METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Perintah Ryan


__ADS_3

Ryan merebahkan tubuhnya yang penuh dengan luka di kasur empuk miliknya. Setelah beberapa hari di rumah sakit, istirahatnya terasa begitu nikmat begitu saat ini dia berada di kamarnya sendiri. Ya, sebagus apapun ruangan rumah sakit yang ditempatinya, tetap saja kamar itu terasa paling nyaman buat Ryan. Bahkan semewah apapun hotel yang Ryan miliki, jika dia ditanya mana yang dia pilih, dia akan tetap memilih kamarnya sendiri.


Apalagi ada banyak keluarga yang menemani, hingga bukan hanya kenyamanan yang dia dapatkan, tapi juga rasa sakit yang seolah tiba-tiba menghilang.


Seperti malam itu, semua sudah berkumpul mengelilingi ranjang Ryan dengan posisi memutar. Ryan yang tetap tidur di ranjangnya, ditemani Rani yang duduk bersandar di sampingnya. Ada Mama Davina, Mommy Aghata, Arsen, Arya, Lena, Daniel, Naja, tak ketinggalan Johan dan Nina, semua berada di kamar Ryan untuk melihat kondisi dan menghiburnya.


"Dimana Rudi dan Indra?" Mama Davina yang selalu menganggap mereka keluarga, mengabsen satu per satu yang belum tampak batang hidungnya.


"Sedang ada tugas, Ma," sahut Rani singkat.


Mama Davina pun tak bertanya lebih jauh. Yang dia tahu, anak buah dari menantunya itu memang punya tugas tanpa terbatas waktu.


"Apa lukamu itu masih terasa sakit sekali, Nak?" Mommy Aghata yang menyayangi Ryan seperti darah dagingnya sendiri, terlihat sangat khawatir dengan kondisi Ryan saat ini. Bahkan dia menjadi orang yang paling heboh sendiri ketika mengetahui bahwa Ryan ditusuk oleh orang yang bekerja di perusahaannya sendiri.


"Selama ada kalian, aku tak akan pernah kalah hanya karena rasa sakit ini, Mom," ucap Ryan lirih, tapi senyumnya terus mengembang di tengah orang-orang yang dia sayang.


"Sudah sakit, masih aja ngegombal," cibir Daniel sambil geleng-geleng kepala.


"Apa salahnya ngegombalin keluarga sendiri? Apalagi sama Mommy," Ryan justru terkekeh mendengar Daniel mencibir perkataannya.


Mama Davina dan Mommy Aghata yang menyaksikan pertengkaran mereka berdua pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalian ini ya, kalau sedang berdua selalu saja berantem kayak gini," ujar Mommy Aghata dengan gaya khasnya yang lembut.


"Tapi Mommy bahagia, kesalahpahaman kalian waktu itu akhirnya berakhir dengan bahagia," ucap Mommy Aghata lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan Daniel, Mom," Daniel yang bisa menangkap keharuan di hati ibunya pun langsung memeluknya erat.

__ADS_1


"Kok jadi mewek gini sih, Mom?" Ryan yang melihat adegan melo di depannya, memberi komentar.


Dari Daniel, Mommy Aghata pun mendekati Ryan dan langsung memeluknya.


"Mommy bersyukur mempunyai kalian semua di dunia ini," ucapnya.


"Ryan juga bersyukur mempunyai seorang ibu seperti Mommy. Meskipun Mama dan Papa sudah tak ada, tapi Mommy mampu mengisi kekosongan hati Ryan walau harus tanpa mereka," sahut Ryan yang sukses membuat haru semua orang.


Hingga tiba-tiba, keharuan itu buyar karena sebuah notifikasi pesan masuk di handphone Ryan. Setelah beberapa detik Ryan membaca pesan itu, dengan mengerutkan dahinya dia berselancar sebentar dengan benda pipih miliknya dan langsung berbicara dengan seseorang setelah benda itu menempel dengan mesra di telinganya.


"Sekarang juga kau ke rumah, Ndra! Ada yang harus kubicarakan denganmu," titah Ryan, kemudian mematikan teleponnya.


"Ada apa, By?" tanya Rani heran.


"Tak apa-apa, Sayang. Ada hal penting saja yang ingin aku bicarakan," sahut Ryan sambil meraih tangan istrinya.


Dua puluh menit kemudian, Indra pun datang dan langsung masuk ke dalam kamar.


Tinggallah Rani, Ryan, ditemani Daniel, Naja, Johan dan Arya, juga Indra yang baru saja datang karena panggilan Ryan yang tiba-tiba.


"Anda memanggil saya, Tuan?" ucap Indra dengan sangat sopan.


"Hmmm," jawab Ryan singkat. Dengan susah payah, Ryan pun hendak bangun dari tidurnya, hingga dengan sigap Arya dan Daniel mendekat untuk membantunya.


"Apakah ada perintah, Tuan?" tanya Indra lagi begitu Ryan sudah dalam posisi duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan nyaman.


"Bagaimana dengan perkembangan kasusnya, Ndra?" Ryan menatap Indra tajam, seolah penuh dengan tuntutan. Indra yang ditatap pun segera menundukkan kepalanya, tidak cukup percaya diri untuk balik menatap tuannya.

__ADS_1


"Ada sepuluh nama yang masuk black list, Tuan. Dan kami sedang mencari tahu siapakah salah satu dari nama-nama yang masuk black list itu yang benar-benar terlibat. Dan malam ini, ada dua orang yang melakukan pertemuan dengan Felix Adinata, sayangnya saya belum sempat melihat wajahnya, dan belum sempat mengkonfirmasi Zara siapa dua orang yang bertemu dengan Felix malam ini," jelas Indra dengan sangat hati-hati.


"Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" Ryan bertanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya pada pria muda di hadapannya.


"Siap menerima perintah, Tuan. Tapi mohon maaf, saya belum tahu kenapa malam ini Anda memanggil saya," sahut Indra lagi.


"Zara yang mengirim pesan kepadaku, dan memintaku untuk segera menyuruhmu pergi dari tempat itu," ujar Ryan yang sukses membuat mata Indra membulat sempurna karena begitu kagetnya.


"Saya tidak mengerti, Tuan," Indra semakin tertunduk.


"Aku yang sungguh-sungguh tak mengerti dengan dirimu, Indra. Kau mengikuti Zara karena tidak percaya kepadanya atau karena ingin melihatnya?" ucap Ryan sambil menahan tawa.


"Sepertinya adikmu itu sedang jatuh cinta, Sayang," Daniel yang melihat merahnya muka Indra mendengar pertanyaan Ryan kepadanya pun berbisik kepada Naja yang saat itu berada di sampingnya.


Naja hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya, kemudian berjalan sedikit dan mendekati adiknya.


"Dia sudah terikat janji setia seperti kita, Ndra. Jadi, satu hal yang perlu kau ingat, sesama kita harus saling percaya jika semua tugas sudah dibagi dan sepakat untuk kita lakukan bersama. Kau tak perlu membuntutinya jika itu adalah bagian dari tugasnya. Percayakan semua padanya, kecuali kalian memang telah bersepakat akan mengeksekusi lapangan berdua," Naja mengacak rambut adiknya dengan asal.


"Maaf," lirih Indra.


"Meskipun ...," Naja tak melanjutkan kalimatnya, hingga membuat semua mata kini melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa?" Daniel tak sabar mendengar istrinya melanjutkan ucapannya.


"Meskipun, aku sama sekali tidak melihat keraguan di mata Indra, tapi aku melihat di sana justru ada cinta," oceh Naja sambil terkekeh dan kembali berdiri di dekat suaminya.


Mendengar perkataan Naja, semua orang yang ada di tempat itu pun ikut tertawa, hingga benar-benar membuat Indra kehilangan muka.

__ADS_1


"Zaraaaaa!!! Apa yang kau lakukan, heh? Kau benar-benar harus mempertanggungjawabkan semuanya malam ini juga. Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku," batin Indra terus meronta.


BERSAMBUNG


__ADS_2