
Menyadari bahwa adiknya berada dalam bahaya, Arsen pun tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah majikannya. Akhirnya dia menyerah dan membiarkan dirinya berada dalam dilema.
Tak butuh waktu lama bagi Arsen untuk sampai ke markas, tempat dimana dia diminta datang. Namun, sesampainya Arsen di sana, alangkah kagetnya dia melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Mira!" seru Arsen saat melihat adiknya tergeletak di lantai. Tangannya sudah tidak diikat, tapi Mira sama sekali tidak bergerak.
Melihat semua itu, Arsen langsung menangkap bahwa sudah pasti Mira telah diberi obat seperti kebiasaan majikannya ketika menginginkan seorang wanita secara paksa. Ya, selain sebagai seorang bandar narkoba, majikannya itu memang suka mempermainkan gadis-gadis belia. Dan apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan mereka. Jika mereka tidak menyerahkan diri mereka secara suka rela, dia akan menyuntikkan Rohypnol ke dalam tubuh mereka hingga persetubuhan itu dapat terjadi tanpa gadis-gadis itu mengingat satu hal pun yang terjadi pada mereka.
"Apa yang kau lakukan pada adikku, hah?" teriak Arsen murka.
Arsen berjalan secepat kilat menghampiri majikannya hendak membuat perhitungan. Tangannya sudah mengepal, seolah siap didaratkan pada wajah majikan yang menurut Arsen tidak bisa menjaga sebuah kesepakatan.
Namun sayang, sebelum pukulan Arsen mendarat manis di pipi sang majikan, Arsen sudah dihadang beberapa juru pukul yang tubuhnya kekar, hingga adu jotos pun tak bisa terelakkan. Tapi karena dari sisi jumlah maupun kekuatan Arsen dan mereka sungguh tidak sebanding, akhirnya Arsen tumbang begitu saja.
"Ha-ha-ha. Kau pikir semudah itu kau bisa pergi dariku, Anak Muda? Apa kau sudah lupa siapa aku?" suara itu menggelegar bersamaan dengan tangan dan kaki Arsen yang diikat di sebuah tiang.
Ya. Bagi seorang bos narkoba, menyatakan bergabung berarti bergabung selamanya, sehingga sebuah pernyataan ingin keluar dan tak lagi menjadi pengedar yang dikatakan Arsen berarti sebuah pengkhianatan. Waktu itu Arsen mengira majikannya masih punya hati, sehingga tawaran untuk melakukan tugas terakhir pun dia sepakati. Namun, aturan main tetaplah menjadi aturan yang harus dijalankan. Dan semua yang kini ada di hadapannya adalah sebuah konsekwensi dari sebuah pilihan.
"Bunuh saja aku jika kau mau, tapi jangan kau libatkan adikku. Lepaskan dia," teriak Arsen penuh amarah.
__ADS_1
"Kematian terlalu enak untuk seorang pengkhianat seperti dirimu, Bocah Tengil," sergah majikan Arsen dengan senyum sinisnya.
Tak lama, dia mendekati Mira yang kini tergeletak di lantai, persis di hadapannya. Mira yang sebelumnya telah disuntik dengan Rohypnol, sebuah obat yang telah banyak digunakan dalam tindak kejahatan berupa pemaksaan ****, karena menjadikan korbannya tidak mampu melawan sehingga bereputasi sebagai narkoba โperkosaan-kencan" itu, sudah begitu tidak berdaya.
Dia terbaring di lantai, matanya terbuka dan dapat melihat semua hal yang terjadi padanya, tetapi sama sekali tidak dapat bergerak, sehingga ketika bos narkoba itu mulai melepas satu per satu pakaian yang melekat pada tubuhnya hingga tak ada satu helai benang pun yang menutupi tubuh polos itu, sama sekali tak ada perlawanan dari Mira. Mira menerima setiap perlakuan si bos yang merenggut kesuciannya, bahkan dia tetap diam saja ketika satu per satu anak buah sang bandar narkoba menggilir dan menikmati tubuhnya.
