
Nina masih terbaring di ranjang kamarnya, setelah Johan mengantarkannya pulang pasca drama penculikannya yang cukup membuat shock hati dan jiwanya. Apalagi jika mengingat begitu pengap dan gelapnya ruang bawah tanah itu, membuat bayangan kejadian yang menimpa dirinya dan nonanya terus berputar-putar dibenaknya bagai slide yang sengaja dipertontonkan di depan mata.
Dan saat ini, Nina termenung seorang diri. Johan yang mengantarkannya pulang, berbegas pergi lagi setelah membantu Nina membersihkan diri. Ya, tentu ada tugas dari majikannya yang jauh lebih penting buat seorang Johan, dari pada memperhatikan kondisi Nina setelah tragedi penculikannya. Jangankan menemaninya. Menanyakan dan memeriksa apakah Nina terluka atau tidak saja, Johan tak melakukannya. Dia hanya membantu Nina membersihkan diri, membaringkan Nina di tempat tidur, menyelimutinya dan memberi sebuah kecupan di kening kemudian pergi lagi atas titah Daniel, majikan yang sangat dicintainya melebihi segalanya.
“Di hatinya, aku masuk prioritas keberapa?” gumam Nina dalam hati.
Kejadian di ruang bawah tanah itu membuat Nina tersadar sepenuhnya, bahwa dirinya adalah orang yang kesekian di hati Johan setelah Daniel, Ryan dan juga Rani. Bahkan saat Johan melakukan aksi penyelamatan itu, dia hanya melirik Nina sebentar tanpa peduli ataupun sekedar melepas tali yang mengikat pada tubuhnya. Johan hanya fokus pada keselamatan Rani, yang tak lain adalah salah seorang majikannya setelah Daniel berdamai dengan keluarga Dewangga. Johan bahkan baru menghampiri dan memeluknya setelah Ryan memerintahkan kepadanya untuk membawa Nina pulang.
Dan kini, dua jam sudah Nina terbaring seorang diri, menikmati kilasan demi kilasan kejadian menakutkan yang baru saja dia hadapi.
Ceklek.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.
“Apakah dia kembali?” batin Nina.
Nina memejamkan mata dan pura-pura tidur untuk menghindari bertemu mata dengan suaminya. Kecewa, marah, juga harapan yang seolah hilang dalam kehidupan barunya bersama Johan, kini berkecamuk dalam dadanya. Semakin lama, langkah kaki Johan pun semakin terdengar mendekat, sebelum akhirnya langkah itu tepat berhenti di satu sisi ranjang yang kini Nina telah terbaring di sana.
Tak berapa lama, Johan mendekati Nina, mengelus kepalanya dan mengecupnya dengan mesra. Nina tidak bergeming, mendapatkan perlakuan itu dari suaminya. Dia tetap memejamkan mata, berharap pelupuk matanya yang terkatup bisa menahan air mata yang sudah menggenang penuh di ujung matanya.
Menyadari tak ada respon dari Nina, Johan kembali beranjak meninggalkan Nina.
__ADS_1
“Tuh kan, mau pergi kemana lagi dia? Dia benar-benar tidak peduli dengan istrinya. Bahkan menanyakan aku terluka atau tidak saja dia tidak melakukannya,” gerutu Nina dalam hati, saat mendengar ada suara pintu dibuka kembali.
Namun, saat Nina sedang larut dengan berbagai prasangka dalam hatinya, tiba-tiba terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.
“Ternyata dia tidak pergi?” batin Nina lagi sedikit lega.
Setelah sekitar sepuluh menit, Johan keluar dari kamar mandi, kemudian menuju lemari untuk mengambil baju gantinya. Setelah dia mengenakan baju santainya, dia kembali menghampiri Nina yang masih juga tak mau membuka mata.
Johan naik ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut yang Nina kenakan kemudian merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya itu. Dikecupnya ujung kepala istrinya dengan hangat, kemudian dia benamkan wajahnya pada tengkuk leher istrinya serta memeluknya begitu erat.
Mendapatkan perlakuan semanis itu, tak terasa air mata Nina menetes. Bahkan semakin lama, air mata yang mengalir di pipinya kian deras, membuat isakan tangisnya tak bisa tertahankan. Menyadari istrinya menangis, Johan membalikkan tubuh Nina yang saat itu dalam posisi masih membelakanginya.
“Tidak perlu berpura-pura baik padaku. Bukankah kau tidak pernah mempedulikanku? Apa lagi mencintaiku?” Nina berusaha menepis tangan Johan yang saat ini masih aktif meraba tubuhnya.
