METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Peluk Aja?


__ADS_3

Acara pernikahan Arsen dan Aghata yang bisa dibilang sangat sederhana itu ternyata cukup menguras energi juga. Buktinya, Rani sudah tak kuat menahan kantuk, hingga harus izin masuk kamar terlebih dahulu sebelum yang lainnya.


"Semuanya, mohon maaf Rani masuk kamar dulu ya. Perut Rani agak kurang nyaman," pamit Rani pada semua orang yang sedang mengobrol di ruang keluarga, setelah menuntaskan acara makan malam.


"Iya, Sayang. Ryan, antar istrimu ke kamar! Kasihan tuh, dia terlihat sangat kecapekan," perintah Davina kepada Ryan.


"Tidak perlu, Ma. Biar Hubby di sini saja, Rani tidak apa-apa kok sendiri," sahut Rani sambil beranjak dari duduknya dan segera melangkah menuju anak tangga.


Ryan pun hanya menuruti apa yang dikatakan istrinya. Dia hanya memandangi punggung Rani hingga dia tak terlihat lagi dari pandangan mata.


"Nak, sudah sana pergi ke kamarmu! Susul istrimu! Kasihan Rani, dia pasti kecapekan membantu persiapan untuk acara ini seharian," titah Davina, yang melihat Ryan masih enggan meninggalkan obrolannya dengan Daniel dan yang lainnya.


"Baiklah, Ma. Ryan juga sudah capek," Ryan segera beranjak dan bergegas menuju anak tangga.


Ryan segera mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Matanya fokus tertuju pada tempat tidur mereka, tapi Rani tak ada di sana.


"Sayang," panggil Ryan.


Karena tak mendapat sahutan, Ryan pun melangkah menuju balkon kamar, tempat favorit istrinya ketika sedang di kamar sendirian.


"Sayang," panggil Ryan kembali begitu di balkon kamar tak ada sosok yang dia cari.


Ryan membalikkan tubuhnya, memutar arah menuju ke kamar mandi.


"Jika tak ada di sudut mana pun, sudah pasti dia di kamar mandi," guman Ryan dalam hati.


"Sayang," sekali lagi Ryan memanggil wanita yang sangat dicintainya itu, sambil membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak di kunci.


"Hoek ..., hoek ...," Rani terlihat sedang membungkuk sambil memegangi perutnya di depan wastafel kamar mandi. Mukanya memerah, matanya berair dan baju yang dia kenakan sangat kotor, terkena muntahan yang keburu keluar sebelum Rani memposisikan tubuhnya di depan wastafel itu.


"Kamu muntah? Mual ya? Kita ke rumah sakit ya?" cecar Ryan sambil meraih tisu yang terletak di samping wastafel, kemudian mengelap mulut istrinya.


"Nggak perlu, Hubby. Perempuan hamil biasa kayak gini," tolak Rani sambil mengelap bajunya yang kotor.

__ADS_1


"Tapi biasanya kamu tidak sampai muntah separah ini. Biasanya kamu cuma mual dan susah makan aja," Ryan mengambil tisu lagi dan menyeka peluh yang menetes di sekitar dahi Rani.


"Nggak Papa, Hubby. Tapi baju dan lantainya jadi kotor, tadi Rani keburu muntah sebelum bisa meraih wastafel ini," Rani menunjuk baju dan lantai kamar mandi yang kotor karena ulahnya.


"Biar Hubby bersihkan ya, Sayang. Tapi kita ganti bajunya dulu, baru kamu istirahat dan Hubby bersihkan lantai ini," Ryan membantu melepas semua pakaian Rani, membersihkan tubuh istrinya di bawah guyuran air shower kemudian memakaikan kimono handuk dan mengangkatnya ke tempat tidur.


"Sayangnya Hubby istirahat! Oke? Hubby bersihin dulu sisa muntahan yang berceceran tadi, sekalian Hubby mandi. Setelah itu, Hubby akan temani kamu sampai pagi," Ryan mengecup kening Rani kemudian sedikit memundurkan tubuhnya dan turun dari tempat tidur itu.


Tapi sebelum Ryan berlalu, Rani justru menarik tangan Ryan. Ya, Rani menahan suaminya agar tak beranjak dari tempat itu. Bahkan sedetik kemudian, Rani sudah menghambur ke arah suaminya dan menenggelamkan diri di dalam dada bidangnya.