"Jangan kau sentuh adikku! Lepaskan dia! Kumohon, lepaskan adikku. Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Kumohon!" Arsen yang melihat kejadian itu sengaja dipertontonkan di depannya pun hanya bisa berteriak-teriak seperti orang gila. Dia meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat tangan dan kakinya, tapi usahanya sia-sia. Dan kenyataan pahitlah yang harus dia terima, dimana kesucian adiknya direnggut dengan paksa di depan mata dan kepalanya.
"Kalian sungguh manusia-manusia biadap!" seru Arsen sambil tergugu.
Di detik-detik itulah Arsen mengingat sosok Aghata dan menyesali semua perbuatannya.
"Aku tahu, aku telah berdosa karena aku telah memperlakukan tubuh seorang wanita seenaknya, Ya Allah. Dan kini kau hukum aku dengan mempertontonkan terenggutnya kesucian adikku di depan mata dan kepalaku. Aku tahu aku berdosa, Ya Allah. Tapi jangan kau hukum juga adikku karena kesalahanku," gumam Arsen dalam hati. Bulir-bulir bening pun lolos dengan sempurna dari ujung matanya.
Setelah Arsen tidak berdaya, mereka melepas ikatan tali pada tangan dan kakinya, kemudian menaikkan tubuh Arsen dan Mira yang sama-sama lemah itu ke dalam sebuah mobil.
Mobil pun segera melaju. Dan setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka berhenti dan mengangkat tubuh Arsen dan Mira hingga ke tepi jurang. Mereka mengedarkan pandangan ke segala arah untuk memastikan bahwa situasi aman dari pandangan orang. Setelah semua dirasa aman, mereka langsung melempar tubuh Arsen dan Mira begitu saja ke dalam jurang.
Siapun yang tahu bahwa Arsen dan Mira jatuh dari tempat securam itu pasti mengira bahwa nyawanya tidak dapat di selamatkan. Namun karena sebuah pertolongan, Allah mentakdirkan mereka untuk bisa hidup lebih lama.
__ADS_1
Ya, untungnya waktu itu ada seorang warga yang menemukan dan merawat mereka di rumahnya, sehingga mereka belum digariskan untuk meregang nyawa.
Meskipun, karena insiden itu Arsen harus rela tidur di atas ranjang hingga dua bulan akibat luka yang menciderai dirinya, sementara Mira mengalami amnesia juga kelumpuhan, padahal karena tragedi pemerkosaan itu telah tumbuh janin dalam kandungannya.
End of flashback
***
"Sejak saat itulah kami tinggal di tempat ini, bersama orang yang telah menyelamatkan kami. Bahkan sampai pemilik rumah ini meninggal dunia, kami memutuskan untuk tetap hidup bertani di desa ini demi keamanan kami. Walaupun dengan kehidupan kami yang jauh dari gelimangan harta, tapi kami bahagia," Arsen tersenyum kecut mengingat betapa pahitnya hidup yang harus mereka lewati.
"Saya sama sekali tidak menyangka jika hal yang hampir sama akan terjadi pada Nina. Karena keterbatasan kami, memang setelah tamat Sekolah Menengah Pertama dia harus merantau dan bekerja. Waktu itu kami melepasnya begitu saja, tak terpikirkan jika hal buruk akan terjadi padanya. Hingga ketika kabar tentang human trafficking itu tiba, saya baru tersadar bahwa mungkin ini memang karma yang harus saya terima karena dosa saya pada Aghata," lanjut Arsen, sambil menyeka air mata yang meleleh di pipinya.
Semua mendengarkan aksara demi aksara yang Arsen eja dengan seksama, bahkan tak ada yang tak menitikkan air mata mendengarkan cerita hidup mereka yang sedemikian menderita.
Daniel pun menatap pria yang dianggapnya bejat itu dengan tatapan yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Mendengar cerita Arsen dan melihat kondisi mereka saat ini, membuat emosi Daniel yang awalnya meledak pun menjadi reda seketika.
Lantas, apa yang akan Daniel dan Aghata lakukan kepada Arsen setelah tahu cerita yang sebenarnya? Apakah Aghata akan menerima Arsen kembali dalam kehidupannya? Bagaimana nasib Nina dan ibunya selanjutnya?
BERSAMBUNG
__ADS_1
๐๐๐
Like, vote dan rate 5 dulu dong...