
Pagi itu, seorang pria muda duduk terdiam pada sebuah sofa panjang yang terletak di depan meja kerja Ryan, dengan wajah yang sangat tegang. Kaki kanannya terlihat bergerak-gerak tak beraturan, seolah mencerminkan gejolak hatinya yang sedang dilanda kecemasan. Sekilas, dia melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul delapan. Tak puas hanya dengan melihat jam di tangannya, dia pun kembali melirik handphone dan jam dinding secara bergantian, memastikan bahwa waktu menunjukkan angka yang sama.
"Tenanglah, sebentar lagi dia akan datang," ucap Arya, melihat pria muda di depannya begitu tegang.
Lima menit kemudian, Ryan pun masuk dengan muka yang begitu tenang.
"Tuan," Ryan hanya mengangguk, mendapati Arya dan pria di sebelahnya berdiri menyambutnya.
Dan di luar dugaan, tiba-tiba pria muda di sebelah Arya langsung berlutut di depan Ryan.
"Terimalah sumpah setia saya, Tuan. Saya Indra Candra Permana, bersumpah akan setia kepada Anda dan anak keturunan Anda seumur hidup saya," ucapnya tanpa aba-aba.
"Berdirilah, Indra! Aku terima sumpah setiamu," Ryan tidak membiarkan Indra tetap berlutut seperti itu.
"Terima kasih, Tuan," Indra berdiri dan mengangguk sopan.
"Bagaimana dengan pendidikanmu? Apa kau menikmatinya?" tanya Ryan sambil menatap Indra begitu tajam.
"Tentu saja, Tuan. Saya sangat menikmatinya dan siap terjun ke dunia nyata," walau dalam hati Indra sebenarnya cukup ciut melihat tatapan Ryan, tapi dia tetap memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu dengan segala kemantapan di hatinya.
"Apa kau tahu seperti apa resiko menjadi seorang agen mata-mata? Bahkan kau harus siap mengorbankan nyawamu demi aku dan keluargaku. Kau juga harus lebih memikirkan keselamatan dan kepentinganku dari pada keselamatan dan kepentinganmu sendiri," Ryan masih belum mengalihkan pandangannya. Dia benar-benar ingin memastikan, bahwa anak muda di depannya itu punya nyali besar untuk menjalankan semua misinya.
__ADS_1
"Saya siap, Tuan. Tapi apakah boleh saya mengajukan satu permintaan, Tuan?" Indra memberanikan diri.
"Katakan!"
"Jika saya berhasil menjalankan misi pertama saya, tolong bebaskan kakak saya dari sumpah setianya kepada Anda. Biarkan dia hanya berjanji setia kepada suaminya dan hidup bahagia tanpa ada beban lain yang memberatkannya," pinta Indra penuh harap.
"Ha-ha-ha. Aku suka gayamu, Anak Muda. Tapi yakinkan aku, apa yang membuat aku harus mengabulkan permintaanmu?" Ryan mulai tertarik.
Sebenarnya hal yang sangat mudah bagi Ryan untuk membebaskan Naja dari sumpah setianya. Toh sejak Daniel menikahi Naja, Ryan sudah berulang kali memberikan kebebasan itu, tapi Naja terus saja menolak pembebasan dirinya. Namun rupanya, kali ini Ryan ingin mengetahui sejauh mana keberanian Indra, hingga dia membiarkan Indra larut dalam permainan kata yang dibuatnya.
"Seumur hidupnya, kakak saya belum pernah hidup bahagia, Tuan. Dia selalu mengorbankan dirinya untuk menghidupi saya dan ibu saya. Dan sejak sebuah insiden yang mematahkan kakinya dulu, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan mengambil alih semua tanggungjawabnya dan membuat dia bahagia, bagaimanapun caranya. Jadi saya mohon, Tuan. Biarkan kakak saya terbebas dari semua tugas di pundaknya, jika saya berhasil dalam misi pertama saya," tegas Indra, menyiratkan keseriusannya.
