METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jealous


__ADS_3

Alunan nada yang berceceran dari mulut Ryan masih membahana memenuhi mobil yang ditumpangi mereka. Ryan masih saja menertawakan istrinya yang sampai secinta itu dengan makanan yang paling dibencinya, hingga akal sehatnya tidak bisa menerima, bagaimana bisa makanan seperti itu terus menari di benak istrinya.


“Ketawa aja terus,” Rani bersungut kesal.


“Habis kamunya lucu banget, Sayang,” Ryan masih terus tergelak.


“Kalau masih tertawa terus Rani keluar loh,” ancam Rani sambil memegang handel pintu di sebelah tempat duduknya. Kini matanya menatap tajam suaminya, seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak main-main dengan semua ucapannya.


“Ampun-ampun, Sayang. Mas nggak tertawa lagi deh. Janji,” dengan susah payah Ryan menahan tawanya.


Rani pun hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Dalam urusan makanan, memang mereka sangat jauh berbeda. Rani suka makanan cenderung manis, Ryan suka makanan cenderung asin. Rani suka minuman manis, Ryan hanya minum air putih atau sesekali juice buah. Rani pecinta junk food, Ryan sangat anti dengan junk food. Dan masih banyak lagi rentetan makanan yang selera mereka sangat jauh berbeda. Satu-satunya makanan yang mereka suka secara bersamaan hanya cokelat dan sea food juga makanan pedas. Selain itu, dijamin mereka harus berdebat dulu jika harus memilih tempat makan.


“Kita sampai!” seru Ryan dengan riang, begitu mereka sampai di gerbang utama kediaman mereka.


Setelah mobil terpakir cantik pada tempat yang sudah tersedia, Ryan pun turun dan bergerak memutar membukakan pintu untuk istrinya. Sementara di depan pintu, Bik Tum setengah berlari menghampiri mereka dan mengambil barang bawaan majikannya, disusul Aghata dan Daniel yang keluar demi menyambut kedatangan dua sijoli itu.


“Bagaimana bulan madu kalian, Sayang?” tanya Aghata menggoda.


“Mommy siap-siap aja, pasti bentar lagi akan menggendong cucu. Kami sudah bekerja keras, Mom. Pasti cucu Mommy lagi OTW sekarang,” jawab Ryan enteng sambil berjalan masuk dengan merangkul Daniel hingga ikut berjalan bersamanya. Sementara Aghata, menghampiri dan merangkul Rani yang mukanya sudah merah merona karena ucapan konyol suaminya.


“Ihh, bikin jealous aja. Dasar pengantin baru rasa lama. Eh, pengantin lama rasa baru,” ceracau Daniel sambil bersungut kesal. Kini mereka duduk berempat di sebuah sofa empuk yang terletak di ruang tamu rumah itu.


“Makanya cari calon istri sana!” gumam Ryan sambil menghampiri Rani dan mencium kepalanya berkali-kali, seolah ingin membuat si jomblo yang ada di depannya itu semakin kepanasan dengan kelakuan mereka.


“Cih, manas-manasin lagi,” Daniel membuang muka.


“Makanya kamu segera cari pasangan, Nak!” Aghata ikut nimbrung.


“Dulunya aku pernah mau merebut Kakak Ipar dari tangan Ryan, Mom. Ehh, ternyata dia anak Mommy juga. Nggak jadi deh,” ucap Daniel tanpa beban.

__ADS_1


Ryan yang mendengar ucapan Daniel langsung membelalakkan mata dengan tatapan membunuhnya. “Apa kau bilang?” pekiknya. Ingatannya pun kembali ke sebuah masa, dimana waktu itu Rani menyusulnya ke luar kota hingga akhirnya mereka kehilangan janin mereka. Saat di rumah sakitlah, Ryan mulai tak suka melihat cara Daniel menatap istrinya. Dan ternyata oh ternyata, hari ini Daniel mengakui semuanya.


“Santai bro, itu kan dulu. Makanya sekarang cariin aku istri biar ada pengalihan,” Daniel mengerlingkan matanya.


“Ambil aja itu salah satu pekerja Cafe plus-plus-mu!” enteng, Ryan menanggapi permintaan Daniel.


