METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Adeeba dan Tama


__ADS_3

"Mas Arya? Kamu?" Lena kaget sekaligus bingung melihat sosok pria yang baru saja menikahinya itu.


Entah kenapa saat Arya menyebutnya dengan panggilan Adeeba, hati kecilnya berharap bahwa suaminya adalah cinta impian masa kecilnya yang pernah meninggalkannya dulu dan telah berjanji akan menjemputnya suatu saat nanti.


"Kak Tama?" gumam Lena lirih.


Arya mengangguk pelan, menatap gadis kecil yang selama ini dicarinya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku adalah Kak Tamamu, Adeebaku," bisik Arya kembali, membuat tatapan mereka penuh arti. Kini mereka saling merengkuh, membuat seluruh yang hadir ikut trenyuh.


Tak lama kemudian, Arya meraih sebuah microphone dan mulai berbicara.


"Hari ini, Yang Maha Kuasa telah menunjukkan kuasaNya, dengan mempertemukan saya kembali dengan seorang gadis yang enam belas tahun lalu telah saya tinggalkan dengan sebuah janji," tutur Arya, sambil menatap Lena penuh cinta.


"Sejak lahir, kami ditakdirkan dengan derita dan kisah yang sama. Kami sama-sama tidak diinginkan oleh kedua orang tua kami, juga sama-sama ditinggalkan di sebuah panti asuhan tanpa bisa mengetahui jati diri kami," Arya melanjutkan ceritanya, kemudian menghentikannya sesaat karena dadanya tiba-tiba terasa sesak.


"Kami dibesarkan di sebuah panti asuhan yang meskipun penuh dengan kesederhanaan, tapi di sana kami menemukan kehangatan dan ketulusan. Di panti itu kami juga belajar tentang arti cinta dan kasih sayang, hingga perasaan untuk saling menjaga dan dijaga antara saya dan gadis kecil yang selalu saya lindungi ketika di panti dulu pun terjalin begitu saja. Saya yakin di usia kami yang masih sekecil itu bukan soal cinta sepasang kekasih, namun lebih kepada cinta seorang kakak yang selalu ingin melindungi adiknya," Arya terus bercerita, sambil menghela nafas panjang.


"Hingga suatu ketika, enam belas tahun lalu ketika usia gadis kecil itu 7 tahun dan usia saya 12 tahun, sebuah keluarga mengadopsi saya dan bersedia menjadikan saya sebagai anak mereka. Demi mengejar cita-cita, saya pun meninggalkan gadis itu dengan meninggalkan sebuah janji, saya akan menjemputnya saat saya sudah menjadi orang hebat dan akan menjaganya sepanjang hayat," Arya masih melanjutkan ceritanya, sementara semua orang yang hadir masih mendengar dengan seksama, sambil sesekali menyeka air mata haru yang lolos begitu saja dari ujung mata mereka.


"Tapi semua mimpi tinggallah mimpi. Orang tua asuh saya ternyata tak lebih dari orang bejat yang hanya ingin memanfaatkan saya agar bisa mencarikan uang untuk mereka. Saya dipaksa turun ke jalanan, pagi-pagi harus bekerja menjadi pengantar koran dan siang hingga sore saya harus menjadi penyanyi jalanan demi mengejar setoran yang telah orang tua asuh saya tetapkan. Hingga suatu hari, saat saya sibuk mengamen di sebuah lampu merah, seorang bidadari syurga terlihat begitu iba melihat saya mencari receh dengan bernyanyi di dekat jendela mobilnya," lanjut Arya, sambil tersenyum ke arah Mama Titania.

__ADS_1


"Bidadari itu adalah Mama Titania. Beliaulah yang waktu itu bertanya banyak tentang kehidupan saya, sampai akhirnya memutuskan untuk merawat saya setelah sebelumnya menebus saya dengan sejumlah uang yang diberikan kepada orang tua asuh saya. Sejak saat itulah saya berada di tengah-tengah keluarga Dewangga. Mereka merawat saya dan memperlakukan saya seperti anak mereka sendiri. Bahkan saya di sekolahkan hingga S2 di Universitas ternama di Amerika bersama putra kandung mereka, Ryan Dewangga," Arya mendesah kasar.


