
Semua orang yang mendengar dan melihat drama cinta Ryan dan Rani siang itu, pasti iri dan mendamba kemesraan yang sama dengan masing-masing pasangan mereka nanti.
Bagaimana tidak? Pertengkaran-pertengkaran kecil yang menjadi bumbu dalam rumah tangganya, justru semakin membuat pasangan itu semakin mesra saja.
Apalagi begitu melihat Ryan menggendong tubuh Rani ala bridal style keluar dari kamar, membuat angan mereka melayang, seolah mereka sedang berada di negeri dongeng atau membaca cerita di novel-novel.
Ya, akhirnya Ryan mengalah. Jarum infus itu Dokter Dina cabut, dengan sebuah janji bahwa setelah itu Rani bersedia makan. Jadi, drama antara makan dulu atau cabut dulu yang sempat menegang sesaat tadi, berakhir dengan sebuah kesepakatan yang condong pada apa yang diinginkan Rani. Hmmm, selalu saja seperti itu jika mereka sedang dalam perdebatan. Ryan akan cenderung mengalah, kecuali untuk hal-hal spesial yang benar-benar tak bisa lagi ditawar.
Meski, bukan Rani namanya jika tidak bernegosiasi. Setelah jarum infus itu terlepas, Rani masih beralasan bahwa dia ingin makan di rumah. Al hasil, tanpa pikir panjang Ryan segera mengajak istrinya pulang.
Di kursi penumpang, Ryan tidak membiarkan istrinya lepas dari pelukan. Rasa takut akan kehilangan, membuat Ryan berjanji tak akan pernah dekat-dekat dengan wanita lain lagi, apalagi menemui siapapun itu tanpa ada yang menemani.
"By," panggil Rani lirih.
"Hubby di sini, Sayang," sahut Ryan dengan sayang.
"Masih jauh nggak, By? Rani ngantuk. Rani ingin segera tidur di kamar," rengek Rani dengan nada yang begitu manja. Ryan pun tersenyum senang, melihat istrinya sudah kembali bermanja dan banyak permintaan.
"Tidur digendong Hubby dulu, nanti Hubby pindahin kamu ke kamar. Mau?" tutur Ryan lembut.
Rani mengangguk pelan, lalu memejamkan mata dipelukan Ryan. Begitu mereka sampai rumah, Rani masih tertidur dengan pulasnya. Davina, Aghata dan anggota keluarga lainnya yang sudah tak sabar menyambut kedatangan Rani pun langsung mengendalikan suaranya begitu tahu bahwa gadis yang mereka tunggu-tunggu ternyata tertidur, dan langsung Ryan bawa masuk ke kamar.
Dan disinilah mereka sekarang. Sebuah kamar maha luas yang sama persis dengan kamar mereka sebelumnya. Ya, seperti janji Ryan semalam, kamar baru mereka yang terletak di lantai satu, tak akan berbeda sedikitpun dengan kamar mereka sebelumnya, bahkan Rani tak akan tahu dimana letak perbedaannya.
Setelah Ryan menutup pintu dengan kakinya, dia membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur dengan kehati-hatian ekstra. Rani pun sama sekali tak bergeming, ketika itu. Namun begitu Ryan hendak meninggalkannya, tiba-tiba terasa seperti ada sebuah tangan yang menarik dan menahannya.
"By," lirih Rani.
__ADS_1
"Ya, Sayang," Ryan mengurungkan niatnya. Kini dia ikut naik ke atas ranjang dan kembali memeluk istrinya.
"Rani kangen Hubby," ucap Rani sambil menenggelamkan diri pada dada bidang suaminya.
"Hubby juga kangen banget sama kamu, Sayang," sahut Ryan.
"Kangen sama jagoan Daddy juga," Ryan mengelus perut istrinya.
"Jangan pernah pergi lagi dari Hubby. Hubby hampir gila karena frustasi," oceh Ryan sambil membelai kepala Rani dengan sayang.
"Kalau begitu jangan pernah kecewain Rani lagi. Apalagi sampai ada kontak fisik dengan wanita lain," Rani mengeratkan pelukannya, tak ingin pelukan itu terlepas walau sebentar saja.
