METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sebuah Alasan


__ADS_3

"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Daniel kepada Naja.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Sayang?" Naja balik bertanya.


"Apa kau tidak marah kepadaku?" tanya Daniel lagi.


"Kenapa aku harus marah kepadamu, Sayang? Apa alasanku hingga aku bisa marah pada suami tampanku ini?" sahut Naja, sambil mengelus kepala Daniel yang kini sudah mendarat manis di pangkuannya.


"Karena aku tidak menerima tawaran itu. Bahkan hartaku sangat banyak. Jika aku mau, ribuan kornea mata pun bisa aku beli dalam sekali waktu di pasar gelap itu. Apa kau tidak kecewa, karna aku memilih untuk tetap buta dari pada ikut bermain di pasar ilegal itu?" Daniel masih menginterogasi istrinya, sebelum mereka mengistirahatkan raga mereka di malam itu.


"Sekarang aku tanya. Apa yang membuatmu mengambil keputusan untuk menolak tawaran itu?" Naja masih mengelus kepala suaminya dengan lembut. Sesekali dia menatap wajah suaminya yang masih terlihat sangat tampan walaupun netranya tak dapat difungsikan. Sesekali juga, Naja sedikit membungkuk demi bisa mengecup kening Daniel dengan segala ketulusannya.


"Karena hukum untuk pasar ilegal itu, bukan hanya berlaku untuk si penjual, tapi juga si pembeli. Jadi, dosanya juga tidak hanya ditanggung oleh pihak yang menjual, tapi juga ditanggung oleh pihak yang membeli. Aku tidak akan menghalalkan segala cara hanya untuk kembali melihat indahnya dunia. Lebih baik aku menunggu Bank Mata itu menghubungiku, walaupun aku tak pernah tahu, kapan waktu itu akan datang kepadaku," Daniel mengungkapkan alasannya.


"Sekarang, apa kau juga ingin tahu alasanku kenapa tidak marah kepadamu?" tanya Naja lembut.


"Kenapa?" Daniel penasaran.


"Tentu saja alasanku sama persis dengan alasanmu. Jika kau lebih memilih tetap tak bisa melihat dari pada harus menggunakan cara-cara ilegal, begitu pun aku. Aku lebih memilih memiliki suami buta, dari pada suamiku yang tampan ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kembali penglihatannya," ungkap Naja tulus.


"Apa kau tidak hanya sedang menghiburku?" cecar Daniel terdengar manja.


"Apa kau tak tau kalau aku bukanlah perempuan yang seperti itu?" Naja menjawab pertanyaan Daniel dengan balik bertanya.


"Cih, bisa tidak kau menjawab pertanyaan suamimu ini dengan benar?" Daniel mulai bersungut kesal, mendapati setiap pertanyaannya ditanggapi istrinya dengan bertanya balik kepadanya.

__ADS_1


"Apa kau tak bisa menangkap kalau aku sudah menjawab setiap pertanyaanmu dengan benar?" Naja kembali bertanya.


"Apa kau tidak pernah merasa kalau kau tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar?" seloroh Daniel sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu, tolong tunjukkan, mana pertanyaanmu yang belum kujawab dengan benar?" lagi dan lagi, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.


"Kau mau tahu? Kesalahanmu adalah, kau selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain yang kau lontarkan," oceh Daniel.


"Benarkah, Sayang?" satu pertanyaan lagi.


"Tuh kan, kau sedang menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang kau lontarkan," Daniel mengangkat kepalanya dari pangkuan Naja dan memindahkan kepalanya itu pada bantal yang berada di sampingnya. Untuk melakukan itu, Daniel tidak perlu bantuan Naja karena dia sudah hafal betul posisi semua barang yang ada di kamarnya.


"He-he-he-he. Kamu tambah tampan kalau sedang merajuk seperti ini, Sayang," Naja justru tergelak, mendapati Daniel yang sedang begitu kesal kepadanya.


"Aku ini sedang kesal, kenapa kau malah tertawa seperti itu?" lontar Daniel.


