
Di sebuah kamar berukuran tujuh kali delapan meter itu, Sesil yang kini seolah sedang berada di hari pembalasan pun hanya bisa menangis dengan posisi kaki dan tangan terikat yang semakin membuatnya merutuki diri atas kebodohan yang telah dia lakukan selama ini.
Dengan sendu, ditatapnya satu per satu orang yang telah dia khianati itu. Ryan, Arya, Daniel, Rudi dan Johan, kini sedang menatapnya dengan amarah yang begitu terlihat dari sorot matanya.
"Maafkan saya, Tuan. Kasihanilah saya dan janin yang kini berada dalam kandungan saya," Sesil menangis sejadi-jadinya.
"Maaf, katamu? Bahkan kau telah membuatku hampir kehilangan nyawaku, Sesil. Hanya pertolongan Allahlah yang membuatku masih bisa hidup sampai detik ini. Dan sekarang, kau minta aku untuk memaafkanmu? Mudah sekali kau berbicara. Bahkan tak sungguh tak terhitung berapa besar kerugian perusahaan yang harus kutanggung hanya karena kau dan nafsu bej*tmu itu. Kau tahu berapa kerugianku? Gajimu selama seratus tahun pun tak akan bisa menutup besarnya kerugian yang harus aku lepaskan," oceh Ryan sambil menatap Sesil dengan tajam.
"Ampun, Tuan. Ampuni saya. Jika Anda tidak kasihan kepada saya, kasihanilah anak saya, Tuan. Dia tidak berdosa dan tidak salah apa-apa. Karena itu, Tuan. Apapun akan saya lakukan asalkan Anda mau berbelas kasihan kepada saya," Sesil terus memohon dengan segala penyesalan di hatinya.
Sebenarnya Sesil sudah merasa jika dia hanya diperalat oleh Felix Adinata. Tapi setiap kali Felix datang dan merayunya di atas ranjang, Sesil kembali termakan rayuan dan kembali menuruti Felix dengan segala keinginan dan obsesinya.
"Aku akan memikirkannya ulang, jika kau betul-betul melakukan apa yang aku perintahkan, Sesil. Sebenarnya, bukan materi yang ingin aku kejar. Karena kerugian Green Canyon ini belum ada artinya jika dibandingkan dengan harta benda yang telah Papa wariskan. Kau tahu Sesil, aku bisa saja melakukan apapun yang kumau kepadamu, termasuk Felix. Tapi aku masih ingin berbaik hati kepadamu, jika kau benar-benar insaf dan ingin berbalik membantuku," Ryan mencoba untuk memberi penawaran.
"Saya terima tawaran Anda, Tuan. Saya akan bekerja sama dengan Anda, asalkan Anda mengampuni saya dan membiarkan saya juga bayi saya tetap bisa hidup dengan layak, Tuan," tanpa berpikir panjang, Sesil langsung menerima tawaran yang Ryan berikan.
"Ingat, Sesil. Aku tak menerima pengkhianatan. Kau sudah kuberikan kesempatan sekali dengan pengkhianatanmu itu aku maafkan. Dan kau harus tahu, aku tak akan segan-segan membuatmu menjadi orang yang paling menyesal, jika kau macam-macam. Bukan hanya kau dan anakmu itu yang akan hancur di tanganku, tapi juga Felix yang akan kubuat hancur, melebihi bagaimana aku membuat perusahaan Adinata yang hancur berkeping-keping setahun yang lalu saat Felix mengganggu istriku," ucap Ryan lagi terlihat sangat garang.
"Ingat Sesil, aku punya banyak mata dan telinga. Anak buahku yang mengawasimu tersebar dimana-mana. Jadi sekali kau bermain-main denganku, bisa kupastikan saat itu juga anak buahku akan bekerja untuk menghancurkamu," lanjut Ryan, kemudian berpaling ke arah Indra dan Zara.
"Saya mengerti, Tuan," ucap Sesil dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Indra dan Zara, jelaskan apa yang harus dia lakukan dan apa saja yang tidak boleh dia lakukan! Kita akan lihat, seberapa besar dia berusaha untuk mengembalikan kehormatannya, atau justru memilih menjadi budak nafsunya," cicit Ryan, kemudian memberikan isyarat pada Arya untuk membawanya keluar meninggalkan kamar Indra yang kini ditempati Sesil.