Ryan hanya tersenyum mendapati tingkah manja istrinya itu. Kini dia mengusap punggung Rani dengan hangat, dan membiarkan mereka tetap berada pada posisi itu sampai Rani puas terhadap dirinya.


"Bolehkah Hubby mandi terlebih dahulu, Sayang? Setelah itu Hubby temani kamu lagi," ucap Ryan dengan hati-hati. Maklum saja, sejak Rani hamil, sensitifitas perasaannya berkali-kali lipat menjadi lebih tinggi.


"Jadi Hubby nggak mau peluk Rani?" Rani langsung melepaskan pelukan Ryan sambil bersungut kesal.


"Mana ada seperti itu? Hubby hanya mau mandi sebentar, dan membersihkan kotoran di lantai tadi. Kalau tidak dibersihkan, nanti istri Hubby yang cantik ini bisa kebauan. Lagian kamu bisa terpeleset jika lupa ada cairan berceceran di lantai kamar mandi," Ryan mencubit kedua pipi istrinya dengan penuh kelembutan.


"Ya sudah. Tapi nggak boleh lama-lama. Rani kangen," ucap Rani sambil menarik selimutnya.


"Kangen dia bilang? Bukannya hari ini kami selalu bersama seharian?" batin Ryan sambil tersenyum senang.


Tak butuh waktu lama bagi Ryan untuk menuntaskan hajatnya di belakang. Setelah mengenakan T-Shirt dan celana pendeknya pun Ryan segera keluar dan menghampiri kekasih halalnya yang sudah menunggunya dengan tak sabar.


Dan benar saja, begitu Ryan keluar, Rani sedang menunggunya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


"Tuh kan, katanya sebentar. Ini sudah hampir setengah jam tau?" protes Rani sambil menekuk wajahnya berkali-kali.


"Maaf ya, Sayang. Sini peluk Hubby," Ryan ikut masuk ke dalam selimut istrinya, kemudian merapatkan tubuh mereka.


Rani yang tadinya kesal pun berangsur-angsur menunjukkan gelagat baiknya, dan kembali mengeratkan pelukannya. Saking nyamannya, hanya dalam hitungan detik Rani bahkan bisa tertidur dengan pulasnya.


"Sayang, kok tidur sih?" Ryan menggoyang tubuh istrinya dan menciumi setiap inchi wajahnya.

__ADS_1


"Rani capek, Hubby. Bisakah Hubby tidak ganggu Rani malam ini?" cicit Rani dengan mata tetap terpejam.


"Tadi katanya kangen?" protes Ryan.


"Kan udah dipeluk sekarang," sahut Rani, masih menenggelamkan diri dalam kungkungan Ryan.


"Peluk aja?" Ryan mengernyitkan dahinya.


"Hmmm," Rani hanya mengangguk pelan.


"Yakin cuma mau peluk aja, nggak mau yang lain?" kini tangan Ryan sudah tidak bisa dikendalikan.


"Ihh, Hubby. Lepas, By. Rani ngantuk. Rani capek, mau tidur," Rani mengeratkan pelukannya.


"Baiklah kalau begitu. Kita tidur," akhirnya Ryan menyerah dan ikut menejamkan matanya.


Mereka pun akhirnya tertidur dengan posisi saling berpelukan. Hingga beberapa menit setelah mata mereka terpejam, tiba-tiba Rani menghentakkan tangan Ryan yang melingkar di pinggangnya. Setengah berlari dia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Hoek ..., hoek ...," terdengar suara itu lagi dari dalam kamar mandi.


Mau tak mau, Ryan pun akhirnya tak tega dan menghampiri istrinya.


"Sayang, kamu muntah lagi? Kita ke dokter aja ya?" ucap Ryan sambil memijit tengkuk istrinya dengan sayang.


"Nggak usah, By," lirih Rani.


"Ya sudah. Hubby bantu kamu kembali ke tempat tidurmu ya, Sayang," tutur Ryan lembut, sambil mengangkat tubuh Rani dan menidurkannya kembali.


"Sekarang tidur lagi ya," Ryan mengusap-usap ujung kepala istrinya dengan sayang.


Rani hanya mengangguk pelan. Tapi matanya tak juga terpejam. Dia justru menereskan air matanya yang sudah lama menggenang dan kini tak bisa dia tahan.


"Sayang, kamu menangis?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa Rate 5 ya, Guys.


__ADS_2