
Arsen mencoba berpikir sejenak. Hingga tiba-tiba, dia beranjak menuju lemari pakaiannya, dan akhirnya menemukan sebuah benda di sana.
Benda itulah yang mendorong Arsen untuk membulatkan tekad, mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadi di pergelangan tangannya. Arsen meringis. Sedetik kemudian, darah mengucur deras dan dia ambruk seketika.
***
Daniel terpaku, mendengar Johan mengeja kata demi kata pada secarik kertas itu. Ya, secarik kertas berisi surat wasiat yang Arsen tulis sebelum dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Di sana, Arsen menuliskan bait demi bait kata, curahan rasa cinta untuk Daniel dan Aghata. Di sana juga tertulis sebuah wasiat dimana Arsen ingin memberikan korneanya pada putra tercinta, begitu dia tiada.
Kini, teriakan-teriakan cinta menggema di seluruh ruang kosong dalam hatinya. Tangis Daniel pecah, seiring dengan rasa sesal yang menyeruak memenuhi jiwanya.
"Dad, kenapa kau lakukan semua ini? Aku tak mau menerima kornea itu, Dad. Lebih baik aku tetap buta dari pada harus mengorbankanmu," cicit Daniel sambil terisak. Naja yang berada di samping ranjang pasien tempat Daniel masih terbaring lemah, hanya mampu menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan.
"Dimana jasadnya, Jo? Biarkan aku menemuinya untuk terakhir kalinya. Dan ingat. Jangan pernah lakukan transplantasi itu. Aku tak mau menjadi anak durhaka hanya karena mau melihat dunia," oceh Daniel di tengah isaknya.
Johan hanya mampu menarik nafas panjang, sebelum menanggapi permintaan Daniel kepadanya.
"Sebenarnya Tuan Besar masih hidup, Tuan. Saya sempat meminta Rudi untuk memasang CCTV di dalam kamarnya saat kemarin Tuan Besar meminta saya mengantar ke rumah sakit. Dan ketika kecurigaan saya terbukti, saya bisa langsung menolong dan melarikannya ke rumah sakit," jelas Johan.
***
Flashback
Di Rumah Sakit
"Tolonglah saya, Dok. Saya hanyalah seorang ayah yang ingin putra saya melihat dunia. Masa depannya masih panjang, berbeda dengan saya yang sebentar lagi menginjak usia lanjut," pinta Arsen kepada dokter yang menangani Daniel, sekaligus penanggung jawab Bank Mata Indonesia Kota X, dengan penuh harap.
__ADS_1
"Sekali lagi mohon maaf, Tuan. Kami harus mengikuti prosedur, atau kami akan berurusan dengan persoalan hukum," kekeh dokter itu.
Mendengar jawaban dokter itu, Arsen melihat ke arah Johan seolah meminta bantuan. Johan yang mengerti isyarat yang diberikan Arsen pun menjawab dengan bahasa mata sehingga Arsen memutuskan untuk menunggu di luar dan membiarkan Johan berbicara berdua saja dengan dokter itu.
"Mohon maaf, Tuan Johan. Saya betul-betul tidak bisa. Ini berkaitan dengan sumpah jabatan saya," dokter itu menatap Johan dengan lekat. Meskipun semua orang tahu siapa Johan termasuk dokter itu, tapi dengan penuh keyakinan dia tetap teguh memegang prinsipnya.
"Tenang saja, Dok. Saya tidak akan memaksa Anda. Tapi setidaknya, berilah waktu kepada saya untuk tetap berada dalam ruangan ini bersama Anda sebentar," sahut Johan sambil merogoh ponsel yang dia letakkan di saku celananya.
Dokter itu pun hanya menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya tidak tahu apa yang akan Johan lakukan.
Tak berapa lama, Johan sudah sibuk dengan benda pipih canggih di tangannya. Dia meminta Rudi untuk memasang CCTV di dalam kamar Arsen karena takut kalau Arsen akan berbuat nekat setelah mendengar jawaban dokter yang tidak sesuai dengan keinginannya. Johan juga menyuruhnya untuk membersihkan benda apapun di kamar Arsen yang bisa dia gunakan untuk menyakiti dirinya.
Setelah mengulur waktu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Johan keluar.