"Iya, Sayang. Maaf," Ryan masih saja menyesal, karna perbuatannya hampir saja mencelakai istri dan anaknya.
"Jangankan kontak fisik, mikirin wanita lain saja tak boleh," tegas Rani lagi.
"Tapi kamu harus janji satu hal sama Hubby,"
"Apa?"
"Jangan pernah menyetir sendiri tanpa izin dari Hubby. Apalagi dalam kondisi hamil besar seperti ini. Bahaya, Sayang. Hubby benar-benar ketakutan begitu tahu bahwa kamu membawa mobil itu sendirian. Hubby trauma. Dulu kita kehilangan janin kita saat kamu menyetir hingga delapan jam lamanya. Setelah itu mobilmu ringsek di tepi jalan, hingga Hubby sampai kelimpungan. Untung saja kali ini kamu tak apa-apa. Jika sampai terjadi sesuatu, Hubby tak akan pernah memaafkan diri Hubby sendiri," ujar Ryan panjang lebar.
"Semalam itu Rani kalut, By. Rani tak berpikir panjang hingga Rani putuskan untuk pergi sendirian," adu Rani dengan mata berkaca-kaca. Bayangan suaminya yang sedang memeluk seorang wanita, masih terus mengganggu pikirannya.
"Jangan pernah ulangi lagi," sebuah cubitan kecil mendarat dengan manis di hidung mancung gadis cantik itu.
"Iya, Rani janji, By," seulas senyum tulus melengkung di bibir Rani.
__ADS_1
"Bagaimana semalam kamu tahu kalau Hubby di tempat itu?" Ryan mengerutkan dahinya. Sejak kejadian tadi malam, hal itu memang terus menjadi pertanyaannya. Hal mustahil bukan, jika tiba-tiba saja Rani datang ke sana tanpa ada yang sengaja memberitahu kepadanya?
"Ada nomor tak dikenal masuk, By. Nomor itu mengirim pesan kepada Rani," kata Rani sambil mendongakkan kepalanya. Sebenarnya Rani sendiri merasa ada yang janggal. Tapi demi membuktikan lintasan pikiran yang berseliweran di benak Rani, akhirnya Rani memutuskan untuk membuktikan segala prasangka dan kecurigaannya dengan mata dan kepalanya sendiri.
"Apa isi pesannya?" Ryan semakin penasaran.
"Nomor itu cuma mengirim foto Meysie yang sedang duduk sendiri. Dia tidak bilang apapun kecuali mengirim foto itu dan menuliskan alamat, dimana Meysie sedang berada," jelas Rani kemudian.
"Kenapa kau bisa menebak kalau Hubby yang sedang ditunggunya?" tanya Ryan terlihat antusias.
"Feeling seorang istri itu sangat kuat, By. Hanya dengan melihat foto Meysie yang dikirimkan ke nomor Rani saja, Rani sudah merasa tidak tenang dan menebak jika Hubby akan datang ke sana," Rani mengendurkan pelukannya dan memandang wajah suaminya dengan lekat.
"Sampai seperti itu?" Ryan tampak sangat serius.
"Hmm, lagian untuk apa nomor itu mengirim foto Meysie ke nomor Rani jika tidak ada sesuatu yang terjadi?" Rani jadi berpikir bahwa ada sesuatu di balik semua yang terjadi.
Ryan terlihat berpikir keras. Jika nomor itu sengaja mengirimkan foto Meysie ke nomor Rani, berarti dia tahu kalau Ryan akan datang dan berharap Rani memergoki. Pertanyaannya adalah, siapa pemilik nomor misterius itu?
"Boleh Hubby lihat nomor misterius itu, Sayang? Hubby takut ini semua bukan kebetulan, tapi sebuah kesengajaan. Hubby takut ada orang yang berusaha untuk memisahkan kita," Ryan terlihat sangat khawatir.
"Lacak saja nomornya By," cicit Rani sambil menyerahkan handphone yang dari semalam berada di saku gamisnya.
"Biar Rudi atau Naja cari tahu," Ryan menerima benda pipih itu dan segera membuka nomor misterius yang masih bertengger di sana.
Setelah nomor misterius itu Ryan kirim ke nomor Rudi dan Naja, Ryan pun meletakkan handphone-nya dan kembali memeluk gadis kesayangannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1