
Ryan menggendong tubuh mungil Rani ala bridal style, sesaat setelah dia memarkirkan mobilnya di depan rumah utama keluarga Dewangga.
Ya, hari itu Rani sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya, setelah negosiasi panjang dengan suaminya, dikuatkan dengan pernyataan dokter yang meyakinkan bahwa Rani dan janinnya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada mereka berdua.
"Hubby, Rani tidak sakit. Rani hanya hamil. Jadi sebenarnya Rani bisa turun dari mobil sendiri, dan berjalan sendiri," protes Rani, saat Ryan melarang istrinya turun dari mobil, dan justru menggendongnya.
"Tangga terlalu berbahaya untukmu. Mulai sekarang, Hubby yang akan menggendongmu jika kau mau naik ke kamarmu atau turun ke lantai satu," putus Ryan, seolah tidak ada kesempatan buat istrinya untuk menawar.
"Tapi, Hubby. Ini berlebihan. Kalau pas Hubby kerja gimana?" elak Rani.
"Kamu tidak usah kemana-mana. Cukup bobok manis di kamar saja. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa panggil Bik Tum atau minta tolong kepada Mommy Aghata," Ryan tak kekurangan akal. Dia benar-benar tahu, istrinya itu pasti akan menolak untuk mengistirahatkan dirinya dengan seribu alasan yang akan dicarinya dengan segala cara.
"Tapi Hubby, Rani kan harus bekerja. Tidak mungkin hanya bobok manis di kamar saja," Rani kembali beralasan.
Ryan terdiam, membiarkan Rani berhenti pada rengekannya. Kalau sudah berbicara soal pekerjaan, diskusi mereka bisa jadi panjang kali lebar. Dia masih terdiam, dan terus menaiki anak tangga satu demi satu hingga akhirnya mereka sampai pada kamar mereka.
"Hubby?" Rani merajuk. Posisinya masih bertahan dengan posisi semula, dalam gendongan Ryan dengan kedua tangan yang masih melingkar di leher suaminya.
"Kau kan bisa cuti selama kau hamil," sahut Ryan dengan nada acuhnya, sambil membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, menarik selimut dan menutupi seluruh bagian tubuh Rani dengan selimut itu hingga rapat sampai di ujung lehernya.
"Mana bisa begitu, By. Dimana-mana cuti itu untuk orang melahirkan bukan untuk orang hamil," sergah Rani, tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Lihat saja nanti. Hubby pikirkan dulu," jawab Ryan acuh. Setelah itu, dia membalikkan tubuhnya untuk menutup pintu sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Sepuluh menit berselang, Ryan pun telah selesai menunaikan hajatnya. Dia keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya, berniat mengambil baju ganti dari lemari pakaiannya. Namun seketika dia membelalakkan mata melihat pemandangan di depannya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" seru Ryan sambil menghampiri istrinya yang sudah turun dari tempat tidur dan terlihat sedang menyiapkan baju ganti untuk Ryan kenakan.
__ADS_1
"Nyiapin baju ganti Hubby seperti biasanyalah. Emang Hubby kira Rani lagi apa?" timpal Rani sambil mengambil beberapa helai pakaian dari lemari suaminya.
"No. No. No. Sudah Hubby bilang, mulai sekarang tugasmu hanya bobok manis di kamar, makan dan jaga kesehatanmu juga anak kita. Mulai sekarang tidak usah menyiapkan baju Hubby, karena Hubby bisa melakukannya sendiri," omel Ryan sambil mengambil pakaian ganti itu dari tangan Rani, meletakkannya di atas nakas, dan membimbing istrinya untuk kembali bobok manis di tempat tidur, dengan selimut yang dia rapatkan hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepala.
"Hubby, Rani itu hamil. Bukannya pesakitan. Ibu hamil ya beraktifitas normal. Tidak hanya tidur dan jadi pengangguran," Rani kembali protes, menerima perlakuan suaminya yang menurutnya sangat berlebihan.
Ryan hanya mendengarkan cuitan istrinya, sambil mengenakan baju santainya yang tadi telah Rani siapkan. Setelah itu, dia menghampiri Rani dan merapatkan tubuhnya dalam satu selimut untuk menemani istri kesayangannya itu beristirahat.
