
Lanjutan flashback
Di dalam ruang itu, Atmaja terbujur bagai seonggok robot. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran. Selang infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, juga kabel rekam jantung dan banyak lagi kabel-kabel yang terpasang disana.
Di samping tempat tidur Atmaja, layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya bertengger sempurna pada tempatnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Atmaja yang juga mengeluarkan irama sendu, hingga semakin menambah gurat cemas pada wajah Nyonya Atmaja, Hengky, juga Fisha yang kini telah berada di ruang itu.
"Papa!" panggil Nyonya Atmaja sambil menghambur ke pelukan suaminya.
Menyadari bahwa kini istrinya berada di pelukannya, Atmaja langsung melepas ventilator yang terpasang di hidungnya.
"Kumohon, jangan dilepas!" ucap Nyonya Atmaja parau.
Atmaja hanya tersenyum sambil mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
"Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, seperti janjiku yang kuucapkan dulu," ucap Atmaja sambil terbata. Bahkan kini air matanya menetes begitu saja dari ujung matanya.
"Papa jangan berpikiran macam-macam dulu, Pa. Papa istirahat, biar cepat sehat. Masih banyak kebahagiaan untuk kita di depan sana, Pa. Jadi berjuanglah demi kita semua," sahut Nyonya Atmaja sendu.
"Papa tak punya waktu lagi," lirih Atmaja.
"Tidak boleh. Papa tidak boleh bicara seperti itu. Mama tidak bisa jika harus hidup tanpa Papa," Air mata Nyonya Atmaja tumpah.
"Sayang, selalu ada makna dalam setiap kehadiran dan pertemuan, begitu juga dengan setiap kepergian dan perpisahan. Terima kasih karena telah memilih untuk setia menemaniku mengarungi semua bahtera itu. Terima kasih telah bersedia untuk saling menjaga dan percaya walau banyak sekali kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Tapi mulai sekarang, kau harus kuat melalui waktu tanpa diriku. Berjanjilah untuk tetap bahagia bersama anak-anak kita," dengan susah payah, Atmaja seolah mengucapkan kata-kata terakhir untuk istrinya.
"Hengky, Fisha, Papa titip mama kamu ya. Sayangi mereka melebihi apapun yang kalian punya. Sampaikan juga kepada Meysie dan Ega, bahwa Papa menyayangi mereka," kini tangan Atmaja memandang ke arah Hengky dan Fisha, walaupun tangannya tetap menggenggam erat istri tercintanya.
__ADS_1
"Kita jaga Mama sama-sama, Pa," suara Hengky mulai berat.
"Tidak, Nak. Papa tidak punya banyak waktu. Berjanjilah agar Papa bisa tenang ketika harus pergi meninggalkan kalian," Atmaja menatap kedalaman mata Hengky penuh harap.
"Baiklah, Pa. Hengky akan menjalankan semua amanat dari Papa," ucap Hengky sambil tergugu.
"Satu lagi permintaan terakhir Papa, Nak. Dengarkan baik-baik. Setelah Papa tiada nanti, tolong donorkan kornea mata Papa kepada Daniel. Papa tak sanggup lagi menahan rasa bersalah Papa akan kematian putra Arya dan kebutaan Daniel, karna semua terjadi karena ulah Papa. Setidaknya, apa yang Papa lakukan bisa sedikit mengurangi dosa Papa, Nak," lanjut Atmaja lirih.
"Akan Hengky urus administrasinya, Pa. Hengky akan jalankan semua keinginan Papa," sahut Hengky, yang benar-benar merasa bahwa semua permintaan papanya itu adalah wasiat terakhir untuknya.
"Ayah Anda sudah meminta kami untuk mengurus semua berkasnya, Tuan. Beliau sudah menandatangani semuanya," ucap dokter yang waktu itu berada di ruang yang sama.
Atmaja hanya mengangguk penuh makna, setelah mendengar ucapan dokter dan membenarkannya. Tak berapa lama, Atmaja mengedarkan pandangannya ke arah Hengky, Fisha dan istrinya secara bergantian. Bahkan genggaman tangannya kepada istrinya kini semakin dieratkan, seolah takut jika terlepas di detik-detik perpisahan.
