
Suasana rumah sakit hari ini, tak sehening hati seorang gadis berparas cantik, yang kini mengenakan gamis berwarna magenta serta hijab bunga-bunga dengan warna senada itu. Ada yang terasa sesak di dadanya, menunggu dua orang yang tiba-tiba dia khawatirkan sekaligus, belum juga ada kabar keadaannya.
Di depan ruang itu, beberapa bangku panjang yang kosong tak juga mengundangnya untuk duduk, hingga dia pun lebih memilih mondar-mandir saja menunggu dokter memanggilnya.
Namanya Nafisha Hasna, gadis semester akhir jurusan ilmu politik di universitas ternama di kotanya. Kecerdasannya di bangku SMA, membuat dia bisa kuliah dimana saja hanya dengan beasiswa.
Ayahnya meninggal sejak Fisha berusia tiga tahun, dan ibunya membesarkannya seorang diri hanya dari hasil kerja menjadi buruh cuci. Untung saja Fisha adalah gadis yang cerdas, hingga dari SD sampai SMA bisa mendapatkan sekolah negeri yang gratis tanpa biaya. Begitu juga setelah menamatkan sekolahnya, kecerdasannya yang di atas rata-rata bisa membuatnya mendapatkan beasiswa.
Kini, Fisha hanya tinggal menyelesaikan tugas akhirnya. Sayang, beberapa bulan terakhir ibunya sering mengeluh sakit di bagian perutnya. Fesesnya pun akhir-akhir ini mengeluarkan darah, hingga berat badannya semakin lama semakin turun.
Bingung, Fisha memutuskan untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Berbekal kartu Jaminan Kesehatan Nasional yang diberikan Pemerintah beberapa waktu lalu, Fisha pun dengan percaya diri membawa ibunya berobat ke rumah sakit milik Pemerintah, dimana banyak orang yang berharap bisa menyambung nyawa setelah di rawat di sana.
Namun sayang sungguh sayang, pihak rumah sakit mengatakan bahwa kartu itu sudah dinonaktifkan oleh Dinas Sosial. Aturan pun tak memperbolehkan orang miskin mendapatkan keringanan biaya pengobatan, sehingga jalan satu-satunya waktu itu adalah membawa ibunya pulang tanpa mendapatkan pelayanan.
Hingga di saat yang tepat, Fisha dan ibunya bertemu dengan Hengky, sang malaikat penolong yang menawarkan kebaikan hingga ibunya bisa mendapatkan perawatan.
Tapi sampai di situ tak membuat Fisha bisa tersenyum senang. Dari hasil pemeriksaan dokter, ibunya divonis mengidap kanker usus, yang diperkirakan dokter, berawal dari adanya tumor dari sel yang disebut polip adenomatosa.
"Jalan satu-satunya adalah mengangkat tumor itu dari usus besarnya," kata seorang dokter kepadanya.
Fisha pun bingung.
"Berapa biayanya, Dokter?" tanya Fisha yang begitu trauma jika berbicara masalah biaya.
"Untuk biaya, Tuan Hengky sudah menandatangani surat pernyataan bahwa dia akan menanggung semua biayanya, jadi Anda tinggal memberi persetujuan saja setiap kami akan melakukan tindakan kepada ibu Anda," jelas dokter itu menjawab kegelisahan Fisha.
Singkat cerita, akhirnya hari itu tiba. Hari dimana akhirnya sang ibu dioperasi untuk mengangkat tumor dari ususnya, dan akan dilanjutkan dengan kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang hidup di sana.
__ADS_1
Dan ternyata takdir Allah begitu indah, hingga hari itu, Fisha dipertemukan kembali dengan malaikatnya. Allah benar-benar menunjukkan kasih sayangnya, ketika ternyata orang yang bisa memberikan darah untuk ibunya adalah orang yang sama.
"Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengirimkan seorang malaikat untukku dan untuk ibuku," gumam Fisha dalam hati.
Dan kini, Hengky masih berada di dalam sana untuk diambil darahnya, sementara ibunya masih belum sadarkan diri karena hemoglobinnya yang terlalu rendah dan tak beranjak meninggi.
Setelah tiga puluh menit berlalu, akhirnya sang dokter keluar juga. Fisha pun mendekati dokter itu dengan tergesa.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Fisha tidak sabar.
