METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Reaksi Ekstrim Zara


__ADS_3

Apa kau tak memasang alat pelacak atau semacamnya di tubuh Indra atau Zara, Naja?" Ryan yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar nada kekhawatiran dari semua laporan yang masuk pun, bertanya kepada Naja hanya untuk sekedar memastikan.


"Alat pelacak?" Naja membulatkan mata, mendengar pertanyaan Ryan yang ditujukan kepadanya.


"Sayang!" panggil Daniel, sekedar menyadarkan istrinya yang sampai saat ini hanya terlihat diam, tak menanggapi sama sekali ucapan Ryan kepadanya.


"Untuk Zara, saya belum memasang alat apapun dalam tubuhnya, Tuan. Karena sampai tadi pagi, Felix belum tahu kalau Zara berada di pihak kita. Tapi untuk Indra, alat pelacak sudah berada di dalam tubuhnya. Itu artinya kita bisa melacak titik koordinat keberadaan mereka. Tapi ..., astaga. Mereka dalam bahaya. Felix juga masih bisa dengan begitu mudahnya mencari keberadaan mereka, jika Zara tidak segera menyadari kalau alat pelacak itu harus langsung disingkirkan dari tubuhnya," jelas Naja sambil merogoh benda pipih canggih dalam saku celananya, kemudian langsung berselancar dengan benda itu.


Ryan, Daniel, Arya, Rany, dan Lena yang mendengar ucapan Naja pun terlihat sangat antusias, menunggu sampai Naja mendapatkan titik koordinat keberadaan Indra dan Zara.


"Bagaimana?" Ryan bertanya seolah tak sabar .


"Dapat, Tuan. Mereka masih berada di perairan. Tapi ..., mereka bergerak, Tuan. Itu artinya masih ada tanda-tanda kehidupan," seru Naja girang.


"Baiklah, Arya. Hubungi Rudi dan Johan, untuk segera mengirim bantuan untuk mereka. Jangan sampai anak buah Felix menemukan mereka duluan," titah Ryan, sambil menatap Arya penuh makna.


Arya pun langsung menghubungi Rudi dan Johan, agar titah Ryan langsung dieksekusi di lapangan.


***


"Ingat, lakukan apapun yang aku instruksikan," ulang Indra, yang disusul dengan anggukan kembali oleh Zara.


"Sabuk pengamanmu sudah terpasang?" Indra mengecek kesiapan Zara.


"Sudah, Tuan," jawab Zara mantap.


"Oke. Bersiap-siaplah, Zara!" setelah Indra mengatakan itu, terdengar suara kunci seluruh pintu mobil terbuka, dan sedetik kemudian, Zara merasakan bahwa mobil mereka terbang mengangkasa.


"Tuan!" Zara mulai tersadar apa yang sudah Indra lakukan.


"Kunci sudah kubuka. Begitu mobil kita masuk ke dalam air, lepas sabuk pengamanmu dan bagaimanapun caranya usahakan kau bisa keluar dari mobil dan segera berenang hingga ke tepi danau. Ingat, pikirkan keselamatanmu. Jangan kau hiraukan aku, apapun yang terjadi dan menimpaku," Indra masih sempat memberikan perintahnya kepada Zara, sebelum akhirnya mobil itu terjun bebas dan mendarat pada sebuah danau yang berada sekitar sepuluh meter di bawah jalan buntu yang mereka lewati.


Pada detik-detik itu, Zara hanya bisa memejamkan mata sambil menarik nafas panjang, sebelum dia harus menyelam selama yang mereka tahan.


"Mungkin ini adalah akhir dari hidupku, dan aku tak akan pernah bisa lagi bertemu denganmu," batin Zara sambil menghadirkan wajah seseorang di benaknya.


Hingga akhirnya, sebuah hantaman keras tiba-tiba begitu terasa mengenai mobil mereka. Sedetik kemudian, air mulai masuk ke dalam mobil, melalui celah-celah kecil yang ada di sana.


"Kau tak apa-apa, Zara?" Indra masih sempat menanyakan kondisi Zara, sebelum air danau memenuhi mobil mereka.


