
"Hallo, ada orangkah di sini?" teriak Rani berkali-kali, tanpa ada seorang pun yang menyahut ataupun menimpali. Bahkan Rani berteriak sekencang mungkin barangkali ada orang yang bisa menolong dan membantunya keluar dari tempat asing itu, tapi hasilnya tetap nihil. Tak ada yang mendengar teriakannya, apalagi berusaha menolong dan mengeluarkannya dari sebuah tempat yang sama sekali tak dikenalnya.
"Hubby, Rani takut. Tolong Rani, By. Hubby ...," air mata Rani pun akhirnya berjatuhan, sekuat apapun dia sudah berusaha untuk tegar.
Walaupun dia percaya, suaminya akan selalu datang sebagai pahlawan yang akan menolong dan menyelamatkannya, tapi tetap saja air mata itu tak bisa dia tahan dan masih terus saja jatuh tanpa bisa dia kendalikan. Apalagi waktu itu Rani benar-benar tak tahu, dimana dia dan siapakah gerangan orang yang membawanya ke tempat asing yang sama sekali tak pernah ditemuinya itu.
Klik.
Tiba-tiba terdengar suara kunci diputar, setelah derap langkah seseorang tertangkap oleh Indra pendengarannya.
Sebelum pintu terbuka dengan sempurna, Rani pun bergegas naik kembali ke atas tempat tidur dan merapatkan selimutnya seperti posisi semula. Di tutupnya kedua mata itu rapat-rapat, kemudian berpura-pura tidur agar penculik itu mengira bahwa kesadarannya belum kembali juga.
Rani tetap memejamkan mata, berusaha agar seseorang yang sedang berjalan mendekatinya itu benar-benar yakin bahwa Rani belum bangun dari tidurnya. Rani pun terus menajamkan indra pendengarannya, berharap ada suara atau obrolan seseorang yang bisa memberi petunjuk siapa pelaku penculikannya, namun usahanya sia-sia. Ya, tak ada satu pembicaraan pun yang terdengar di telinganya, karena rupanya orang yang sedang berjalan ke arahnya hanya datang sendiri saja.
"Lindungi hamba dan janin yang berada dalam kandungan hamba, Ya Rabb. Hamba tahu, Engkaulah sebaik-baik pelindung," tak henti-hentinya Rani berdo'a dalam hati.
Rani semakin bergetar ketika orang itu berhenti tepat di sebelah ranjang, kemudian duduk dan mengusap pelan ujung kepalanya tanpa ada benda tajam yang dihunuskan, atau sikap kasar yang diberikan.
"Kau tetap cantik, walau sedang tertidur pulas seperti ini, kekasih satu hariku," ucapnya lembut.
Deg.
"Felix? Kau benar-benar tak menyerah? Kau sudah gila, Felix. Apalagi yang kau inginkan dariku?" batin Rani.
"Mungkin aku terlalu bodoh, hingga tak mampu memahami bahasamu yang hanya menjadikanku sebagai kekasih satu harimu waktu itu. Tentang semua penolakanmu walau aku terus memaksamu, tentang semua perhatianku yang tak kau hiraukan itu, juga tentang cintaku yang selamanya hanya bertepuk sebelah tangan tanpa ada niat sedikitpun darimu untuk menyambut hangat cinta suciku. Ya, kau benar-benar sekejam itu kepadaku, tapi kenapa cintaku padamu tak juga bisa hilang, Sayang? Sementara aku tahu kalau cinta yang kau miliki bukanlah untukku, tapi untuk pria bang**t itu," ucap Felix dengan nada sendu. Dia terus memandang wajah ayu Rani dengan penuh rasa rindu.
Saat itu, Felix benar-benar terlihat lemah di depan wanitanya yang masih tak bergeming juga dari tidurnya. Namun tiba-tiba, pandangannya yang lembut berubah seperti seekor singa yang siap menyantap mangsa yang ada di depannya.