“Apa maksudmu, Sayang? Bukankah sudah kubilang bahwa aku mencintaimu? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku tidak peduli kepadamu?” Johan berusaha meraih wajah Nina dan membuat istrinya itu membalas tatapannya.
“Cih, lain di bibir lain di hati,” Nina memalingkan muka, kemudian mengusap air mata yang berderai di pipinya dengan kasar.
“Kamu ini kenapa?” Johan mengeraskan suaranya, tidak paham dengan apa yang sedang dikatakan oleh istrinya.
“Lihatlah, bahkan kau sudah mulai membentakku, di hari ketiga pernikahan kita,” seru Nina, ikut mengeraskan suaranya.
__ADS_1
“Baiklah, aku minta maaf. Tapi bisakah kau beri tahu apa kesalahanku hingga kau tiba-tiba marah-marah seperti itu?” suara Johan kembali melunak.
“Tidak. Kau tidak salah apa-apa. Yang salah adalah aku, yang begitu berharap bahwa kau akan mencintaiku dengan tulus, menjadikanku ratu yang menguasai seluruh ruang kosong dalam hatimu, juga menjagaku dengan seluruh jiwa dan ragamu. Dan ternyata aku sungguh salah, telah berharap semua itu dari orang yang menikahiku hanya karena dia memenuhi keinginan Daniel Cullen, tuanmu yang ternyata adalah kakak sepupuku itu,” Nina, sang gadis desa yang biasanya sangat santun dalam ucapannya, kini berubah menjadi garang karena rasa sakit yang luar biasa dalam hatinya.
“Kenapa kau berkata seperti itu, heh?” Johan tak tahan lagi dengan kelakuan istrinya.
“Kenapa kau bilang? Setelah kau tak mempedulikan aku, kau masih bisa bertanya kenapa? Setelah kau meninggalkan aku dalam posisi aku ketakutan juga tangan dan kakiku yang terikat kau masih bilang kenapa? Setelah kau mengantarkan aku dan meninggalkanku kembali tanpa kau tanya apa aku terluka atau tidak kau masih bertanya kenapa? Kau hanya peduli dengan tuan dan nonamu itu. Sementara aku?” kini Nina sudah menangis sesenggukan, bahkan kedua tangannya dia gunakan untuk menutup mukanya, merasakan butir demi butir air mata yang terus menetes di pipinya.
Johan diam mematung mendengar ucapan Nina, dan mencoba mencerna setiap perkataan istrinya yang sangat mengejutkan itu.
“Jadi karena itu?” Johan masih mencoba untuk bertanya, sementara Nina tidak ada niat untuk menjawab sama sekali pertanyaan suaminya.
“Lebih mementingkan tugasku, bukan berarti karena aku mengesampingkan dan tidak mencintaimu. Apa kau tahu sekuat apa ikatanku dengan tuanku? Ikatanku dengannya bukanlah sekedar ikatan antara majikan dan anak buah saja. Kau tahu kenapa? Karena tanpa dia aku tidak akan hidup di dunia. Dia adalah seorang malaikat yang telah menyelamatkan hidupku, bahkan di saat kondisinya waktu itu belum kaya raya seperti saat ini. Dia yang waktu itu hidup serba kekurangan rela menampungku yang hidup sebagai gelandangan,” Johan mendesah kasar.
“Saat di ruang bawah tanah itu, aku tak melepaskan talimu terlebih dahulu dan memilih untuk menyelamatkan Nona karena aku tahu, kau sudah tidak dalam bahaya. Sementara Nona? Bahkan ada senjata api yang menempel di kepalanya dan bisa terlepas kapan saja. Kau pikir aku tak ingin segera memelukmu, mengantarkanmu pulang dan menjagamu setelah kejadian menakutkan yang menimpamu? Aku ingin sekali, Sayang. Sangat. Tapi apakah kau tahu? Tepat di saat aku mengantarkanmu pulang, saat itu juga tuanku hampir saja meregang nyawanya karena musuh berhasil mengepungnya. Dan satu detik saja aku terlambat datang ke tempat itu, mungkin tuanku saat ini sudah tidak ada di dunia. Jika itu terjadi, aku tak akan pernah memafkan diriku, Sayang. Kumohon mengertilah,”
BERSAMBUNG
❤❤❤
Pembaca yang bijak selalu meninggalkan jejak. Jangan lupa tinggalkan like, vote dan rate 5, juga comment positifnya. Terima kasih.
__ADS_1