METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cinta Oh Cinta


__ADS_3

Lewat tengah malam, Ryan dan Johan keluar dari kamar mereka secara bersamaan. Mereka sama-sama tak tenang menyadari bahwa Arya dan Lena tak kunjung pulang, karena itulah mereka memutuskan keluar dan menunggu mereka datang, setelah istri mereka berhasil dininabobokkan.


Ketika mereka turun, Rudi bersama dengan anak buahnya masih siaga berjaga. Melihat Johan dan Ryan menghampirinya, Rudi pun memicingkan matanya, dengan berjuta pertanyaan yang kini berputar-putar di benaknya.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" ketus Ryan, sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Rudi yang ditanya, spontan mengalihkan pandangannya ke arah Johan, demi menyelamatkan dirinya dari rentetan pertanyaan majikannya yang pasti akan panjang lebar kali tinggi, sampai majikannya itu puas dengan jawaban yang dia katakan.


"Tidak, Tuan. Saya hanya sedang memperhatikan Johan," Rudi berusaha mengalihkan pertanyaan sang majikan.


"Memangnya kenapa kau sampai menatapku seperti itu? Apa kau sedang mengagumi kegagahanku? Ternyata kau baru sadar ya?" Johan mendudukkan diri di samping Rudi yang kini berada di sofa panjang yang berada di seberang Ryan merebahkan dirinya.


"Huh, dasar kepedean," Rudi melempar bantal ke arah Johan. Ryan yang mendengar adu mulut itu pun tak berusaha menengahi, justru membiarkan mereka melanjutkan perdebatannya hingga menjadi panjang.


"Memangnya apalagi yang membuatmu menatapku seperti itu?" Johan mengerutkan dahinya.


"Ku perhatikan, akhir-akhir ini kau semakin betah di kamarmu, hingga sering sekali kau membuatku menggantikan tugas-tugasmu," celoteh Rudi, yang sukses membuat mata Johan membulat sambil sesekali melihat reaksi Ryan.


"Menikahlah jika kau ingin tahu jawabannya," tanpa disangka, Ryan menanggapi ocehan Rudi.


"Tapi hanya akhir-akhir ini, Johan betah di kamar, Tuan. Sebelumnya Johan tetap profesional bekerja dan menjadikan kepentingan Tuan Daniel di atas segala-galanya, sampai saya sendiri heran kapan dia luangkan waktu untuk istrinya," Rudi memperjelas arah pertanyaannya.


"Apa benar, Jo?" Ryan menatap Johan penuh dengan tanda tanya besar.


"Benar, Tuan. Dan karena kebodohan saya itulah saya hampir kehilangan Nina," Johan menjawab pertanyaan Ryan dengan sejujurnya.


"Benarkah?" Rudi mulai antusias. Dia tidak menyangka jika Nina berani meminta sebuah perpisahan pada pria sedingin Johan.


"Hmmm, dia merasa kuabaikan, hingga dia sempat meminta perpisahan," Johan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang kini didudukinya.


"Separah itu?" tanya Rudi, benar-benar penasaran.

__ADS_1


"Semua memang salahku. Beberapa bulan menikah memang hanya sesekali saja aku menyentuhnya. Kau tahu sendiri kan, selarut apa aku masuk kamar dan sepagi apa aku sudah kembali keluar?" Johan tak segan-segan berbagi cerita dengan Rudi, yang kini sudah menjadi patner kerja terbaik yang dia punya.


"Terus?" cecar Rudi.


"Puncaknya, dia tidak menerima teleponku. Baru saat itu aku tahu kalau sikapku selama ini memang sudah sangat keterlaluan," Johan menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


"Dia berani marah padamu?" cicit Rudi kemudian.


"Perempuan itu unik. Dia bisa berubah menjadi singa seketika jika mode marahnya sudah menyala," tiba-tiba Johan tersenyum geli, mengingat saat Nina merajuk hingga mengancam akan pergi.


"Ha-ha-ha-ha. Aku pernah dengar, memang. Tapi aku tak menyangka jika kau akan terkalahkan oleh istri kecilmu itu," ejek Rudi dengan tawanya yang memenuhi seluruh sudut ruang.


"Ini bukan masalah menang atau kalah. Tapi ini masalah cinta. Ahh, percuma saja aku membahas persoalan cinta kepadamu. Kau juga tak akan mengerti. Kau kan belum pernah jatuh cinta," Johan balas mengejek.


