
Namanya Kaylee Naja. Seorang mantan balerina usia 25 tahun yang cantik, energik dan sangat terkenal di puncak kariernya beberapa tahun lalu. Sejak tamat SMA, dia rela bekerja part time demi bisa melanjutkan study-nya di jurusan seni tari, sehingga bisa menyalurkan hobby-nya. Dan benar saja, sejak semester satu dia kuliah, dia sudah sering mengikuti festival balet bahkan sempat menjadi pemenang dalam Festival Ballet Theatre yang merupakan rangkaian dari acara International Dance Festival dengan kompetitor dari negara-negara sahabat tingkat dunia.
Karena berbagai prestasinya itu, membuat Naja bisa menjadi balerina nomor satu di negeri ini. Sayangnya, sebuah pertunjukan membuat dia cidera. Billy, Patner baletnya salah melangkah hingga mematahkan kaki Naja, bagian paling krusial bagi seorang balerina.
Insiden yang membuat Naja kehilangan kariernya itu membuat hidupnya berantakan. Dia yang harus menanggung biaya hidup ibunya yang lumpuh, juga seorang adiknya yang masih duduk di bangku SMA membuat Naja menerima tawaran seorang pengusaha untuk menjadi agen mata-mata.
Sebelum misi pertamanya, Naja mengeyam pendidikan khusus untuk para intelejen. Naja mempelajari semua hal yang berkaitan dengan tubuh dan pikiran agar mampu memanipulasi target operasinya. Dia juga mempelajari ilmu beladiri, meretas, menyelam, terjun payung, base jumping, juga mengemudikan hampir semua jenis kendaraan untuk melancarkan operasinya.
Sayangnya, misi pertamanya gagal saat pengusaha yang menjadi targetnya mengetahui rencana operasi itu karena kebetulan sang pengusaha juga mempunyai agen mata-mata yang lebih senior dan lebih berpengalaman darinya.
***
Flashback
Pagi itu Naja menjalankan semua skenario yang telah dijelaskan oleh tuannya. Setelah memarkir mobil Lamborghini yang dipinjam dari tuannya, dia berjalan memasuki gedung Dewangga Group dengan anggun. Semua mata tertuju pada gadis yang mengenakan baju dan rok serba mini warna hitam, dengan rambut yang ditutupi wig warna blue black, senada dengan sepatu high heels dan tas nya.
"Saya ada janji dengan Tuan Prabu Dewangga," Naja sengaja membodohi resepsionis Dewangga group dengan sedikit trik hipnotis yang telah dipelajarinya.
"Baik, mari saya antar ke ruangan Presdir," kata resepsionis itu, menuruti bahasa tubuh Naja.
Naja pun mengikuti kemana arah sang resepsionis melangkah, hingga berhenti di depan pintu sebuah ruang. Ya. Itu adalah ruang Prabu Dewangga, dimana tidak semua orang bisa memasukinya.
Tanpa mengetuk pintu, Naja langsung melenggang masuk dengan begitu anggun dan santainya.
"Siapa kamu?" Prabu Dewangga terperanjat begitu ada wanita asing yang belum pernah dilihatnya, dengan tidak sopan masuk begitu saja ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu dan tanpa membuat janji terlebih dahulu.
__ADS_1
Naja tidak menghiraukan teriakan itu. Dia justru tetap melenggang dengan tenang menghampiri Prabu hingga tidak ada jarak yang memisahkan mereka. Matanya menatap tajam mata Prabu, membuat Prabu tak elak dari tatapannya. Disaat itulah Naja menjentikkan jari kanannya dan seketika Prabu Dewangga duduk terdiam dengan tatapan mata kosong di kursi kerjanya.
"Tak sesulit yang kubayangkan," Naja tersenyum puas.
Tak lama kemudian, Naja menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruang. Dia mengingat-ingat apa perkataan tuannya, lalu mengambil flasdisk dari dalam tasnya dan menancapkan benda kecil itu pada laptop yang berada di atas meja kerja Prabu Dewangga.
"Katakan apa Pasword-nya," Naja terlihat kesal menyadari laptop di depannya tidak bisa dibukanya dengan mudah.
"Satu tujuh dua lima delapan lima," Prabu Dewangga menuruti semua perkataan Naja.