"Siap, Tuan," jawab Indra dan Zara secara bersamaan.
Mendengar kalimat terakhir Ryan yang ditujukan kepadanya, membuat Sesil merasa menjadi orang yang paling hina di dunia.
"Kita akan lihat, seberapa besar dia berusaha untuk mengembalikan kehormatannya, atau justru memilih menjadi budak nafsunya," kata-kata Ryan terus berputar-putar di benaknya.
"Sehina itukah aku hingga budak nafsu disematkan untuk memberi predikat kepadaku?" gumam Sesil dalam hati.
Sesil pun terus tergugu. Walaupun cintanya kepada Felix melebihi apapun di dunia, tapi rasa malu akan predikat yang disematkan kepadanya membuat Sesil berada dalam dilema.
"Aku ingin sekali menikahimu, Sayang. Tapi aku sudah berjanji pada diriku, aku tak akan menikah sebelum obsesiku tercapai. Dan hanya kau yang bisa membantuku mencapai obsesiku itu," kalimat Felix yang lain terus terngiang-ngiang.
Perkataan Ryan dan Felix yang terus muncul secara bergantian, membuat kepala Sesil pusing dan berputar-putar. Hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba semua terasa gelap, dan Sesil tak ingat lagi apa yang terjadi dengan dirinya saat itu.
***
Felix terus berselancar dengan ponsel canggih miliknya. Ditekannya icon hijau itu berkali-kali, berharap Sesil segera memberi kabar dimana dia saat ini. Tapi usahanya tak berarti sama sekali. Sesil tak mengangkat teleponnya, tak juga membalas pesan yang dia kirim untuknya.
"Dimana kamu, Sesil? Kenapa kamu tak merespon telepon dan pesanku?" gumam Felix sambil berjalan ke mobilnya.
__ADS_1
Ya, saat ini Felix sedang menuju ke rumah Sesil, berharap wanita yang selama beberapa bulan terakhir telah dia peralat itu masih tidur dengan cantik di tempat tidurnya.
Keresahan Felix ini bukan karena dia mencintai dan mengkhawatirkan wanita yang telah sering menemaninya melewati malam-malamnya, tapi karena rasa khawatir Felix bahwa Sesil tak akan lagi bisa menjadi alat untuk menghancurkan Ryan Dewangga dan merebut Arania Levana dari tangannya.
"Kau terlalu bodoh hingga begitu mudahnya kuperalat untuk dendam dan obsesiku, Sayang. Tapi aku benar-benar suka dengan kebodohanmu itu," Felix terkekeh sambil melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang tak begitu ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Karena Felix terhindar dari kemacetan, dalam waktu singkat pun dia sudah sampai di rumah Sesil. Karena memegang kunci cadangan, dengan mudah Felix pun berhasil membuka pintu gerbang dan membuka pintu utama, hingga bisa segera masuk dan langsung menuju kamar utama tempat semalam mereka bercinta.
"Sil, Sesil! Dimana kau, Sayang? Aku merindukanmu. Apakah kau tak ingin menyambutku?" Felix memanggil-manggil Sesil begitu tak menemukan wanita itu di kamarnya.
"Sil, Sesil! Dimana kau, Sayang?" panggil Felix lagi.
Karena tidak menemukan wanitanya di dalam kamar utama, Felix pun bergerak ke kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, bahkan ke bagian belakang rumah itu.
"Tak ada dimanapun. Kemana sih dia?" Felix mulai kesal karena tak juga bisa menemukan Sesil di rumahnya.
Hingga tiba-tiba, Felix pun berinisiatif untuk memeriksa rekaman CCTV di rumah itu, namun lagi-lagi dia tak menemukan hal janggal pada rekaman CCTV yang sedang dilihatnya.
"Apa dia sudah berada di kantornya? Huh, ya, ya, ya, sebaiknya aku menelpon ke kantornya untuk memastikan apakah dia sudah berada di sana," Felix bermonolog, sambil berselancar mencari nomor Dewangga Group menggunakan benda pipih canggih miliknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1