METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Di Penghujung Malam


__ADS_3

Di salah satu ruang di bawah cakrawala, sepasang kekasih itu membiarkan diri mereka terus menyatu dengan penghujung malam.


Sesaat, nafas mereka terasa begitu berat, seolah aliran oksigen dari setiap tarikan yang mereka buat tak sampai pada tubuh polos itu, hingga mereka harus menambah frekuensi nafas mereka berkali-kali.


Angin malam pun segera datang menerpa, menambah buaian desir yang menghantarkan setiap irama yang tercipta diantara cahaya bulan dan lampu temaram yang menjadi saksi bisu pembuktian cinta yang tak pernah terucap dengan kata-kata.


"I love you honey," akhirnya kata itu terucap dari mulut Ryan setelah Rani tertidur pulas dalam lelah.


Dengan senyum penuh arti, Ryan mengecup ujung kepala istrinya dan merapatkan selimut hingga menutupi hampir seluruh bagian tubuh wanitanya.


Tak berapa lama, Ryan segera beranjak keluar dan menuruni tangga menuju dapur hendak mengambil air minum. Tiba-tiba matanya membulat, melihat Arya sedang terduduk seorang diri di ruang tamu ditemani secangkir kopi dan laptop yang menyala di pangkuannya.


"Arya, kau masih di sini? Kenapa tidak pulang? Apakah kau menungguku?" tanya Ryan dengan heran. Saking paniknya takut sesuatu terjadi pada istrinya, sampai Ryan tidak menyadari bahwa Arya mengikutinya dari belakang sampai rumahnya, dan hingga selarut itu.


"Aku takut terjadi sesuatu. Makanya aku menunggumu," ucap Arya sambil meletakkan laptopnya yang kini sudah dia matikan, pada meja yang berada tepat di depannya. Dia merubah posisi duduknya hingga bersandar ke bagian belakang sofa, seolah siap mendengar jawaban sekaligus perintah dari tuannya.


"Tentu saja terjadi sesuatu di atas sana tadi," jawab Ryan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Huh, sepertinya tak ada gunanya aku disini sekarang. Yang kutunggu dan kukhawatirkan rupanya justru habis bersenang-senang," ucap Arya sambil meraih laptopnya kembali dan segera beranjak keluar menuju mobilnya.


Ryan hanya tersenyum, melihat punggung Arya yang terus menjauh, meninggalkan dirinya malam itu. Dalam hati, Ryan sungguh berbangga diri memiliki sahabat sekaligus seorang sekretaris yang benar-benar bisa diandalkannya.


Sejak Mama Titania memungut Arya dari pekerjaan meminta-minta dan membesarkan mereka berdua bersama tanpa membedakan hubungan darah, Ryan sudah menganggap Arya seperti saudara kandungnya sendiri.


Apalagi melihat kesetiaan Arya kepada keluarganya yang tidak dapat diragukan lagi, membuat Ryan semakin bangga dan tenang jika sesuatu sudah di bawah kendalinya.


***

__ADS_1


Arya tersenyum lega ketika mengingat tawa Ryan yang menggelegar, sesaat sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Setidaknya, tuan dan nonanya itu tidak membuat Arya harus bekerja keras malam ini juga.


Walaupun, sepanjang perjalanan pulang menuju apartemennya Arya terus memikirkan laporan anak buahnya yang diterima via email yang tadi telah dia pelajari saat menunggu Ryan keluar dari kamarnya.


Laporan itu berisi tentang pergerakan Daniel Cullen, untuk membebaskan Charles David dari jerat hukum yang akan dikenakan kepadanya.


Bahkan desain manipulasi kasus Charlie's Cafe Bali itu terlihat dimainkan sangat cantik dengan menelan dana yang fantastis.


"Jika Charles sampai divonis bebas, artinya akan ada pekerjaan besar yang menyita waktu dan pikiran, bahkan mungkin butuh pertaruhan nyawa," gumamnya dalam hati.


Sebenarnya waktu itu Arya ingin langsung melaporkannya kepada Ryan. Namun karena Arya melihat Ryan yang sedang sangat bahagia, membuat Arya mengurungkan niatnya dan akan kembali bicara besok.