“Gila apa? Lagian ini Johan dalam proses pengalihan para pekerja itu ke pekerjaan wajar lainnya. Jangan ragukan aku, aku benar-benar menyesal,” seketika suasana jadi berubah menegangkan.


“Sudah-sudah. Mending kita cari calon istri buat Daniel aja. Jangan bahas masalah lain,” Rani yang merasa tidak enak, berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Memang nggak ada satu gadis pun yang nyantol di hati kamu gitu, Niel?” tanya Ryan serius.


Mata Ryan menatap Daniel dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Cukup tampan juga sebenarnya. Mungkin selama ini dia lebih disibukkan dengan urusan dendam sehingga tak ada waktu untuk mencari pasangan untuk dirinya sendiri," batin Ryan.


“Sebenarnya ada. Tapi dia susah banget dideketinnya. Dan kelihatannya hanya kalian berdua yang bisa membantuku,” cicit Daniel sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Daniel terlihat ragu, bahkan dia mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar kemudian berkata, “Supir pribadimu.”


“Naja?” sekali lagi, Ryan, Rani dan Aghata berseru bersamaan.


“Cari yang lain!” di luar dugaan, kalimat itu yang keluar dari bibir Ryan.


“Kenapa? Apa karna dia adalah agen mata-mata perusahaanku yang akhirnya berkhianat kepadaku dan berjanji setia kepada Papa Prabu?” Daniel memandang Ryan dengan lekat.


"Apa maksudmu, Daniel?" Ryan bertanya seolah-olah tidak mengerti dengan semua hal yang diucapkan Daniel kepadanya.


"Apa harus aku ulang? Tidak mungkin kamu tidak tahu kan? Ayolah, Bro. Jika memang kalian menganggapku bagian dari keluarga ini, lepaskanlah dia dan biarkan dia berjanji setia lagi kepadaku sebagai istriku," pinta Daniel penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah, biarkan aku bicara kepadanya. Tapi mau atau tidak dia jadi istrimu, biar dia yang memutuskan," Ryan menghela nafas panjang, sementara Rani dan Aghata hanya menjadi pendengar setia, tidak mengerti dengan apa yang kedua pria itu maksudkan.


"Agen mata-mata? Naja?" pertanyaan demi pertanyaan kini berkecamuk dalam benak Rani.


***


Dunia politik dan dunia bisnis memang tak selalu bersahabat. Tak ada kawan, tak ada lawan, karena kawan bisa saja menjadi lawan begitu pula sebaliknya, lawan sangat bisa menjadi kawan.


"Agen mata-mata perusahaan?" pekik Rani begitu Ryan menceritakan perihal Naja dan Pak Rudi kepadanya, sesaat setelah mereka kembali ke dalam kamarnya.


"Mereka ada di dunia nyata? Bahkan di antara mereka bekerja untuk kita?" Rani menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya. Selama ini dia hanya tahu bahwa semua hal itu sungguh-sungguh ada, tidak hanya di novel-novel atau juga di film laga, tapi tidak menyangka semua itu sungguh berada di dekatnya.


"Begitulah," Ryan menjawab dengan santainya.


"Bebaskan mereka, Mas. Uruslah perusahaan dengan fair, agar hasilnya juga lebih berkah untuk kita dan anak-anak kita kelak," tutur Rani hati-hati. Dia sungguh buta urusan bisnis. Yang dia mengerti hanya kejamnya dunia politik.


"Mereka tak akan mau," elak Ryan.


"Terus urusan Naja dan Daniel bagaimana?" cicit Rani.


"Permintaan Daniel tak sesederhana yang kau pikirkan. Biar bagaimanapun, Naja adalah orang kepercayaan Daniel yang telah berkhianat kepadanya. Kamu pikir Daniel sungguh menginginkan Naja sebagai istrinya tanpa meminta Naja bertanggung jawab sedikitpun dengan apa yang telah dilakukannya?" jelas Ryan, yang membuat Rani terlihat berpikir keras.


"Kita serahkan semua pada Naja saja, Mas. Dia yang akan menjalaninya bukan? Beri kesempatan kepada Daniel untuk membuktikan keseriusannya dan meyakinkan Naja," usul Rani, yang langsung di setujui oleh Ryan.


BERSAMBUNG


❤❤❤


**Jangan lupa like, vote, rate 5 dan comment positifnya yaa.

__ADS_1


Terima kasih**


__ADS_2