"Hubby tidak mau kamu capek. Kalau pingsan kayak kemarin lagi gimana?" jelas Ryan dengan sabar.
"Tapi Hubby," lagi-lagi Rani melancarkan aksi protesnya.
"Ssttt. Jaga dirimu dan anak kita. Mulai sekarang, yang Hubby bisa lakukan sendiri, tak perlu kau repot-repot melayani," Rani mencoba memberi pengertian.
"Jadi Hubby keberatan Rani nyiapin semuanya buat Hubby?" seru Rani setengah berteriak. Ryan sampai tidak habis pikir, akhir-akhir ini mudah sekali ibu hamil itu berteriak.
"Duh, salah lagi. Gimana cara ngomongnya sih?" gerutu Ryan dalam hati.
"Huh, bilang saja Hubby tidak mau dilayani sama Rani," sela Rani, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, bukan gitu loh maksud Hubby. Hubby hanya mau istri kesayangan Hubby ini banyak istirahat," ucap Ryan frustasi, tidak tahu dengan bahasa seperti apa harus menjelaskan maksud baiknya kepada istrinya.
Rani hanya mengerucutkan bibirnya, tidak menjawab lagi perkataan suaminya. Tak lama, dia melancarkan aksi protesnya dengan membalikkan tubuhnya dan memunggungi Ryan dengan sengitnya.
"Yakin ini nggak mau dipeluk sama Hubby?" Ryan mulai menyusun siasat. Dia benar-benar tahu, dengan sedikit ancaman, istrinya akan kembali luluh.
Tak ada jawaban. Rani tak mengubah sedikit pun posisinya, seperti apapun Ryan merayunya.
__ADS_1
"Ya sudah deh, Hubby berangkat kerja saja kalau kamu cuekin Hubby kayak gitu," Ryan keluar dari selimut yang menutupi tubuh mereka kemudian turun dari tempat tidur.
"Hubby! Peluuuukkkk! Hubby nggak boleh kemana-mana!" Rani langsung terduduk dan menahan Ryan dengan menarik tangannya.
"Hubby nggak denger," goda Ryan.
"Anak Hubby pengen di peluk," seru Rani, kali ini suaranya sudah lunak, bahkan terdengar sangat manja.
"Anak Hubby atau Mommy-nya?" Ryan kembali meledek istrinya.
"Dua-duanya pengen dipeluk, Hubby," rajuk Rani. Bahkan kini dia mengangkat dua tangannya, menandakan siap menerima tubuh suaminya saat dia merengkuhnya.
"Ha-ha-ha. Dasar manja," Ryan menjatuhkan tubuhnya lagi di samping istrinya, kemudian merengkuh tubuh Rani dan memeluknya erat. Kecupan penuh cinta pun segera mendarat berkali-kali di kepala yang masih tertutup hijab itu.
"Memangnya Hubby nggak suka?" Rani mendongakkan kepalanya, mencoba melihat seperti apa ekspresi suaminya saat itu.
"Enggak," cicit Ryan.
"Ihh, Hubby," Rani kembali merajuk, kali ini terdengar lebih menggemaskan dari pada biasanya.
"Nggak salah," aku Ryan kemudian.
"Ha-ha-ha," mereka pun tertawa bersamaan.
Begitulah cinta dan rumah tangga. Manis atau pahit, semua tak lepas dari bagaimana cara kita menyikapinya. Pertemuan dua karakter yang berbeda, mustahil jika semuanya akan menjadi satu kepribadian yang sama, meski sebuah tuntutan memaksa mereka untuk saling menerima. Seperti bertemunya dua zat kimia. Saat keduanya bertemu dan terjadi reaksi, maka keduanya akan bertransformasi. Ya, dua zat kimia yang bertransformasi akan membentuk senyawa kimia lain yang sederhana. Begitu juga dengan dua anak manusia yang bersatu dengan segala perbedaan karakter yang melekat padanya, dia akan membuat sebuah kekuatan baru yang bernama cinta.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Jangan lupa bintang 5 ya guys.