METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Merintih Sendirian


__ADS_3

Bias sinar mentari yang masuk melalui celah tirai jendela kamar itu, membangunkan Rani dari lelap sesaat. Burung-burung yang mulai berkicau riang pun seolah mengajak jiwa-jiwa manusia menjalani hari baru di bawah cerahnya langit yang membiru. Begitulah cara Sang Khalik mengingatkan seluruh penduduk bumi, bahwa hari kemarin telah berlalu. Dan entah hari itu berlalu dengan indah atau tidak, yang jelas tak ada seorang pun yang mampu mengulang waktu.


Pagi itu Rani meyakinkan diri, bahwa Yang Maha Membolak-balikkan Hati pasti akan selalu mengasihi. Seburuk apapun hari yang telah dia lalui, pasti ada harapan di hari esok yang akan dia lewati. Ya, kini sinar yang berkilauan itu mulai menyapu mata sembab Rani, yang menampung air tergenang di sana semalaman. Bagaimana tidak? Semalam suntuk dia menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Entah pergi atau pulang, yang jelas Ryan telah membiarkan Rani tidur di kamar hotel itu sendirian.


Rani memejamkan mata, mengingat semua yang terjadi malam itu secara tiba-tiba.


Flash back


“Oke, semua sudah sempurna. Tinggal kau duduk manis di sini, akan kuberi tahu pangeranmu kalau kau sudah siap,” kata Lena kepada Naja, sambil menarik tangan Rani dan beranjak pergi dari kamar hotel yang kini disulap menjadi kamar pengantin itu.


Rani dan Lena pun akhirnya keluar, hendak menghampiri pengantin laki-laki dan menyuruhnya segera masuk ke dalam kamar. Namun sebelum mereka sampai ke ruangan dimana para suami masih betah menghabiskan malam, tiba-tiba Hengky datang.


“Ran,” sapa Hengky tanpa beban.


“Mas Hengky kenapa baru datang? Pestanya sudah selesai,” Rani bertanya dengan mengerutkan dahinya.


“Bukannya begitu. Ini lagi mau pulang. Habis ngobrol sama Tuan Daniel dan suamimu tadi. Kebetulan saja kita bertemu disini,” jelas Hengky santai.

__ADS_1


“Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu. Aku panggil Daniel ya, Ran,” Lena langsung berlalu, meninggalkan Rani dan Hengky berduaan.


“Tunggu aja Len. Aku Cuma sebentar kok,” seru Rani, sayang Lena sudah terlanjur pergi.


“Kita lanjut besok di kantor saja ya, Mas Hengky. Tidak enak ngobrol berdua di sini,” cicit Rani, yang segera ditanggapi anggukan oleh Hengky.


Rani pun segera pamit dan bergegas meninggalkan Hengky untuk meminimalisir fitnah yang mungkin saja akan terjadi, mengingat perasaan Hengky kepada Rani sudah bukan rahasia lagi. Namun entah karena sakit atau kecapekan, tiba-tiba Rani merasakan matanya berkunang-kunang. Rasa lemas pun tiba-tiba datang dan akhirnya dia kehilangan keseimbangan. Hengky yang melihat Rani tiba-tiba berhenti dan tubuhnya sedikit oleng pun tidak berpikir panjang. Hengky langsung menghampiri Rani dan menangkap tubuh itu, dan secara spontan merangkulnya untuk mendudukkannya di atas sofa yang kebetulan terletak tak jauh dari mereka berada.


Di saat itulah, Ryan muncul dari dalam. Sayangnya, dia tidak melihat kejadian itu secara keseluruhan. Ryan hanya melihat dari arah belakang. Pemandangan dimana istrinya sedang duduk berduaan di sebuah sofa, dengan tangan Hengky yang masih bersarang manis di bahunya itulah yang terekam di benak Ryan, hingga dia naik pitam.


“Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku, hah?” seru Ryan dengan tatapan matanya yang tajam. Bayangan pesan demi pesan yang saling mereka kirimkan dalam sebuah percakapan whatsapp waktu itu pun segera hadir dalam ingatan Ryan bagai slide yang berputar-putar. Apalagi ketika mengingat cerita beberapa teman yang mengatakan bahwa Hengky sempat melukai diri saat mengetahui kabar pernikahan dirinya dengan Rani, membuat apa yang dilihatnya saat itu seolah-olah membenarkan rahasia umum yang banyak orang ketahui selama ini.


“Mas! Mas Ryan!” Rani terus memanggil suaminya, namun Ryan tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.


“Biar aku kejar dia, Ran,” Hengky beranjak dan bersiap mengejar. Namun sayang, Rani melarangnya.


“Tidak usah, Mas. Mas Hengky pulang saja. Nanti juga Mas Ryan akan datang. Biar Rani saja yang menjelaskan,” pinta Rani dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Hengky pun akhirnya pamit pulang dan meninggalkan Rani duduk di tempat itu sendirian. Setelah Hengky berlalu, Rani langsung menuju ke kamar hotel yang telah disediakan khusus untuknya, dengan harapan Ryan akan segera kembali hingga semua yang terjadi bisa dia jelaskan dan Ryan akan mengerti.


Dengan segala rasa yang bergemuruh di dalam hatinya, Rani terus menunggu dan menunggu. Namun rupanya suaminya itu benar-benar telah dipenuhi dengan api cemburu. Sampai pagi datang pun, Ryan benar-benar tidak kembali pulang, sementara handphone-nya juga dengan sengaja tidak diaktifkan. Alhasil, yang ada hanyalah Rani yang meratapi kesedihannya sendirian. Tak ada seorang pun yang datang menguatkan, karena tak seorang pun dari keluarganya yang tahu tentang kejadian tak terduga yang terjadi padanya semalam.


End of flash back


***


Pagi itu, Rani sungguh tidak sedang baik-baik saja. Banyaknya beban yang dipikirkannya membuat kepalanya terasa semakin berat, mungkin akibat dia menangis semalaman dan tidur yang hanya sebentar. Tubuhnya juga terasa lemas, ditambah lagi rasa capek yang luar biasa karena persiapan pernikahan Daniel dan Naja, membuat beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri terutama di bagian pinggang dan perutnya.


Rani merintih sendirian. Dia mencoba menelphon suaminya, handphone tak kunjung diaktifkan. Menghubungi Lena jelas tidak mungkin mengingat dia sedang hamil besar, menghubungi Naja apalagi. Rani benar-benar tahu apa yang sedang terjadi dengan sepasang pengantin baru itu. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Rani memutuskan untuk menghubungi Mama Davina, yang kebetulan malam itu ikut bermalam di hotel yang sama bersama dengan Mommy Aghata.


Dengan mata yang sudah semakin berat, Rani segera berselancar dengan benda pipih miliknya, dan menekan icon bewarna hijau setelah nama sang mama tertera di sana. Namun belum sempat Rani mendengar mama yang berada di balik telphon menjawab panggilannya, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Tubuhnya seolah melayang, hingga akhirnya semua menjadi gelap, dan tubuh yang biasanya energik itu tumbang dan ambruk begitu saja di tepi ranjang.


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


***Hai readers*.


Biar author semangat, kasih bintang 5 dong**.


__ADS_2