METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Mengukir Surga


__ADS_3

Memiliki seorang anak adalah dambaan semua orang tua. Tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata ketika buah hatinya terlahir di dunia. Sementara, tak sedikit pula seorang ayah dan ibu yang belum dikaruniai buah hati, sehingga harus bersabar menanti sampai-sampai harus melakukan segala cara agar mereka segera mendapatkan titipanNya.


Makanya, Naja benar-benar tak habis pikir dengan sikap Rani yang seolah tak bisa menerima kehadiran si buah hati. Padahal, Naja yang tidak ada ikatan apa-apa saja bisa langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Ya, bayi laki-laki milik Rani dan Ryan itu benar-benar terlihat sangat lucu dan menggemaskan, sampai-sampai membuat Naja tidak bisa move on dan terus saja mengingatnya.


Apalagi ketika mendengar Daniel mengatakan ingin mempunyai bayi perempuan dan ingin dia jodohkan dengan sang putra mahkota, membuat Naja begitu bersemangat dan ingin segera memilikinya.


"Dia ganteng banget, Yang. Lucu," Naja meletakkan telapak tangannya pada incubator di depannya.


"Aku juga mau yang kayak gitu, tapi versi ceweknya. Sepertinya seru jika kita jodohkan saat mereka besar nanti," Daniel tersenyum geli dengan lintasan pikirannya sendiri.


"Iya, Yang. Seru. Aku juga mau. Kita bikin sekarang yuk," tiba-tiba Naja menarik tangan Daniel keluar dan segera meninggalkan ruang itu.


"Kok jadi kamu yang mesum gini sih, Yang?" Daniel geleng-geleng kepala melihat kelakuan Naja, meskipun hatinya bersorak gembira.


"Sebenarnya sih, mau anak cewek ataupun cowok sama senangnya buat aku. Yang buat senengnya beda tuh, bikinnya itu lho," Daniel tertawa dalam hati.


"Bukannya ada yang seneng ya, kalau ada yang lagi mesum gini," oceh Naja tanpa menghentikan langkahnya.


"Sumpah," Daniel mengimbangi langkah istrinya dengan girang.


Daniel pun melajukan mobilnya dengan begitu kencangnya. Dia benar-benar tidak mau jika sampai istrinya berubah pikiran dan banyak alasan.


"Nah, ini bisa cepet nyetirnya. Biasanya lempem-lempem aja. Nyantainya kebangetan," sindir Naja sambil menatap suaminya yang kini tengah fokus dengan kemudi di tangannya.


"Aku keluarin kesaktianku pas lagi darurat aja, Yang. Nggak sembarangan," sahut Daniel asal.


"Emang sekarang lagi darurat apaan?" Naja mengerutkan dahinya.


"Kamu nggak lihat, arus di bawah sana sudah meronta-ronta sejak tadi?" Daniel meraih tangan Naja dan membawanya memeriksa arus bawah yang dimaksudkannya.


"Ya, ampun. Nggak sopan, tau," Naja segera menarik tangannya. Kini mukanya benar-benar memerah saking malunya.


"Masak nggak boleh kayak begituan sama istri sendiri, Yang. Emangnya kamu mau suamimu ini cari di luar?" Naja langsung mendelikkan matanya mendengar candaan Daniel.


"Tuh, baru denger aja dah marah kan? Apalagi beneran," Daniel terkekeh melihat reaksi Naja saat mendengar candaannya.


"Nggak lucu, tau. Ngilangin moodku aja. Soal yang tadi aku pikir ulang," ketus Naja. Dia benar-benar tidak suka mendengar Daniel mengatakan itu kepadanya.


"Yach, kok gitu?" Daniel memasang tampang memelasnya.


"Siapa suruh ngomong begituan," rupanya Naja benar-benar tak bercanda soal ucapannya.


"Kan hanya becanda. Yang, ayolah ...," rengek Daniel seperti anak kecil.