"Ha-ha-ha. Bodohnya aku. Selama ini aku lebih memilih untuk memeluk udara kosong seperti harapanku yang semu, padahal hari ini bisa kubuktikan bahwa aku bisa memilikimu. Ya, kenapa tak dari dulu saja aku merebutmu dari pria sialan itu. Ha-ha-ha," kini tawa Felix membahana, membuat kengerian di hati Rani tercipta begitu saja.
Felix benar-benar sudah seperti orang gila. Dia terus menceracau tak jelas di samping tempat tidur Rani, dengan nada yang berubah-ubah. Kadang sendu, terkadang kaku. Sekarang menangis syahdu, sebentar kemudian tertawa pilu.
"Ya Allah, selamatkan hamba dari pria gila ini. Berilah petunjuk pada suami hamba agar bisa menemukan hamba sebelum terjadi apa-apa dengan hamba dan anak hamba," lantunan do'a tak putus dari hati Rani, yang meminta dengan begitu tulus pada Illahi Rabby.
"Lama sekali kau tertidur, Sayang. Tapi tak akan kuganggu dirimu. Aku sudah menunggumu seumur hidupku, dan saat ini aku hanya perlu menunggu sampai kau membuka matamu," Felix kembali mengusap ujung kepala Rani, kemudian beranjak meninggalkan kamar itu.
Rani langsung terisak begitu suara pintu ditutup dan bunyi kunci diputar terdengar jelas oleh telinganya. Air mata yang sudah dia tahan sejak pertama kali dia tahu jika Felix adalah pelaku semua itu, kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
Rani benar-benar merasa terpukul, dan hanya bisa menangisi nasibnya yang harus menerima kejadian seburuk ini, bahkan saat dirinya sedang hamil tua dan menanti saat-saat kelahiran putra pertamanya.
"Ya Rabb, Engkaulah pemegang hidup dan matiku. Jika ini memang bagian dari suratan takdir yang kau tasbihkan untukku, berilah kelapangan hati kepadaku untuk bisa ikhlas menerima ketetapan-Mu. Namun izinkan aku meminta, Ya Rabb. Berilah pertolongan untukku, agar aku bisa menjaga martabatku sebagai seorang istri dari suami yang benar-benar aku cintai. Sungguh, aku lebih memilih pergi ke sisi-Mu dari pada harus menggadaikan kesetiaanku, Ya Allah. Karena itu, panggilah aku jika pria itu ingin merenggut kehormatanku. Namun jika aku masih boleh meminta, berikanlah waktu untukku agar bisa melahirkan putraku terlebih dulu. Berilah kesempatan padaku untuk menjadi seorang ibu sebelum aku habis waktu, Ya Rabby ...," Rani terus menangis sambil berdo'a dalam hati.
***
Disinilah mereka sekarang. Berkumpul di ruang utama kediaman keluarga Dewangga, tanpa bisa berbuat apa-apa. Aparat kepolisian yang akhirnya dihubungi agar bisa memberi bantuan pun tak juga memberi laporan perkembangan, walau menurut ucapan sang komandan, seluruh petugas sudah dikerahkan di lapangan untuk melakukan pencarian.
__ADS_1
Semua terlihat lesu, semua terlihat sayu. Hanya Naja dan Zara yang masih fokus dengan laptop di depan mereka, entah sedang mencari apa. Indra dan Daniel yang tetap setia di samping keduanya pun hanya bisa menatap wajah tegang wanitanya, sambil sesekali mencoba melirik layar datar yang penuh dengan kata sandi dan rumus-rumus data.
Johan dan Rudi yang tetap berdiri di dekat pintu, terlihat sangat gusar dan tak lagi mau menunggu. Sesekali mereka berjalan mondar-mandir, sembari menunggu Naja dan Zara menemukan jalan untuk menyelamatkan nona mereka.
Kondisi Ryan, jangan ditanya. Wajah kusutnya benar-benar semakin membuat dirinya terlihat kacau. Davina dan Aghata yang sangat prihatin dengan kondisinya pun berusaha menenangkan dan menyuruhnya untuk beristirahat walau sebentar, tapi semua perkataan mereka sama sekali tak dia dengarkan.
"Mama dan Mommy istirahat saja dulu. Ryan yakin, akan menemukan Rani sebentar lagi," kilah Ryan.
