METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jangan Biarkan Hatimu Beku


__ADS_3

Jika di hatimu ada cinta, maka maafkanlah. Jangan biarkan hatimu beku dan kaku hanya karena ego di hatimu yang terus menderu.


Begitulah seharusnya manusia menempatkan dirinya. Meski berat, tapi tidak ada yang lebih mulia dari pada kata maaf dan memaafkan sebesar apapun kesalahan orang lain yang hinggap dalam kehidupannya.


"Saya berjanji akan membuat Meysie tak bisa mengusik keluarga Anda lagi, asal Anda mau mencabut laporan Anda," janji Ega dengan penuh kemantapan hati. Kini dia memberanikan diri menatap kedalaman mata Ryan, demi menunjukkan bahwa dia datang dengan kesungguhan.


"Apa jaminan yang bisa Anda berikan?" Ryan menatap Ega dengan tajam.


"Saya memang tidak bisa memberikan jaminan apa2. Tapi saya akan berusaha membuat Meysie mencintai saya, dengan begitu dia tidak akan lagi mengusik ketenangan Anda," Ega berucap dengan tampang memelasnya.


"Anda tahu? Meysie itu sudah terbukti memenuhi unsur-unsur pembunuhan berencana berdasarkan Pasal 340 KUHP, dimana di sana disebutkan bahwa barangsiapa yang sengaja dengan rencana terlebih dahulu yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, pertanggungjawabannya dengan hukuman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama dua puluh tahun," Ryan berucap datar.


"Karena itulah saya ke sini, memohon belas kasihan Anda. Bukankah Anda begitu mencintai istri Anda? Bagaimana jika Anda berada pada posisi saya dan istri Anda berada di posisi Meysie? Nah, seperti itulah perasaan saya. Saya sungguh tidak bisa hidup tanpa dia dan menyaksikan begitu tersiksanya dia mendekam di penjara," dengan segala kerendahan hati, kini Ega menundukkan kepala. Bahkan air matanya pun lolos begitu saja dari ujung matanya, tanpa bisa ditahannya.


"By," Rani mengelus tangan Ryan.


Ryan hanya menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Rani tak memberi harapan kosong pada orang-orang yang kini ada di hadapannya.


"Bukannya saya tidak mau membantu. Perkara mencabut laporan itu hal yang mudah buat saya. Tapi kejadian itu sungguh terjadi di depan mata aparat, bahkan mereka sendiri yang menembak Meysie agar percobaan pembunuhan itu tidak terjadi. Karena itulah saya tidak bisa menjamin, jika saya benar-benar mencabut laporan itu, bisa jadi proses hukum akan tetap berjalan," tutur Ryan panjang lebar.


"Saya tahu siapa Anda dan bagaimana kehebatan Anda. Saya yakin Anda bisa membereskan semuanya. Karena itulah saat ini saya berlutut di hadapan Anda," tiba-tiba Ega berlutut di depan Ryan. Ryan yang mendapati perlakuan semacam itu pun akhirnya tidak enak hati, sehingga setelah beberapa syarat disepakati, akhirnya Ryan memutuskan untuk memberi Meysie kesempatan satu kali lagi.


***


warna kulit yang memucat di wajah Meysie masih menggelayut manja dalam tidurnya. Beban yang harus dia tanggung pun terkubur di sela-sela nafasnya, hingga gurat kecemasan bahkan masih terlihat jelas pada ekspresi mukanya walau masih dalam lelap.

__ADS_1


Di sebelahnya, Nyonya Atmaja hanya duduk termenung menunggui Meysie dalam diam. Sementara Fisha, memilih duduk di sofa dengan ponsel yang terus didalaminya.


"Ma ..., Mama," Meysie memanggil Nyonya Atmaja begitu dia bangun dari tidurnya


"Sayang, kamu sudah bangun? Kamu benar-benar sudah sadar, Nak?" Nyonya Atmaja berdiri dan memeluk erat putrinya.


"Ini bukan mimpi kan, Sayang?" gumam Nyonya Atmaja lagi, seolah tak percaya.


"Iya, Ma. Ini bukan hanya mimpi. Meysie sudah kembali," mereka pun berpelukan.


Melihat adegan penuh haru seorang ibu dan putrinya itu, Fisha pun mendekat. Meysie yang menyadari kehadiran gadis yang masih sangat asing untuknya itu pun memandang ibunya dengan penuh tanda tanya.