"Kapan dapat jodohnya kalau urusan Ryan dan Rani tak ada habisnya gini. Huhh...," seru Arya kepada dirinya sendiri, sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota X yang benar-benar lengang saat waktu sudah melewati tengah malam.


Begitulah Arya. Baginya, mengabdikan diri kepada keluarga Dewangga seolah seperti menjadi sumpahnya. Dia yang hidup sendiri, tanpa orang tua dan tanpa satu orang pun saudara, merasa berhutang budi karena ada keluarga yang mau menerimanya dan telah memberikan segalanya kepadanya. Keluarga Dewanggalah yang menyelamatkannya dari jalanan dan menyekolahkannya bersama Arya dari sekolah dasar hingga S2 di Amerika. Maka tak heran jika dia mempersembahkan hidup dan seluruh yang dia punya untuk kebahagiaan keluarga Dewangga.


***


"Apa kau sudah mengurus semuanya, Jo?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Daniel.


"Sudah, Tuan," jawab Johan singkat.


"Apa yang kamu minta untuk Charles?" Daniel terus membrondong pertanyaan kepada Johan.


"Bebas, Tuan,"


"Apa jawaban mereka?"

__ADS_1


"Mereka hanya berani menjamin untuk vonis 18 bulan dipotong masa tahanan, Tuan."


Daniel Cullen terlihat berpikir keras. Dia adalah laki-laki berdarah dingin yang rela melakukan apapun untuk mencapai semua keinginannya, termasuk hal ekstrim yang tidak akan pernah terpikirkan oleh orang lain.


"Lipatkan maharnya dan buat mereka menjatuhkan vonis separohnya. Jika gagal, terpaksa kita lakukan plan B," ucap Daniel kemudian.


"Baik, Tuan," jawab Johan sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan Anggota Dewan kecil itu? Apakah dia mencium bau tak sedap dari Elysee Cafe?" tanya Daniel yang semakin penasaran dengan sosok Rani, satu-satunya orang yang berhasil mengusiknya sampai detik ini.


"Dia tidak mencium Elysee Cafe kota X seperti Charlie's Cafe Bali, Tuan. Walaupun Ryan Dewangga pasti sudah mendeteksi semua jaringan kita," jawab Johan sedikit ragu. Johan bahkan tahu bahwa Ryan sudah mendapatkan informasi lengkap tentang tuannya tanpa tuannya tahu.


"Apakah ada pergerakan dari Ryan Dewangga yang mengancam kita?" Daniel bertanya sekali lagi untuk memastikan keamanannya. Dia tahu betul bahwa saat ini dia belum bisa menandingi Ryan Dewangga dalam hal apapun, meskipun perusahaan Daniel untuk saat ini sudah masuk dalam jajaran perusahaan kelas atas.


"Ryan Dewangga hanya bergerak jika nyawa istrinya terancam, Tuan. Jadi dia tidak akan menyerang kita terlebih dahulu," jawab Johan mantab.


"Baiklah. Urus Charles dulu baru kita pikirkan bagaimana membuat Anggota Dewan kecil itu tidak berani macam-macam." Daniel Cullen memberi perintah, yang langsung disanggupi Johan seperti biasanya.


Setelah Johan pamit, Daniel meraih ponselnya dan membaca setiap media online yang memberitakan Arania Levana dan Ryan Dewangga, termasuk terkait penyekapan Rani di dalam gedung tua beberapa saat lalu.


Mengingat kedua orang itu bukanlah orang yang bisa dianggap remeh, maka Daniel tidak bisa bertindak gegabah. Setiap hal yang akan dia lakukan harus dipertimbangkannya dengan matang. Tak heran jika Daniel selalu mengikuti berita mereka, untuk mengetahui seberapa besar kekuatan mereka untuk menghadapi rencana licik yang sudah tersusun rapi dalam benaknya.


"Tinggal menunggu waktu, siap untuk eksekusi," gumam Daniel dengan senyum sinis yang sulit diartikan.


BERSAMBUNG


๐ŸŒนโค๐ŸŒน

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, comment dan rate 5 ya. Biar author semangat. Terima kasih.


__ADS_2