"Iya, Tuan," jawab Zara dengan suara bergetar. Bagaimana tidak? Ini adalah pengalaman terekstrem yang pernah dia rasakan.


"Lepas sabuk pengamanmu dan biarkan kita tetap seperti ini dulu, agar mereka menganggap bahwa kita sudah mati dan mereka segera pergi!" titah Indra, mengulur waktu.


"Baik," sahut Zara singkat.


"Begitu air masuk sebatas leher, kita buka pintu itu. Siapkan senjatamu jika pintu itu tak bisa terbuka dengan cara biasa. Setelah kita berhasil keluar, kita harus berenang hingga ketepian. Berapa waktu terlama kau bisa menahan nafasmu dalam air?" Indra terlihat sangat khawatir dengan gadis yang berada di sebelahnya.


"Dua puluh menit, Tuan," jawab Zara tenang. Rupanya dia sudah cukup terlatih jika harus berada di dalam air.


"Cukup bagus, tapi kau harus belajar memecahkan rekor dunia, 24 menit 22 detik, baru aku akan terpesona pada kepiawaianmu di dalam air," oceh Indra kemudian.


"Saya tidak akan mendengarkan Anda berbicara, sebelum Anda membuktikan bahwa Anda bisa bertahan lebih lama dari pada saya," cetus Zara, mencoba memecahkan ketegangan di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Dua puluh empat menit dua puluh dua detik waktu terlamaku. Karena itu, biarkan aku yang membuka pintunya dulu, baru kamu. Dan ingat baik-baik, Zara. Kali ini aku akan membiarkanmu yang mengambil keputusan. Begitu kita menyelam hingga akhirnya bisa muncul ke permukaan, kau yang mengambil keputusan akan ke tepi danau yang mana yang paling mungkin dan paling dekat untuk kita berenang," sahut Indra santai.


"Saya sudah tidak sabar untuk segera membuktikannya, Tuan," Zara menimpali dengan santainya.


"Apa kau sudah siap, Zara?" tanya Indra lagi.


Tak menunggu Zara menjawab pertanyaannya, Indra segera membuka pintu mobil itu dan air segera masuk memenuhi seluruh ruang dalam mobil. Dan benar saja, setelah Indra keluar dari mobil itu, Zara menyusul keluar tanpa adanya hambatan.


Selama beberapa saat, mereka bertahan menyelam di dalam air, sebelum akhirnya muncul ke permukaan.


Sesuai instruksi awal, Indra pun membiarkan Zara bergerak ke arah manapun yang dia mau. Indra hanya mengekor, mengikuti pergerakan Zara yang ternyata sudah sangat terlatih untuk berenang juga menyelam tanpa alat bantu pernapasan.


Dan di sinilah mereka sekarang. Di sebuah daratan kecil yang terletak di tengah-tengah danau. Daratan itu tak pernah terjangkau, karena terletak jauh dari semua tepian yang dimiliki danau itu. Bahkan rakit-rakit yang biasa penduduk gunakan untuk mencari ikan pun tak pernah sampai ke situ.


"Huh, hah, huh, hah," kira-kira begitulah nafas mereka sekarang.


Seolah tak peduli sedang berada dimana mereka saat ini, mereka justru langsung merebahkan tubuh mereka begitu saja di atas hamparan tanah yang tak cukup luas.


"Apa kau baik-baik saja, Zara?" dengan nafas tersengal, Indra masih sempat memperhatikan gadis yang nampak begitu lelah setelah menyelam dan berenang cukup lama.


"Jangan khawatirkan saya, Tuan," sahut Zara tanpa membuka mata. Yang dia inginkan sore itu hanya tidur, karena hal melelahkan yang baru saja mereka lakukan.


Melihat diri Zara yang utuh dan tak kurang suatu apa, Indra pun membiarkan gadis itu terlelap, dengan penjagaan ekstra darinya.


