METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kelelahan Yang Terbayar Lunas


__ADS_3

Daniel dan Naja adalah bagian dari perputaran waktu. Tak ada satu makhluk pun yang mampu menebak, bagaimana kisah mereka berdua akan menjadi sebuah cerita indah bertemakan cinta. Bertemu dalam kisah Naja yang begitu pilu, terpisah pun karena cerita yang teramat sendu. Bukan hanya itu, mereka pernah saling menyakiti karena keadaan yang tak bisa dibalik lagi. Hingga akhirnya, mereka bertemu kembali dalam sebuah perjanjian sakral bernama pernikahan suci.


Tak heran, jika rasa takut kehilangan, takut akan kemarahan dan segala kekhawatiran lain muncul begitu saja di hati Daniel, saat pesannya tak berbalas pesan yang sama dari istrinya. Apalagi malam itu Daniel sama sekali tak menemukan istrinya di tempat biasa, membuat rasa gundahnya tak bisa dihalau seketika.


Dan begitu tak menemukan Naja di ruang tengah kediaman Dewangga, Daniel pun segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamarnya, semua gelap. Tak ada satu lampu pun yang menyala. Bulan dan bintang yang bersinar terang di atas cakrawala pun tak bisa menembus kamar itu, karena gorden yang menutup kaca jendela kamarnya sama sekali tak dibuka.


Dengan berjuta tanda tanya, Daniel meraba sebuah saklar yang berada di dekat pintu itu, kemudian menekannya. Seketika, lampu pun menyala, hingga Daniel bisa melihat setiap sudut ruang untuk mencari sosok istrinya.


Mata Daniel berhenti di satu titik. Di sana, Daniel menangkap sosok yang sedang dicarinya dengan ekspresi yang sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


"Naja! Kau kenapa?" tanya Daniel sambil menghampiri istrinya yang masih betah berada di dalam selimutnya. Bahkan ketika Daniel mendekati istrinya, Naja masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dia kenakan pagi tadi, saat Daniel meninggalkannya untuk pergi bekerja.


"Kamu tidak bangun dari tadi pagi, Yang?" Daniel bertanya lagi sambil menempelkan telapak tangannya ke bagian kening dan leher istrinya.


"Tidak panas," batin Daniel.


Naja hanya menggeleng tanpa membuka matanya. Dia terus terpejam, walaupun mendengar suaminya sedang berbicara kepadanya.


"Kamu nggak makan seharian?" Daniel semakin khawatir. Dilihat dari posisi Naja saat ini, bisa dipastikan bahwa Naja memang sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya sejak tadi pagi.


Sekali lagi Naja menggeleng pelan.


"Ya Allah, pantesan mukamu pucat seperti itu. Kamu kenapa? Marah sama aku? Maaf, aku ada meeting penting hari ini. Tadi pagi aku mau membangunkanmu tapi nggak tega, Yang. Kamunya tidur pules banget. Maafin aku ya," ucap Daniel sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Kali ini bukan gelengan kepala yang Naja tunjukkan, tapi sebuah anggukan.


"Sekarang makan ya. Aku ambilkan ke bawah terus aku suapin," Daniel berkali-kali meminta Naja makan, namun lagi-lagi hanya gelengan kepala yang Naja berikan.


"Kamu sakit?" Daniel terus mencecar Naja dengan banyaknya pertanyaan, hingga saking sebalnya akhirnya Naja membuka suara.


"Biarkan aku tidur, Yang. Kepalaku pusing banget," cicit Naja, langsung membuat Daniel kelimpungan.


"Kalau begitu biar aku panggilkan dokter untuk memeriksamu," Daniel segera merogoh saku celana kanannya dan mengambil sebuah ponsel yang bersarang di sana.


"Yang, sini," panggil Naja, yang mau tak mau membuat Daniel mengurungkan niatnya.


"Ambilkan obat vertigoku saja di kotak obat itu. Kayaknya vertigoku kambuh. Kalau mata aku buka, aku pusing, Yang. Semua jadi berputar-putar, hingga aku berasa seperti mabuk kendaraan. Mual dan berasa mau muntah. Tadi pas aku bangun tidur, tiba-tiba aku pusing dan perutku seperti dibolak-balik, Yang. Makanya aku tidak berani membuka mataku dari tadi pagi," keluh Naja, semakin membuat Daniel merasa bersalah saat mendengarnya.


