METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kegilaan Felix


__ADS_3

Malam ini, tangisan Rani terdengar mengiris hati. Mewarnai sepi yang terus mengulum hari, mengubur angan dan harapan bahwa awan yang gelap kan berganti dengan indahnya pelangi di siang hari.


"Ahhh," Rani mendesah pilu.


Kini rintihan dan keluhan tertelan begitu saja oleh sang waktu, canda tawa pun hanya ada dalam bayang-bayang semu. Mencekam, hanya rasa itu yang semakin syahdu. Terus menanti dan menanti, sesuatu yang tak pasti.


"Akankah Hubby hadir di sini? Hubby ...," Rani terus memanggil suaminya di dalam hati, seolah dengan begitu Ryan akan datang dan membawanya pergi.


Rani mengelus perutnya yang kian membola. Sebuah tendangan kecil terasa begitu saja, seolah si jabang bayi ingin mengabarkan bahwa dia baik-baik saja di dalam sana.


"Anak baik, Mommy tahu kamu kuat, Sayang. Bersabarlah, pasti sebentar lagi Daddy akan datang," gumam Rani lirih.


Beberapa tendangan pun kembali Rani rasakan, seolah si janin mengiyakan semua perkataan yang ibunya ucapkan.


"Jaga kami, Ya Allah. Jaga kami," do'a Rani sambil mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi.


Hingga tiba-tiba, terdengar suara kunci di putar, sebelum akhirnya pintu terbuka dengan sempurna. Bersamaan dengan itu, sosok Felix masuk dan mendekati Rani dengan wajah tak berdosa.


Ya, wajahnya memang tak banyak berubah. Felix masih tampan seperti sosok idola sekolah yang Rani kenal semasa SMA dulu.


"Bagaimana kabarmu, Sayang? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana menurutmu istana yang kubangun khusus untukmu ini? Sangat indah bukan?" Felix mendekati Rani dan mengelus kepala yang terbungkus dengan hijab itu begitu sayang.


Rani yang selalu risih dengan apapun yang Felix lakukan sejak semasa SMA itupun menghempaskan tangan Felix begitu saja, sembari membuang muka ke arah yang berbeda dari tempat Felix berada.


"Rupanya kau masih ingin mengibarkan bendera perang kepadaku, Cantik? Dan itu menjadi lebih menarik bagiku," cicit Felix, menyadari bahwa wanita yang teramat sangat dicintainya itu tak banyak berubah. Dia masihlah menjadi satu-satunya wanita yang selalu menolaknya, sementara wanita lain berebut untuk mengejar dan mendapatkan cintanya.


Rani tak bergeming. Dia tak mau menanggapi apapun yang Felix katakan kepadanya.

__ADS_1


"Kau memang berbeda dengan wanita lain, yang bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintaku, Sayang. Dan kau masih seperti dulu yang selalu mengacuhkan aku. Ya, ya, ya. Dari dulu kau memang sudah seperti itu. Dulu, kau tak mau seperti gadis lain yang suka mencari perhatian pada idola sekolah. Bahkan waktu itu kau terus menghindariku, sampai aku yang harus mengejar-ngejarmu. Kau ingat? Waktu itu aku sampai menembakmu secara terang-terangan dan menyatakan cinta melalui surat terbuka yang kutempel di mading sekolah, demi mendapatkan perhatianmu. Tapi apa yang kudapat? aku hanya kau jadikan sebagai kekasih satu harimu, setelah itu kau begitu mudahnya mencampakkan aku," Felix tersenyum miris.


"Lepaskan aku, Felix! Sebelum suamiku membuat kau menyesal seumur hidupmu," Rani menatap Felix dengan tatapan penuh amarah.


"Aku selalu suka tatapan itu, Arania Levana. Semakin kau marah, kau semakin membuatku jatuh cinta kepadamu," Felix berusaha mengelus kepala Rani lagi, tapi Rani terus menghempaskan tangan itu hingga berkali-kali.


"Katakan! Apa maumu?" tanya Rani dengan emosi yang tak bisa dibendung lagi.


"Good. Itu pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Kau sungguh ingin tahu, apa mauku? Aku hanya mau dirimu. Aku mau kamu, Sayang. Hanya dirimu. Dan sebentar lagi kau akan menjadi milikku," Felix menaikkan kedua alisnya, dan menatap Rani seolah ingin melahapnya sekarang juga.


"Cih. Jangan harap, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah menyerahkan diriku padamu, Felix," sahut Rani tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Oya? Kita lihat saja nanti. Ha-ha-ha," tawa Felix menggelegar, memenuhi seluruh sudut ruang.


