
Hengky terus memangku Fisha sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Air matanya terus berderai, rasa sesal juga ketakutan yang kian mencekam pun kini berkecamuk dalam hatinya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Maafin Fisha, Mas. Bukannya Fisha tidak percaya pada Mas Hengky. Tapi Fisha ...,"
"Sssttt. Lupakan, Sayang. Yang penting, sekarang kita ke rumah sakit dulu. Aku tak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu," ucap Hengky, sambil terus mencium ujung kepala Fisha bertubi-tubi.
"Fisha nggak kuat, Mas. Ini sakit sekali," lirih Fisha, dengan wajah yang semakin pucat.
"Kamu kuat, Sayang. Kamu harus kuat. Kita akan sampai ke rumah sakit sebentar lagi, dan dokter akan menyembuhkan sakitmu, hingga rasa sakit itu akan hilang sama sekali,"
Hengky semakin terisak mendengar Fisha terus mengatakan bahwa dirinya tak kuat lagi menahan semuanya. Rasa takut akan kehilangan, juga rasa bersalah yang kian mendalam, kini asyik menari-nari dan memenuhi hati juga pikiran Hengky yang sudah mulai kalut dan semakin terasa mencekam.
"Bersabarlah sedikit, Sayang! sebentar lagi kita akan sampai," cicit Hengky lagi, namun Fisha tak menyahut sedikitpun perkataan suaminya.
"Sayang! Sayang! Bangun Fisha! Kau jangan membuatku takut!" Hengky menepuk-nepuk pipi Fisha, menyadari istrinya diam saja bahkan memejamkan mata.
"Fisha, bangun. Kumohon!" Hengky semakin histeris. Dengan sedikit ragu, dia pun memberanikan diri untuk memeriksa nafas juga denyut nadi istrinya.
"Dia hanya pingsan. Percepat lagi, Pak!" titah Hengky, hingga supir pribadinya semakin menekan pedal gasnya agar laju mobilnya semakin kencang.
Untung saja beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Tepat saat mobil berhenti dengan manis di depan IGD, beberapa petugas pun langsung menyambut mereka dengan sebuah ranjang beroda, hingga Hengky yang turun dari mobilnya langsung memindahkan tubuh lemah Fisha ke ranjang itu.
Setengah berlari, para perawat itu pun mendorong ranjang yang ditiduri Fisha dan membawanya ke IGD.
"Mohon maaf, Pak. Untuk sementara mohon Bapak tunggu di luar sebentar," ucap salah seorang perawat, melihat Hengky berusaha ikut masuk ke ruang pemeriksaan Fisha.
Hengky pun hanya bisa pasrah. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit itu, hingga akhirnya tubuhnya merongsot turun sampai terduduk di lantai depan ruang IGD tempat Fisha sedang menjalani serangkaian pemeriksaan untuk memastikan keadaannya.
Hengky terus menangis sambil merutuki kebodohannya. Seharusnya, sekecewa apapun Hengky kepada istrinya, semua masalah bisa dibicarakan baik-baik dan dicari solusinya.
"Aaaaaa!" Hengky berteriak sambil meninju dinding yang berada di dekatnya.
Hingga sekitar empat puluh lima menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Keluarga Nyonya Fisha!" seru dokter itu sambil mengedarkan pandangannya.
"Iya, Dok. Saya suaminya," Hengky langsung berdiri dan menghampiri sang Dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Hengky tak sabar.
"Bisakah Anda ikut ke ruangan saya sebentar? Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan," ujar dokter itu sopan.
Hengky hanya mengangguk pelan. Pikirannya sudah mengembara kemana-mana, berjuta tanya dan harap pun sudah saling berkecamuk di dalam benaknya.
__ADS_1
"Aku tak akan memaafkan diriku sendiri, jika terjadi sesuatu denganmu, Fisha," Berkali-kali Hengky bergumam dalam hati.
Satu menit kemudian, Hengky pun duduk di depan meja dokter setelah dipersilahkan. Hengky mencoba menebak ekspresi dokter itu, sungguh sulit diterjemahkan dengan bahasa dan kata-kata.
