METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kuatkan Dirimu


__ADS_3

"Aku akan menjawabnya sekarang," tiba-tiba Arya dan Lena datang.


"Bagaimana Arya? Apa jawabanmu? Apakah kau rela jika kornea Om Atmaja ditransplantasikan pada mataku?" Daniel bertanya dengan begitu seriusnya.


"Allah tak pernah mentakdirkan langit selalu biru, tapi Dia selalu menghadirkan pelangi setelah badai berlalu. Semua yang hadir dalam hidup kami, adalah ujian yang sudah Dia kehendaki. Maka kewajiban kami hanya ikhlas menerima cobaan ini, karena bisa jadi memang semua yang kami ingini bukanlah menjadi rezeki kami. Karena itu, terimalah niat baik Om Atmaja, Niel. Karena itu adalah wasiat terakhirnya. Sungguh, sudah tak ada sedikitpun rasa dendam dalam hatiku juga hati istriku kepadanya. Apalagi sekarang dia telah tiada, sudah menjadi kewajiban kami untuk memaafkannya," Arya berucap dengan mantapnya.


***


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, sepasang anak manusia yang sedang saling jatuh cinta belum juga beranjak dari peraduannya.


Ya, sore hari di Indonesia, berarti waktu pagi di Amerika. Meysie dan Ega masih juga asyik bergelut dengan hasrat yang selalu menyala-nyala.


Bahkan setiap pagi sejak Ega mewisudanya pertama kali, Meysie masih saja selalu meringis saat menggerakkan tubuhnya, terutama pada **** ***** yang menjadi favorit suaminya. Selama beberapa hari ini, Meysie benar-benar tak dibiarkan beristirahat dan keluar dari kamar sama sekali. Bahkan Ega tak membiarkan Meysie bisa lelap tertidur, karena setiap saat Ega tak bosan-bosannya melakukan aktifitas panas terhadap dirinya.


"Kau bahkan terlihat seperti orang kesurupan setiap malam, Abang," gumamnya lirih, sambil menyingkirkan tubuh kekar Ega yang kini tertidur pulas dengan menindih tubuhnya.


Dengan susah payah, akhirnya tubuh kekar itu bisa berpindah di samping istrinya. Meysie pun menatap pria yang kini telah tumbang di sampingnya. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih kencang dari biasanya, saat menyadari bahwa ternyata suami tampannya itu kini telah berhasil mencuri hatinya.


Meysie menggerakkan telunjuk tangannya dan menusuk-nusuk pipi Ega dengan penuh cinta. Bahkan kini, Meysie mendekatkan bibirnya ke arah bibir pria yang setiap saat selalu meninggalkan stempel kepemilikannya di setiap inchi tubuhnya itu.


"Jika ingin, jangan diam saja. Kau bisa menciumku sesuka hatimu, Sayang. Kau kan kekasih halalku. Jangan ditahan. Salah-salah, kau akan menyesal loh," tiba-tiba Ega membuka mata dan mengerling nakal.


"Kapan Abang bangun?" kini wajah Meysie menjadi merah merona. Dengan sigap, dia berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh polos suaminya, tapi terlambat. Ega sudah melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, dan dengan secepat kilat segera memutar tubuh istrinya, hingga kini posisi Ega berada tepat di atas tubuh Meysie yang masih polos tanpa satu helai benang pun yang menutupi tubuhnya.


"Sekecil apapun kau menyentuhku, Abang akan langsung terbangun, Sayang. Jadi jangan salahkan Abang kalau Abang akan ...," Ega mengeluarkan senyum mesumnya.


"Abang mau apa?" tubuh Meysie mulai menegang, merasakan kulit Ega yang sudah menempel pada kulitnya, bahkan dia sudah merasakan sesuatu yang menonjol kini menempel di area bawahnya.


"Tiga ronde saja untuk pagi ini, Abang rasa cukup," sahut Ega langsung menyerang istrinya tanpa ampun.

__ADS_1


"Tiga ronde? Abang gila ya? Semalam kan sudah banyak ronde. Kapan Meysie bisa istirahat, Bang. Meysie kan butuh tidur, butuh makan juga," gerutu Meysie sambil berusaha mengelak dari serangan suaminya.


