
Kabar kembalinya penglihatan Daniel sudah tersebar kemana-mana. Seluruh kolega dan karyawan di perusahaannya yang juga mendengar kabar itu, membicarakannya dengan perasaan bahagia.
"Sebentar lagi si boss tampan akan kembali ke perusahaan," celoteh seorang karyawan, saat dia dan karyawan lainnya sedang makan siang di kantin perusahaan.
"Ganjen lu," timpal karyawan lain, di susul gelak tawa yang lainnya.
"Ihh, tapi beneran ganteng tahu. Wajah bulenya itu loh, nggak nguatin," salah seorang lagi menimpali.
"Hello ..., dia udah ada bini tahu. Kalian semua lewat dibanding sama istrinya yang mantan balerina itu," sahut yang lain lagi dengan tampang sewotnya.
"Daysie yang dulu sering datang ke tempat ini?" mereka semua terlihat berpikir keras.
"Bukan, Daysie kan sudah meninggal. Istri si boss itu namanya Nona Naja. Dia orang kepercayaan Tuan Ryan Dewangga katanya," yang mendengar ocehan itu mulai mengingat-ingat.
"Basi lu. Daysie sama Naja itu orang yang sama," melihat muka-muka bingung di depannya, salah seorang di antara mereka angkat bicara.
"Kok bisa? Wajahnya saja sangat jauh beda gitu. Meski sama-sama cantiknya sih," sebuah suara membuat mereka membayangkan seperti apa cantiknya istri dari Presdir mereka.
"Orang kaya mah bebas, mau oplas berapa kali saja. Nggak seperti kita. Iya nggak sih?" gelak tawa pun memenuhi seluruh penjuru kantin perusahaan, yang dipenuhi para karyawan yang sedang makan siang.
Begitulah serunya obrolan karyawan Daniel di perusahaannya, dimana semua orang sudah sangat menantikannya kembali bekerja, setelah off cukup lama. Apalagi perangai Daniel yang sangat jauh berubah setelah kesalahpahaman dengan Prabu Dewangga akhirnya tuntas, membuat sikap dan gaya kepemimpinannya yang lebih santun menempati ruang tersendiri di hati semua orang.
Hingga akhirnya, kabar itu pun sampai ke telinga anggota keluarga Atmaja. Hengky, Fisha, juga Nyonya Atmaja yang sedang membicarakan keberhasilan transplantasi itu, terlihat menyambut kabar gembira yang datang dari keluarga Dewangga dengan suka cita.
"Alhamdulillah, semua wasiat Papa terlaksana dengan sempurna," ucap Nyonya Atmaja kepada Hengky dan Fisha.
"Iya, Ma. Semoga meringankan beban Papa di sana. Hengky yakin, dengan keikhlasan hati Papa yang dengan suka rela dan keinginannya sendiri mendonorkan matanya untuk Daniel, Allah akan membalas titik demi titik niat baik Papa dengan kebaikan-kebaikan yang akan meringankan Papa di alam sana," tutur Hengky lembut. Seketika matanya berkaca-kaca, mengenang papanya yang terlalu menyayangi anak-anaknya hingga pengorbanan besar harus dia lakukan dengan semua cara yang dia bisa. Ya, bahkan dengan cara ekstrim yang akhirnya membuat sang papa dengan rela mendekam di penjara sampai akhir hayatnya.
"Jangan ada air mata lagi, Mas. Itu akan memberatkan Papa. Yang terpenting, wasiat terakhir Papa sudah terlaksana, artinya kewajiban kita juga sudah tidak ada, selain melantunkan untaian do'a agar Allah mengampuni segala dosa Papa dan menempatkannya pada tempat terbaik di sisiNya," Fisha meraih tangan Hengky dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Aamiin. Kamu benar, Sayang. Papa lebih butuh do'a-do'a kita, dari pada kita hanya menangisi kepergiannya," sahut Hengky sambil tersenyum manis ke arah istrinya.
"Semoga pahala dari keikhlasan Papa, akan terus mengalir selama kornea matanya hidup di mata Daniel hingga akhir hayatnya," timpal Nyonya Atmaja tersenyum bangga.
"Kalian bilang apa? Papa mendonorkan matanya untuk Daniel dan kalian membiarkannya?" Meysie yang baru saja keluar kamar bersama Ega, langsung berteriak begitu mendengar bahwa sang papa telah mendonorkan korneanya untuk salah satu musuh yang paling dibencinya.
Hengky dan mamanya memang tak memberitahukan hal itu kepada Meysie sebelumnya, mengingat kekhawatiran mereka terhadap reaksi Meysie yang selalu tak terduga.
"Sayang, ini adalah wasiat Papa. Papamu melakukannya sebagai salah satu wujud menebus segala dosa yang pernah dilakukannya pada Daniel dan keluarganya. Kau tak lupa kan, siapa yang telah membuat Daniel buta? Dia buta karena papamu juga, Nak. Jadi tolong hargai keputusan terakhir Papa. Apalagi yang Papa lakukan untukmu waktu itu sampai menghilangkan nyawa bayi Arya dan juga Lena, membuat Papa selalu merasa bersalah akan perbuatannya," sahut Nyonya Atmaja, berusaha memberi penjelasan.
"Tapi merekalah yang telah menghancurkan keluarga kita, Ma. Mereka yang membuat Meysie koma dan membuat Papa di penjara, sampai akhirnya Papa menutup mata," Meysie mulai tergugu. Ega yang berada di sebelahnya pun tak bisa berkata apa-apa, selain menarik tubuh Meysie dan memeluknya seerat-eratnya.
