METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bukan Gendut Tapi Hamil


__ADS_3

Begitu Arya ke luar, Ryan langsung mengunci pintu ruang itu dari dalam. Alarm di bawah sana sudah berteriak-teriak meminta jatahnya, sehingga permainan tanggung mereka harus diselesaikan sekarang juga.


Ryan pun membalikkan tubuhnya, kemudian membuka jas dan kemejanya hingga kini bertelanjang dada. Setelah melempar pakaiannya ke arah kursi kerjanya, Ryan segera menghampiri istrinya yang masih terduduk di sofa, sambil membenarkan salah satu underwear-nya yang sempat di acak-acak suaminya sebelum kepergok Arya.


"Sayang, jangan dibenerin. Kita belum selesai," Ryan merengek sambil menghentikan tangan Rani yang sudah menelusup ke dalam bajunya.


"Ihh, Hubby. Nanti kalau ketahuan lagi gimana?" protes Rani.


"Pintunya sudah Hubby kunci dari dalam, Sayang. Buka ya?" sahut Ryan dengan suara paraunya. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan hasratnya yang sudah menyala-nyala.


"Buka apa sih, By?" sergah Rani, pura-pura tidak mengerti.


"Buka hijabmu dan semuanya. Hubby sangat menginginkanmu, sekarang," lirih, Ryan berbisik di telinga Rani, yang sukses membuat pori-pori kulitnya membesar karena getaran yang tiba-tiba menjalar.


Tanpa menunggu persetujuan, tangan Ryan meraih kain yang menutupi kepala Rani, lalu mengusapnya dengan lembut. Perlahan Ryan membuka hijab itu tanpa ada penolakan.


Seketika, rambut lurus Rani indah terurai. Wangi shampo yang memanjakan, langsung saja menguap menusuk indra penciuman Ryan hingga hasrat kelaki-lakiannya semakin mengencang.


"Hubby sangat mencintaimu, Sayang," ucap Ryan sambil menyelipkan anak rambut Lena ke belakang telinganya.


Ryan semakin mendekatkan wajahnya. Jemarinya mengusap lembut pipi dan bibir Rani. Bahkan, debar di dadanya kini semakin mengencang, saat Ryan mencium istrinya dengan singkat.


Wajah Rani hanya tertunduk, menyembunyikan kedua pipi yang sudah merah merona. Dia benar-benar belum pernah melakukannya di tempat seperti ini sebelumnya, selain di dalam kamar hotel atau di kamarnya.


Lagi, Ryan semakin mendekatkan wajahnya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.


"Hubby, tunggu," pinta Rani sambil menahan tubuh Ryan dengan telapak tangannya, mendorong dada bidang Ryan yang hampir tak berjarak dengannya.


"Kenapa sih, Sayang? Ada apa lagi? Hubby sudah tidak bisa menahannya, Sayang," Ryan mengernyitkan keningnya, kesal.


"Ada CCTV nggak, By, di ruang Hubby?" tutur Rani lirih. Matanya menyelidik, melihat ke seluruh sudut ruang.


Ryan beranjak dan menuju ke satu sudut di ruang itu. Setelah semua terkondisi, baru dia kembali menghampiri Rani.

__ADS_1


"Sudah dimatikan, By?" Rani memastikan lagi.


Ryan hanya tersenyum, kemudian meraih lembut jemari Rani. Mata mereka beradu, namun tak ada satu kata pun yang terucap dari kedua mulut itu.


Kini, wajah mereka memerah semu, karena hasrat keduanya yang sudah semakin menggebu. Sedetik kemudian, Mereka mulai bercengkerama melalui denyar nadi yang menyala. Ruang itu pun menjadi saksi bisu, betapa mereka telah menyatu dalam nafas yang kian menderu.


"Aaaggght," sebuah erangan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut mereka secara bersamaan, menjadi akhir dari penyatuan cinta kedua anak manusia itu.


***


Setelah beristirahat sebentar, Ryan beranjak dan memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai dengan tersipu. Ya, Ryan masih saja tersipu setiap kali selesai melakukan hal itu, padahal mereka sudah ratusan kali melakukannya sejak bernikahan mereka sekitar setahun yang lalu.


Ryan melihat ke arah Rani, yang kini terlelap di atas sofa setelah aktifitas panjang yang melelahkan. Melihat tubuh polos dengan perut membuncit itu tak tertutup apa-apa, Ryan segera meraih jasnya dan menggelarnya untuk menutupi sebagian tubuh istrinya. Setelah satu kecupan mendarat, Ryan menuju kamar mandi untuk mandi besar, tak lupa dengan niat dan do'anya.