Davina dan Aghata pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, ditemani Lena dan Nina. Ya, mereka berempat memutuskan untuk beristirahat dalam satu kamar, agar ketika ada kabar bisa langsung mereka berempat dengar. Sementara Arsen, masih setia menemani para anak muda untuk berusaha mencari Rani.
Sementara Arya yang sejak sore mengurus pemakaman Sesil pun akhirnya datang juga.
"Bagaimana?" Arya yang tetap diminta mengurusi Sesil hingga pemakaman itu selesai, bertanya dengan nada tak sabar.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Arya. Hanya gelengan kepala saja yang mampu menjawab semuanya, hingga Arya menjadi lemas seketika.
"Apakah pria itu hadir di pemakaman?" Ryan yang tiba-tiba mengingat sesuatu saat melihat kedatangan Arya, bertanya penuh selidik.
"Mana ada. Sesil benar-benar dibutakan oleh cinta, hingga pria tak bertanggungjawab seperti itu bisa membuatnya berkhianat kepada kita dan akhirnya mengakhiri hidupnya," sahut Arya terlihat geram.
"Tunggu. Tunggu. Tunggu. Bisakah kita fokus pada pria itu? Bukankah selama ini Felix menyerangmu bukan karena dendam masa silam tapi karena dia mencintai istrimu?" Arya memandang yang lain dengan pandangan berbinar.
"Masuk akal. Musuhmu yang akhir-akhir ini menyerang secara terang-terangan hanya pria itu. Jadi, bagaimana jika kita fokus mencari keberadaan Felix Adinata, bukan Rani. Jika semua akses kita mencari Rani sudah dia kunci, bisa jadi kita masih punya peluang untuk mengakses posisi Felix kan?" Daniel menimpali.
"Sayang," Indra mengusap kepala Zara dan memandangnya dengan tatapan penuh makna.
"Kenapa kalian semua memandangku seperti itu?" Zara yang dipandang menjadi salah tingkah.
"Pasti kau banyak tahu kan, tempat-tempat yang sangat mungkin Felix gunakan untuk menyembunyikan Nona?" tanya Naja, langsung beralih dari layar laptop yang selama beberapa jam terakhir sudah diutak-atiknya. Jika yang dikatakan Arya dan Daniel memang benar, Naja berpikir bahwa tak ada cara yang bisa dipakai lagi selain cara manual.
Zara terlihat berpikir keras, mencerna perkataan mereka kepadanya, juga mengingat-ingat beberapa tempat kepunyaan Felix yang paling mungkin dia pakai untuk menyembunyikan nonanya.
"Sayang," panggil Indra lagi.
"Biarkan saya berpikir sebentar, Tuan," sahut Zara tanpa menatap Indra yang sampai saat ini masih duduk di sampingnya.
"Mmmm," Zara terlihat mulai mengingat sesuatu. Semua orang yang berada di ruang itu pun kini bergerak mendekati Zara dan menunggunya berbicara.
"Aduh, kenapa jadi pada memandangku semua sih? Kalau aku salah bagaimana?" batin Zara tak enak hati.
"Zara!" Ryan sungguh sudah tak sabar menunggu apa yang akan dikatakan Zara.
"Ada tujuh kemungkinan tempat yang Tuan Felix gunakan, tapi tujuh-tujuhnya adalah titik koordinat yang Kak Naja minta kita datangi waktu itu," ucap Zara ragu.
Semua yang mendengar penuturan Zara pun langsung lemas, merasa tak ada harapan lagi mengingat ketujuh tempat itu kosong tanpa ada satu pun petunjuk yang mampu menunjukkan dimana keberadaan Rani.
__ADS_1
"Tapi ...," Zara menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Naja tak sabar.
"Tuan Felix punya impian, membangun sebuah istana megah untuk orang yang sangat dicintainya, di sebuah pegunungan yang telah dia beli khusus untuk gadis itu. Semula saya pikir, tempat itu untuk Sesil. Tapi melihat perlakuannya pada Sesil yang akhirnya justru mengakhiri hidupnya sendiri, saya rasa gadis yang Tuan Felix bangunkan sebuah istana itu adalah Nona," jelas Zara.