"Apakah istri saya baik-baik saja, Dokter?" Hengky sudah tidak sabar mengetahui kondisi istrinya.
"Mmm, begini Tuan. Mohon maaf sebelumnya jika pertanyaan saya ini agak lancang kepada Anda," kata dokter itu sangat serius, membuat hati Hengky semakin berdebar kencang.
"Silahkan, Dokter," sahut Hengky pelan.
"Apakah sebelumnya Anda tahu jika istri Anda sedang hamil?" sebuah pertanyaan yang teramat mengagetkan sekaligus menyenangkan untuk Hengky, akhirnya keluar dari mulut dokter itu.
"Istri saya hamil, Dok?" beo Hengky sambil membulatkan matanya.
"Kabar baiknya iya. Tapi dengan berat hati, saya juga harus memberitahukan kabar tidak baiknya kepada Anda," ujar dokter itu lesu.
"Maksud Dokter?" Hengky mengerutkan dahinya. Rasa bahagianya tiba-tiba menjadi rasa khawatir yang tidak terkira.
Sesaat, dokter itu tak berkata apa-apa. Dia mengambil sebuah benda berwarna hitam transparan, kemudian meletakkannya di dalam box lampu yang tertempel di dinding. Setelah lampu box itu dinyalakan, segera terlihat ada gambaran di dalam kepingan hitam transparan itu. Ya, rupanya sang dokter sudah melakukan Ultrasonography (USG) pada Fisha. USG ini merupakan prosedur pencitraan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memproduksi gambar tubuh bagian dalam, seperti organ tubuh atau jaringan lunak.
"Anda lihat ini? Ini adalah hasil USG dari rahim istri Anda," dokter itu menunjuk hasil USG Fisha dan melihat ke arah Hengky dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Bagaimana dengan janin kami, Dok? Dia baik-baik saja kan, Dokter?" Hengky semakin gelisah.
"Apakah selama ini istri Anda mengeluh nyeri pada tulang ekor, sangat cepat kenyang, rasa kembung, sering buang air kecil, dan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual?" dokter itu memandang Hengky dengan lekat.
"Begitu ya?" sang dokter bergumam tak jelas sambil terus memandangi hasil USG Fisha.
"Begitu saya pulang tadi, istri saya sudah terduduk di lantai dan mengeluh sakit di bagian perutnya, Dok. Tapi kelihatannya sebelumnya dia terjatuh sambil terduduk, sehingga tulang ekornya terbentur lantai," cerita Hengky dengan segala rasa sesal di hatinya.
"Jadi begini, Tuan. Selain istri Anda hamil, saya juga mendeteksi ada kemunculan kista di indung telur istri Anda," ucap dokter itu sedikit berat.
"Kista, Dokter?" meski tak tahu analisis secara medis, tapi Hengky cukup mengerti jika kista ini pasti akan mengganggu kehamilan istrinya.
"Iya, Tuan. Kista pada rahim ini berupa kantong yang berisi cairan atau zat yang agak padat. Biasanya kista muncul di indung telur yang terletak di sisi kanan dan kiri rahim ibu hamil, persis seperti yang bisa kita lihat dalam gambaran rahim istri Anda di hasil USG ini. Sebenarnya kemunculan kista adalah hal yang umum terjadi, bahkan pada ibu hamil. Biasanya kista sudah terbentuk sebelum terjadinya pembuahan. Akan tetapi, kista tersebut belum terdeteksi sampai ibu hamil melakukan tes ultrasound untuk memeriksakan kehamilan. Pada beberapa kasus, bahkan kemunculan kista tidak disadari dan akan hilang dengan sendirinya," dokter itu mulai menjelaskan.
"Lalu bagaimana, Dok?" tanya Hengky tak sabar.
"Ada dua jenis kista yang muncul di indung telur ibu hamil. Yang paling sering ditemukan adalah kista ovarium fungsional dan sifatnya tidak berbahaya atau mengancam. Jenis yang lain adalah kista ovarium patologis. Jenis kista ini adalah tumor yang bisa bersifat jinak maupun ganas. Seiring berjalannya waktu, kista ovarium patologis akan terus bertambah besar jika tidak terdeteksi dan tidak diberi penanganan yang tepat. Sayangnya, saya curiga jika kista yang muncul pada indung telur istri Anda adalah kista ovarium patologis," dokter itu kembali menjelaskan, dengan ekspresi muka sangat serius.
"Bahayakah, Dokter?"
"Istri Anda terus mengeluh sakit di bagian abdomen (bagian perut) dan panggul. Namun, istri Anda juga mengeluhkan tanda-tanda yang lebih serius seperti nyeri pada tulang ekor, sangat cepat kenyang, rasa kembung, sering buang air kecil, dan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual. Ini sebuah pertanda bahwa kista ovarium pada istri Anda semakin membesar, seiring dengan janin dalam rahimnya yang semakin berkembang pula," lanjut sang dokter menatap Hengky dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
Jlep.
Hengky seperti ditampar-tampar mendengar penjelasan dokter yang kini sedang berada di hadapannya itu.
"Selama ini Fisha merasakan sakit saat kami berhubungan badan dan dia tidak pernah mengeluh kepadaku?" gumam Hengky dalam hati.
"Tanda-tanda ini sangat mirip dengan kondisi ibu hamil pada umumnya, sehingga banyak ibu hamil mengabaikan gejala kemunculan kista ovarium ini, Tuan. Mungkin karena itulah istri Anda tidak pernah mengeluh. Bisa juga karena istri Anda mengira bahwa itu adalah gejala sebelum menstruasi datang, karena saat akan menstruasi biasanya wanita juga mengalami tanda-tanda seperti kehamilan," kata dokter itu lagi, seolah bisa menebak apa yang sedang mengganggu pikiran Hengky.
"Apa pengaruh kista ovarium pada kehamilan istri saya, Dok?"
"Saya akan memantau dulu perkembangan kista di indung telur istri Anda, untuk menentukan tindakan apa yang kita perlukan selanjutnya. Karena kista yang muncul saat hamil belum tentu menyebabkan masalah atau komplikasi pada kehamilan. Jika ukuran kista ovarium pada istri Anda tidak terus membesar sehingga tak berbahaya, istri Anda hanya perlu rutin memeriksakan kehamilan dan posisi kistanya, serta menjalani tes ultrasound untuk melihat apakah kista membesar, semakin mengecil atau hilang seluruhnya,"
"Memangnya bisa ya, Dok, kista itu hilang dengan sendirinya?" tanya Hengky tak kalah serius.
"Kista di indung telur istri Anda bisa hilang sendiri karena pecah. Biasanya pecahnya kista yang berukuran kecil tidak akan menunjukkan gejala atau tanda-tanda apa pun pada ibu hamil. Namun, jika kista ovarium yang pecah atau terpuntir berukuran cukup besar, ibu hamil akan tiba-tiba merasakan sakit yang cukup parah. Pada beberapa kasus, pecahnya kista ovarium bisa menyebabkan perdarahan dalam yang sering disalahpahami sebagai keguguran. Pada kenyataannya, janin dalam kandungan tidak akan terganggu saat kista di indung telur istri Anda pecah atau terpuntir," jelas dokter itu lagi.
"Tapi tadi istri saya begitu kesakitan, Dok. Apakah itu karena dia terjatuh tadi atau karena kistanya pecah?" Hengky menajamkan pertanyaannya.
"Dengan berat hati saya katakan, bahwa posisi duduk saat istri Anda terjatuh tadi sangat berpengaruh terhadap kondisi kehamilan istri Anda yang masih terbilang cukup muda. Namun, rasa sakit yang dirasakannya menjadi lebih parah karena ada kista pada ovarium istri Anda,"
"Apa kista itu bisa diambil, Dok? Maksud saya semacam operasi gitu. Tentunya tanpa mengganggu janin dalam kandungannya, jika bisa," cecar Hengky dengan raut muka sedih yang tak bisa disembunyikannya.
