
“Arsen?” sebuah nama keluar dari mulut Aghata. Dia memanggil pria yang kini berada di hadapannya itu dengan bibir yang bergetar, seperti hatinya yang kini sedang bergetar tak beraturan. Air matanya pun tiba-tiba menggenang, mengingat rasa sakit yang dulu pernah pria itu goreskan.
“Ya Allah, sesempit inikah dunia? Kenapa Kau pertemukan lagi hambamu ini dengan pria yang telah banyak menorehkan luka?” guman Aghata dalam hati.
“A ... Aghata?” pria itu menatap Aghata seolah tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Setelah yakin dengan apa yang kini ada di depannya, Arsen pun mengedarkan pandangannya ke arah semua orang yang kini sedang berada di rumahnya.
“Apakah diantara mereka ada anakku?” batin Arsen.
“Paman, mereka semua majikan Nina. Merekalah yang telah menyelamatkan Nina. Apakah kalian saling mengenal sebelumnya?” tanya Nina polos.
“Arsen? Jadi dia pria itu?” tanya Daniel penuh emosi. Bahkan pertanyaan itu lebih terdengar sebagai teriakan bagi siapapun yang mendengar nada pertanyaan yang Daniel lontarkan.
“Biar kuberi dia perhitungan, Mom,” Daniel maju beberapa langkah dan siap melayangkan pukulannya, tetapi Ryan dan Arya segera menghalanginya dan menariknya menjauh.
“Apa dia putraku?” tanya Arsen terbata. Bulir-bulir bening kini mengalir deras dari ujung matanya.
”Jangan sebut-sebut aku sebagai putramu. Kau sungguh tak pantas mendapatkan gelar seorang ayah dari anak manapun di dunia ini. Dasar pria tidak bertanggung jawab. Kau pikir ibuku masih hidup setelah apa yang kau lakukan itu, bukan karena sebuah keajaiban, heh?” teriak Daniel penuh amarah. Dia masih berusaha memberontak hendak menyerang Arsen, tapi gagal karena Ryan dan Arya terus memegangi tangannya dengan kencang.
Aghata semakin tergugu. Tubuhnya tiba-tiba lunglai seolah tulang-tulangnya terlepas dari raga. Untung saja ada Naja dan Lena yang berada di dekatnya, sehingga mereka dapat langsung merengkuh tubuh Aghata dan mendudukkannya pada kursi usang yang terletak tak jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
“Ada siapa, Bang? Kok terdengar ada ribut-ribut di luar?” seorang wanita paruh baya tiba-tiba keluar, dengan sebuah kursi roda yang didudukinya. Wajahnya sangat cantik, namun sayang badannya sangat kurus seperti tidak terurus.
Wanita itu mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu orang yang kini ada di hadapannya.
“Nina!” panggil wanita itu seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ibu,” lirih Nina sambil menghambur ke pelukan ibunya.
Semua yang menyaksikan adegan dimana seorang ibu sedang menumpahkan rasa rindu kepada putrinya itu pun tak bisa menahan air mata. Haru biru kini membuat mereka sejenak melupakan masa lalu. Apalagi melihat kondisi ibu Nina yang terlihat sakit, membuat Daniel dan Aghata pun ikut iba dengan pemandangan yang kini disaksikannya.
“Ada banyak tamu, kenapa tidak dipersilahkan masuk ke dalam, Bang?” ucap wanita itu setelah puas memeluk dan menciumi putrinya dengan penuh kerinduan.
“Mari silahkan masuk, Tuan, Nyonya, dan Nona!” ajak wanita itu tulus.
Dan seperti terhipnotis, semua menurut saja dengan ajakan wanita itu. Bahkan Daniel yang sedari tadi sudah tersulut emosi pun tak menunjukkan wajah marahnya lagi. Begitu juga dengan Aghata. Dia hanya memasang wajah datar, namun tak ada satu kata pun yang dia keluarkan. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan kasihan yang menjalar begitu saja.