"Huh, aku benar-benar marah kepadamu. Lihat saja, dan tunggu sampai aku kembali mendapatkan penglihatanku. Aku akan menghukummu, sampai kau positif mengandung anakku," cicit Daniel sambil membalikkan tubuhnya, membelakangi istrinya.


"Kenapa tidak sekarang saja kau menghukumku? Kenapa harus menunggu sampai kau bisa mendapatkan lagi penglihatanmu?" goda Naja sambil mendekati suaminya, dan mencari sesuatu milik suaminya yang sudah sangat dia rindukan itu.


"Sayang, kau menggodaku?" seru Daniel menyadari apa yang sedang dilakukan oleh istrinya.


"Bukankah kita sudah dua bulan tidak melakukannya?"


"Masih saja, ya. Pertanyaanku kau jawab juga dengan pertanyaan serupa?"

__ADS_1


***


Flashback


"Jadi gimana Niel? Meski ilegal, mereka tetap akan menjamin keamanan kita secara hukum. Tidak akan ada pihak yang tahu, kalau kita membeli kornea mata dari pasar gelap itu," tawar Ryan kepada Daniel. Kini, semua orang menatap Daniel, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Bagaimana, Tuan? Mereka butuh jawaban kita secepat mungkin, karena jika kita tidak menambilnya, kornea itu akan ditawarkan kepada orang lain," Rudi yang sudah berjanji akan segera menghubungi pihak pasar ilegal itu ikut nimbrung, mengingat Daniel tak juga mengeluarkan jawabannya.


"Hmmmm," Daniel menarik nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi secara perlahan. Dia pun meremas tangan istrinya untuk mendapatkan transfer kekuatan.


Mengingat Aghata, Arsen, Ryan dan juga yang lainnya menyerahkan semua keputusan itu sepenuhnya kepadanya, maka tidak ada pilihan lain untuk Daniel selain mengikuti kata hatinya.


"Aku tak akan menerimanya walaupun aku bisa membayar jauh lebih besar dari pada itu. Ini bukan hanya tentang berapa mereka akan jual dan berapa kita mau beli. Tapi ini lebih kepada pertanggungjawaban manusiawi. Bukankah hukum itu bukan hanya berlaku untuk si penjual tapi juga berlaku untuk si pembeli? Artinya larangan itu juga berlaku untuk yang menjual juga untuk yang membeli. Begitupun dosanya. Aku tak mau menghalalkan segala cara, dengan memakai cara-cara ilegal untuk mendapatkan semua yang ku minta. Aku ingin bisa kembali melihat dunia, tapi dengan cara halal yang sah menurut hukum negara dan agama," papar Daniel panjang lebar.


"Apa Anda benar-benar sudah mantap dengan keputusan Anda, Tuan? Begitu detik ini kita lepas, satu detik kemudian sudah ada orang yang akan membelinya," tanya Rudi memastikan.


"Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku, karena aku betul-betul mempercayai kata hatiku. Dan aku tidak akan pernah menyesal untuk semua keputusan yang sudah aku lepaskan," Daniel begitu mantap dengan keputusannya.


Jawaban Daniel membuat semua orang yang berada di dalam ruang itu tersenyum haru. Mereka menatap Daniel dengan tatapan penuh makna. Rasa bangga bahwa seorang Daniel Cullen bisa mempertahankan untuk tidak terlibat dalam dunia gelap sekecil apapun itu, terpancar dari binar mata mereka ketika menatap Daniel setelah dia mengambil keputusan itu. Ya, Daniel memang pernah menjadi pelaku dalam bisnis dunia hitam. Mulai dari obat-obatan terlarang, hingga penjualan wanita tanpa ada batasan. Tapi baginya, masa lalu biarlah cukup hanya menjadi masa lalu. Biarkan semua itu terkubur bersamaan dengan berjalannya sang waktu, tanpa harus mengulang atau menyesali besarnya keuntungan jika berkecimpung di dunia gelap itu.


Ya, sejak jati dirinya dan Prabu Dewangga terkuak, Daniel sudah berjanji tidak akan pernah kembali bersentuhan dengan dunia gelap, sekecil apapun itu. Dan hari ini, Daniel bisa membuktikan bahwa janjinya tak akan pernah dia ingkari, apapun alasannya.


End of flashback


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2