"Terima kasih, Tuan," Indra dan Arya meninggalkan ruang kerja Ryan, kemudian menuju ruang kerja Arya untuk menyusun rencana.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, seorang pemuda dengan tatapannya yang tajam sedang duduk bersandar sambil memegang sebuah foto. Disana tergambar seorang gadis cantik, yang anggun dengan balutan hijab yang menutupi mahkota berharga yang dimilikinya. Ya, pemandangan yang tidak aneh memang. Apalagi gadis itu adalah gadis yang digilai Felix sejak di bangku sekolah dulu. Bahkan dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang secara terang-terangan Felix tembak melalui surat terbuka yang ditempel di mading sekolah, selain surat cinta, telphon, sms, whatsapp messenger, kirim salam melalui radio sekolah, dan masih banyak lagi hal konyol lain yang menjadi makanan sang gadis sehari-hari.
Ya, dia adalah kekasih satu harinya Felix, Arania Levana. Gadis yang sampai saat ini masih menjadi cinta pertama dan terakhirnya, karena belum ada satu gadis pun yang bisa menggeser posisi Rani dari hatinya.
Sayangnya, sudah bertahun-tahun cintanya masih juga bertepuk sebelah tangan. Alih-alih mendapatkan cinta dari gadis pujaannya, perusahaan keluarganya pun justru melayang dalam waktu semalam saja.
__ADS_1
"Kali ini, kau tak akan kulepaskan," cicit Felix dengan senyum penuh ancaman.
Felix benar-benar nekat dan selalu gigih jika itu sudah menyangkut Rani. Bahkan pukulan demi pukulan Ryan ketika itu, juga bangkrutnya perusahaan keluarganya tak juga bisa membuat Felix merasa jera. Dia justru merasa semakin tertantang untuk mencoba dan berusaha mendapatkan gadis yang dia puja, apapun resikonya.
Karena itulah Felix bekerja sama dengan Fredly dan beberapa musuh politik Rani untuk melancarkan aksinya, sehingga berdirilah kembali perusahaan Adinata, yang siap bersaing dan menghancurkan Dewangga Group bagaimanapun caranya.
"Ha-ha-ha. Kau pasti sedang bertanya-tanya kenapa aku bisa mendirikan perusahaanku kembali dan bisa memegang konsep Green Canyon milikmu bukan? Tunggu saja, Ryan Dewangga. Sebentar lagi akan kuhancurkan perusahaanmu melalui orangmu sendiri," tawa Felix menggelegar memenuhi seluruh sudut ruang.
"Tidak hanya itu saja, Tuan Ryan yang terhormat. Kau tidak hanya akan kehilangan perusahaanmu, tapi juga istri cantikmu itu. Karena dia adalah milikku, dan tidak akan pernah kubiarkan menjadi milik orang lain selain diriku," oceh Felix lagi, sambil menatap foto Rani tanpa henti.
Ya, walau cuma menjadi kekasih satu hari, nama Rani sudah terlanjur terpatri. Bahkan, nafas yang Felix hirup selalu saja terasa berat, saat foto itu kembali dia lihat.
"Kali ini tak akan kubiarkan kau pergi lagi, Sayang. Karena kau milikku, hanya milikku," gumam Felix sambil membelai wajah cantik Rani dari foto yang sudah dia pegang sepanjang hari.
Begitulah Felix Adinata. Dia memang terlalu bodoh hingga tak mampu memahami posisinya seperti apa di hati Rani. Bahkan dia masih saja terlalu berharap pada sebuah cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, sebuah cinta pada seorang gadis yang memiliki cinta namun bukan untuknya.
Yah, walau Felix tahu betul bahwa memiliki Rani hanya sebatas harapan semu, tapi dia masih saja mengharapkan cinta dari gadis cantik itu.
Felix pun tak mau, jika segenggam rasa itu tak kan pernah sampai kehatinya. Dia benar-benar tak mau hanya sekedar memeluk udara kosong yang tak sempat menjadi nyata, walau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1