Sesaat, Indra memperhatikan Zara dengan senyum yang mengembang di pipinya. Dia sama sekali tak berkedip, melihat gadis cantik yang kini tengah terpejam itu masih berada di sampingnya. Tanpa Indra sadari, denyut nadinya kian terasa. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, seolah Zara sudah menjadi cerita yang menjelma menjadi bayang-bayangnya.


"Bisakah dia menjadi pelabuhan jiwa dalam kisah hidupku?" gumam Indra dalam hati.


"Zara! Apa yang akan kau lakukan? Aku hanya ...," Indra kaget, melihat reaksi ekstrim yang Zara tunjukkan kepadanya, bahkan sebelum tangan itu berhasil menyentuhnya.


Zara tak menghiraukan teriakan Indra kepadanya. Dia justru menyingkap kain yang masih menutupi lengannya, dan membuat goresan di sana begitu saja.


"Apa yang kau lakukan, Zara? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Apa kau benar-benar sudah gila?" Indra berteriak, melihat Zara melukai lengannya sendiri dengan pisaunya.


"Mungkin saya sudah terlambat, Tuan. Felix masih begitu mudahnya bisa menemukan saya, karena dalam tubuh saya masih terpasang alat pelacak darinya," sahut Zara tanpa memperhatikan Indra. Dia terlihat meringis menahan perih, sambil mengeluarkan sebuah benda kecil yang tertanam di lengannya, kemudian menginjak-injaknya, sebelum akhirnya membuangnya jauh-jauh dari hadapan mereka.


"Kita harus segera pergi dari sini, Tuan. Atau mereka akan menghabisi kita. Mereka pasti akan segera sampai ke tempat ini, dan menangkap kita baik hidup maupun mati," Zara berdiri, membiarkan darah mengucur deras dari lengannya.


"Lukamu, Zara," Indra melepaskan baju basah yang masih menempel pada tubuhnya dan menyobeknya, kemudian dia gunakan untuk membalut luka sayatan di tubuh Zara yang terlihat menganga. Dinginnya udara yang menerpa tubuhnya yang kini hanya berbalut T-shirt press body itupun tak Indra rasakan, demi seorang gadis yang tiba-tiba masuk dalam prioritas utamanya itu.


"Terima kasih, Tuan. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Zara memastikan.


"Tak ada, Zara. Kita hanya bisa menunggu, anak buah Felix atau teman-teman kita yang akan sampai terlebih dulu," sahut Indra dengan begitu santainya.


"Tapi, Tuan. Kita bisa berenang lagi hingga ke tepi sana," protes Zara.


"Kita tidak akan bisa, Zara. Tepi danau itu terlalu jauh untuk kita tuju. Kita tidak akan kuat berenang sampai ke tempat itu," tolak Indra, mencoba menyadarkan gadis di sampingnya.


Zara hanya terdiam, tak menyahut lagi apa yang Indra katakan. Dalam hati, dia hanya membenarkan ucapan Indra, yang cukup tahu diri dan bisa mengukur kemampuan mereka sejauh mana.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?" Zara mencoba memastikan.


"Kita ambil jalan sedikit memutar, Zara. Daratan di tengah danau ini tidak terlalu kecil, setidaknya kita bisa lebih siap jika kita berada di ujung satunya," Indra mengulurkan tangannya dan membantu Zara berdiri. Zara pun tak menolak bantuan Indra, mengingat kini tubuhnya sedang tak sekuat biasanya.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba ...,


"Auw!" pekik Zara, begitu kakinya menapak ke tanah dan menjadi tumpuan bagi tubuhnya.


"Kau kenapa, Zara? Apa ada yang terluka?" Indra membulatkan mata dan mencoba melihat telapak kaki Zara.


"Tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba saja saat berdiri kaki kanan saya terasa sakit sekali," Zara masih meringis menahan sakit.


"Astaga. Kakimu terluka, Zara," Indra membulatkan mata melihat telapak kaki Zara menganga. Ya, luka yang tak disadari Zara, dimana dia mendapatkannya. Tapi dilihat dari bekasnya, agaknya ada benda runcing yang sempat mengenainya saat dia berusaha menyelam, berenang, dan akhirnya keluar dari perairan itu.


"Naik ke atas punggungku, Zara!" ucap Indra, dengan posisi tubuh sengaja dibuat setengah berjongkok untuk memudahkan Zara.


"Tapi, Tuan," Zara terlihat ragu.


"Naiklah ke atas punggungku, Zara! Jangan ngeyel. Kau tak mungkin berjalan dengan kondisi kaki seperti itu," tegas Indra tak bisa ditawar.


Merasa tak punya pilihan lain, Zara pun segera naik ke atas punggung Indra dan membiarkan pria yang selalu diam-diam diumpatnya dalam hati itu pun menggendongnya di belakang.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Indra pun menghentikan langkahnya dan segera menurunkan Zara.


"Jika kita berjalan sekitar sepuluh menit, itu artinya kita juga bisa bertahan dari kejaran Felix selama sepuluh menit. Kau siapkan dirimu, Zara. Bersiap dengan segala kemungkinan yang ada, jika anak buah Felix datang sebelum bantuan untuk kita sampai ke tempat ini," Indra mencoba melihat ekspresi Zara melalui kedalaman matanya.


"Saya sudah siap, Tuan. Terima kasih karena telah memilih untuk menjadi kawan setia dan setia kawan kepada saya," seulas senyum tulus tersungging begitu saja dari bibir Zara.


"Aku tak pernah menyesal dengan keputusanku," jawab Indra dengan manisnya.


Indra pun menyeret tangan Zara dan mengajaknya untuk duduk, sambil menunggu suratan takdir yang akan mereka terima selanjutnya.


Cukup lama mereka menunggu, hingga mentari pun segera hilang di langit itu. Ya, matahari mulai tenggelam, menandakan hari akan segera malam.


Dingin, hanya itu yang kini mereka rasakan. Sementara tak mungkin berharap pakaian mereka akan segera kering di badan, mengingat hari sudah menjelang malam. Bahkan kini Zara terlihat menggigil, karena terlalu kedinginan.


"Kau kedinginan, Zara?" Indra memastikan.


Tak ada yang keluar dari mulut Zara. Dia hanya menganggukkan kepalanya, tanpa ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya.


"Akan kumpulkan ranting-ranting kayu untukmu, siapa tahu kita bisa membuat api di tempat ini," Indra berusaha beranjak dari duduknya, namun Zara segera menarik tangannya.


"Kobaran api akan semakin memudahkan mereka untuk menemukan kita," cegah Zara, membuat Indra mengurungkan niatnya.


"Kau benar, Zara. Tapi tubuhmu menggigil seperti itu. Bagaimana jika terjadi apa-apa padamu?" tanya Indra begitu perhatian.


"Saya tak apa, Tuan," Zara masih mencoba untuk bertahan.


Namun hanya beberapa menit berselang, tubuh Zara semakin tak terkondisikan. Dia semakin menggigil karena hawa dingin yang semakin merasuk dalam tubuh kecilnya, membuat Indra berinisiatif untuk menariknya dan membuat Zara berada dalam dekapannya.


Zara tak menolak. Alam bawah sadarnya menerima perlakuan Indra, bahkan tak sadar tangannya pun kini melingkar di tubuh Indra. Melihat respon Zara, Indra benar-benar sudah tak tahan untuk bisa berbuat lebih pada gadis yang diam-diam sudah merajai hatinya itu, hingga tiba-tiba muncul keberanian dari dalam dirinya untuk mengecup kening Zara.


Zara tak bergeming. Jangankan marah. Dia justru semakin mengeratkan pelukannya, saat Indra semakin manis memperlakukannya. Merasa mendapatkan angin segar, Indra pun sedikit menundukkan kepalanya, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir ranum Zara, hingga kini tak ada jarak lagi di antara keduanya.


Lantas, apakah Zara akan tersadar dengan apa yang saat ini sedang mereka lakukan dan segera mengakhiri semuanya? Atau mereka akan melanjutkan aksi mereka tanpa memikirkan konsekwensi dan dosa atas perbuatan yang dilakukannya?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2