"Terus saja mengusik-usik masalah itu. Puas?" Rudi mengerucutkan bibirnya, hingga Ryan pun ikut terkekeh seperti Johan.


"Kau belum pernah merasakan, bagaimana hancurnya perasaan seorang pria ketika wanitanya sampai menangis karena kelalaiannya. Bahkan waktu itu aku seolah kehilangan separuh nyawaku, saat Nina mengatakan ingin pergi dariku," gumam Johan semakin lirih. Dia betul-betul mengkhayati setiap perkataannya sendiri.


"Kau tak tahu saja. Bahkan Nina sudah hampir keluar dan benar-benar ingin meninggalkanku," jelas Johan, meyakinkan.


"Lalu apa yang kau lakukan?" jiwa kepo Rudi meronta.


"Aku sudah berusaha meminta maaf, tapi dia tak juga menghiraukanku. Hingga akhirnya, aku angkat saja tubuhnya dan kubuat dia berada dibawah kungkunganku," Johan tersenyum geli, mengingat apa yang dia lakukan hingga istrinya itu bisa kembali dalam pelukan.


"Gila ya kamu. Apakah kamu memperkosa istrimu sendiri?" Rudi bergidik ngeri.


"Kamu yang gila. Mana ada istilah memperkosa istri sendiri. Kami kan sudah halal melakukannya. Ahh, percuma jelasin semuanya pada jomblowan seperti kamu. Kamu nikah dulu sana, baru kamu akan tahu kenapa Nina akhirnya luluh sejak aku mengungkungnya," Johan melempar bantal ke arah Rudi, sama seperti apa yang dilakukan Rudi kepadanya.


Mereka pun saling bercerita tentang apa saja yang mewarnai lika-liku dalam setiap kehidupannya. Hingga tiba-tiba, Rani datang dengan perutnya yang membola.

__ADS_1


"Hubby!" seru Rani, dengan menyalakan mode kesalnya. Suara khas orang bangun tidurpun begitu nyata terdengar di telinga setiap orang yang mendengarnya.


"Sayang, kenapa kau bangun? Hubby tidak akan lama, sebentar lagi Hubby naik dan akan menemanimu hingga pagi datang," Ryan langsung berdiri dan segera menghampiri Rani yang sedang berdiri di puncak tangga.


"Habisnya Hubby tak ada di samping Rani," Rajuk Rani terdengar sangat manja.


"Maaf, Sayang. Hubby tidak bisa tidur karena Lena dan Ryan belum juga pulang," Ryan mencoba menjelaskan.


"Apa? Belum pulang? Mereka kemana, By. Kenapa anak buah Hubby tak disuruh mencari?" sahut Rani dengan ekspresi tegang.


"Mereka baik-baik saja, Sayang. Arya sudah menghubungi Hubby. Kata mereka, Lena hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Sebentar lagi juga mereka akan datang," jelas Ryan menenangkan.


"Ya sudah, cantiknya Hubby bobok lagi ya," ucap lembut Ryan kepada istrinya.


"Nggak mau, Rani mau ikut menunggu," kekeh Rani.


"Sayang," Ryan menggeleng pelan, menandakan tak sepakat dengan apa yang Rani ucapkan.


"Kalau gitu temenin Rani tidur di kamar," rengek Rani lagi, masih terdengar begitu manja.


"Oke. Ayo! Biar Johan dan Rudi yang menunggu mereka," ujar Ryan sambil menarik tangan istrinya masuk ke kamar mereka.


Johan dan Rudi pun menyaksikan drama di depannya dengan tersenyum penuh makna.


"Kamu lihat sendiri kan, pria sekuat bos kamu saja bisa berubah menjadi senurut itu pada istrinya? Semuanya di luar logika jika itu semua bukan karena satu kata, yaitu cinta," ucap Johan, begitu Rani dan Ryan tak tertangkap lagi dalam pandangan.


"Baiklah. Baiklah. Aku percaya. Cinta oh cinta. Kapan aku bisa merasakan seperti apa itu cinta?" celoteh Rudi, yang sukses membuat Johan tertawa.


Mereka berdua pun terus membicarakan urusan cinta, sambil menunggu Arya pulang bersama Lena.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2