"Operasi pengangkatan kista ovarium yang tak kunjung mengecil atau hilang bisa dilakukan kira-kira tiga bulan setelah melahirkan, Tuan. Tapi saya harus observasi dulu untuk menentukan apakah kista ovarium istri Anda berisiko pada kehamilannya atau tidak. Kista yang sudah terlalu besar bisa menekan rongga perut dan menyebabkan sesak napas. Ada juga kasus di mana kista yang tumbuh berisiko menghalangi jalan keluarnya bayi dari kandungan saat persalinan. Jika itu terjadi, terpaksa saya akan melakukan operasi setelah usia kehamilan istri Anda sudah sekitar 5 bulan untuk menghindari risiko keguguran. Tapi jika kista di indung telur istri Anda ini berkembang menjadi tumor ganas dan berpotensi menjadi kanker ovarium, kita harus melakukan pengangkatan kista lewat bedah laparoskopi pada usia kehamilan berapa pun, Tuan. Namun, kasus ini sangat jarang terjadi. Kemungkinannya sangat kecil, yaitu 1 kasus di antara 32.000 kasus kehamilan," ucap dokter itu sekali lagi.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dokter?"
"Sementara saya hanya bisa memberikan obat penguat kandungan untuk mempertahankan si janin paska istri Anda terjatuh tadi. Tapi untuk kistanya, disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan saya atau dokter kandungan lain minimal dua pekan sekali," tutup dokter itu sambil mematikan lampu box dan mengambil hasil USG Fisha kembali.
"Baik, Dok. Lalu, apakah istri saya perlu dirawat di rumah sakit ini?" tanya Hengky.
"Wajib rawat inap, setidaknya sampai kondisi janin kembali kuat dan tanda-tanda akan keguguran sama sekali sudah tak terlihat. Setelah ini, kami akan memindahkan istri Anda ke ruang perawatan. Silahkan Anda konfirmasi ke bagian administrasi kami, setelah itu Anda bisa bertemu dengan istri Anda dan menemaninya selama di rawat di rumah sakit ini, setidaknya dalam beberapa hari,"
"Baik, Dok. Terima kasih," Hengky berdiri sambil menjabat tangan dokter itu.
Setelah Hengky mengkonfirmasi ke bagian administrasi untuk ruang perawatan yang Hengky pilih juga fasilitas lain yang diminta, pihak rumah sakit pun akhirnya memberi tahu bahwa Fisha telah dipindahkan di ruang perawatan sesuai permintaan Hengky, yaitu di president suite room, dan Hengky sudah bisa menemui istrinya.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Hengky pun berjalan dengan cepat menuju ruang rawat inap, tempat dimana istri juga calon anak yang sedang dikandungnya berada di sana. Kini, perasaan bahagia ketika mengetahui kehamilan istrinya terus menari-nari di dalam hatinya, meskipun perasaan khawatir terus saja mendominasi benaknya.
Apalagi ketika dokter itu sempat mengatakan bahwa Fisha memerlukan obat penguat kandungan untuk tetap mempertahankan janin itu karena rawannya janin akibat Fisha jatuh dengan posisi duduk, membuat rasa khawatirnya bercampur aduk dengan rasa bersalah yang begitu mendalam.
"Suami macam apa aku ini, Fisha. Bahkan aku tak tahu kalau selama ini kamu sudah kesakitan saat melayaniku. Dan hari ini, Allah semakin menunjukkan bahwa begitu bodoh hingga begitu murka hanya karena kesalahan kecilmu. Kau boleh marah dan menghukumku, Fisha. Karena aku pantas mendapatkan semua itu," batin Hengky, sambil terus menyeret kakinya menyusuri lorong yang akan mengantarkannya hingga sampai ke president suite room, tempat dimana Fisha sudah mendapatkan perawatan dengan pelayanan prima sekarang.
Dan kini, langkah Hengky pun terhenti ketika menyadari bahwa dia telah berada di depan pintu ruang perawatan itu. Dengan hati yang berdegup kencang, dia memutar handel pintu hingga setelah pintu terbuka, netranya segera menangkap sosok perempuan yang begitu dia cinta.
__ADS_1
"Sayang ...," panggil Hengky lirih.
BERSAMBUNG