
Rani masih saja memasang muka masam saat dia menyantap makanannya. Dia sungguh tidak habis pikir, kenapa Naja begitu berlebihan ingin melindunginya. Mungkin karena titah papa mertuanya yang membuatnya ingin sempurna dalam melakukan pekerjaannya. Namun jika berpikir bahwa setiap saat akan ada orang yang mengancamnya bahkan sampai meracuninya seperti di novel-novel atau drama-drama yang dia baca, agaknya terlalu berlebihan.
"Lain kali jangan ulangi lagi. Aku nggak suka," gerutu Rani sambil tetap menyantap tenderloin steak di hadapannya.
"Harus, Nona," Naja menjawab dengan santainya sambil melahap steak miliknya.
"Kalau begitu jelaskan kepadaku dan jangan sekali-kali bilang hanya papa mertuaku yang berhak menjawabnya," Rani mematap Naja tajam. Kini dia meletakkan pisau dan garpunya di atas hot plate dan menghentikan aktifitas makannya.
"Begini, Nona. Saat ini banyak Anggota Dewan yang Sumbu otaknya sangat pendek. Mereka tidak mampu menjangkau gagasan-gagasan besar karena kapasitasnya yang terbatas. Yang berdaulat dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana cara memburu kepentingan sesaat dengan segala cara dan upaya. Oleh karena itu, Anda yang dikenal sebagai politikus yang berwawasan luas, berintegritas, dan punya rasa tanggung jawab tinggi untuk membela rakyat justru terancam kandas karena akan ada banyak pihak yang merasa kedudukannya tergoyahkan oleh ketokohan Anda," Naja mencoba menjelaskan dengan bahasa yang tidak secara langsung bisa ditangkap nonanya.
"Baiklah, mungkin banyak kawanku yang juga musuhku. Bahkan banyak yang membenci posisiku di dunia politik. Tapi tidak seekstrim itu juga, Naja. Kamu jangan samakan aku dengan tokoh-tokoh di film action yang mungkin pernah kamu tonton. Ini dunia nyata. Bukan dunia novel atau dunia film laga," jawab Rani, mulai mengerti arah pembicaraan Naja.
"Kalau begitu drama penculikan Anda ketika itu, juga terbunuhnya Diego dan penyanderaan Lena hanya ada di cerita Novel, Nona?" skakmat Naja, yang sukses membuat Rani diam seribu bahasa.
"Baiklah. Suka-suka kamu aja," akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir mungil Rani.
"Saya rasa, sekarang Anda sudah mengerti maksud saya, Nona," gumam Naja dalam hati, melihat sikap Rani yang terlihat tidak berniat mendebatnya lagi.
Mereka menghabiskan makanan mereka dalam diam. Setelah membayar tagihan di kasir, Rani keluar menuju mobil. Terlihat Naja sudah membuka pintu bagian belakang dan menunggu Rani menaiki mobilnya. Kali ini Rani tidak berniat mengerjai supir kutub es nya lagi. Dia lebih memilih masuk melalui pintu yang di bukakan Naja dan duduk di kursi penumpang.
"Terima kasih karena tidak mengerjai saya lagi, Nona," batin Naja.
Tanpa menunggu perintah, Naja langsung melajukan mobilnya begitu saja. Tidak perlu bertanya kepada nonanya terlebih dahulu, dia mengarahkan mobilnya ke Thalassemia Center dengan pedenya.
"Apa aku juga telah memberitahumu bahwa setelah makan siang aku akan ke tempat ini, Naja?" tanya Rani penuh selidik. Dia sangat yakin bahwa dia belum memberitahu Naja sebelumnya.
__ADS_1
"Betul, Nona," jawaban singkat Naja untuk menutupi kebohongannya.
Jika tidak ada agenda penting yang membutuhkan waktu hingga sore di kantornya, setiap hari memang Rani hanya ke kantor setengah hari, kemudian makan siang dan langsung menuju Thalassemia Center. Setelah dari Thalassemia Center, baru Rani melaksanakan berbagai macam kegiatan baik yang sudah terjadwal maupun belum terjadwal.