Suara gemericik dari arah kamar mandi pun membuat Rani terbangun dari tidurnya. Dengan badan yang terasa lemas dan remuk redam, Rani mengambil posisi duduk dan segera beranjak dari sofa. Sama halnya dengan yang dilakukan Ryan, Rani memunguti pakaiannya satu per satu dengan wajah yang merah karena malu, mengingat rentetan kejadian itu. Mulai dari ketahuan Sesil, kepergok Arya, hingga berakhir pada pelepasan mereka berdua.


Tepat setelah Rani selesai memunguti pakaiannya, Ryan ke luar dari kamar mandi dengan tampang yang sudah segar.


"Da, Hubby," melihat ekspresi suaminya, Rani langsung berlari ke arah kamar mandi dan segera mengunci pintunya dari dalam. Bukannya apa-apa, Rani adalah orang yang paling tahu, bahwa Ryan tak akan pernah puas selama tubuh Rani tanpa tertutup helaian benang. Jika dibiarkan, bisa-bisa mereka akan tetap di kantor dan tak akan bisa pulang.


Lima belas menit kemudian, Rani sudah ke luar dengan pakaian yang tadi dia kenakan. Tidak seperti Ryan yang mempunyai pakaian ganti di kantornya, Rani sama sekali tidak mempunyai pakaian cadangan di tempat itu. Maklum saja, Rani wanita karier yang super sibuk, hingga hampir tak pernah membuang-buang waktu hanya untuk sekedar main ke tempat kerja suaminya.


"Mau minta Sesil belikan baju ganti?" Ryan mendekati istrinya dan membelai rambut basah Rani yang masih terurai.


"Nggak perlu, By. Tidak masalah buat Rani jika ini harus dipakai lagi," tolak Rani lembut.


"Baiklah, kamu duduk, biar Hubby sisir rambutmu," Ryan menggandeng istrinya dan mendudukkan Rani di atas sofa kembali. Rani tidak menolak. Dia menerima semua perlakuan suaminya dengan senang hati.


"Apa perlu Hubby minta Sesil untuk membelikan hair dryer untuk mengeringkan rambutmu?" tanya Ryan lagi. Kini tangannya tengah asyik menyisir rambut panjang istrinya.


"Tidak perlu, By. Jika Hubby masih ada pekerjaan, Hubby selesaikan saja dulu. Biar rambut Rani agak kering dikit," sahut Rani sambil mendongak ke arah Ryan yang kini berdiri di belakangnya.


"Hubby sudah selesai, Sayang. Gimana dong?" Ryan mengangkat ke dua bahunya.

__ADS_1


"Oke, By. Tidak masalah. Rani pakai hijab Rani dulu," Rani meraih hijab di sandaran sofa, kemudian berjalan ke arah cermin yang ada di depan kamar mandi ruang itu.


Ryan mendudukkan tubuhnya di atas sofa, sambil memperhatikan Rani yang begitu lincah sedang mengenakan hijab segi empatnya. Setelah di rasa rapi, Rani pun mengambil gerakan memutar di depan cermin untuk memastikan bahwa penampilannya dari depan dan belakang sudah sama-sama perfect.


"Kamu selalu sempurna, Sayang. Cantik," melihat Rani yang sedang bergaya di depan cermin, Ryan tak tahan untuk menghampirinya dan memeluknya dari belakang.


"Tapi gendut, By," Rani memajukan bibirnya.


"Kamu tidak gendut, tapi hamil, Sayang," sergah Ryan. Dia tidak ingin berdebat soal penampilan, karena itu adalah hal yang sangat sentsitif untuk dibicarakan selama Rani dalam masa kehamilan.


"Sama aja, By," cicit Rani.


"Sstt, sekali lagi Hubby bilang, kamu tidak gendut tapi hamil. Sudah jangan dibantah lagi," cegah Ryan.


"Kita jadi cari pakaian untukmu?" Ryan mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, By. Tapi kita makan dulu," tiba-tiba mata Rani berbinar.


"Siap, Tuan putri," Ryan membungkukkan badannya seperti seorang pelayan kepada putri kerajaan.


Setelah mengambil tas milik Rani di atas meja, Ryan pun menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya berjalan ke luar.


"Suit-suit," sebuah suara mirip siulan keluar dari mulut Arya, begitu mereka berpapasan saat Ryan hendak masuk ke dalam lift khusus untuknya.


Ryan memelototkan matanya melihat kelakuan sahabat sekaligus saudara angkatnya itu.


"Yang rambutnya basah," goda Arya lagi.


"Hus, pulang sana. Kalau ngiri ajak main Lena," Ryan tak ambil pusing dan langsung masuk ke dalam liftnya, sementara Rani hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang kian merona.


Begitu sampai di lobby pun semua mata tertuju ke arah mereka. Bukan hanya karena rambut Ryan yang basah, tapi karena seorang Presdir yang rela membawakan tas istrinya tanpa ada rasa gengsi atau malu di hatinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2