
"Mey, apakah kau mendengar suaraku?" kalimat itu yang pertama kali lolos dari mulut Ryan.
Tidak ada respon.
"Meysie, ini aku Ryan, Mey. Tidakkah kau bisa mendengar?" Ryan mengulangi ucapannya sekali lagi.
Setelah kalimat kedua yang Ryan ucapkan, dokter dan semua yang ada di ruang itu menajamkan pengelihatannya.
"Mey ..., Meysie!" seru Tuan Atmaja dan yang lainnya hampir secara bersamaan, ketika melihat bahwa Meysie menggerakkan jarinya. Selain menyebut nama Ryan beberapa kali, ini adalah kali pertama Meysie menggerakkan salah satu anggota tubuhnya.
"Dok, tangannya bergerak, Dok. Lihatlah, tangannya bergerak," Hengky ikut menimpali.
Dokter yang juga melihat respon Meysie secara langsung pun segera mendekati dan memeriksa Meysie kembali, tapi sayangnya respon itu tidak terlihat lagi.
"Bisakah Anda ulangi lagi, Tuan Ryan? Perdengarkan suara Anda di dekat telinganya, agar suara Anda bisa terdengar dengan jelas," pinta dokter itu kepada Ryan.
Ryan tak kunjung melakukan apa yang diminta dokter itu. Matanya justru menatap Rani meminta persetujuan. Setelah Rani menganggukkan kepalanya, baru Ryan menggeser kursi tempat dia duduk dan lebih mendekatkan dirinya pada ranjang tempat Meysie berbaring.
"Mey, Meysie! Bukalah matamu. Aku disini menjengukmu. Tidakkah kau ingin bertemu denganku dan orang-orang yang kau cintai?" tutur Ryan kaku.
"Terus, Tuan. Ingatkan dia tentang memori-memori indah saat kalian bersama," tuntut dokter itu.
"Hmmmhhh," Ryan menghela nafas panjang. Kali ini dia harus pandai-pandai merangkai kata agar apa yang akan dia katakan kepada Meysie tidak akan menyakiti hati Rani.
Setelah diam sejenak, Ryan pun mendekatkan mulutnya ke telinga Meysie lagi.
"Mey, apakah kau ingat saat-saat kita bersama di Amerika dulu? Dua tahun kita berjuang di negeri orang, sungguh bukan waktu yang sebentar. Susah senang pun kita jalani bersama. Kita saling bantu, saling mengingatkan dan saling memperhatikan. Memang terasa menyakitkan saat kita memutuskan untuk berpisah dulu. Bahkan aku tidak bisa membayangkan semerah apa wajahku ketika itu, tapi aku benar-benar ikhlas jika itu untuk kebahagiaanmu. Huh, waktu itu persahabatan kita begitu indah ya, Mey. Apakah kau mengingatnya?" Ryan terlihat menarik nafas kasar ketika Meysie tak juga menunjukkan perubahan.
"Bangunlah, Mey! Ayo kita bangun persahabatan kita kembali. Bukankah kini seharusnya kita tetap saling menyapa, bukan saling menorehkan luka? Bukankah kini seharusnya kita tetap saling mengukir cerita, bukan saling menyakiti? Bangunlah, Meysie. Kami semua menantimu kembali. Kumohon, bangunlah!" Ryan mengucapkan itu dengan emosi yang kian menggebu. Tidak hanya di mulut, tapi hatinya betul-betul mengembara ke masa lalu saat Ryan masih bersama dengan Meysie dulu. Sakit, hancur, bahkan Ryan sampai tidak tau lagi bagaimana menggambarkan seperti apa perasaannya mendapati sahabat sekaligus perempuan yang pernah mengisi hatinya di masa lalu dalam kondisi koma seperti itu.
__ADS_1
"Dok, dia meneteskan air mata," seru Nyonya Atmaja setengah berteriak.
"Teruskan, Tuan Ryan! Teruskan! Terus ajak dia berbicara! Katakan kata-kata cinta atau kata-kata mesra lainnya untuk merangsang syarafnya. Dia merespon ucapan Anda. Pegang dan gengam erat tangannya, beri dia sentuhan agar dia benar-benar merasakan kehadiran Anda!" perintah dokter itu terlihat bersemangat.
"Apa?" Ryan membulatkan mata mendengar perintah dokter itu. Tidak hanya Ryan, bahkan seisi ruang itu terlihat terkejut dengan permintaan dokter yang sudah pasti akan Ryan tolak mentah-mentah.