"Kenapa kamu tidak telepon aku atau panggil yang lain sih?" Daniel mengusap mukanya dengan kasar.


"Aku udah mau hubungi kamu. Tapi begitu aku buka mata sebentar dan membuka pesanmu, aku sudah mabok. Makanya aku memilih ambil aman, dan terus tidur di sini," jelas Naja, sambil terus memejamkan matanya.


"Ya udah. Kamu makan, terus minum obat vertigo kamu. Ok?" tanpa menunggu jawaban Naja, Daniel langsung turun mengambil makanan untuk istrinya.


Tak lama setelah itu, dia masuk ke kamarnya lagi dengan piring berisi makanan di tangan kirinya dan segelas air putih di tangan kanannya.


"Makan dulu, Yang. Biar aku suapin ya," Daniel meletakkan piring dan gelas itu di atas meja, lalu membantu Naja duduk. Setelah itu, baru dia mengambil piringnya lagi dan mulai menyendok nasi berikut dengan sayur dan lauknya, kemudian mulai mengarahkan sendoknya ke mulut Naja.

__ADS_1


Begitu makanan itu sampai ke mulutnya, Naja pun mulai mengunyah dengan mata tetap terpejam. Satu suap, dua suap, tiga suap, makanan berhasil masuk dengan lancar. Tapi pada suapan keempat, perut Naja seolah dibolak-balik, hingga dia pun muntah seketika.


Hoek ..., Hoek ....


Semua makanan yang Naja makan keluar, mengenai baju Daniel yang masih rapi berikut dengan stelan jas yang dia pakai sejak tadi pagi.


"Yang, kamu muntah. Biar aku panggilkan dokter," Daniel tak menghiraukan bajunya yang kotor dan bau karena muntahan Naja. Dia justru terus fokus melihat istrinya yang begitu lemas, dengan bersandar di kepala ranjang. Mukanya pun terlihat begitu pucat, membuat kekhawatiran di hati Daniel menjadi berlipat-lipat.


"Nggak perlu, Yang. Obat, mana obatku?"


Daniel pun meminta istrinya untuk menjulurkan lidahnya, lalu meletakkan obat itu di sana dan mengambil air putih untuk diminum Naja.


"Berbaringlah dulu. Aku akan berganti pakaian dan membersihkan muntahanmu. Setelah itu aku bantu kamu ganti baju," Ini untuk pertama kalinya bagi Daniel melayani orang lain. Biasanya, dia akan selalu meminta dilayani. Namun untuk Naja, dia melakukan itu dengan sukarela, tanpa ada tekanan maupun paksaan dari siapapun juga.


"Maaf. Bajumu jadi kotor ya?" lirih Naja dengan segala sesal di dalam hatinya.


"Aku sama sekali tidak keberatan, Yang," Daniel mengelus kepala Naja, kemudian segera membersihkan bekas muntahan di lantai. Begitu semua bersih, Daniel pun langsung membersihkan diri dan berganti baju, sebelum akhirnya membuka semua pakaian yang dikenakan Naja dan menggantinya dengan pakaian bersih.


"Kamu yakin nggak mau ke dokter?" Daniel menyelimuti Naja seperti semula dan ikut masuk ke dalamnya.


"Biasanya setelah minum obat dan tidur, pusingnya akan hilang," jawab Naja meyakinkan.


Daniel hanya mampu mengambil nafas kasar. Dia sungguh merasa bersalah, kenapa di saat dia tidak berada di sisi Naja, istrinya itu malah sakit seperti ini? Bahkan jika mengingat bahwa dari pagi Naja tidak makan dan menahan sakit itu sendirian, membuat Daniel semakin merasa bersalah saja.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Daniel sambil mencium ujung kepala Naja berkali-kali.


***


Sejak malam itu, Baby Raja jadi ingin selalu dekat dengan mommy-nya. Padahal Rani masih dalam masa pemulihan paska operasi, menggendong bayi dengan tangannya pun dia masih tak bisa.