"Kau koma akibat ulahmu sendiri, Nak. Ayahmu di penjara juga karena ingin membuatmu menggenggam semua keinginanmu. Apa kau lupa, bagaimana cinta itu telah membutakan mata dan hatimu?" Nyonya Atmaja ikut menimpali.
Meysie hanya terus tergugu mendengarkan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut mamanya itu.
"Donor mata itu adalah wasiat terakhir Papa untukku, dan untuk kita semua, Kak. Apakah Kakak tahu, bahwa wasiat Papa menjadi tanggung jawab kita sebagai anak-anaknya untuk mewujudkannya? Niatan Papa sangat mulia, Kak. Jadi aku mohon, jangan kotori kebaikan Papa dengan dendammu itu," ucap Hengky sambil memandang lekat ke arah kakaknya.
Hengky, Fisha dan Nyonya Atmaja yang begitu tidak mengerti dengan jalan pikiran Meysie itu pun hanya mampu menghela nafas kasar.
"Kau pikir yang membuatmu bisa terbebas dari hukum yang menjeratmu itu siapa, hah? Jika bukan karena kebaikan hati mereka, mereka tak akan mencabut laporannya dan hingga detik ini Kak Meysie bisa dipastikan sedang mendekam di penjara," Hengky balas berteriak saking emosinya.
"Mas, sudah, Mas. Jangan berteriak begitu sama Kak Meysie," Fisha mengelus punggung suaminya.
"Biar dia sadar, Sayang. Matanya memang tidak buta, tapi mata hatinya sudah tidak bisa lagi melihat kebenaran yang benar-benar ada di depan matanya," Hengky belum puas juga membuat Meysie tergugu.
"Abang, bawa Meysie pulang, Bang. Meysie mohon," lirih Meysie sambil mendekap erat suaminya. Perkataan Hengky dan mamanya benar-benar membuat hati dan jiwanya benar-benar terluka.
Sejenak, Ega masih diam seribu bahasa. Ega membawa Meysie duduk bersama Hengky, Fisha dan mama mereka, kemudian mulai berucap untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan baik-baik. Tentu saja kita akan segera pulang ke Amerika dan membangun rumah tangga yang sangat bahagia di sana. Tapi sebelum kita pulang, kamu harus clear-kan semua masalahmu di sini dulu, agar kita bisa tenang ketika pulang nanti," tutur Ega yang begitu lembut, selalu membuat Meysie tersentuh dan menjadi penurut.
"Oke. Sekarang jawab pertanyaan ku. Apa kau menyayangi papamu?" tanya Ega sambil menatap lekat istrinya.
"Kalian semua tak perlu meragukan itu," sahut Meysie di sela-sela tangisnya.
"Kalau begitu terimalah keinginan terakhirnya. Jika donor mata itu memang menjadi wasiatnya, maka tugasmu adalah menerima dengan kerelaan hati dan melaksanakan apa yang diinginkan olehnya. Apa kamu mengerti?" Ega bertanya lagi, dan dijawab sebuah anggukan dari kepala istrinya.
"Sekarang jawab lagi pertanyaanku. Apa di hatimu itu sudah ada cinta untukku?" sebuah pertanyaan yang muncul dari mulut Ega, membuat dadanya sendiri tiba-tiba berdegup dengan begitu kencangnya.
"Sudah Meysie bilang, Meysie sudah jatuh cinta pada Abang, kan? Bahkan sudah Meysie serahkan hal paling berharga yang Meysie punya untuk Abang," jawab Meysie sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Kalau begitu buktikan!" kalimat terakhir Ega, tidak hanya membuat Meysie mendongak dan menatapnya tajam, tapi juga membuat Hengky dan yang lainnya memandang Ega dengan tatapan penuh tanda tanya besar.
"Bang, Meysie ...," Meysie tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia sendiri pun bingung, harus membuktikan cintanya kepada suaminya dengan cara seperti apa.
"Jika kau memang mencintaiku, buktikan bahwa tak ada nama Ryan Dewangga lagi yang mengisi ruang kosong di dalam hatimu. Lupakanlah dia, hapus pahatan namanya dari jiwamu, dan hempaskan semua hal yang berhubungan dengannya. Dengan begitu, dendam dan api kebencian yang masih menyala di dalam dirimu itu akan ikut sirna," ujar Ega sambil membelai rambut istrinya dengan sayang.
Meysie mencoba mencerna kata demi kata yang terucap dari mulut Ega dengan seksama. Dia mencoba menilik hatinya, rasa sayang itu masih ada untuk seorang Ryan Dewangga, tapi semua rasa yang ada di hatinya ternyata tidak sebesar cintanya kepada Ega.
"Kita segera pulang, Bang. Meysie hanya ingin hidup bahagia bersama Abang, hingga maut yang akan memisahkan," cicit Meysie dengan begitu mantapnya, bahkan sebuah dekapan hangat kini kembali dia ambil dari tubuh suaminya.
"Tentu saja, Sayang. Kita akan segera pulang, dan memupuk cinta kita di sana, hingga kita menua bersama," Ega mencium ujung kepala Meysie bertubi-tubi.
"Hingga maut memisahkan. Janji?" Meysie mendongakkan kepalanya demi melihat wajah tampan suaminya.
"Janji. Hingga maut memisahkan," beo Ega sambil mendaratkan lagi sebuah kecupan.
Nyonya Atmaja yang menyaksikan sendiri betapa cinta itu akhirnya hadir dalam hidup Meysie, hanya bisa tersenyum bahagia sambil mengucap berjuta do'a.
__ADS_1
"Bahagiakan dia, Ya Allah. Selalu hadirkan cinta itu dalam kehidupan mereka," batin Nyonya Atmaja.
BERSAMBUNG