Naja tak menanggapi lagi ocehan suaminya. Moodnya benar-benar sudah hilang, seiring dengan hilangnya hasrat untuk segera memproduksi bayi, demi bisa dijodohkan dengan sang putra mahkota kepunyaan Ryan dan Rani.


"Yang, terus gimana dengan nasib arus bawah yang sudah meronta-ronta di sana?" keluh Daniel dengan tampang sedihnya, begitu mereka sampai dan belum ada tanda-tanda Naja menyambut baik lagi rencana mereka semula.


"Main solo aja, noh," sahut Naja sambil keluar dari dalam mobil, dan langsung berlari ke arah kamarnya.


Dan benar saja. Begitu Daniel mengejar Naja dan hendak masuk ke kamarnya, Naja sudah mengunci kamar itu dan tidak membiarkan nya masuk mengikutinya.


"Yang, kok kamu tega banget sih sama aku?" ucap Daniel sambil mengetuk-ketuk pintu kamarnya.


Tak ada sahutan. Rupanya Naja benar-benar marah dan kehilangan selera saat Daniel menyebut akan mencari kenikmatan di luar sana, meskipun suaminya itu hanya bercanda.

__ADS_1


"Masak harus bermain solo sih, Yang. Dosa tau," lirih Daniel sambil meninggalkan kamar dan masuk ke ruang kerjanya.


Daniel langsung terduduk lemas di balik meja kerjanya. Dia bersandar di kursi, kemudian memejamkan mata sambil memijit-mijit pangkal hidung mancungnya berkali-kali.


"Kenapa juga, aku harus memilih kata-kata itu untuk menggodanya. Aku juga kan, yang akhirnya menanggung akibatnya? Senjata makan tuan kalau ini," gerutu Daniel dalam hati.


Dia betul-betul menyesal dengan kesalahan yang dibuatnya sendiri.


Ya, seharusnya sore ini mereka sedang bermesraan di kamar mereka. Bahkan Daniel sampai sudah merancang, gaya apa saja yang akan dia gunakan untuk membuat Naja semakin dimabuk kepayang. Namun ternyata, khayalan tinggallah khayalan semu belaka. Karena pada akhirnya, Daniel malah justru tak boleh sama sekali mendekatinya.


Cukup lama Daniel berada di ruang itu. Bahkan dengan tak sadar, dia terlelap begitu saja dengan posisi duduk manis di kursi kerjanya.


Hingga tiba-tiba, ponselnya berdering dengan begitu kerasnya.


"Iya, Sayang," dengan semangat empat lima, Daniel mengangkat teleponnya, begitu sadar bahwa Naja menghubunginya.


"Kamu dimana sih, Yang. Sebegitu tidak menginginkan aku kah hingga kamu pergi ninggalin aku begitu saja?" tangisan Naja diujung telepon benar-benar membuat Daniel mengerutkan dahinya.


"Kan kamu yang ngunci aku dari dalam. Gimana aku bisa masuk, Yang?" jawab Daniel dengan begitu kesal. Dia benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Naja bisa berubah secepat itu dan lupa begitu saja dengan apa yang dia sendiri lakukan.


"Kamu jahat, Yang. Kamu jahat ...!" Naja berteriak sambil membanting ponselnya.


"Ya ampun, Naja. Kamu kenapa sih, marah-marah nggak jelas?" Daniel bermonolog sambil beranjak dari duduknya.


Dengan tampang bingung, Daniel turun dan segera mencari Pak Mamad untuk mengambil kunci cadangan kamarnya. Begitu kunci ada di tangan, Daniel membuka pintu kamarnya dengan pelan.


Sesaat, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang. Daniel pun sempat memicingkan matanya, ketika melihat Naja sedang menangis di peraduan mereka. Dia menekuk kakinya, hingga lututnya bersatu dengan keningnya. Punggungnya pun terlihat bergetar, seiring dengan isakan tangisnya yang sayup-sayup terdengar.


"Huh," Daniel menghela nafas panjang, sambil mengusap mukanya dengan kasar.


Daniel pun mengunci pintunya kembali dan mencoba menata hati, sebelum akhirnya mendekati Naja dan mengelus punggung wanitanya dengan penuh kehangatan.