Hengky pun mendekati papanya dengan perasaan yang mengharu biru. Setelah menata hati, akhirnya Hengky menghadapkan wajah sang papa ke arah kiblat, kemudian men-talqin-nya dengan mendekatkan mulutnya ke arah telinga mamanya.
"Laa ilaaha illa Allah," bisik Hengky lirih. Dia berusaha menahan tangisnya agar papanya bisa mendengar dengan jelas apa yang dia bisikkan.
"Laa ilaaha illa Allah," dengan terbata, Atmaja menirukan apa yang dibisikkan Hengky di telinganya.
Setelah kalimat itu berhasil keluar dari mulutnya beberapa kali, genggaman tangannya pada Nyonya Atmaja melemah, seiring dengan kepalanya yang bergerak perlahan pula.
Beberapa detik berselang, tiba-tiba terdengar bunyi cukup keras dan panjang dari layar yang berada di dekat Atmaja. Grafik detak jantung itu pun kini hanya berupa garis-garis lurus yang tidak beranjak naik dan turun seperti sebelumnya.
"Papa! Bangun, Pa. Mama mohon, bangun. Bangun kata Mama, Pa. Jangan tinggalkan Mama. Jangan ambil dia, Ya Allah. Hengky, Mama harus gimana, Nak? Mama tidak bisa hidup tanpa Papa. Dokter, tolong suami saya, Dokter!" Nyonya Atmaja berteriak histeris.
__ADS_1
Dokter dan perawat yang berjaga di ruangan itu pun segera meminta mereka keluar dan segera mengambil tindakan. Tak lama, di tangan dokter sudah ada Defibrilator, alat stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan detak jantung Atmaja kembali. Bahkan dokter menempelkan dua alat yang terlihat mirip seperti sebuah setrika itu pada tubuh Atmaja berkali-kali, namun detak jantungnya tak bisa kembali lagi.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha tapi Allah berkehendak lain," ucap dokter itu sambil mempersilahkan mereka semua masuk.
Kini, mereka semua hanya diam terpaku, merasakan denyar nadi yang semakin kencang berpacu.
"Selalu ada makna di setiap kehadiran dan pertemuan, begitu pula di setiap kepergian dan perpisahan," pesan terakhir Atmaja kini terus terngiang di benak Hengky, Fisha dan juga ibunya.
End of flashback
***
Ryan juga Rani ikut terisak mendengar cerita Hengky tentang akhir kisah Tuan Atmaja. Sungguh, air mata yang lolos dari ujung mata mereka benar-benar tulus, walaupun rentetan kesalahan yang dilakukannya kepada keluarga Dewangga masih terngiang-ngiang di benak mereka.
"Apa aku tak salah dengar?" Ryan memastikan pendengarannya. Dia betul-betul teringat betapa dia telah mencari donor mata untuk saudaranya hingga sampai ke pasar gelap hanya untuk melihat Daniel bisa kembali menikmati dunia.
"Untuk melakukan apa yang menjadi wasiat terakhir Papa lah, maka aku meminta kalian menemuiku di sini. Mari kita lakukan transplantasi kornea itu sekarang juga, agar aku bisa segera menyelesaikan tugas terakhir yang Papa berikan, dan Daniel bisa kembali melihat indahnya dunia," Hengky beranjak dari duduknya dan menghampiri Ryan yang masih berdiri di hadapannya. Sedangkan Rani, sudah berada di samping Nyonya Atmaja dan menggenggam erat tangannya.
"Kata dokter, kita hanya punya waktu kurang dari enam jam untuk bisa mengambil kornea dari mata papaku. Karena itu, kau ajak bicaralah Daniel, aku akan langsung mengurus pemakaman Papa begitu tim dokter selesai mengambil korneanya," ucap Hengky sambil menepuk bahu Ryan.
"Terima kasih, dan kami mengucapkan turut berduka cita," Ryan mengangguk dan balas menepuk pundak Hengky.
BERSAMBUNG
__ADS_1