Rani sampai bergidik ngeri mendengar tawa Felix yang terdengar menakutkan sekali. Untung saja setelah itu Felix keluar kamar dan meninggalkan Rani sendiri. Jika tidak, Rani tak tahu lagi apa yang akan terjadi kepadanya malam ini.


"Siapa kalian?" Rani memasang tampang datar.


"Kami bertiga adalah perias yang ditugaskan untuk mendandani Anda, Nona," jawab salah seorang diantaranya dengan sopan.


"Mendandani saya? Untuk apa?" ketus Rani.


"Bukankah Anda akan menikah malam ini, Nona? Percayakan kepada kami, pasti kami akan membuat Anda menjadi seperti seorang ratu malam ini," yang lainnya menimpali.


"Menikah? Kalian sudah gila? Aku ini perempuan yang sudah bersuami. Kalian tidak lihat perut besarku ini? Aku sedang hamil, dan aku mempunyai seorang suami. Jadi mana mungkin aku akan menikah lagi sementara statusku masih menjadi seorang istri?" Rani tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Maafkan kami, Nona. Tapi kami hanya ditugaskan untuk mendandani Anda. Untuk masalah yang lain, kami tidak tahu menahu, Nona," tiga wanita itu tak menanggapi ocehan Rani, dan justru langsung menarik Rani ke kamar mandi untuk melakukan serangkaian perawatan, sebelum akhirnya benar-benar merias Rani dan memakaikan gaun pengantin tanpa bisa Rani tolak lagi.

__ADS_1


Sebenarnya Rani sudah melakukan segala cara untuk menolak dan memberontak saat dia didandani tadi. Tapi melihat ketiga wanita itu benar-benar takut akan murka Felix dan memohon agar mereka tetap bisa melakukan perintah yang Felix beri, Rani hanya bisa pasrah sambil terus berpikir apa yang bisa dia lakukan setelah ini.


Hingga sekitar dua jam terlewati, tiga wanita itupun pergi meninggalkan Rani yang kini sudah cantik seperti seorang putri.


Rani terus berjalan kesana kemari sambil berpikir keras, bagaimana caranya dia menyelamatkan diri. Bahkan dalam benaknya, sempat terlintas untuk melakukan hal gila seperti sebuah film yang pernah dilihatnya, jika sampai saatnya tiba, Ryan belum juga datang menyelamatkannya.


Ya, Rani tiba-tiba teringat dengan Film Ayat-ayat Cinta 2, yang salah satu narasinya menceritakan tentang kisah mengenai Aisha ketika menjadi tahanan tentara Israel pada saat serangan militer di jalur Gaza. Ketika menjadi tahanan, Aisha memilih untuk merusak wajahnya dan vaginanya agar tidak diperkosa. Dan hal ini dia lakukan karena Aisha tidak ingin kehormatannya direnggut begitu saja.


"Haruskah aku juga melakukan hal yang sama?" ide Rani semakin gila.


Hingga di saat Rani benar-benar berada di puncak rasa galaunya, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Felix datang bersama tiga orang, yang Rani yakini dua orang diantaranya akan Felix jadikan sebagai saksi, dan satu orang lagi semacam pemuka agama atau kyai gadungan yang akan menikahkan mereka beberapa saat lagi.


"Felix, kau benar-benar sudah gila. Sadarlah, Felix! Aku ini perempuan yang sudah bersuami. Aku ini seorang istri, yang tidak bisa serta merta bisa kau nikahi semaumu sendiri. Hentikan kegilaanmu ini, Felix! Hentikan!" Rani mendekati Felix dan berusaha menyadarkannya, tapi usahanya sungguh sia-sia.


"Kau cantik sekali, Sayang. Bersabarlah, sebentar lagi kita akan resmi menjadi suami istri," seolah tak peduli dengan ocehan Rani, Felix justru mempersilahkan ketiga orang itu masuk, dan menempati tempat duduk yang sebelumnya telah anak buah Felix siapkan.


"Sadarlah, Felix. Ini semua tak benar. Kau jangan gila!" cicit Rani yang dibiarkan berlalu begitu saja.


"Kau benar, Sayang. Aku memang sudah gila, dan semua kegilaanku itu karna kamu," sahut Felix sambil menyeringai nakal.


"Felix, kumohon. Ini semua tidak benar. Sadarlah sebelum kau melakukan kesalahan besar," Rani mulai terisak. Rasa takut dan marah, kini bercampur baur menjadi satu.


"Mari kita mulai, Pak," ucap Felix tanpa menghiraukan ekspresi perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Felix, kumohon,"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2