METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Rencana Balasan


__ADS_3

"Zara!" tiba-tiba Indra memanggil nama Zara dan berlari menyusulnya.


"Ada apa, Tuan?" Zara menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Indra.


Indra berhenti tepat di depan Zara. Sesaat Indra pun hanya terdiam dan terlihat bingung dengan apa yang ingin dia bicarakan. Hingga Zara pun semakin merasa kesal.


"Ada apa lagi, Tuan? Apa masih ada tugas yang harus saya kerjakan?" Zara kembali memastikan.


"Tak ada, Zara. Aku hanya ingin mengingatkanmu, agar kau tak lupa menghancurkan alat pelacak yang mungkin Felix pasang di ponsel milik Sesil itu. Jangan sampai misi pertama yang telah berhasil kita lakukan menjadi berantakan hanya karna kesalahan kecil yang luput kita pikirkan," akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Indra.


"Saya tidak akan melupakannya, Tuan. Peralatan saya ada di sana, jadi setelah ini ponsel Sesil akan langsung saya periksa," sahut Zara sambil berjalan menuju motornya.


Dan benar saja. Begitu Zara sampai ke motornya, dia segera mengambil alat dan membongkar ponsel Sesil yang saat ini berada di tangannya.


Setelah memeriksa dengan sesama, Zara pun menemukan benda kecil yang akhirnya langsung dihancurkannya.


"Apakah dia benar-benar memasang alat pelacak?" Indra memastikan. Bahkan dua memeriksa serpihan benda yang telah Zara injak-injak sebelumnya.


"Betul, Tuan," jawab Zara sambil terus memeriksa benda pipih yang kini berada di tangannya.


"Apa sebaiknya tak kita tinggalkan saja ponsel itu agar Felix tak bisa mendeteksi keberadaan Sesil melalui nomornya?" Indra terlihat ragu. Di sisi lain dia butuh banyak informasi dari dalam ponsel Sesil, tapi di sisi lain takut jika keputusannya membawa benda itu akan menjadi bumerang untuk mereka.


"Kita bisa menghentikan dan menghapus pelacakan lokasi menggunakan peramban dari sebuah URL, Tuan. Laman web itu berguna untuk mengendalikan pelacakan informasi pribadi kita. Gulung layar ke bagian Location History, dan nonaktifkan pelacakan lokasi di sini. Selain menghentikan pelacakan lokasi, dari laman Activity Control ini kita juga bisa menonaktifkan perekaman aktivitas lain seperti pencarian, penggunaan YouTube, dan perekaman audio serta suara di Google Assstant. Jadi, Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan mengatur semuanya," Zara mulai menampakkan kepiwaiannya.


"Aku percaya padamu, Zara," Indra mulai menunjukkan kekagumannya.


"Terima kasih, Tuan," ucap Zara sambil mengenakan helmnya dan segera melaju dengan motor sport yang biasanya digunakan oleh para pria.


"Sekarang aku baru tahu, kenapa Felix memakai agen seorang gadis kecil seperti kamu," gumam Indra, tak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya kepada gadis kecil yang selama ini selalu dikerjainya.

__ADS_1


***


Waktu menunjukkan hampir tengah malam, tapi Rudi, Johan, Naja, Daniel, Ryan, Rani dan Hengky masih menunggu kabar dari seseorang.


"Kau tidurlah dulu, Sayang. Tak perlu menunggu Hubby. Kau kan sedang hamil. Tidur terlalu malam tak akan baik buat kamu dan bayimu," Ryan mengusap punggung Rani dengan sayang.


"Tapi Hubby kan masih sakit, By. Tidak baik untuk Hubby begadang hingga selarut ini," protes Rani, terlihat begitu khawatir dengan kondisi sang suami.


"Hanya sampai Indra memberikan kabar, Hubby akan menyusulmu, Sayang," rayu Ryan.


Rani pun akhirnya menyerah. Selain karena bujukan suaminya, kondisi Rani ketika hamil memang sudah tidak sekuat biasanya, sehingga mudah capek meskipun hanya beraktifitas sedikit saja.


"Ya sudah. Tapi Hubby ingat, ya. Hanya sampai Indra memberi kabar, Hubby langsung masuk kamar," cicit Rani dengan nada penuh ancaman.


"Iya, Sayang. Hubby janji. Sudah sana, tidur sekarang juga," titah Ryan dengan nada sedikit bercanda.


"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" gurat khawatir begitu tergambar jelas pada raut muka Ryan Dewangga.


"Aku percaya kepada mereka. Aku sudah mencari tahu tentang seluk beluk dan track record gadis itu, dia terkenal cerdik dan mudah berkelit seperti belut di kalangan agen yang lain," Naja yang ternyata sudah mencari tahu tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Zara, memutuskan untuk angkat bicara.


"Sehebat itu kah? Bukannya setelah penusukan itu adikmu bisa dengan begitu mudahnya menangkapnya dan membuat dia mengucap janji setia?" timpal Arya, tak begitu yakin dengan apa yang disampaikan Naja.


"Itu bukan karena Zara yang tak cerdik dan pintar berkelit, tapi karena Indra lebih cerdik dan memanfaatkan satu kelemahan Zara yang bisa dia gunakan sebagai senjata," sanggah Naja yang semakin membuat keempat pria di depannya penasaran dengan perkataannya.


"Apa itu?" Daniel begitu penasaran.


"Rahasia," elak Naja, semakin membuat kesal suami dan rekan-rekannya.


"Ayolah-ayolah," jiwa kepo Rudi kembali meronta-ronta.

__ADS_1


Naja pun menceritakan apa yang Indra lakukan hingga berhasil membuat Zara menyerah dan bertekuk lutut di hadapannya.


"Wah, wah, wah. Tak disangka, adikmu itu liar dan banyak akalnya," semua yang ada di tempat itu tertawa mendengar apa yang diceritakan oleh Naja.


Hingga tiba-tiba, melodi indah dari ponsel Ryan berbunyi kencang. Arya yang tahu betul bahwa kondisi Ryan membuat dirinya tak bisa meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja pun segera mengambilnya dan menyerahkan benda pipih itu kepada Ryan Dewangga.


"Assalamualaikum," sapa Ryan begitu icon hijau berhasil dia tekan.


"Wa'alaikumsalam, Tuan," sahut Indra di ujung telepon.


"Bagaimana, Ndra? Apa misimu malam ini berjalan sesuai rencana?" Ryan sudah tak sabar mendengar jawaban dari orang yang sedang dia nanti-nantikan.


"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan. Sekarang perempuan itu ada di apartemen saya. Bagaimana dengan rencana kita selanjutnya? Kita akan interogasi dia besok atau malam ini juga?" Indra terus bertanya untuk mendapatkan perintah selanjutnya.


"Besok pagi kita selesaikan perempuan itu, Ndra. Untuk malam ini, masih menjadi bagianmu dan gadis kecil itu," jawab Ryan yang langsung diiyakan oleh Indra.


"Baik, Tuan," ucap Indra, sebelum akhirnya mengakhiri panggilannya.


"Kalian beristirahatlah, besok pagi kita akan temui perempuan itu dan memulai menyusun rencana balasan dengan strategi yang lebih matang. Ingat, jam delapan pagi kita sudah harus sampai di apartemen itu," titah Ryan, yang disahut dengan anggukan semua orang.


Setelah itu, Ryan segera masuk ke dalam kamar di bantu oleh Daniel dan istrinya, Srmentara Hengky kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya.


Dan kini, di ruang itu hanya tersisa Arya, Johan dan Rudi yang terlihat masih berjaga-jaga.


"Kalian tidurlah, mungkin Lena dan Nina sudah lama menunggu. Jika malam ini kalian tak masuk ke kamar kalian, jangan salahkan aku kalau besok mereka menyuruh kalian tidur di luar. Biar aku yang berjaga bersama para pengawal itu," cicit Rudi, membuat Johan dan Arya tersenyum penuh arti.


"Terima kasih," Arya pun meninggalkan Rudi, diikuti Johan yang juga segera pergi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2