Naja tersenyum puas begitu bisa membuka laptop itu dan mendapatkan file yang diincar majikannya. Dengan sigap, dipindahkannya file itu ke dalam flasdisk miliknya, kemudian hendak bergegas keluar dari balik pintu.
Namun alangkah kagetnya ketika dua orang berbadan tegap tiba-tiba masuk ke ruang itu dan menyodorkan senjata api ke arah kepalanya. Naja pun mundur beberapa langkah, namun dia kembali terperanjat ketika menyadari ada sesuatu yang di tabraknya.
"Besar juga nyalimu, Nona," menyadari gadis itu kaget karena melihatnya telah berada persis di belakangnya, Prabu Dewangga tersenyum sinis.
"Kenapa? Kau terkejut karena trik kunomu tak bisa mempengaruhiku?"
"Bagaimana bisa?"
"Aku lebih berpengalaman dari majikanmu itu, Tikus Kecil. Ha-ha-ha-ha...," kini gelakan Prabu membahana memenuhi seluruh ruang itu, hingga membuat siapapun akan ngeri mendengarnya.
Naja merasa terpojok. Tidak ada pilihan lain, dia berusaha mengeluarkan pisau kecil yang disimpan di sepatunya dan menyambar senjata api yang di arahkan kepadanya. Namun sayang, lagi-lagi Naja kalah kuat dan kalah cerdik dengan orang-orang yang ada di hadapannya.
Dalam hitungan detik, dua pria besar itu berhasil membuat Naja berlutut di hadapan Prabu Dewangga. Rambutnya ditarik ke belakang hingga membuat wig nya terhempas dan rambut panjangnya terurai.
__ADS_1
"Baiklah, Tikus Kecil. Kira-kira hukuman apa yang pantas kau dapatkan?" Prabu menatap Naja dengan pandangan mengerikan.
Naja membuang mukanya, tak berniat sedikitpun menjawab pertanyaan pria di depannya.
"Dasar keras kepala. Baiklah, kau tinggal pilih. Mau ibu lumpuhmu dulu atau adik kesayanganmu?" ancam Prabu, yang sebelumnya telah mendapatkan informasi lengkap tentang gadis itu jauh sebelum misinya dieksekusi.
"Jangan coba-coba kau sentuh mereka!" mendengar ancaman Prabu, Naja mulai panik. Matanya kini memanas, tak bisa menahan air yang tiba-tiba menggenang di sana.
"Akan aku pikirkan jika aku tertarik dengan tawaran yang kau berikan," ucap Prabu sambil berjalan menuju sofa, duduk dan bersandar seolah sedang menunggu apa yang akan dikatakan gadis yang ada di depannya itu.
"Ambillah kesetiaanku! Seumur hidup aku akan setia dan bekerja untukmu, asal kau jamin keselamatanku dan juga keluargaku," tutur gadis itu, dengan tatapan penuh harap.
"Aku tak akan percaya begitu saja dengan perkataan seorang mata-mata seperti dirimu,"
"Akan kubuktikan kepadamu,"
"Apa yang akan kau buktikan kepadaku,"
Naja tak menjawab. Dia memejamkan mata kemudian mengambil pisaunya kembali yang sempat terjatuh dari tangannya karena tendangan pria tegap yang kini berada di belakangnya. Sambil menghela nafas, tiba-tiba Naja mengarahkan pisau itu ke arah wajahnya, dan menggoreskan pisau itu ke pipi kanan kemudian pipi kirinya.
"Selain keluargaku, hal yang paling berharga yang kumiliki adalah kaki yang kupakai untuk menari, juga wajah cantik yang ku miliki. Kini keduanya sudah tidak bisa aku gunakan untuk mencari sesuap nasi. Terimalah kesetiaanku, Tuan. Aku tidak akan mengecewakanmu," ucap Naja, sambil menahan perih di kedua pipinya. Meski begitu, tak ada air mata sedikit pun yang mengalir. Hanya tetes demi tetes darah yang mengucur, membasahi seluruh wajah cantik yang kini telah tergores sayatan luka.
Prabu tetap memasang wajah datar melihat bukti kesetiaan gadis kecil yang ada di depannya. Dia mencoba berpikir sejenak, dan memandang lekat gadis itu seolah ingin melihat kesungguhan dari sorot matanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Ditunggu jempol dan vote nya ya guys. Jangan lupa juga kasih rate 5 dan tinggalkan comment positifnya. Terima kasih