"Kamu tuh kenapa, Sayang?" ucap Daniel lembut.


"Kamu tuh yang kenapa? Tadi kamu bilang mau cari kenikmatan di luar. Sekarang, kamu ninggalin aku sendirian. Kamu kenapa sejahat ini sih sama aku?" Naja tergugu.


"Ya ampun, Yang. Tadi kan aku cuma bercanda. Kamu juga yang ngunci kamar ini dan menyuruhku untuk pergi. Kok sekarang kamu malah bilang aku jahat sih?" Daniel benar-benar frustasi. Tidak mungkin kan, Naja hilang ingatan sehingga sudah melupakan semua yang dia lakukan?


Naja hanya diam saja. Dia justru berdiri, kemudian menuju pintu kamar dan mencoba memutar handel pintu itu untuk keluar.


Daniel memeluk istrinya dari belakang dan mencoba menahannya. Sungguh, sikap Naja ini sungguh-sungguh sangat aneh. Bahkan Naja hampir tidak pernah menangis di hadapan suaminya, apalagi harus merajuk dan bermanja, jelas tidak terdaftar dalam kamus besarnya.


"Lepaskan, Yang! Lepaskan! Aku benar-benar tak mau melihat kamu lagi," dengan sekuat tenaga, Naja melepaskan pelukan Daniel dan kembali membuka gagang pintu kamarnya.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Daniel mengangkat tubuh Naja ke pundaknya, seperti seorang kuli yang sedang mengangkati karung-karung di bahunya.


"Turunkan aku! Turunkan, kubilang!" Naja memberontak. Tubuhnya bergerak-gerak, tangannya pun sibuk memukuli suaminya dengan sisa tenaga yang dia punya.


Sementara Daniel, sama sekali tak menggubris teriakan istrinya. Dia terus mengangkat tubuh Naja dan berjalan mendekati ranjang mereka berdua.


Dengan lembut, Daniel pun membaringkan tubuh istrinya itu, kemudian menindihnya hingga tubuh bak seorang model itu kini berada dalam kungkungannya.


"Kamu itu sedang marah atau sedang menginginkan sentuhanku, Sayang?" cicit Daniel. Kini dia berada di atas tubuh Naja, dengan posisi yang hampir tak ada jarak lagi di antara keduanya. Bahkan, hembusan nafas mereka bisa saling menghangatkan dan menambah hasrat yang sudah mulai menyala-nyala dan menguasai hati keduanya.


"Mana ada," sahut Naja sambil mengalihkan pandangannya. Sesekali tangannya mengusap kasar wajah ayunya, membuat sisa-sisa air mata di pipinya hilang begitu saja.

__ADS_1


"Aku sedang marah atau sedang menginginkannya? Kenapa sepertinya aku sedang merasakan keduanya ya? Aduh, aku kenapa jadi lemah begini sih?" batin Naja dalam hati.


"Kenapa kamu diam, heh? Kamu tuh ya. Tadi kamu pengen cepat-cepat pulang karena ingin segera membuatnya. Habis itu marah-marah hanya karena candaanku saja. Belum puas kamu mengusirku dari kamarku sendiri, eh sekarang nuduh aku jahat karena aku meninggalkanmu. Sebenarnya kamu tuh kenapa?" tanya Daniel lembut, tanpa melepaskan kungkungannya.


"Aku juga bingung, Yang," Naja melemahkan suaranya. Air mata yang sudah kering pun, kini meluruh lagi mendengar ucapan suaminya.


"Aku tidak suka melihatmu menangis, dan tak akan membiarkanmu mengeluarkan air mata lagi," Daniel lebih mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Dan kini, hembusan nafas mereka mulai tak beraturan, membuat panas suasana peraduan.


"Jadi," wajah Naja mulai merona kembali.


"Aku tahu kau betul-betul menyesal karena telah mengusirku, Sayang. Karena itu kau membuat alasan agar aku segera kembali ke kamarmu, kan?" dengan bangga Daniel mencium kening istrinya dengan perasaan yang teramat dalam.