"Takut, By," kata Rani sambil menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Ryan yang masih harus siaga menjaga mereka berdua. Jika Raja menangis pengen nyusu atau tidur dengan mommy-nya, Ryan yang mengangkat Raja dan meletakkan putranya di sebuah bantal yang sudah dipangku Rani. Begitulah sepanjang hari mereka merawat Raja, dan selalu bertiga sudah sejak beberapa hari lamanya.


Apakah Ryan tidak bekerja? Sejak drama penculikan Rani hingga Raja berusia satu pekan ini, Ryan meminta Arya untuk membawa semua berkas yang harus ditandatanganinya ke kamarnya. Untuk berkas-berkas lain yang harus Ryan periksa, cukup melalui surat elektronik saja semua sudah akan beres tanpa kendala.


Semua itu Ryan lakukan bukannya tanpa alasan. Dia benar-benar tahu bahwa rasa trauma dan depresi yang dialami istrinya belum sepenuhnya hilang. Rani masih sering terlihat murung, bahkan tiba-tiba meneteskan air matanya tanpa sebab dan alasan. Bahkan saat dia ingin tidur dan Raja terus-terusan menangis minta ASI, Rani sempat ngambek, dan Ryan juga yang akhirnya jadi sasaran.


"Kenapa waktu itu Hubby menyetujui perjodohan kita? Kenapa waktu itu Hubby menyetubuhi Rani tanpa memperbolehkan Rani menunda kehamilan buah hati kita? Kenapa Hubby harus membuat Rani hamil dan punya anak, padahal Rani masih ingin bebas dan mengejar obsesi dan karier Rani setinggi-tingginya, By? Hiks ..., hiks ..., hiks ...,"


Ryan sempat tertegun ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut istrinya. Emosinya pun sempat memuncak. Merasa tidak dicintai, merasa tidak dihargai, dan segala rasa pun sempat berkecamuk dalam hatinya. Tapi ketika mengingat pesan dokter yang disampaikan kepadanya, bahwa perubahan hormon juga perubahan status yang dialami Rani mengakibatkan emosinya berubah-ubah dan susah di tebak, membuat Ryan hanya bisa terus bersabar.


Lebih-lebih bukan hanya sekedar baby blues syndrom yang Rani alami, tapi juga trauma dan depresi karena beberapa kejadian menjelang kelahiran putranya, membuat Rani butuh perhatian ekstra. Dan kuncinya hanya satu, seluruh keluarga mereka, terutama Ryan sebagai suaminya harus terus menunjukkan kecintaan dan kasih sayangnya, bukan hanya kepada putra mereka, tapi juga kepada istrinya.


Karena itulah, Ryan tak mau meninggalkan Rani bersama pengasuh Baby Raja, sebelum cinta Rani pada putranya tumbuh secara alami, tanpa ada skenario dari dirinya.


Dan malam ini, seperti biasa Ryan masih terjaga seperti malam-malam sebelumnya. Dia terlihat duduk bersila sambil bersandar di kepala ranjang. Di atas kakinya, ada sebuah bantal besar dimana Raja sedang tertidur pulas di sana. Melihat putra kesayangannya sudah tertidur dalam pangkuannya, Ryan pun berinisiatif memindahkan Raja pada box bayi yang sudah tersedia sejak Raja boleh keluar dari incubator tempat Raja tidur sampai beberapa hari sejak kelahirannya.

__ADS_1


Dengan pelan, Ryan membaringkan Raja pada box bayi itu. Tapi ketika Ryan melepas gendongannya, Raja kembali membuka mata dan menangis sejadi-jadinya.


"Hey, jagoan Daddy kok bangun lagi? Masih mau di ayun-ayun sama Daddy ya? Jangan nangis ya, Sayang. Nanti Mommy bangun. Tuh lihat, Mommy lagi tidur. Kasihan Mommy capek, seharian kan kamu ***** Mommy terus. Iya kan, Sayang? Daddy ayun-ayun lagi, terus kamu bobo ya?" dengan lembut, Ryan mengangkat Raja kembali dan mengayun-ayunkannya.