"Dia Fisha, istri Hengky," ucap Nyonya Atmaja, yang seolah mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benak Meysie.


"Istri Hengky?" tanya Meysie lagi memastikan. Dia betul-betul tidak percaya bahwa Hengky akan bisa move on secepat ini.


"Ternyata begitu banyak hal yang telah aku lewatkan selama tiga bulan ini," lirih Meysie.


"Tak apa, Sayang. Yang penting sekarang kamu sehat, Nak," Nyonya Atmaja mengelus kepala putrinya dengan sayang. Meysie pun hanya mengangguk, menyetujui apa yang telah ibunya katakan.


"Oya, Ma. Dalam tidurku, aku bermimpi menikah dengan Ega. Dan ketika aku tersadar tadi, aku benar-benar melihatnya di sini, Ma? Kenapa dia menungguiku di sini?" Meysie bertanya penuh selidik.


"Sudah sebulan lebih Ega menjagamu di sini, Sayang. Tak semenit pun dia meninggalkanmu di sini sendiri. Bahkan tempat ini sudah dia sulap menjadi kantornya, karena dia mengerjakan semua pekerjaannya dari tempat ini," Nyonya Atmaja tersenyum penuh arti.


"Kenapa dia yang menjagaku, Ma. Apakah mimpiku itu benar-benar terjadi?" lirih Meysie.

__ADS_1


"Kalian sudah menikah, Sayang. Hanya untuk menikahimu, dia jauh-jauh pulang," dengan Ragu, Nyonya Atmaja menjelaskan.


"Kenapa Papa dan Mama menyetujuinya? Bukankan kalian tahu sendiri bagaimana pengkhianatan yang dilakukannya?" tanya Meysie seolah belum bisa menerima semuanya.


"Ega tidak pernah berselingkuh, Sayang. Dia melakukannya karena dia sangat mencintaimu," Nyonya Atmaja tersenyum penuh arti.


"Bagaimana mungkin, Ma. Aku sendiri yang memergoki mereka di apartemen Ega," sergah Meysie penuh emosi.


"Itu semua adalah rekayasa, Sayang," sahut Nyonya Atmaja.


"Apa maksudnya rekayasa, Ma?" Meysie tak mengerti.


"Waktu Ryan melamarmu di Amerika dulu, Ega membuntutimu dan mendengar sendiri bagaimana pengakuan akan cintamu kepada Ryan. Karena itulah dengan sengaja Ega membayar seorang perempuan untuk berpura-pura menjadi selingkuhannya," jelas Nyonya Atmaja panjang lebar.


"Tapi kenapa?" cecar Meysie.


"Ega rela melakukannya agar Om Wisnu Rahardian dan papamu dengan kerelaan hati membatalkan perjodohan itu. Ega melakukannya agar kamu bisa mengejar cintamu dan hidup bahagia bersama Ryan Dewangga. Tapi begitu mengetahui kondisimu saat ini, Ega pun memutuskan untuk kembali, dan memintamu untuk bisa dia nikahi," lanjut Nyonya Atmaja.


Meysie tak berkomentar sama sekali. Dia benar-benar shock menyadari bahwa saat ini dia sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai.


"Bahkan saat ini dia sedang berjuang untukmu, Meysie. Dia rela merendahkan dirinya di hadapan keluarga Dewangga hanya demi memohonkan ampunan untukmu, agar mereka mau mencabut laporan mereka," Nyonya Atmaja terus mencekoki Meysie dengan kenyataan-kenyataan yang sedang terjadi di depannya.


Tak terasa, bulir bening pun meleleh begitu saja dari ujung mata Meysie. Kebenaran demi kebenaran yang ditunjukkan oleh ibunya betul-betul belum bisa dia terima sepenuhnya.


"Terimalah dia dengan sepenuh jiwa, Sayang. Jangan sia-siakan pria sebaik dan sesempurna suamimu. Jalanilah hidupmu, dan tatalah masa depanmu. Jangan menoleh lagi ke belakang, dan jadikan dia satu-satunya orang yang berhak atas dirimu dengan segala kekurangan dan kelebihan," pesan Nyonya Atmaja.

__ADS_1


"Tapi Ma. Aku ...," ucap Meysie, masih penuh dengan keraguan.


BERSAMBUNG


__ADS_2