"Setelah saya lulus pun, keluarga Dewangga tidak rela melepas saya begitu saja. Mereka membuat saya menjadi orang hebat di Dewangga Group, hingga saya bisa menjadi orang seperti yang Anda semua lihat saat ini," tutur Arya kemudian.


"Dan ketika saya telah bisa hidup mandiri, saya kembali mencari gadis kecil di panti itu namun ternyata dia sudah pergi. Saya terus mencari tetapi jejaknya tidak bisa saya lacak lagi. Hingga beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk menikahi gadis lain, karena sebuah alasan yang sama dengan alasan saya berjanji dengan gadis impian masa kecil saya dulu. Saya ingin menjaganya dengan saya menikahinya,"


"Namun beberapa menit lalu, ketika sebuah nama harus saya ikrarkan untuk menjadi pendamping hidup saya, saya baru tersadar bahwa gadis yang saya nikahi adalah gadis kecil saya yang dulu. Dialah Adeeba. Dan inilah akhir dari kisah pilu Lena Adeeba dengan Arya Hutama, karena setelah ini saya yakin kami akan bahagia selamanya," Arya mengakhiri ceritanya dengan memeluk erat istrinya, yang diikuti oleh Mama Titania dan Mama Davina yang kini juga merengkuh mereka berdua.


Semua tamu yang hadir pun tak kuasa menahan haru biru yang muncul begitu saja saat mendengar kisah Adeeba dan Tama yang tak lain adalah Lena dan Arya.


Hari itu, semua yang hadir di pernikahan Lena dan Arya menjadi saksi, bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar. Allah sudah menyiapkan pasangan kita masing-masing, dan akan mempertemukan kita dengan jodoh kita bersama takdir cinta kita masing-masing.


Tak henti-hentinya Rani mengucap syukur atas semua yang mereka saksikan hari itu. Setidaknya dia bisa tenang, melihat Lena bertemu dengan cinta masa kecilnya yang akan menjadi penjaganya yang paling setia.


Meskipun rasa capek karena segala persiapan kilat harus rela dilakukannya, namun semua terbayar lunas hanya dengan melihat Lena dan Arya bahagia.


"Kita pulang yuk, Sayang. Arya dan Lena juga langsung pulang ke apartemen mereka. Mungkin mereka sudah tidak sabar melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu," ajak Ryan, yang masih mendapati istrinya bermalas-malasan di tempat tidur.


"Kita nginep di sini semalam aja boleh ya, Mas. Rani kangen kamar ini. Sejak kita menikah kita belum pernah tidur di kamar ini sekalipun," rengek Rani seperti anak kecil, sambil menarik-narik ujung baju suaminya dengan manja.


"Kalau udah manja begini, gimana Mas bisa nolak coba? Nggemesin tau," jawab Ryan, yang tidak pernah bisa menolak jika istrinya sudah bermanja seperti itu.

__ADS_1


"Boleh? Yes," seru Rani girang.


"Jangan senang dulu. Seperti biasa Mas minta bayarannya malam ini juga," ucap Ryan sambil tersenyum licik.


"Seperti biasa, ambillah bayaran sebanyak yang Mas Ryan mau," jawab Rani sambil menepuk kedua pipi suaminya dengan pelan.


Ryan pun menempelkan keningnya pada kening istrinya. Ketika mata mereka bertemu, ada denyar cinta di sana. Hanya saja, tak ada kata cinta yang berani terucap. Mungkin karena mereka tak bisa mendefinisikan kesejatian cinta itu secara mutlak sehingga mereka enggan membuktikannya dengan kata-kata. Mungkin juga karena mereka tak siap menerima kenyataan seandainya cinta mereka masih bertepuk sebelah tangan.


Ahh, kenapa sulit sekali hanya untuk berterus terang.


"*Apakah harus kukatakan kalau aku mencintainya?" gumam Ryan dalam hati.


"Apakah dia mencintaiku seperti aku mencintainya? Ataukah dia masih mencintai masa lalunya?" batin Rani*.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹


Jangan lupa like, vote, favorit dan rate 5 ya...,


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2