"Tidak salah lagi. Dimana pegunungan itu?" Ryan memperbaiki posisi duduknya dan memandang lekat ke arah Zara.
"Saya tidak tahu persis, Tuan. Yang jelas, waktu itu saya sempat mendengar bahwa Tuan Felix ingin membangunkan istana untuk gadis pujaannya seperti negeri di atas awan. Pesona yang bisa dilihat dari istana itu adalah panorama hamparan awan yang indah. Siluet sebuah gunung yang diselimuti kabut dan awan tipis, katanya terlihat begitu menakjubkan di tempat itu. Begitu juga dengan hamparan lembah yang tampak tertutup awan terlihat seperti samudera yang luas," Zara bercerita sambil membayangkan keindahan istana yang dibangun Felix untuk nonanya.
Kini, semua berpikir keras.
"Kita pastikan dulu, bangunan itu di dalam negeri atau di luar negeri," Naja kembali mengutak-atik laptopnya, mencoba meretas sistem layanan pelacakan penerbangan pesawat baik pesawat komersial maupun pesawat pribadi secara real time hari ini. Dan dalam sekejab, layar laptopnya menunjukkan data cukup terperinci meliputi jalur penerbangan, tempat keberangkatan, tujuan penerbangan, hingga jenis pesawat terbang yang digunakan.
"Tidak ada satu data dukung pun yang menunjukkan jika Felix terbang ke luar negeri menggunakan pesawat pribadi. Sementara untuk pesawat komersial jelas tak mungkin. Berarti kita bisa fokuskan pada pencarian pada beberapa titik pegunungan di negeri ini," Naja mengoceh sambil terus berkutat dengan benda canggih miliknya itu.
"Bisa kita coba, Kak. Kita bisa tentukan beberapa titik yang akan kita periksa, dan aktifkan satelit lewat live view untuk mengecek apakah istana itu benar-benar ada di sana," Zara langsung bersemangat, dan kembali fokus pada laptop yang sempat ditinggalkannya.
"Kakak dan adik ipar kompak," celetuk Daniel, sambil memandang ke arah Naja, Indra dan Zara secara bergantian.
Zara yang mendengar ocehan Daniel pun pura-pura tak mendengar dan memilih tetap fokus pada usaha pencariannya, meskipun sebenarnya hatinya berbunga-bunga mendengar perkataan Daniel tentang dirinya.
Satu titik, dua titik, tiga titik, hingga lima titik yang coba Zara periksa tak ada tanda-tanda terbangun sebuah istana.
"Titik terakhir," ucap Zara, membuat semua orang yang menunggu hasil kerjanya semakin merasa tegang saja.
"Bagaimana?" tanya Ryan serius.
"Izinkan saya dan Tuan Indra selesaikan misi ini, Tuan," tiba-tiba Zara berdiri dan meninggalkan laptopnya begitu saja.
Melihat aksi spontan Zara, semua sudah paham bahwa Zara sudah mendapatkan apa yang sedang dicari mereka.
"Aku akan turun tangan sendiri, Zara. Istri dan anakku pasti sudah menungguku," sahut Ryan datar.
"Kami semua ikut Anda, Tuan," ucap Johan sambil berdiri, diikuti, Rudi, Arya, Daniel, Naja, Indra dan juga Zara.
"Jika kalian semua ikut, siapa yang akan menjaga Mama, Mommy, Nina dan juga Lena?" Ryan begitu terpaku melihat kesiapsiagaan sahabat dan anak buahnya itu.
"Daddy yang akan menjaga mereka semua, Nak. Tinggalkan beberapa pengawal untuk berjaga," Arsen menimpali dengan binar mata yang menyala-nyala.
"Terima kasih, Dad,"
Mereka semua pun akhirnya bergegas keluar dan mengambil posisi di mobil masing-masing. Tak lupa, Arya menelepon aparat kepolisian untuk bergabung dalam aksi penyelamatan.
"Tunggu Hubby, Sayang. Hubby akan segera datang. Bertahanlah demi Hubby dan anak kita. Tunggu Hubby," gumam Ryan dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG