apa? Hanya membujuk seorang dokter saja kau tak bisa melakukannya," gerutu Arsen, dengan tatapan begitu kecewa. Bahkan kini dia meninggalkan Johan begitu saja, dan berjalan menuju mobil mereka.
"Maafkan saya, Tuan. Saya memang tidak memberikan penawaran apapun kepada dokter itu. Dan saya yakin, Tuan Daniel akan sepakat dengan keputusan yang saya ambil," batin Johan dalam hati.
Johan pun segera menyusul kemana kaki Arsen melangkah, hingga tak berapa lama mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sekarang tinggal kau eksekusi permintaan keduaku, Jo. Bunuh aku dengan caramu, hingga mereka bisa melakukan transplantasi kornea itu," ucap Arsen datar.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa melakukannya. Saya diperintahkan untuk menjaga Anda, bukan justru menyakiti Anda," sahut Johan dengan lantang.
"Kau memang tidak bisa diandalkan, Jo. Aku kecewa padamu," cicit Arsen, putus asa.
"Maafkan saya, Tuan," jawab Johan lagi.
Arsen tak lagi mendengarkan apa yang dikatakan Johan kepadanya. Dia terlihat berpikir begitu keras, bagaimana caranya agar dia bisa membantu mengembalikan penglihatan putranya.
Sementara Johan, hanya bisa menatap ekspresi muka Arsen melalui kaca yang berada di depannya.
"Apapun yang Anda rencanakan, saya tidak akan membiarkan Anda berbuat nekat, Tuan," batin Johan dalam hati.
***
Seolah berlari, hari begitu cepat menggelap. Awan seakan menghitam, seperti kepenatan hati Arsen yang kini dipenuhi dengan warna hitam pekat, hingga segala rasa sesal akan masa lalu juga cinta tak terbalaskan dari orang-orang tercinta kini merajai hatinya, membuat akal sehatnya tumpul dan tergantikan dengan emosi jiwa yang hanya bisa menyalahkan takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya.
Kini, dia seperti terpenjara. Perasaan tak tenang pun pasti akan dia rasakan sampai dia menghabiskan masa tua.
"Satu-satunya jalan hanya satu, aku harus mempercepat kematian itu," batin Arsen dalam hati.
Sejenak, Arsen terlihat memejamkan mata, seolah menyiapkan hati dan memantapkan semuanya.
Tak lama, dia meraih gagang laci yang ada di samping tempat tidurnya.
"Perasaan aku taruh di sini. Kenapa tidak ada?" gumam Arsen lirih. Rupanya dia mencari obat tidur yang dia letakkan di dalam laci itu. Namun, obat itu tiba-tiba hilang entah kemana.
Arsen mencoba berpikir sejenak. Hingga tiba-tiba, dia beranjak menuju lemari pakaiannya, dan akhirnya menemukan sebuah benda di sana.
Benda itulah yang mendorong Arsen untuk membulatkan tekad, mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadi di pergelangan tangannya. Arsen meringis. Sedetik kemudian, darah mengucur deras dan ...,
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Hallo kak. Dukung author dengan klik like, vote dan rate 5 ya. Terima kasih.