"Dia merespon ucapan Anda, ini adalah perkembangan yang baik, Tuan. Jika Anda mengucapkan kata-kata cinta atau kata mesra lainnya, juga menyentuh tangan atau mencium keningnya, harapan kita untuk menyadarkannya semakin besar," kekeh dokter itu.
"Maaf, Dok. Saya tidak bisa. Paman, Bibi, Hengky, maafkan saya. Saya sungguh tidak bisa melakukan yang dokter minta. Saya tidak mungkin berkata cinta kepada Meysie karna hanya Rani yang saya cintai. Apalagi jika harus memegang tangannya bahkan mencium keningnya, saya benar-benar minta maaf. Hanya Rani yang berhak mendapatkan itu dari saya," Ryan menggeser kursinya agak menjauh dari Meysie.
"Hanya agar dia sadar saja, Nak. Paman mohon! Setelah dia sadar, kami berjanji tidak akan mengganggumu lagi," Tuan Atmaja angkat bicara. Kedua tangannya dia katubkan di depan dada, untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar merendahkan dirinya pada pria yang telah membuat putrinya benar-benar jatuh cinta, bahkan rela berbuat nekat hanya untuk mendapatkannya.
"Maaf, saya betul-betul tidak bisa, Paman. Saya tidak mungkin melakukan sebuah kebohongan besar. Bukankah ketika dia sadar nanti dia akan merasa lebih tersakiti?" sahut Ryan.
"Ayolah, Nak. Bibi mohon. Sekali saja. Jika kau lakukan itu dan Meysie tetap belum sadarkan diri, Bibi berjanji tidak akan memaksamu lagi," pinta Nyonya Atmaja penuh harap.
Hingga tiba-tiba Ryan tersadar, bahwa istrinya sudah tidak ada lagi di dalam ruangan.
"Rani? Dimana dia?" Ryan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang.
"Dia menunggu di luar," Daniel dan Arya menyahut bersamaan.
"Ya, Allah," Ryan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian langsung berlari ke luar.
Begitu Ryan membuka pintu dan tidak mendapati Rani di sekitar ruang ICU, Ryan kembali berlari menyusuri lorong sambil membuang pandangannya ke sembarang arah, mencoba menemukan perempuan yang dia cintai.
"Aku tahu ini pasti akan menyakitimu, Sayang. Kenapa kamu malah memintaku melakukan hal itu?" batin Ryan dalam hati.
Hingga tiba-tiba langkah Ryan terhenti, melihat istrinya sedang tergugu di kursi taman, ditemani Lena dan Naja yang kini sedang saling memeluk dan menenangkan.
__ADS_1
"Sayang," lirih Ryan, begitu dia mendekatkan diri ke kursi itu.
Mendengar suara Ryan, Rani langsung melepaskan pelukannya. Lena dan Naja pun memutuskan untuk pergi dan membiarkan mereka berdua untuk bicara dan saling menghilangkan beban.
"Hubby, maaf," Rani menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir deras, membuat mata indahnya terlihat begitu sembab.
"Apa kamu cemburu?" telisik Ryan.
Rani hanya menganggukkan kepala dengan pelan, sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Ya Allah, maafkan Hubby, Sayang," Ryan merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Rani tidak kuat jika harus melihat Hubby mengatakan cinta bahkan menyentuh perempuan itu," aku Rani sambil mengeratkan pelukannya.
"Hubby tidak akan pernah melakukan itu, Sayang," tegas Ryan.
Beberapa saat, mereka membiarkan diri mereka dalam posisi seperti itu. Menyalurkan segala cinta dan kasih sayang, hingga mereka bisa saling menguatkan. Setelah beberapa saat, Ryan mengendorkan pelukannya. Dibelainya wajah ayu itu, dan diusapnya air mata yang masih mengalir deras dari ujung matanya.
"Tapi, Hubby ...," terlihat keraguan di mata Rani.
"Hubby tidak akan melakukannya. Yang berhak atas Hubby hanya istri Hubby yang cantik ini," senyum tipis tersungging dari bibir Ryan.
"Hubby halal melakukannya, kalau dia Hubby jadikan istri kedua,"
BERSAMBUNG
💖💖💖
Ditunggu like, vote dan rate 5 nya ya kakak. Terima kasih😘
__ADS_1