"Mana ada, Yang. Yang ada, kamu yang sudah uring-uringan karena berada jauh dariku," gumam Naja lirih.


Daniel tersenyum bahagia menatap kedalaman mata Naja yang tak mampu menyembunyikan segala isi hatinya. Daniel pun memulai aktifitas halalnya begitu saja.


"Yang, Sayang ... Ahhh," Daniel tak membiarkan Naja menyelesaikan kalimatnya.


Daniel sudah menyusuri setiap inchi wajah Naja tanpa ada satu spot pun yang terlewati olehnya. Daniel semakin memperdalam aktifitasnya, dengan bermain mesra di area rongga mulutnya, sesaat sebelum akhirnya membuat stempel kepemilikan di leher jenjang istrinya.


Dengan lincah, tangan Daniel merayap ke segala arah, hingga tanpa mereka sadari, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh polos mereka lagi.


Daniel pun sempat membulatkan mata, ketika melihat dan memuji maha karya Sang Maha Pencipta yang sedemikian sempurna, walaupun ini sudah untuk yang kesekian kalinya Daniel melihatnya. Kini, di antara mereka sudah tidak ada lagi satu pun penghalang yang membatasi tubuh keduanya. Hingga ratapan, desahan dan rintihan dari kamar mereka terdengar ngeri bagi siapa saja yang mendengarnya.


Hingga saat itu, akhirnya tiba.


"Yang, aku boleh masukin sekarang ya?" tanya Daniel parau. Dia sudah tak mampu lagi menahan hasratnya yang sedemikian besar. Dia betul-betul sudah tak sabar, ingin segera memiliki bayi perempuan seperti yang sempat dia khayalkan.


Hanya anggukan yang mampu Naja berikan, untuk mengatakan bahwa sore itu dia juga sudah sangat menginginkannya.


Hingga setelah atraksi pemanasan yang penuh dengan kenikmatan, Daniel terus menggesek dan mendorong benda miliknya, mencoba masuk ke area surga milik istrinya.


Hingga tiba-tiba ...,


"Auwww," sedetik kemudian, Naja berseru seiring dengan tongkat panjang yang sudah meronta di bawah sana.


"Kau tak pernah berubah, Naja. Punyamu tetap enak seperti saat pertama kali aku melakukannya," Daniel terlihat menikmati permainannya sendiri.


Daniel pun terus beraktrasi dengan tubuh milik istrinya, hingga puncak kenikmatan itu pun berhasil mereka nikmati bersama-sama.


"Inilah surga dunia, Sayang. Dan aku hanya mau mengukir surga itu bersamamu?" ucap Daniel sambil mengecup kening Naja, kemudian tumbang di sisi istrinya yang sudah lemah karena permainan suaminya.


"Cepat tumbuh di sini, Sayang" setelah nafasnya kembali normal, Daniel mengecup perut Naja kemudian merengkuh dan memeluk erat kekasih hatinya.


"Aamiin, semoga perempuan ya, Yang. Aku sudah tak sabar untuk menjodohkannya dengan si putra mahkota," sahut Naja dengan senyum termanisnya.


"Kamu serius?" Daniel mencubit hidung istrinya.


"Memangnya kamu nggak serius?" Naja mengambil tangan Daniel dari hidungnya dan beralih menggenggamnya.


"Mungkin aku dan kamu memang serius, Yang. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah Ryan dan Rani mau menjodohkan putranya dengan putri yang kita idamkan?" Mereka pun tergelak bersamaan.


Begitulah warna-warni cerita Naja dan Daniel sore ini. Sedih, indah, tangis dan canda tawa, mewarnai hari-hari mereka dengan begitu indahnya.


Seperti panas dan hujan yang datang bergantian, pelangilah yang akhirnya datang melukis alam dengan penuh keindahan. Begitu juga dengan kisah cinta Daniel dan Naja. Betapapun begitu banyak rintangan dan perdebatan, semua berakhir indah dan penuh dengan cinta.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2