Tidak sampai lima menit dalam gendongan Ryan, Raja sudah tertidur dengan lucunya. Hingga Ryan pun kembali membaringkan putra mungilnya ke box bayi seperti yang tadi sempat dilakukannya. Tapi lagi-lagi, Raja nangis dengan begitu kencangnya. Ryan sudah berusaha menggoyang-goyangkan box bayi itu agar Raja kembali memejamkan mata, tapi semua sia-sia.


"Kamu ingin digendong Daddy terus ya? Anak pinter," Ryan terkekeh dan kembali mengangkat Raja.


Karena sudah sangat lelah, akhirnya Ryan pun duduk bersandar di kepala ranjang lagi dengan menyelonjorkan kakinya. Di ujung kaki Ryan, dia sengaja meletakkan sebuah bantal dan Raja dia baringkan di sana. Ternyata cara yang Ryan pakai cukup ampuh. Dia tetap bisa memejamkan mata sambil menggoyang-goyangkan kakinya, dan Raja bisa tetap tertidur pulas di kaki daddy-nya.


Namun karena saking lelahnya, satu jam berselang akhirnya Ryan tertidur dan menghentikan goyangan pada kakinya. Hingga Raja pun terbangun lagi. Meski tidak menangis, tapi Raja mengeluarkan suara-suara khas bayi, yang akhirnya membuat telinga Rani terusik dan bangun dari tidurnya.


Rani mengerjabkan matanya, dan melihat pemandangan indah di sampingnya. Matanya langsung berkaca-kaca melihat Baby Raja yang sedang asyik ngoceh di kaki daddy-nya, sementara Ryan ketiduran sambil bersandar di kepala ranjang.


"Maafin Rani, Hubby," sambil meringis menahan sakit, Rani beranjak dan membelai lembut pipi suaminya.


Merasakan ada sesuatu yang menempel di pipinya, Ryan pun membuka mata. Bibirnya langsung melengkung begitu netranya menangkap sosok istrinya sedang memandang dan memegang pipinya.


"Kok bangun? Si dedek nggak gangguin kamu kan?" Ryan langsung mengusap kepala Rani dengan sayang.


"Tuh?" sahut Rani sambil melirik ke arah kaki suaminya.


"Lho, jagoan Daddy bangun lagi? Daddy ketiduran ya, Sayang, jadi kamu bangun? Duh, pinter banget sih, Dedek Raja," Ryan kembali mengajak Baby Raja berbicara, tanpa ada rasa lelah sedikitpun yang ditunjukkannya.


"Maafin Rani, By," ucap Rani dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Hey, sayangnya Hubby kenapa minta maaf? Nggak boleh mewek ahh," Ryan mengambil Raja dari kakinya dan meletakkannya di kasur, tepat di tengah-tengah mereka berdua.


"Rani bukan ibu yang baik buat Raja. Rani juga bukan istri yang baik buat Hubby, hiks ..., hiks ..., hiks ...," air mata Rani meleleh begitu saja.


"Ssstttt. Hubby nggak suka lihat kamu nangis kayak gitu. Kamu adalah istri terbaik untuk Hubby dan Mommy terbaik juga buat Raja,"


"Tapi selama beberapa hari ini Hubby seorang diri njagain dia. Pasti Hubby kelelahan, sampek Hubby harus tidur sambil duduk kayak gitu ....," Rani semakin tergugu.


"Apakah kau tahu, Sayang? Kelelahan Hubby ini terbayar lunas hanya dengan melihat istri dan anak Hubby sehat," Ryan menghapus air mata di pipi Rani dan mengecup keningnya dengan begitu dalam.


Owek ..., owek ...,


Tiba-tiba Baby Raja menangis, membuat Rani dan Ryan menoleh ke arahnya secara bersamaan.


"Kamu lihat? Si dedek jadi ikutan nangis karena mommy-nya nangis," Ryan mengangkat Baby Raja dan menimang-nimangnya.


"Apa kamu mau menyusuinya?" Ryan menatap Rani dengan penuh harap.


Rani pun mengangguk sambil meletakkan sebuah bantal di pangkuannya, dan membiarkan suaminya meletakkan putra mereka di atas bantal itu untuk kemudian menyusuinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2