Begitu sampai ke dalam, mereka mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, hampir tidak ada perabot rumah tangga yang ada di sana. Di ruang tamu itu hanya ada sebuah tikar berukuran 2 x 3 meter yang di gelar di atas tanah, yang ketika semua duduk di sana dengan berdesakan, hawa dingin segera mereka rasakan.
Setelah semua duduk, Arsen mencoba untuk angkat bicara.
__ADS_1
“Terima kasih telah menjaga keponakan saya Nina. Saya adalah kakak dari ibunya. Dan dia adalah Mira, adik semata wayang saya yang tidak lain adalah ibunya Nina,” Arsen membuka kalimat pertamanya dengan ragu.
“Mir, dia adalah Aghata yang Abang ceritakan ketika itu,” Arsen menunjuk ke arah Aghata.
Aghata dan Daniel juga semua yang berada di ruangan itu hanya saling pandang sambil menunggu Arsen melanjutkan kalimatnya. Sementara Mira, terlihat membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh kakak lelakinya.
“Kalian sudah bisa lihat kan, betapa Allah sudah memberikan balasan terhadap apa yang telah saya lakukan kepada kalian? Bahkan Dia memberikan hukuman bukan hanya kepada saya, tapi juga kepada adik perempuan dan seluruh keluarga saya. Dan itu semua yang telah membuat saya sadar dan menyesali seluruh perbuatan yang saya lakukan kepada kalian,” Arsen mulai tergugu. Air matanya tumpah.
“Uang telah membutakan mata saya ketika itu, sehingga apapun saya halalkan untuk mendapatkannya, termasuk dengan menjadi seorang bandar narkoba. Waktu itu saya memang menjadi orang yang kaya raya. Tidak ada yang tidak bisa saya dapatkan dari harta yang saya punya. Saya sungguh tidak sadar, bahwa dari situlah awal kehancuran hidup saya, yang tanpa saya sadari juga menjadi awal dari kehancuran hidup Aghata dan orang-orang yang sangat berharga dalam hidup saya,” lanjut Arsen, dengan segala penyesalan yang kini menyeruak dari dalam jiwanya.
“Apalagi ketika adik perempuan saya satu-satunya, menjadi korban dari perbuatan saya. Karena kesalahan yang saya lakukan, Mira harus menanggung akibat yang harus rela dia telan seumur hidupnya. Waktu itu dia diculik oleh anak buah majikan saya, kemudian disuntik dengan Rohypnol, sebuah obat penenang yang sepuluh kali lebih keras dari pada obat penenang biasa, hingga dia menjadi begitu tidak berdaya. Bahkan waktu itu di depan mata dan kepala saya sendiri, dia dibaringkan di lantai begitu saja, tanpa bisa melawan bahkan sekedar berteriak pun tak bisa ketika dia harus diperkosa secara bergilir oleh majikan saya dan anak buahnya. Dan apakah kalian tau efek panjang yang harus dirasakan Mira selama hidupnya? Setelah kejadian itu, ingatannya terganggu. Dia sama sekali tidak dapat mengingat kembali apapun yang telah terjadi. Dia mengalami kehilangan kemampuan untuk mengendalikan uratnya, kebingungan, dan bahkan amnesia sampai saat ini,” Arsen bercerita dengan hati pilu, mengingat betapa besar dosa yang telah dia perbuat sehingga hukuman yang Tuhan berikan harus sedemiakian besar.
“Lalu Nina? Siapa ayah Nina, Paman? Apakah Nina lahir dari hasil pemerkosaan itu?” Nina yang kaget dengan cerita yang baru pertama kali didengarnya itu pun mulai bertanya-tanya tentang jati dirinya.
BERSAMBUNG
💖💖💖
Terima kasih telah menjadi pembaca setia Novel Metafora Cinta Legislator Muda. Penasaran dengan kisah Arsen setelah dia meninggalkan Aghata? Baca Episode selanjutnya ya. Jangan lupa kasih like, vote dan rate 5 dulu biar author semangat melanjutkan ceritanya. Ok?
__ADS_1