"Alhamdulillah proses donornya sudah selesai. Tinggal proses transfusi kepada ibu Anda. Saat ini ibu Anda akan kami pindahkan ke ruang ICU, sampai kembali kesadarannya," ucap dokter itu tenang.
"Lalu tuan tadi bagaimana, Dokter?" tanya Fisha penasaran.
"Maksudnya Tuan Hengky?" dokter itu memperjelas pertanyaan Fisha.
"Iya, Dokter. Bagaimana keadaan Tuan Hengky?" Fisha mengulang pertanyaannya.
"Apakah itu berbahaya, Dokter?" Fisha terlihat sangat khawatir.
"Hal ini wajar terjadi. Dari sepuluh orang yang melakukan donor darah, satu diantaranya ada yang mengalami hal seperti ini. Tapi ini bukan hal yang serius, mengingat besar kemungkinan beberapa hari terakhir Tuan Hengky terlalu capek atau melakukan aktifitas malam," jelas dokter itu sambil tersenyum tipis.
"Apakah saya boleh menemuinya, Dokter?" tanya Fisha ragu.
"Tentu saja. Atas permintaannya, sebentar lagi Tuan Hengky akan kami pindah ke ruang VVIP agar bisa beristirahat sejenak di sana," lanjut dokter itu.
Tak berapa lama, sebuah ranjang beroda pun keluar dengan dua orang perawat yang mendorong dan menariknya. Di ranjang itulah Hengky terbaring dengan memejamkan mata. Tanpa pikir panjang, Fisha pun mengikutinya.
__ADS_1
"Toh ibu belum boleh ditemani selama dia belum sadarkan diri," pikirnya dalam hati.
Fisha segera mensejajarkan langkahnya dengan langkah dua perawat yang jalan dengan begitu cepatnya. Setelah sampai pada sebuah bangunan megah, khusus untuk ruang VVIP dengan nama ruang Ar rayyan bertuliskan angka 501, mereka pun berhenti sejenak, membuka pintu kemudian mendorong ranjang beroda itu mendekati ranjang pasien yang terletak di tengah-tengah ruang itu.
"Anda bisa turun untuk berpindah tempat tidur sendiri, atau perlu kami bantu, Tuan?" tanya seorang perawat kepada Hengky.
Tak ada sahutan sama sekali. Hengky masih terus memejamkan mata, tanpa peduli dengan tawaran yang diberikan perawat tadi. Dua perawat itu pun akhirnya mengangkat tubuh Hengky dan memindahkannya ke ranjang pasien agar dia bisa istirahat dengan lebih nyaman. Untung perawat yang mengantar Hengky dua-duanya laki-laki. Jika tidak, bisa dipastikan mereka akan kesulitan mengangkat tubuh kekar itu.
"Saya tinggal ya, Nona. Jika nanti Tuan Hengky terbangun, tolong panggil kami melalui tombol ini, biar kami antarkan makanan buat beliau," ucap seorang perawat, sambil menunjuklan sebuah benda yang terletak tepat di atas kepala ranjang.
"Baik," jawab Fisha sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa aku main bilang iya saja ya? Itu artinya aku harus menunggu sampai dia bangun," gumam Fisha dalam hati.
Fisha pun tak ambil pusing. Dia segera menarik sebuah kursi ke arah dekat ranjang pasien dan duduk manis di sana, sambil menunggu sampai pria yang kini ada di depannya bangun dari tidurnya.
Satu jam, dua jam, Fisha sudah mulai bosan. Ponsel jadul dalam genggamannya pun tidak bersahabat karena terlalu lemot untuk sekedar menonton youtube atau membaca novel online. Akhirnya Fisha pun tertidur, dengan posisi duduk dan menundukkan kepalanya di tepi ranjang.
Setelah satu jam berlalu sejak Fisha tertidur di tempat itu, Hengky terbangun. Dia menyipitkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk, kemudian mulai mengumpulkan kesadarannya dan menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang.
Setelah sadar dimana keberadaannya sekarang, pandangan Hengky beralih pada sosok yang kini sedang tertidur di kursi sebelah ranjangnya. Menyadari siapa yang berada di dekatnya, Hengky pun mengerutkan dahinya.
"Kenapa dia menungguiku dan tidur di situ?" batin Hengky dalam hati.
"Nona!" panggil Hengky, berusaha membangunkan Fisha.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Hallo, Kakak. Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Comment positifnya juga. Terima kasih.