"Kau yang telah membuatku gila dan kehilangan kewarasanku, Sayang. Kau membuat aku menahannya selama beberapa tahun lamanya, bahkan saat kita telah menikah pun, kau masih membuatku menunggu beberapa waktu. Jadi terimalah hukumanmu, Sayang," ceracau Ega sambil melanjutkan atraksinya.


"Abang, jangan, Bang," ucap Meysie sambil memegangi kepala Ega yang terus bergerak dan semakin menggila.


"Mmmm," Ega tak menghiraukan rengekan istrinya.


"Abang, mmm, Bang, Sssssshhh," Meysie terus menahan suaminya, tapi tetap tak mampu menghalau pancingan yang Ega berikan. Hingga lagi-lagi, mereka pun saling memadu cinta di atas peraduan. Tak mereka hiraukan lagi matahari yang mulai meninggi, bahkan rasa lapar yang seharusnya muncul ketika pagi datang pun tiba-tiba hilang, tergantikan oleh kenikmatan luar biasa yang mereka rasakan.


Mereka benar-benar tak sadar, bahwa saat itu puluhan panggilan telah mereka lewatkan. Ya, Hengky yang puluhan kali menelpon Ega dan Meysie untuk mengabarkan bahwa ayah mereka kini telah pergi, terpaksa harus memutuskan untuk menunggu mereka menghubungi Hengky kembali.


Dua jam kemudian, baru Ega turun dari tubuh sang istri.


"Jam berapa sekarang, Bang. Meysie sudah kelaparan," ucap Meysie tanpa membuka matanya. Suaminya yang selalu hilang kewarasan saat bermain-main dengannya itu benar-benar telah membuat tubuhnya lemas tak berdaya.


Ega hanya terkekeh melihat Meysie yang kini lunglai karena perbuatannya. Diraihnya ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya, demi melihat angka pada jam digital yang terpampang nyata pada ponselnya.


"Wa'alaikumsalam," ucap Ega pertama kali.


"Apa?" seru Ega selanjutnya, mendengar sebuah kabar mengejutkan yang disampaikan Hengky kepadanya.


"Ada apa, Bang?" tanya Meysie yang mendengar Ega begitu terkejut dengan berita dari ujung telepon yang diterimanya.


Ega tak menjawab pertanyaan istrinya. Dia justru terlihat menghubungi seseorang dan meminta dua tiket untuk sebuah penerbangan.


"Kita mau kemana, Bang? Kenapa Abang pesan tiket pesawat?" cecar Meysie melihat wajah suaminya begitu menegang.


Ega tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia hanya mengecup kening Meysie dan langsung menggendong tubuhnya ala bridal style ke kamar mandi. Tak lama pun mereka membersihkan diri, dan segera sarapan setelah meminta pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamar.

__ADS_1


Bahkan ketika Ega membereskan barang-barang mereka ke kopernya, Ega masih belum menjelaskan apapun kepada istrinya.


"Kita harus segera pergi," hanya itu yang Ega ucapkan kepada Meysie.


Tanpa banyak bertanya, Meysie pun hanya mengikuti perintah suaminya.


"Toh nanti aku akan tahu juga," gumam Meysie dalam hati.


Hingga setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai ke Bandara.


"Kita pulang ke Indonesia?" akhirnya Meysie menyadari mereka akan terbang kemana, begitu Ega mengajaknya masuk ke sebuah pesawat dengan tujuan Indonesia.


"Iya, Sayang," jawab Ega singkat, sambil terus menggandeng tangan istrinya menaiki pesawat yang akan mengantarkan mereka pada negara asal mereka.


"Bang," panggil Meysie begitu mereka telah duduk. Mata Meysie sudah memerah, menahan air yang sudah meronta ingin tumpah.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita tiba-tiba pulang, setelah Abang menerima telepon tadi?" perasaan Meysie sudah tidak bisa dibohongi. Ada firasat buruk yang menyesakkan hati Meysie.


"Sayang, kuatkan dirimu. Papa ...," Ega bingung bagaimana harus memberitahu yang sebenarnya.


"Papa kenapa, Bang? Apa dia sakit?" kristal bening dari ujung mata Meysie, kini lolos tanpa bisa dihalau lagi.


Ega mengambil nafas panjang, kemudian membuangnya pelan-pelan.


"Papa terkena serangan jantung, dan sekarang Papa ...,"


"Papa kenapa, Bang?"


"Papa telah pergi untuk selama-lamanya,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2