"Bagaimana, Jo?" tanya Arsen begitu Johan mendekatinya.
"Huh, ternyata apa yang mereka bicarakan tentang dirimu itu salah, Jo. Mereka bilang tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang John Angelo. Tapi ini apa? Hanya membujuk seorang dokter saja kau tak bisa melakukannya," gerutu Arsen, dengan tatapan begitu kecewa. Bahkan Arsen meninggalkan Johan begitu saja, dan berjalan menuju mobil mereka.
Di Kediaman Keluarga Dewangga
Sejak kepulangan Johan dan Arsen dari rumah sakit, Rudi tak melepas pandangannya dari layar laptop yang terkoneksi dengan CCTV yang dia pasang di kamar Arsen. Apa saja yang Arsen lakukan sejak siang itu, semua Rudi pantau agar jika ketakutan Johan benar-benar terjadi, dengan sigap dia langsung bisa melakukan tindakan. Bahkan, jam makan malam pun Rudi rela meninggalkan agar tak kecolongan. Ya, sama seperti Arsen yang malam itu juga melewatkan makan malamnya begitu saja.
Hingga tengah malam pun datang. Gelagat tak enak mulai bisa terlihat dari layar laptop Rudi. Mulai dari ketika Arsen menulis sesuatu di selembar kertas, kemudian beralih membuka laci mencari obat tidur yang sempat Rudi ambil sebelum Arsen pulang.
Melihat Arsen kecewa karena tak menemukan obat itu untuk mengakhiri hidupnya, Rudi sempat tersenyum lega.
__ADS_1
"Untung aku telah mengambilnya," batin Rudi dalam hati. Senyumnya pun mengembang.
Namun, ketika Arsen terlihat berjalan ke arah lemari dan menemukan sebuah benda tajam di sana, Rudi merasa kecolongan. Dia langsung berlari keluar kamar dan naik menuju kamar Arsen.
Johan yang malam itu berjaga di ruang utama pun segera menangkap ketidakberesan yang terjadi, sehingga langsung mengikuti Rudi bersama beberapa anak buahnya yang kebetulan berjaga malam.
Sayangnya, mereka terlambat. Ketika mereka berhasil mendobrak pintu kamar Arsen, semua sudah terjadi. Arsen sudah tersungkur di lantai dengan darah yang mengucur deras dari pergelangan tangannya. Melihat itu, mereka semua langsung menghambur ke arah Arsen. Rudi yang memang sudah terlatih, menekan dengan kuat bagian nadi Arsen yang terpotong agar perdarahan dapat dihentikan untuk sementara, setelah itu mereka langsung melarikan Arsen ke rumah sakit.
"Untung Anda membawa Tuan Arsen ke rumah sakit tepat waktu, sehingga pendarahannya bisa kami hentikan dan dia bisa selamat," ucap seorang dokter yang berhasil menyelamatkan nyawa Arsen.
End of flashback
***
Daniel mengambil nafas lega, begitu mendengar Johan menceritakan kondisi Arsen kepadanya. Biar bagaimana pun, Daniel sudah memaafkan Arsen walaupun dia masih butuh waktu untuk menerimanya sepenuh jiwa sebagai ayah kandungnya.
"Apakah Anda ingin menemui ayah Anda, Tuan?" Johan memberanikan diri untuk bertanya. Sungguh, melihat reaksi Daniel ketika mendengar bahwa Arsen memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hanya agar bisa mengembalikan pengelihatan Daniel, Johan sudah bisa menangkap bahwa rasa cinta seorang anak kepada ayahnya itu benar-benar nyata.
"Bagaimana, Tuan? Apakah Anda ingin menemui Tuan Besar sekarang?" Johan mengulangi pertanyaannya, setelah menunggu jawaban Daniel tak kunjung tiba.
Daniel terlihat berpikir keras. Sekelumit ragu kini menguasai hatinya. Bahkan, antara benci dan cinta, sungguh menjadi tak ada batasnya. Akankah Daniel langsung menerima Arsen kembali setelah semua pengorbanan yang coba dia berikan demi kebahagiaan dan masa depannya yang panjang?
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Hallo guys. Kasih bintang 5 dong. Like, dan vote juga yah. Terima kasih.