Seperti sore itu, selepas dari Thalassemia Center, untuk pertama kalinya Naja bertanya kepada Rani, "Sekarang kita kemana, Nona?"
Rani tidak menjawab. Dia diam saja mencoba menebak apakah Naja juga mengetahui setelah dari Thalassemia Center dia hendak kemana lagi. Selama beberapa saat Rani menunggu, namun Naja tak juga melajukan mobilnya.
"Ayo tunggu apalagi?" Rani mencoba memancing Naja.
"Kita hendak kemana, Nona?" Naja mengulang kembali pertanyaannya.
"Ohh, kirain kamu juga tahu setelah ini kita mau kemana. Ya sudah, kita pulang saja. Aku butuh istirahat," Rani menyamankan posisi duduknya kemudian memejamkan mata.
Selama dalam perjalanan, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Rani begitu menikmati tidurnya, sementara Naja fokus mengendarai mobil itu. Hingga sebuah nada dering dari ponsel Rani sama-sama mengagetkan mereka.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Rani begitu menekan tanda hijau pada ponselnya. Rupanya saat itu Ryan yang menghubunginya melalui panggilan video.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu dimana?" Ryan memberikan senyum termanisnya begitu wajah istrinya muncul di layar handphone miliknya.
"Rani di mobil, Mas. Lagi mau pulang,"
"Mas juga sudah mau selesai ini. Bagaimana kalau kita bertemu di tempat biasa?"
"Baik. Rani tunggu di sana ya. Mas Ryan jangan lama-lama. I love you,"
__ADS_1
"Iya, Sayang. I love you too,"
Mendengar percakapan majikannya, tanpa komando Naja langsung memutar balik arah mobilnya menuju Cafe favorit tempat Ryan menembak istrinya ketika itu.
"Aku yakin kau bukan sekedar supir pribadi, Naja. Ternyata kau juga tahu tempat favoritku dan Mas Ryan," batin Rani dalam hati, begitu menyadari bahwa Naja sudah melajukan mobilnya ke arah Cafe yang dimaksud Ryan.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, mereka telah sampai di sebuah Cafe yang terletak di pinggiran kota X.
Seperti sudah menjadi candu, setiap Rani sampai di tempat itu dia selalu menyapu pandangan ke sekelilingnya. Dia selalu menikmati Cafe yang mengusung konsep kekinian dan sengaja menampilkan interior yang artistik itu. Saat masuk, belum ada yang berubah. Mereka disuguhi dengan suasana lorong dengan arsitektur yang unik. Konsep yang selalu saja membuat Rani jatuh hati, meskipun sudah datang ke tempat itu berkali-kali. Di tambah live alunan musik yang menyenandungkan lagu-lagu romantis, menyempurnakan tempat itu sebagai Cafe berkelas yang elegan.
Kali ini Rani membiarkan Naja duduk pada meja tersendiri, karena sebentar lagi Ryan akan datang menemuinya.
"Macchiato satu, matcha green tea latte satu, banana roll satu dan guioza de legumes satu. Untuk asisten saya biar pilih sendiri makanannya," pesan Rani kepada pelayan yang menyodorkan daftar menu kepadanya. Setiap datang ke tempat itu, Rani dan Ryan memang selalu memesan menu yang sama.
Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, Rani bermain-main dengan benda pipih canggih miliknya. Dilihatnya jam pada benda itu berkali-kali, sudah sekitar dua puluh menit dia menunggu namun Ryan belum juga sampai ke tempat itu. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.
"Sayang, kenapa lama sekali?" Rani berucap sambil membalikkan badannya.
Namun mendapati siapa yang datang, Rani langsung merubah ekspresi wajahnya. Sementara itu, Naja yang melihat situasi tegang di meja nonanya langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyingkirkan tangan dari atas pundak Rani dengan kasar.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Bagi jempol dan vote-nya dong guys. Biar authornya tambah semangat. Kasih bintang 5 dan comment positifnya juga. ok?
__ADS_1